Kehancuran Batana

Kehancuran Batana
NOMADEN 2


__ADS_3

Kami berada di dalam tenda kecil dengan lampion berbentuk bulat tergantung di langit-langi tenda. Di hadapan kami terhidang makanan dengan bentuk balok berwarna kehitaman.


“Sebelumnya aku belum memperkenalkan diriku. Namaku Edez. Aku adalah kapten dalam kelompok ini.”


Aku mengangguk. Lantas memperkenalkan diri beserta rekan-rekanku.


Edez mulai menjawab pertanyan kami perihal Batana. “ Dulu, kami pernah singgah di salah satu kota dengan teknologi paling mutakhir. Nama kota itu adalah Kota Pandai Besi. Kota itu adalah kota tempat berkumpulnya para orang-orang jenius. Sebenarnya aku tidak terlalu peduli dengan kota tersebut. Aku ke sana hanya sekedar membeli berbagai peralatan atau makanan.”


“Hingga tidak sengaja aku mendengar sekelompok orang yang menjuluki diri mereka dengan nama Batana. Sejatinya, mereka hanyalah sekolompok pelajar yang sedang mencari inovasi baru di kota tersebut. Aku tidak terlalu peduli pada saat itu. Jadi, hanya sebatas itu yang aku ketahui.”


Ruangan hening. Kami semua tengah berpikir. Hingga Marko menjentikkan jarinya. Memecah lenggang. “Aku tahu! Kapten Lian, sepertinya Batana adalah sebuah kota yang abstrak.”


Vero mengernyitkan dahi. “Hah? Apa maksudmu, Bocah? Kau sedang melawak?”


Bundara menjitak kepala Vero. Menyuruhnya diam.


Marko hanya mendengus sejenak, lantas melanjutkan kalimatnya yang sempat terpotong. “Sepertinya nama kota hanya sebagai pengecoh, Kapten. Kota yang dimaksud di sini adalah sebuah kelompok dengan jumlah besar.”


“Tapi,bukannya arti kota harus memiliki gedung, tempat tinggal, dan pertokoan? Jika benar itu hanyalah sebuah kelompok, seharusnya perintahnya mencari kelompok bernama Batana, buka mencari kota mati bernama Batana.” Bundara menatap tidak mengerti.


Aku mengangguk setuju. Sependapat dengannya.


“Mungkin mereka memiliki markas dengan fasilitas layaknya sebuah kota. Namun hanya dihuni oleh anggota Batana. Istilah kata mati ditujukan pada kelompok mereka yang tidak lagi berfungsi. Seperti yang dikatakan oleh Edez, mereka mendatangi sebuah kota dengan teknologi mutakhir di dunia ini. Yang itu artinya selain pelajar, ada kemungkinan mereka adalah sekolompok ilmuwan berbakat. Jika aku asumsikan, ini ada hubungannya dengan kebangkitan RP-2. Kalian ingat saat kita menemukan pemancar anti RP-2? Hanya orang yang membangkitkan RP-2 yang tahu cara menghentikan robot-robot tersebut. Kapten Lian, kenapa kau waktu itu mengajak kami ke sana? Apakah ada sesuatu yang kau sembunyikan dari kami?” Marko mengarahkan pandangannya padaku.


Aku menelan ludah. Aku belum memberi tahu mereka alasanku untuk memeriksa tempat tersebut. Mungkin ini saatnya bagiku untuk menceritakan semua kisahku pada mereka. Aku tidak bisa terus menggalau dan menyimpan semua rahasia ini di dalam benakku.


Aku menggenggam tanganku. Mulai bercerita. “Sejujurnya, aku berasal dari luar Kota Keios. Aku berasal dari desa kecil di tengah padang rumput. Lokasi pertama yang kita tuju, tempat dimana kalian menemukan pemancar anti RP-2.”


“Hari itu, para bandit menyerang desa kami. Membunuh keluargaku, tetanggaku, teman-temanku. Mereka menjarah harta benda dan makanan kami. Aku bahkan bertatap muka langsung dengan pemimpin mereka. Aku masih ingat detail dan perawakan pemimpin mereka. Dia menangkapku, namun aku berhasil kabur. Beruntung, ibu dan adikku selamat. Kami kabur bersama-sama.”


Aku menelan ludah. Memori tersebut kembali berputar. Aku seakan bisa melihat reka adegan pelarian kami dari para bandit tersebut.


