
Esok harinya tepat pukul lima pagi dimana matahari belum muncul dari tempat persembunyiannya. Seseorang menggoyang-goyangkan tubuhku. Aku mendengus kesal. Ini masih terlalu pagi untuk bangun. Siapa pula yang tengah mengusik mimpi indahku. Padahal aku baru saja bermimpi jika aku tengah menghajar Bastian sampai babak belur. Aku bersungut-sungut dan membuka mataku lebar-lebar. Kudapati Arina yang telah mengusik tidurku.
“Apa yang kau laku...” Kalimatku terpotong karena Arina menutup mulutku dengan tangan bioniknya. Aku menghindar. Tangan itu terasa sangat dingin di bibirku.
“Sssstttt... Jangan berisik. Kau bisa membangunkan anak-anak lainnya. Cepat ikuti aku.” Arina mulai beringsut dan menuju keluar kamar.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Dia ini bodoh atau terlalu polos, sih? Sudah jelas aku tidak akan mengikutinya. Aku kembali berbaring dan menutup seluruh tubuh dengan selimut. Namun Arina kembali menggangguku. Menarik selimutku dan menimpuk wajahku dengan kain.
Pasrah. Pada akhirnya aku mengikuti ajakannya. Aku memutar bola mataku dan mengekor dibelakangnya dengan wajah kesal. Sebenarnya apa yang dia inginkan dariku sih? Anehnya aku tidak bisa mencium bau kemunafikan darinya. Ini sungguh aneh sekali. Padahal aku bertekad akan menganggap semua orang adalah pembohong sejak seseorang ‘itu’ berkhianat padaku.
“Hei, jelaskan kita mau kemana? Kau hanya membuatku tertular kebodohanmu.”
“Baguslah jika kau tertular kebodohanku. Dengan demikian kau akan cepat akrab dengan kami semua.”
Aku mendengus kesal. Kami menelusuri lorong dan menuju ke ruangan milik Ador. aku bisa menyaksikan sebuah cahaya berwarna jingga keluar dari ruangan tersebut. Sepertinya aku bisa menebak apa yang terjadi. Ini pasti pesta kejutan. Aku mengusap-ngusap jidatku. Sungguh situasi yang sangat menyebalkan.
“Tuan Ador, aku sudah membawa bocah pemalas ini kemari.” Ujar Arina dengan suara pelan.
“Ah, maaf untuk kesekian kalinya, Zenzen. Kau pasti sangat terkejut karena mendapatkan panggilan pagi-pagi buta seperti ini. Aku harus membangunkanmu pagi ini untuk membantuku menyiapkan kejutannya. Aku ingin kau yang memberikan hadiah ini kepada Bastian. Setidaknya kuharap hubungan kalian akan membaik.” Ador tersenyum lebar. Menampakkan barisan giginya yang tersusun rapi.
“Seharusnya aku saja yang memberikannya, Tuan Ador.” Seru Anita semangat. “Bukannya anak pemalas ini.”
Aku melotot ke arahnya. “Kalau begitu kenapa tidak kau saja, hah? Kenapa harus melibatkan aku.” Ujarku sembari menahan kesal.
“Sejujurnya aku mau saja melakukannya. Malah sangat mau. Sebelum Tuan Ador memintanyapun aku pasti akan langsung memberikan hadiah tersebut dengan kedua tanganku sendiri. Tapi ini semua demi kebaikanmu dan juga demi kebaikan Bastian. Karena itu Tuan Ador menyuruhku untuk memanggilmu.”
Aku memutar bola mataku. Baiklah, setidaknya ini hanya pura-pura. Aku hanya perlu memberikan hadiah itu dengan kedua tanganku saja, kan? Tidak lebih dari itu. Perasaanku akan tetap sama. Aku akan selalu membencinya.
Pukul enam pagi. Anak-anak mulai dibangunkan satu persatu untuk bersiap-siap memberikan kejutan secara bersamaan. Rencananya simpel. Kami akan mengejutkannya di depan pintu kamar Bastian secara beramai-ramai. Semua anak-anak akan berada di depan kamar Bastian. Aku mengeluh. Aku sungguh tidak ingin melakukan hal ini.
Pukul tujuh, bel sarapan pagi berbunyi. Menandakan semua anak harus bangun pada jam tersebut. Aku menguap. Rasa kantuk menyerangku. Sebenarnya aku sangat pandai menahan kantuk. Aku sudah terbiasa dengan jam malam. Tentu saja waktu malam adalah waktu terbaik untuk melancarkan aksi pencurian. Namun hari itu dan hari ini adalah sesuatu yang sangat berbeda. Saat ini aku benar-benar bosan dan kesal.
