Kehancuran Batana

Kehancuran Batana
BIONIK 4


__ADS_3

Sebuah hologram muncul di hadapanku. Dalam hologram itu tertera angka dari semua orang yang memberiku vote dan sejumlah uang taruhan yang dikumpulkan berdasarkan banyaknya orang yang mendukungku. Angkanya sangat kecil. Mungkin karena aku orang baru di sini. Karena itu mereka tidak yakin jika aku bisa memenangi pertarungan.


“Sebelum memulai pertandingan, kami mendata setiap peserta yang tampil di atas arena ini dengan akurat. Kode B41245 sudah memenangi pertarungan untuk hiburan ini sebanyak lima kali berturut-turut tanpa menggunakan tubuh bionik yang dilengkapi dengan senjata. Dia terkenal dalam kalangan underground dengan julukan “Tangan Hitam.”. Lantas, apakah penantang pemula ini bisa mengalahkan si Tangan Hitam dalam pertandingan satu lawan satu ini?”


Semua penonton tertawa, Aku sedikit kesal. Untuk apa pembawa acara membanding-bandingakan seperti itu? Apakah itu memang sifat murni manusia? Suka sekali membanding-bandingkan seseorang padahal mereka belum tahu apa yang ada pada diri seseorang tersebut.


“Untuk mengingatkan kembali peraturan pertandingan ini, saya akan membacakan kembali peraturannya. Ada dua peraturan terlarang yang tidak boleh dilakukan para peserta. Peraturan pertama yakni kalian dilarang menyerang bagian wajah. Lalu peraturan kedua, kalian tidak boleh menyerang lawan yang tengah berada dalam kondisi tersungkur. Lalu peraturan ketiga, siapapun yang tidak bangkit dalam hitungan sepuluh detik akan dinyatakan gugur.”


“Selanjutnya adalah hal-hal yang diperbolehkan selama pertandingan. Siapapun boleh menghancurkan anggota tubuh bionik milik lawan. Ini memang tampak tidak adil karena kita tidak tahu tubuh bionik siapa yang paling kuat.” Pembawa acara mengangkat bahu.


Penonton kembali tertawa.


“Tapi di sinilah letak keseruan dalam pertandingan ini. Semakin kalian banyak menghancurkan anggota tubuh bionik milik lawan semakin besar uang yang bisa kalian dapatkan. Karena itu ini bukanlah sembarang pertandingan yang bisa dilakukan oleh semua penantang. Jika ada di antara kalian yang ingin mundur, aku akan memberi waktu dalam sepuluh detik.”


Sayangnya, aku tidak akan melangkah mundur ataupun ragu dalam pertandingan ini. Justru aku semakin bersamangat untuk melakukan pertandingan ini. Hal pertama yang ingin aku taklukkan adalah para penonton. Akan aku buat mereka tercengang dan tidak lagi bisa tertawa. Hal kedua yang ingin membuatku ingin mengikuti pertandingan ini adalah, agar bisa mengeluarkan energi internal yang pernah aku gunakan tiga tahun yang lalu. Untuk memulainya aku harus merasakan sesuatu yang disebut dengan adrenalin. Karena itu aku tidak akan mundur dari arena pertandingan ini.


Sepuluh detik telah berlalu. Musik pengiring mulai dinyalakan. Drone-drone mini berterbangan di sekitar arena. Bersiap merekam segala hal yang akan terjadi di atas arena. Lampu sorot berwarna hijau terang berputar-putar di atas arena. Lantas terhenti tepat ke arah kami. Riuh penonton semakin ramai. Menyoraki andalan mereka masing-masing.


“Sungguh luar biasa! Mari kita beri tepuk tangan untuk si Tangan Hitam dan si Penantang Pemula!”


Sial! Aku ingin sekali menyumpal mulut pembawa acara tersebut. Bisa-bisanya memberiku julukan si Penantang Pemula.


Para penonton bertepuk tangan. Menambah riuh ruangan.

__ADS_1


“Sekarang, mari kita mulai pertandingan ini! Kami akan memberi kalian waktu lima belas menit dalam pertandingan ini. Jika semisalnya waktu telah berakhir dan tidak ada yang berhasil menjatuhkan lawan, maka kami akan menilai berdasarkan siapa yang paling banyak menyerang lawan.”


