Kehancuran Batana

Kehancuran Batana
DESA PADANG RUMPUT


__ADS_3

Persiapan sudah selesai. Aku berhasil mendapatkan kembali senjataku. Jora sempat meminjam senjata tersebut. Meminta perusahaan senjata untuk membuat fungsi yang sama. Hanya saja, masing-masing dari kami bisa menentukan bentuk dan ukuran dari senjata tersebut. Bundara meminta ukuran yang sedikit lebih besar. Dia sudah terbiasa dengan senjata dengan beban yang berat sebelumnya. Vero meminta moncongnya sedikit panjang dan terdapat scope di bagian atasnya. Dia handal dalam serangan jarak jauh. Marko meminta senjata tersebut agak kecil dengan dua lubang tembakan. Vero sempat meledeknya. Namun dia tidak peduli. Bilang jika kita bebas menentukan pilihan.


Senapanku juga diperbaharui, sudah tidak ada karat yang tersisa. Senapan tersebut mengkilap seperti baru. Aku masih ingin menggunakan senapan ini. Senapan pemberian Ibuku. Jora sempat bertanya padaku apakah aku tidak mau mengganti senjataku. Tentu saja aku tidak mau. Senapan ini yang melindungiku selama berada di luar sana.


Kami melaksanakan keberangkatan di esok pagi. Aku sempat berpamitan dengan Ruzdora. Memintanya untuk mengawasi ke-empat belas prajurit lainnya yang kini tengah berlindung di rumah Ruzdora. Dia dengan senang hati menerima. Sebelum berangkat dia sempat memberiku perbekalan. Sama seperti ketika aku hendak pergi ke Akademi Langit. Ruzdora memelukku, melepaskan kepergianku.


Pukul empat dini hari.


Kami pergi menuju bandara rahasia. Tim ini beranggotakan Vero, Bundara, dan  Marko. Jora sempat menawarkan untuk menambah jumlah anggota. Aku menolak. Terlalu banyak juga tidak baik. Aku juga tidak mau banyak mengorbankan nyawa dalam misi ini. Asal kami bisa saling bekerjasama, kami tidak perlu khawatir.


Kami tiba di bandara. Jora juga menyediakan pesawat pribadi untuk kami. Beruntungnya, Vero pernah belajar mengendarai pesawat. Kami tidak perlu pilot untuk membawa kami kemanapun. Marko sempat meragukan kemampuan Vero. Membalasnya karena Vero sempat meledeknya soal bentuk senjata. Mereka masih tidak bisa akur. Mungkin perjalanan ini akan dipenuhi dengan kebisingan setiap harinya.


Pesawat tersebut memiliki besar layaknya sebuah rumah dengan moncong yang bercabang dan terdapat baling-baling di sisinya. Warnanya biru metalik dengan ruang utama yang berbentuk setengah bola. Ada sedikit warna emas sebagai penghias.  Sayapnya mirip dengan pesawat yang kutumpangi tempo lalu. Sayap tersebut berbentuk sayap Wallet. Terdapat turbo yang tergantung di bawah sayap.


Kami memasuki pesawat tersebut, namun kami dikejutkan dengan kehadiran seseorang. Jora, dia tengah duduk di salah satu bangku penumpang. Menyapa kami dengan tersenyum. Dia bahkan mengenakan pakaian lengkap.


“Apa yang kau lakukan di sini?” Aku lebih dulu bertanya.


“Tentu saja aku turun tangan langsung dalam misi ini.” Jora menjawab santai.


Tidak bisa! Aku tidak bisa menerima seorang wanita di tim ini. Bisa-bisa kami malah terganggu. Mengingat dia merupakan orang penting di Kota Keios. Akan jadi sebuah masalah jika sesuatu terjadi padanya.


“Hei! Kau meragukanku, Lian?” Jora menunjukkan sebuah kartu.


Itu kartu tanda pengenal Akademi Langit. Itu artinya dia lulusan dari tempat tersebut.


“Aku sudah pernah lulus sejak usiaku empat belas tahun.” Dia menggoyang-goyangkan kartu tersebut. Lantas beranjak menuju bangku paling depan.


“Lagipula aku sudah mendapatkan izin dari walikota. Tugasku ialah untuk mengawasi kalian semua. Vero dan Bundara masih dalam pengawasan karena kalian mantan narapidana. Marko bukan lulusan resmi dari Akademi Langit, ditambah dia yang paling muda diantara kalian. Terakhir kau, Lian. Tentu saja kau masih dalam tahap pengawasan karena kau bukan...”


“Baik! Aku terima kau bergabung di tim ini. Tapi, aku akan menganggapmu sebagai penumpang gelap. Kau tidak boleh bertindak sesuka hatimu, mengerti?” Aku berujar ketus. Ini sungguh menyebalkan.


