Kehancuran Batana

Kehancuran Batana
PERGINYA ZENZEN 4


__ADS_3

Jadi aku memutuskan untuk meminta izin pada Ador untuk melakukan sebuah rutinitas pagi selama satu bulan ke depan. Guna melatih mentalku agar siap ketika tiba waktunya pengumuman hasil tes. Dengan demikian aku tidak lagi merasa cemas jika berada di dekat *d*rone-drone yang melayang di sekitarku.


“Ada apa? Tidak biasanya kau memintaku secara langsung untuk izin keluar dari laboratorium ini.” Ador yang tengah mengurusi berkas-berkas tampak bingung.


Apa yang dia katakan benar. Aku tidak pernah meminta izin padanya untuk keluar dari laboratorium ini. Aku hanya keluar untuk memenuhi keperluanku sebagai seorang murid di kelas accel. Selebihnya aku tidak pernah melangkahkan kakiku keluar dari laboratorium dengan alasan lain. Aku lebih suka menghabiskan waktu senggangku di laboratorium ini.


Ada beberapa hal yang juga berubah selama satu tahun ini. Ador mengizinkan beberapa anak untuk keluar masuk dari laboratorium dengan jam-jam dan hari yang ditentukan. Peraturan itu dibuat sejak dua bulan setelah aku masuk dari kelas accel. Mungkin itu semacam ungkapan bahagianya karena aku menjadi murid yang paling dia banggakan saat ini. Entahlah, atau mungkin ini hanyalah bentuk penyamaran jika dia tidak lagi membutuhkan anak-anak lain sejak aku hadir dalam laboratorium ini. Dugaan ini kukaitkan dengan dua anak tertua yang keluar dari laboratorium ini dengan mudahnya. Memang sempat kudengar Ador tengah berdebat dengan seseorang, tapi esoknya mereka berdua dengan mudahnya pergi tanpa berpamitan dengan anak-anak lain.


Dugaanku juga diperkuat dengan lima pendatang baru di laboratorium. Ke lima anak-anak itu tidak memiliki cacat fisik sepertiku ataupun anak-anak sebelumnya. Mereka berlima hanya kehilangan suara, pendengaran dan penglihatan saja. Jelas sekali Ador tidak ingin repot-repot merawat anak yang cacat fisik sejak aku berada di laboratorium ini.


“Aku ingin mempersiapkan diriku untuk menanti hari pengumuman. Setidaknya sebelum aku berada di akademi itu aku sudah siap mental maupun fisik. Aku masih merasa kurang dari berbagai aspek. Melihat anak-anak kemarin membuatku sadar jika aku masih perlu berlatih dan belajar.”


Ador mengangguk-angguk. “Ide yang bagus. Sungguh di luar dugaanku kau punya ambisi besar seperti itu. Ini perlu di apresiasi. Ajaklah beberapa anak lainnya jika kau mau. Kalian bisa melakukan beberapa hal bersama. Tapi jika bisa kau harus pulang sebelum gelap. Aku tidak ingin kau mendapatkan masalah di luar sana. Malam selalu menjadi lebih berbahaya dibandingkan waktu-waktu lainnya. Walau demikian semua orang beranggapan bahwa malam adalah waktu terbaik untuk bersenang-senang.” Ador menggelengkan kepala. “Aku tidak setuju dengan hal itu. Kenapa? Rata-rata penjahat sangat suka berkeliaran di gelapnya malam. Mereka lebih mudah bersembunyi sembari melancarkan aksinya ketika malam menjelang. Karena itu malam menjadi waktu terfavorit bagi para penjahat untuk berkeliaran.”


Aku mengusap wajah. “Tentu saja aku tidak sebodoh itu, Ador. Aku akan kembali setidaknya sebelum senja. Dan satu hal lagi, aku tidak mau siapapun ikut bersamaku. Hal itu hanya akan membuang-buang waktu. Lebih nyaman jika aku pergi sendiri.”


Ador mengangguk. “Oke.”


Begitu mendapatkan izin darinya, aku bergegas keluar dari laboratorium. Udara masih terasa dingin dan lembab. Langitpun masih terlihat gelap di beberapa sisi. Cahaya matahari yang tentram menelisik di antara pepohonan di pelataran laboratorium. Aku mulai berlari menyelusuri jalan setapak yang mulus. Belum pernah aku berlari sebebas dan senyaman ini sebelumnya.