Pintu perlahan terbuka. Bastian yang masih setengah tertidur dikejutkan dengan sorakan kami dan semprotan pernak-pernik yang mengarah tepat ke wajahnya. Bastian lantas mengerjap-ngerjapkan matanya. Anak-anak mulai memberi selamat di umurnya yang ke delapan belas tahun.
“Kau sudah menjalani hidup dengan baik, Nak. Aku sangat senang kau menjadi bagian dari keluarga ini.” Ador tersenyum lembut sembari menepuk-nepuk bahunya. “Mari kita lupakan masa lalu yang berlalu dan mulai melangkah menuju hari yang baru. Sebagai apresiasi karena kau selalu menemaniku selama ini, dan penghargaan atas kesetiaanmu padaku, aku memberikan hadiah yang kau inginkan sejak dulu. Zenzen, kemarilah.” Ador menatap ke arahku sembari melambai-lambaikan tangannya.
Aku merengut. Anita yang berdiri di sebelahku menyikut bahuku.
“Hei, tersenyumlah. Kau hanya akan mengacaukan semua rencana yang kita susun pagi ini. Tersenyumlah maka dunia akan tersenyum padamu.” Anita berbisik pelan.
Aku mendesah pelan. Lantas tersenyum kaku sembari membawa tubuh bionik yang telah dibungkus secara asal-asalan. Menghadap tepat di depan Bastian.
Situasi yang benar-benar canggung! Rasanya aku ingin sekali memuntahkan isi perutku dan menarik jantungku keluar melalui mulutku. Hening. Kami hanya mematung dan saling menatap tajam. Anak-anak lain dibuat bingung dengan situasi ini. Anita dengan cepat merangkul leherku dan mencairkan suasana.
__ADS_1
“Kau tahu sendiri, kan? Anak ini memang sangat sombong dan tidak tahu malu.”
Aku nyaris saja protes. Melotot ke arah Anita. Melepaskan rangkulannya secara paksa.
“Ini hadiah untukmu dari Tuan Ador.” Aku menyodorkan bungkusan itu padanya dengan senyuman kaku. Aku yakin ekspresiku sangat buruk saat ini.
Bastian menerima hadiah tersebut dan mulai membukanya. Semua anak-anak mulai bersorak dan bertepuk tangan. Tentu saja aku tidak. Buat apa kita merayakan ulang tahun? Padahal tanpa mereka sadari itu merupakan tindakan yang bodoh. Ulang tahun menandakan usia kita yang semakin bertambah. Toh, bertambahnya usianya kita berarti semakin mendekatnya kita kepada kematian. Aku tidak pernah merayakan ulang tahun sepanjang aku hidup. Karena itu definisi ulang tahun bagiku berbeda dengan yang lainnya.
Bungkusan sempurna terbuka lebar. Wajah Bastian berubah menjadi berseri-seri. Dia menatap ke arah Ador.
“Ini sungguh sebuah kejutan! Tuan, terima kasih banyak... Ini sungguh kejutan yang tak terduga.” Bastian membungkuk hormat sembari memegang kaki bionik dan tangan besi tersebut erat-erat. Seakan-akan tidak ingin melepaskan benda tersebut. “Maafkan aku yang sudah berburuk sangka padamu, Tuan Ador. Aku sungguh minta maaf.”
Ador memeluk Bastian dengan erat sembari menepuk-nepuk bahunya. Aku bergidik ngeri menyaksikan pemandangan yang ada di depanku. Rasanya seperti menonton drama anak dan orang tua. Tidak bisakah kita mengakhiri situasi ini secepatnya?
“Kalau begitu kau bisa mencobanya sekarang, Bastian.”
Bastian mengangguk “Tapi tentunya setelah kita sarapan. Aku sudah sangat lapar saat ini, Tuan.”
Ador terkekeh pelan. Kami semua menuju ruang makan dan mulai menikmati sarapan bersama-sama. Sejauh ini aku masih belum bisa akur dengannya. Jangankan akur, bertegur sapa saja tidak. Arina lebih banyak menggangguku. Menyuruhku melakukan inilah, melakukan itulah. Aku selalu menahan rasa kesalku padanya. Bukan karena dia seorang perempuan atau semacamnya. Melainkan aku tengah menjaga harga diriku sebagai Zenzen yang baik dihadapan Ador. Aku tidak mau jati diriku yang asli terbongkar hanya karena omelan dan ledekkan sepele dari seorang gadis lugu yang tidak tahu apa-apa tentangku. Aku bahkan berharap dia tidak akan pernah tahu tentangku.
Siang harinya. Aku terlelap dalam tidurku. Di luar tengah hujan dan Ador tampaknya sedang keluar. Hari itu akan menjadi kenangan yang tidak akan aku lupakan. Di pagi hari saat perayaan ulang tahun tadi, mungkin suasananya terasa hangat walau dingin menusuk kulit. Tapi siang ini, semua itu berubah seratus delapan puluh derajat. Tidak ada yang penah tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang. Empat jam ke depan, atau bahkan satu menit ke depan. Apapun bisa berubah. Termasuk cuaca cerah yang tiba-tiba berubah menjadi hujan.