“Saat itu, ibuku memberi tahuku mengenai masa lalunya. Ibuku adalah seorang ilmuwan. Dialah salah satu penyebab kebangkitan RP-2. Ibuku dirundung penyesalan seumur hidupnya. Sepertinya dia mencari cara untuk menghentikan RP-2. Ibuku juga yang memberi perintah padaku untuk pergi ke kota mati bernama Batana. Tunggu sebentar!” Seketika aku mengingat sesuatu.“ Edez, apa nama kota yang kau sebutkan tadi?”


“Kota Pandai Besi.” Edez menjawab singkat.


Aku berpikir sejenak.


“Ada apa, Lian?” Jora bertanya penasaran. Heran melihat wajahku yang terlihat serius.


“Selain menyuruhku pergi ke Batana, Ibuku menyuruhku untuk menemui seseorang. Dia pria dengan tangan besi dan janggut tebal. Apakah yang dimaksud ibuku adalah Kota Pandai Besi?”


Vero tersenyum. “Kita tidak akan tahu jika tidak pergi ke sana, Lian. Edez, kapan pesawat kami akan siap?”

__ADS_1


“Besok pagi aku jamin sudah siap.”


“Dimana Kota Pandai Besi tersebut, Edez?” Marko ikut bertanya.


“Arah utara. Mungkin membutuhkan dua hari perjalanan jika menggunakan pesawat.”


“Sepertinya kita mulai mendekati tujuan kita, Kapten. Arah kota itu searah dengan jalur yang akan kita tempuh.” Marko senang.


Aku hanya menunduk. Malam ini aku baru saja menceritakan masa laluku. Memberi tahu mereka siapa ibuku. Aku takut tanggapan mereka tentangku akan berubah. Namun, Jora menepuk pelan bahuku sembari tersenyum.


“Lian, ini bukan salahmu ataupun ibumu. Ibumu mungkin melakukannya secara terpaksa atau bisa jadi dia tidak tahu menahu soal masalah RP-2.”


Jora ada benarnya. Ini bukan saatnya untuk bersedih. Aku harus fokus pada tujuan kami. Ragu sedikit saja bisa menjadi sebuah kegagalan dalam misi ini.


“Itu benar, Kapten. Ini adalah salah orang-orang terdahulu sebelum kita.” Marko ikut menghibur.


“Tapi ada satu hal yang membuatku heran. Jika RP-2 adalah benda terlarang, mengapa orang-orang zaman dulu tidak langsung memusnahkan robot-robot tersebut? Mereka lebih memilih untuk menyimpannya dari pada menghancurkannya?” Vero bertanya sembari menyantap hidangan di atas meja.


Aku kembali berpikir. Kata-kata Vero ada benarnya.


“Ini pasti soal uang dan kekuasaan!” Marko mengemukakan pendapatnya. “Mungkin proyek pembuatan RP-2 sangat besar. Setiap negara yang sudah membeli robot tersebut tentunya tidak mau rugi. Maka dari itu mereka menyimpan robot-robot itu untuk diambil bahan baku ataupun suku cadangnya. Dari pada menghancurkannya tentu saja cara itu lebih menguntungkan. Mereka bisa menciptakan berbagai teknologi dan senjata dari bagian-bagian robot tersebut. ”


“Itu terdengar masuk akal. Setidaknya sedikit demi sedikit kita mulai menyatukan puzzle yang terurai. Tujuan kita selanjutnya adalah Kota Pandai Besi. Mungkin kita tidak akan singgah di Kota Parit. Kita sudahi saja pembicaraan ini. Sebaiknya kita semua beristirahat untuk memulihkan tenaga dan memulai kembali perjalanan kita. ”


 


 


***


 


 


Aku terbangun dari tidurku. Menuju keluar tenda. Entah mengapa aku kembali memimpikan kejadian dimana aku dan Liana dikejar oleh Robot Penjaga Perbatasan. Beberapa tenda dan rumah masih terlihat menyala. Hanya ada beberapa orang saja yang tengah berjaga. Memastikan semua penduduk aman dari segala serangan RP-2 ataupun yang lainnya. Aku memutuskan untuk menghindari pertemuan dengan mereka.


Sejauh ini tidak ada tanda-tanda kehadiran robot-robot itu. Aku duduk di salah satu puing-puing bangunan. Menatap langit malam yang berhias ribuan bintang.  Entah sudah berapa kali aku melihatnya, aku tidak pernah merasa bosan.