Aku mengangguk mantap. Penjelasan itu sudah sangat jelas.


Wasit mulai berdiri di antara kami. Aku sudah memasang kuda-kuda sedari tadi. Menunggu aba-aba dari wasit. Keringat dingin mengucur dari keningku. Sementara itu angka voting terus berubah seiring waktu. Wasit mulai mengangkat tangannya. Tanda pertandingan dimulai.


Lagu pengantar bergemuruh. Menambah ketegangan dan keseruan dalam pertandingan. Kami berputar di dalam arena. Mencari celah untuk menyerang. Begitu ada kesempatan, aku akan langsung menyerang.


Sosok itu bergerak dengan cepat. Dia melompat ke arahku dan secepat kilat melesatkan pukulan ke arah perutku. Aku berhasil menangkisnya. Hanya saja dia tidak memberiku waktu untuk menyerang.


Sosok itu melesatkan tendangan sabit ke arah leherku. Aku berputar dan menunduk. Menghindari tendangan tersebut. Namun dia sangat lincah, sosok itu melakukan salto dan hendak menendang punggungku dari arah atas. Aku tidak sempat menghindar. Alhasil aku terjatuh. Dengan cepat aku berguling dan kembali berdiri.


Dia jelas tipe penyerang. Jika aku terus menerus bertahan aku hanya akan larut dalam permainannya. Akan aku buat dia juga larut dalam permainanku. Giliranku yang menerjang. Aku sudah pernah berlatih menghadapi tipikal lawan yang seperti ini. Mereka memang sangat cepat. Namun disitulah sekaligus kelemahan mereka.


Penonton semakin bersorak-sorak. Lampu sorot dan drone-drone berputar di sekeliling kami.


“Wow! Apa-apaan ini? Tampaknya mereka bertarung dengan seimbang! Siapakah yang akan menang? Siapakah yang akan mendapatkan dukungan paling banyak? Jangan kemana-mana dan tetap saksikan pertandingan antara si Tangan Hitam dan si Penantang Pemula!


Kami kembali saling beradu tinju dan tendangan. Aku berusaha menyamakan gerakannya yang sangat cepat. Satu dua pukulannya masih bisa aku tangkis. Namun sangat susah menemukan celah yang bisa aku dapatkan. Sementara ini kami hanya bisa saling menyerang sedangkan aku lebih banyak bertahan. Lima menit berlalu dan aku terpukul mundur beberapa langkah.


Aku tidak menyia-nyiakan waktuku sedikitpun. Bergegas menerjang dengan memusatkan energiku ke arah kaki. Jika memang pukulan tidak mempan, Maka aku harus bergerak dengan gesit menggunakan kakiku. Sosok itu melompat mundur dan menunduk, Walau demikian aku dengan cepat berputar dan menggunakan kakiku untuk menendang bagian lehernya. Tapi dia memegang kakiku dan hendak menendangku dari arah bawah. Aku menangkisnya dan membelokkan tendangan itu ke arah udara. Namun sosok itu dengan cepat merangkul leherku dan membantingku di atas lantai arena. Gawat! Aku terdesak. Sosok itu ternyata mampu melakukan tehnik gulat. Dia mengunci leherku menggunakan kakinya dan menarik tangan kananku dengan kedua tangan besinya.


Suara berderak terdengar. Dia menarik tangan bionikku dengan sangat kuat. Aku harus cepat keluar dari situasi ini sebelum tangan kananku dibuat putus oleh tarikannya. Energi internal! Itulah yang harus aku butuhkan sekarang.

__ADS_1


Wasit mulai menghitung mundur. Sial! Ini adalah situasi yang sangat tidak menguntungkan. Aku terjepit dan dikejar oleh waktu. Sementara itu aku juga kesulitan bernafas karena sosok itu menjepit leherku dengan kedua kakinya. Aku malah tidak bisa berkonsentrasi dalam keadaan seperti ini. Mau tidak mau aku harus melepaskan diriku dari kunciannya sebelum detik detik terakhir.


Aku mendorong kakinya menggunakan tangan kiriku. Aku bahkan harus membuat tameng transparan agar kaki itu dengan mudah terlepas dariku. Dengan cepat aku bersalto dan hendak menendangnya. Sosok itu melepas tangan kananku. Kami mundur beberapa langkah ke belakang. Aku menggerak-gerakkan tangan kananku. Masih berfungsi dengan sangat baik hanya saja sedikit terasa longgar.