Kami duduk di bangku masing-masing. Vero berada di ruang kemudi. Sedang yang lainnya berada di kabin pesawat. Aku masih kesal dengan kehadiran Jora. Tidak meliriknya sedikitpun. Aku lebih kesal lagi begitu Bundara dan Marko sudah akrab dengan gadis tersebut. Aku memutuskan untuk menatap ke luar jendela.


“Ehmm, Lian?” Vero memanggilku. Hendak bertanya.


“Apa?” Aku menoleh.


“Kemana kita akan pergi?”


Aku nyaris menepuk dahi. Aku lupa memberi tahunya tujuan pertamaku. Kehadiran Jora membuat mood-ku memburuk. Aku menghela nafas.


“Kita ke selatan, ada sebuah padang rumput yang membentang bak permadani. Aku harus menyelidiki tempat tersebut. Jaraknya tiga hari dari sini jika berjalan kaki. Yang itu artinya, kita hanya membutuhkan setengah jam perjalanan jika menggunakan pesawat.”


“Hei, Lian. Aku punya ide, bagaimana jika kita beri nama pesawat ini. Kau sendiri yang akan memberi nama.” Vero berseru riang.


Semua setuju. Mereka menatapku, menungguku untuk memberi nama.


“Bukannya pesawat ini memiliki nama?” Aku bertanya kikuk. Tidak biasa ditatap seperti itu.


“Namanya jelek, aku tidak suka. Terlalu panjang untuk diucapkan, IRH-0218.” Vero menggeleng. Dia sangat tidak setuju dengan nama tersebut,

__ADS_1


“Sejak kapan aku yang memutuskan?” Aku bertanya pelan.


“Astaga, Lian! Kau-lah kapten di tim ini. Kau-lah yang merekrut kami dan itu sudah otomatis menjadikanmu kapten.” Bundara tertawa. Suaranya menggema memenuhi ruangan.


“Aku setuju, Senior. Eh, maksudku Kapten Lian.” Marko mengangkat tangan, memberi penghormatan.


Aku menelan ludah. Jora bahkan ikut mengangguk setuju. Padahal dia bukan bagian dari tim ini. sebaik apapun perlakuannya padaku, aku akan tetap menganggapnya penumpang gelap.


Aku kembali menghela nafas. “Baiklah, ini sebuah kehormatan bagiku. Aku akan menamai pesawat ini, Falcon.”


“Oke! Pesawat Falcon bersiap lepas landas. Semua penumpang diharapkan memakai sabuk pengaman.” Vero bergaya layaknya seorang pramugari.


Pesawat mulai mendesing. Turbo-turbonya menyala. Baling-balingnya berputar. Gerbang mulai terbuka. Langit masih gelap, matahari belum mucul. Kini pesawat lepas landas. Mengambang di angkasa. Marko berseru takjub, terkadang sifat kekanak-kanakkannya muncul. Dia melongo menatap hamparan puing di bawah sana.


Sementara pesawat mengudara, aku mengajukan pertanyaan pada tiga temanku. ( Jora tidak dianggap )


“Aku punya pertanyaan untuk kalian. Sewaktu kebangkitan RP-2, apa yang terjadi pada kalian? Kenapa kalian bisa selamat?”


“Kami tidak terlalu kena dampaknya lantaran Kota Keios dikelilingi lereng. Lereng-lereng tersebut bak dinding yang melindungi kota. RP-2 masih bisa dicegah dengan mengirim prajurit untuk menghadang RP-2 yang mencoba memasuki kota. Sementara itu, Walikota Keios menimbun seluruh kota dengan puing. Kami hanya membutuhkan dua bulan penuh untuk bisa menimbun seluruh kota.”


Aku mengangguk. Pantas saja mereka tidak memiliki kenangan buruk dengan robot tersebut.


Matahari mulai muncul di kaki langit. Warna langit berubah menjadi hijau kebiruan. Awan putih mulai menggantung di angkasa. Embun pagi memenuhi kaca pesawat. Pasti udara di luar sana dingin. Kami mulai melintasi hutan. Sesekali Vero menerbangkan pesawat dengan keadaan rendah. Burung-burung berterbangan tersibak angin yang ditimbulkan pesawat. Aku juga bisa melihat sungai-sungai mengalir tenang di pinggir hutan tersebut.


Dan pandanganku tertuju pada suatu bangunan.


Aku mengenali bangunan tersebut. Bangunan itu ialah tempat dimana aku sempat beristirahat sebelum aku tiba di Kota Keios. Bangunan tersebut tidak banyak berubah. Hanya saja atapnya sudah dipenuhi akar pohon dengan lumut yang menghiasi akar tersebut. Bahkan terdapat bunga-bunga yang merekah indah. Aku menatap lamat bangunan tersebut.