__ADS_1


Di daerah kumuh hampir tidak ada jalanan yang semulus dan sebersih di tempat ini. jalanan di sana sangat berbatu dan tak nyaman. Dulu saat aku masih memiliki kaki, sepatuku sering sekali terlepas akibat goresan batu ataupun tersandung barang rongsokan yang berserakan sembarang di jalanan. Aku harus menjahit berkali-kali sol sepatuku yang terlepas. Jika sudah tidak bisa digunakan lagi, aku terpaksa mencari yang baru di tempat pembuangan atau aku terpaksa berjalan tanpa alas kaki jika tengah mencari makan.


Kehidupanku kini berubah seratus delapan puluh derajat sejak kebakaran yang menewaskan kakakku. Aku masih tidak bisa menyebut diriku memiliki kehidupan yang nyaman karena aku masih berada di bawah kendali seseorang. Aku baru bisa menyebut hidupku nyaman jika aku telah berada di posisi dimana akulah pengendalinya.


Aku menelusuri jalan. Melewati tanaman-tanaman hias, pelataran bangunan, toko-toko, bahkan sebuah jembatan dengan sungai jernih di bawahnya. Aku berhenti sejenak di jembatan itu. Menikmati aliran sungai yang berkilauan di terpa cahaya matahari yang tampak terbit dari arah timur. Langit tampak bersih. Membuat suasana semakin sejuk dan damai.


Kini aku mulai melakukan tujuanku. Membiasakan diriku berada di sekitar drone. Di hari libur seperti ini banyak anak-anak yang bermain-main dengan drone di sebuah taman. Aku bisa menuju ke sana sebagai latihan untukku selama satu bulan ini.


Aku menuju taman dan mendapati beberapa anak kecil berlarian sembari membawa drone di dekat mereka. Aku sempat dibuat terkejut dengan satu drone mini yang melesat tepat di hadapanku. Kusaksikan anak-anak itu berlari riang dengan drone milik mereka masing-masing. Namun anehnya tak kudapati adanya orangtua yang mengawasi mereka. Mungkin drone-drone  itu berfungsi sebagai pengganti pengawas mereka.


Kuhabiskan waktu berjam-jam di taman yang tidak terlalu luas itu dengan duduk di bawah salah satu pohon yang terlihat rindang. Setidaknya Ador memberiku uang saku untukku membeli makanan.


Mudah sekali ditebak. Aku lulus.


 


***


Pukul lima pagi.

__ADS_1


Aku mendengar seseorang berseru lantang dan berlarian di lorong. Anak-anak di kamarku spontan terbangun dan mencari tahu siapa yang berlarian di tengah pagi buta seperti ini dan berteriak-teriak layaknya orang gila. Siapa lagi jika bukan Ador.


Dia memang sangat aneh. Salah satu sifat yang paling tidak kusukai darinya adalah reaksinya ketika dia sangat gembira atau senang. Aku sudah sering menyaksikannya bertingkah demikian, dan itu menjadi mimpi buruk bagiku.


Kami semua bergegas keluar dari kamar. Aku masih setengah tertidur dan mengacak kasar rambutku yang berantakan. Begitu melihatku Ador berseru lebih keras. Membuat anak-anak lain ikut terbangun dan keluar dari kamar mereka masing-masing.


“ZENZEN, KAU DITERIMA!!”


Anak-anak lain yang masih setengah tertidur kini terperangah dan membuka mata mereka lebar-lebar. Bersorak riang dan memberiku selamat. Aku tidak tertarik dan hendak masuk kembali ke kamarku. Tapi seseorang lebih dulu mencegatku dengan menggenggam tanganku begitu erat. Saat aku berbalik, aku melotot ke arahnya.


Arina. Setelah sekian lama akhirnya dia berani menyentuhku. Aku refleks menepis tangannya. Arina tetap tersenyum sembari memberiku ucapan selamat. Dia bahkan tidak segan-segan menjabat tanganku dan menepuk-nepuk bahuku. Disusul anak lainnya yang merangkul leherku dan mengacak kasar rambutku. Aku hanya terdiam. Arina? Berani-beraninya dia!


“Baiklah, untuk merayakan hari ini aku akan mengajak kalian semua berwisata. Ada sebuah museum terkenal di kota ini yang menyimpan beberapa barang kuno yang sangat langka. Aku yakin kalian semua akan sangat menyukainya.”


Semua anak bersorak gembira. Aku hanya menggelengkan kepala. Sebenarnya aku sudah sangat yakin jika aku akan lulus tes masuk akademi tersebut. Saat menjalani tes sebulan yang lalu, semua itu kulakukan dengan sangat mudah. Tak kudapati satupun kesulitan saat mengerjakan tes praktek dan akademis. Karena itulah sekali lagi aku sangat yakin akan diterima di akademi itu.


 


 

__ADS_1


__ADS_2