Sosok itu kembali menerjangku. Waktuku tersisa sepuluh menit. Aku harus segera menyelesaikan pertandingan ini sebelum terlambat. Aku memasang kuda-kuda bertahan dan sosok itu meninju tepat ke arah tangan kananku.


Aku mencoba membentuk tameng. Tapi terlambat, sosok itu sudah lebih dulu meninju tangan kananku. Suara denting besi yang bergesekkan terdengar ngilu. Tangan kananku semakin terasa  longgar. Bisa gawat jika sampai hancur dalam pertandingan ini.


Sementara penonton semakin bersorak ramai. Aku kini mengandalkan kakiku. berusaha terus menerus memusatkan energi ke arah kaki. Sosok itu berputar rendah dan hendak meninju perutku. Aku menghindar ke samping dan hendak memukulnya dengan sikutku. Sosok itu menahan seranganku dan terpukul mundur sejauh satu meter.


Ini dia kesempatanku! Aku dengan cepat menerjangnya dan memusatkan tenaga pada tangan kiriku. Sosok itu menunduk rendah. Aku sudah tahu pola gerakannya, ketika aku menyerang dia akan menghindar dengan menunduk rendah dan mencoba menyerang perutku. Aku menunggu detik detik terakhir dan menunggunya untuk menyerang bagian perutku. Lantas dengan cepat aku melompat ke udara dan menendangnya dari arah atas. Sosok itu mendongak dan berguling ke arah samping. Tendanganku meleset dan mengenai lantai. Dia dengan cepat menerjangku dari arah samping. Aku menggunakan tangan kiriku sebagai tameng. Sekali lagi aku terlambat menggunakan tameng transparan. Alhasil dia berhasil meninju tangan bionikku.


Sial! Kenapa keadaan ini lebih sulit dibandingkan saat simulasi. Padahal dalam simulasi aku bisa dengan mudah mengeluarkan tameng saat membentengi diriku dari peluru karet dengan kecepatan tembakan sniper. Tapi hari ini aku berkali-kali terlambat mengeluarkannya padahal serangannya hanyalah sebuah tinjuan atau tendangan.


Aku harus mencari titik permasalahan dari performaku hari ini atau aku akan berada dalam masalah. Apakah itu karena suara penonton yang memecah konsentrasiku? Atau karena drone-drone yang tengah mengitariku? Bukan! Bukan karena semua itu. Letak kesalahannya ada padaku. Aku terlalu menganggap remeh lawanku sehingga aku tidak bisa mengerahkan pikiranku secara maksimal. Karena itu aku menjadi lambat dan tak terkendali.


Aku menarik nafas dalam. Waktu tersisa lima menit. Kami kembali saling mengelilingi. Jantungku berdegup dengan kencang. Atmosfir terasa sangat tegang. Inilah penentuannya. Jika aku berhasil mengeluarkan energi internal tersebut, ada kemungkinan aku bisa mengalahkannya.


Ini bukan soal pengendalian WAVE. Melainkan tentangku. Aku harus mengalirkan energi internal menggunakan aliran pernafasan dan degup jantungku. Ini semua berhubungan dengan tubuhku dan otakku. Aku mulai merasakan sebuah energi mengalir perlahan ke bagian ujung kaki dan tangan.


Sosok tersebut kembali melesat cepat. Aku menunggu detik-detik terakhir sampai energi itu terpusat di telapak tangan dan ujung kaki. Sempurna! Cahaya jingga menyelubungi tangan dan kakiku. Aku bergrak dengan sangat cepat menghindari serangan darinya. Dia memukul udara dan menoleh ke arahku. Aku dengan cepat meninju bagian perutnya. Dia berusaha menangkis seranganku. Tapi kekuatan internal itu mengeluarkan sebuah panas. Karena itu dulu aku bisa menghancurkan robot milik Ador seperti meleburkan besi. Dia tidak bisa menghindarinya. Begitu aku menyentuh tangannya, suara dentuman terdengar lantang. Sosok itu tersungkur dan terguling. Menabrak pagar kawat dan tersungkur di atas lantai.


 

__ADS_1


 


__ADS_2