Pesawat terus melaju membelah angin. Dedaunan tersibak dan berpilin-pilin disekitar kami. Kini kami disuguhi dengan hamparan danau. Marko berseru antusias. Bundara bahkan menatap haru danau dengan kilauan bak permata. Aku juga mengingat danau tersebut. Hari itu aku tengah berlari di tepinya. Tak kupedulikan pemandangan yang menggoda di sekitar danau tersebut. Kini aku bisa menyaksikannya dengan tenang. Vero bahkan sempat bermanuver di atas permukaan danau.


Tiba-tiba saja pesawat terguncang. Lampu di dalam pesawat berkedip. Kami mulai panik. Vero tengah mengutak-ngatik tombol pesawat.


“Ada apa, Vero?” Aku bertanya panik.


“Gawat, Lian! Ada gelombang yang mengganggu mesin pesawat. Semacam tabir yang melingkupi suatu area. Aku tidak bisa lebih jauh lagi, bisa-bisa pesawat akan terjatuh. Aku sarankan untuk mendarat.”


Aku mengangguk setuju. Ini membuatku semakin penasaran. Dulu aku sempat bertanya pada Ibu kenapa desa kami bisa aman dari RP-2. Mungkin dengan memeriksanya sendiri aku bisa menemukan jawaban atas pertanyaanku.


Kami mendarat di atas tanah datar. Pesawat berdesing pelan. Membuat debu-debu berterbangan di sekitar kami. Kami mulai bersiap, memegangi senjata kami. Khawatir jika ada RP-2 di area tersebut. Aku meminta Jora untuk tetap di dalam pesawat. Aku tidak mau membahayakannya.


“Eh! Aku juga ingin ikut!” Jora berseru tidak terima.


Aku menggeleng kuat. “Tidak boleh! Kau penumpang gelap di pesawat ini.”


“Tapi...”


“Tidak boleh!” Aku membentak. Walau dia seorang lulusan Akademi Langit, aku tidak akan mengizinkannya terlibat dalam misi ini.


Jora mendengus pelan. Menggumam jengkel. Terduduk diam di bangku penumpang. Aku menyuruh Vero untuk mengaktifkan mode auto pilot. Mengirimnya pulang ke Kota Keios jika sesuatu terjadi pada kami.


Kami mulai menuruni pesawat. Tentunya dengan menggunakan helm yang dilengkapi dengan masker. Sejatinya aku bisa saja melepaskan helmku. Namun mengingat wajahku pernah babak belur, membuatku mengambil keputusan bijak. Aku akan mengenakan helm ini kemanapun aku pergi. Aku sempat mengecek alat komunikasi. Ini sungguh aneh, alat ini tidak bisa menyala.

__ADS_1


Kami menelusuri jalan setapak. Aku mengenal daerah ini. Puing-puing dengan beberapa kendaraan yang terbengkalai. Hutan yang tidak begitu rapat, beberapa kelinci melompat kesana-kemari begitu melihat kami, jalan setapak yang dipenuhi dedaunan kering, serta sungai kecil yang melintas membelah hutan. Tempat ini sangat dekat dengan desaku. Jantungku berdegup kencang. Akan seperti apa desaku sekarang? Apakah masih ada salah satu penduduk yang berhasil selamat?


Cahaya pagi menelisik melalui sela-sela dedaunan. Membuat hutan sedikit lebih terang. Kami terus berjalan kaki. Dan akhirnya kami tiba di ujungnya. Seketika, angin berhembus menggoyang-goyangkan rerumputan di sekitarku. Cahaya matahari menyirami padang rumput tersebut. Desaku, telah rata.


Aku mengerjapkan kedua mataku. Tanganku bergetar. Desaku sudah ditumbuhi rerumputan liar dan beberapa bunga. Aku berlari. Vero, Bundara, dan Marko menyusulku. Mereka berteriak memanggilku. Bertanya apa yang telah terjadi. Aku tidak peduli, berlari sekencang mungkin. Aku terhenti tepat di gerbang desaku. Hanya saja, sudah tidak ada plang selamat datang di sana. Aku menatap kearah tanah, walau sudah dua tahun, aku masih bisa melihat bekas kebakaran. Aku mulai melangkah. Berjalan memasuki desa yang sudah rata dengan tanah.


Aku masih ingat struktur desa. Tempat dimana aku bermain dengan sepupuku, tempat dimana aku belajar berburu, tempat dimana aku menghabiskan waktu bersama Liana. Semua itu terlihat di mataku seperti melihat proyeksi tiga dimensi. Aku bahkan nyaris menangis. Kini aku mulai mendekati tempat yang seharusnya menjadi rumahku. Sayangnya, hanya ada sebuah gundukan dengan rerumputan di atasnya. Seperti sebuah kuburan dengan beberapa bongkahan batu di atasnya.