Ketika mataku tengah asik meniti langit malam, seseorang mendekatiku. Edez, dialah seseorang yang menghampiriku.


“Apa yang kau lakukan di tengah gulita ini?” Dia tersenyum lembut.


Aku menggeleng pelan. “Aku hanya ingin menikmati malam ini. Bisa saja esok hari aku tidak bisa melihat langit yang sama.” Aku menjawab asal.

__ADS_1


“Hahaha, aku pernah menemui orang dengan kasus yang sama sepertimu. Aku yakin kau tidak bisa tidur, bukan? Sangat mudah ditebak dari wajahmu. Apalagi kau sedang menjalani misi. Rasa gundah, cemas, serta prasangka buruk selalu menyertai orang-orang yang tengah mengemban amanah besar, Nak.”


“Bagaimana kau tahu hal itu?”


“Hei! Aku sudah mengalami perjalan besar penuh tantangan, Nak. Di kelompokku tidak ada orang yang paling merasa cemas selain diriku. Aku menggenggam amanah yang sangat besar. Aku tidak bisa membiarkan satupun dari kelompokku ada yang meninggal ataupun menghilang. tentu saja aku selalu dihantui perasaan cemas.”


“Tapi ketahuilah, Nak! Lewat perjalanan kau bisa belajar memahami siapa dirimu. Lewat perjalanan kau bisa menemukan hal-hal baru. Mengetahui bahwa dunia tidak sekecil seperti yang kau bayangkan. Bahkan apa yang di gambarkan peta tentang dunia ini tidak hanya sebatas itu. Kau bisa menemukan dunia baru di luar peta.”


Aku mengangguk takjub. Kata-kata Edez terdengar sangat menyenangkan. Dunia di luar peta. Itu kalimat yang sangat keren.


Edez kini menatap ke arah langit. “Bahkan di atas langit sana, kau juga akan menemukan dunia yang tak terbatas, Nak. Dan mereka yang terpilih dapat dengan senangnya menjelajahi dunia yang tidak bisa kita jangkau.”


“Soal itu aku tidak sependapat denganmu, Edez. Itu sama saja seperti melarikan diri dari kenyataan bahwa bumi ini adalah rumah kita. Jika rumah kita direbut, bukankah itu artinya kita harus merebutnya kembali?”


Edez tersenyum. “Aku sungguh sangat senang bertemu dengan pemuda yang memiliki pemikiran sepertimu. Selama ini aku selalu mendengar orang-orang mengeluh. mereka semua menginginkan untuk pergi ke luar langit. Tapi untuk pertama kalinya, aku bertemu dengan pemuda yang mengatakan kebalikannya. Aku akan selalu mendukungmu atas misi yang tengah kau jalankan.” Edez mengepalkan tangannya di hadapan mukaku.


Aku mengangguk. “Terima kasih, Edez.”


 


 


***


 


 


Malam mulai menghilang, digantikan fajar yang semakin menyingsing. Kami semua sudah bersiap. Beberapa penduduk dengan senang hati memberikan kami berbagai kebutuhan lainnya. Mereka bahkan mempersembahkan lagu perpisahan dan berbagai atraksi yang memukau. Ini membuatku semakin sulit untuk berpisah dengan mereka.


Edez menjabat tangan kami satu persatu. Mendoakan kami agar terhindar dari segala bahaya. Kami sangat tersentuh dengan sikap penduduk ini.


“Aku punya satu pesan untuk kalian semua.” Edez mengucapkan kata-kata terakhirnya. “Teruslah berbuat baik. Karena dibalik kebaikan, kau akan menemukan jalan keluar.”


Aku mengangguk. “Terima kasih, Edez. Kami tidak akan pernah melupakanmu.”


Kami mulai memasuki pesawat. Seperti biasa, Vero mulai bertingkah. Dia memberikan pengumuman layaknya seorang pramugari. Memerintahkan  kami untuk duduk, memasang sabuk pengaman, dan beberapa perintah aneh lainnya.


Pesawat mulai lepas landas. Aku bisa menatap lambaian penduduk tersebut untuk terakhir kalinya dibalik jendela pesawat. Aku membalas lambaian mereka. Pesawat mulai melesat membelah langit. Mulai dari sini, perjalanan kami akan semakin sulit.


 


 

__ADS_1


__ADS_2