Tidak ada yang tersisa dari tempat ini. bahkan tidak ada tulang-belulang dari para penduduk yang dibantai oleh bandit-bandit sialan tersebut. Aku mengatupkan rahang. Semua ini hanya akan memperdalam kesedihanku. Aku tidak bisa berlama-lama di tempat ini dan mengenang semua masa laluku. Tujuanku hanya satu, aku ingin mengetahui penyebab desaku tidak diserang oleh RP-2.


“Kapten, kau baik-baik saja?” Marko menyentuh pelan bahuku.


Aku mengangguk, menatap mereka ber-tiga.


“Aku ingin kita berpencar mengelilingi area ini. Seperti yang kau lihat, di area ini sama sekali tidak ada bangkai, atau tanda-tanda kehadiran RP-2. Cari apapun yang sekiranya bisa menjadi petunjuk yang berharga. Kita akan bertemu lagi di titik ini setengah jam ke depan. Jika kalian menemukan sesuatu, tembakkan suar kalian.”


“Siap!” Mereka menjawab kompak. Berpencar.


Aku memutuskan untuk menulusuri rumahku yang sudah menjadi gundukan tanah. Setidaknya aku butuh catatan Ibu atau beberapa buku hariannya. Aku sering sekali melihat Ibu mencatat kesehariannya. Aku harap dia mencatat hal penting dalam buku tersebut.


Lima belas menit kemudian.


Nihil, aku sama sekali tidak bisa menemukan benda apapun. Seakan lenyap ditelan bumi. Aku memutuskan untuk mencari di tempat lain. Hingga sebuah suar ditembakkan. Jaraknya sekitar satu kilometer dari titik pertemuan. Aku bergegas.


Lima belas menit kemudian kami telah berkumpul. Aku mendongak menatap sebuah menara dengan bohlam yang menyala remang. Sejatinya aku sudah tahu keberadaan menara tersebut, hanya saja aku tidak pernah mau tahu.


“Sepertinya menara ini yang mengganggu sistem di pesawat kita, Lian.” Vero menjelaskan. Di antara kita, Vero yang paling paham soal mesin.


“Jika menara ini bisa mengganggu penerbangan pesawat kita, itu artinya dia juga bisa mengganggu alat eletronik lainnya, termasuk RP-2. Mereka tidak akan bisa melewati menara ini. Pembuatnya pasti orang yang sangat jenius, jika dunia tahu ada menara yang bisa menghadang RP-2, ini akan menjadi aset yang sangat berharga. Kita bisa membuat menara ini di Kota Keios, dengan begini kita tidak perlu lagi menatap langit yang dipenuhi puing.”


Aku menggeleng tidak setuju. Tujuanku adalah memusnahkan RP-2. Bukan untuk mencari alat yang bisa melindungi kami dari robot tersebut.


Aku memutuskan untuk kembali ke pesawat. Menuju kota mati bernama Batana. Setidaknya aku sudah tahu penyebab desaku tidak diserang oleh RP-2. Menara tersebut memancarkan sebuah gelombang yang mengganggu kinerja alat berteknologi tinggi. Namun aku masih tidak tahu siapa yang menciptakan menara tersebut.


Sesampainya di pesawat, Jora menyambut kami. Bertanya soal apa yang kami dapatkan. Vero yang menjelaskan, aku memutuskan untuk diam. Malas berbicara dengannya. Marko dan Bundara ikut bergabung. Vero sudah duduk di bangku kemudi. Pesawat kembali lepas landas.


“Lian, kemana tujuan kita selanjutnya?” Vero bertanya pelan.


“Tujuan kita selanjutnya, sebuah kota mati yang tak terjamah, Kota Batana. Aku juga tidak tahu dimana tempat tersebut. Namun seseorang mengatakan padaku, jika kota tersebut terletak di arah utara dari area ini. Aku juga harus bertemu dengan pria berjanggut tebal dengan tangan besi.”


“Aku penasaran siapa yang memberimu perintah itu, Lian?” Bundara berceletuk.


Aku menghela nafas sejenak. “Ibuku”


Bundara mengangguk, tidak lagi bertanya.


Vero sudah mengaktifkan pesawat. Turbo dan baling-baling pesawat mulai menyala. Menghempaskan dedaunan kering di sekitar pesawat. Pesawat mulai mengambang beberapa meter, aku bisa menyaksikan desaku yang telah rata dengan tanah dari ketinggian. Menatap nanar sembari mendesah pelan. Semua kenanganku tersimpan di tempat tersebut. Hari-hari bahagiaku tertinggal di tempat tersebut.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2