Aku yang tengah bermimpi makan bersama dengan keluargaku tiba-tiba dibangunkan oleh seseorang. Aku mengeluh. Padahal baru saja aku menikmati tidurku. Orang sialan siapa lagi yang mencoba membangunkanku. Aku menutup wajahku dengan bantal. Memberi sinyal jika aku tidak ingin diganggu.
Tubuhku ditendang sampai terjatuh dari ranjangku. Aku mengaduh kesakitan. Kepalaku mendarat lebih dulu dari tubuhku. Yeah, walau tubuhku mendarat lebih dulu tetap bagian yang sakit hanyalah kepalaku yang terbentur. Aku sontak marah. Ini sudah keterlaluan.
“Apa-apaan kau, Ari...” Aku yang hendak berseru marah terdiam. Kudapati bukan Arina yang berada di hadapanku.
Petir di luar menyambar. Terakhir kali aku mendengar petir semenggelegar itu saat aku memutuskan untuk menerima tawaran dari “anak itu”. Hari ini petir itu kembali menggelegar. Menambah ramai hujan yang mulai menderas. Aku terdiam. Mata kanannya terlihat mengkilat di terpa cahaya kilat. Bastian. Pria yang haus akan kasih sayang. Remaja laki-laki yang hari itu baru saja berulang tahun. Dia berdiri tepat di hadapanku sembari menatapku dengan penuh kebencian.
Bastian telah mengenakan kaki bionik baru tersebut. Kaki tersebut tampak elegan dengan lapisan sintetis yang terlihat lentur. Tampaknya Ador menambahkan beberapa fitur saat memasangkan kaki tersebut pada Bastian. Aku bersungut-sungut di dalam hati. Situasi macam apalagi yang akan aku hadapi?
“Bagaimana jika kita mengulangi pertandingan kemarin. Rasanya tidak adil jika kau menggunakan tubuh bionik itu untuk mengalahkanku.”
Aku mengatupkan rahang. Lantas berdiri dan mendongak menatap wajahnya. Fisik kami berbeda jauh. Tinggi Bastian bahkan melebihi tingginya Ador. Walau begitu aku sama sekali tidak takut ataupun ciut. Justru semakin galak menatapnya.
“Bukankah hasilnya sudah ditentukan. Ador yang mengatakan hal itu tepat di depan kalian kemarin. Seharusnya kau sadar diri dan jangan mempermalukan dirimu sendri.”
Bastian tertawa terbahak-bahak. “Wah, sekarang sombong sekali kau memanggil Tuan Ador tanpa memakai kata tuan. Aku yakin kau merasa paling kuat hanya karena perlombaan kecil itu. Kau merasa dirimu menang? Astaga... Itu hanya lelucon semata yang dibuat oleh Tuan Ador. Semua itu dia lakukan hanya untuk membuatmu senang sesaat. Bukankah itu yang selalu dia lakukan untuk menghibur seseorang? Tuan Ador pasti menginginkanku menjadi yang paling kuat dalam keluarga ini. Buktinya hari ini dia memberiku sebuah hadiah yang tak terkira harganya. Sungguh mengejutkan, bukan?”
Petir kembali menyambar. Aku menggeram. Orang ini sudah keterlaluan. Hari-hari seperti apa sih yang membuatnya menjadi semenyebalkan ini. Suara anak-anak lain yang tengah berbincang dari luar kamar semakin mendekat. Begitu pintu terbuka, kami berdua langsung menjadi tontonan.
“Zenzen, apa yang kau lakukan?” Arina berseru lantas menghampiri kami berdua. Di matanya akulah yang tampak tengah merundung Bastian.
__ADS_1
“Hei, Arina. Bisakah kau bilang pada remaja puber ini bahwa semuanya sudah ditentukan kemarin.”
Arina hanya diam. Dia tidak mengerti situasi apa yang tengah terjadi.
“Arina, kau tidak perlu ikut campur dalam urusan kami. Biar aku yang mengurus anak ini.” Bastian tersenyum lembut. Membuatku semakin terlihat jahat di depan anak-anak lainnya.
“Hei, jangan jadi pecundang dan melampiaskan semua kemarahanmu padaku. Bastian, dia ingin menantangku kembali.”
Semua anak dibuat terkejut dengan ucapanku. Termasuk Arina. Bastian menunduk sejenak lantas menatap ke arah Arina.
“Aku ingin mengulang kembali kompetisi kemarin karena aku merasa tidak adil dengan hasil tersebut. Tidak bisakah kalian melihat perbandingan jauh dari tubuh bionik miliknya dan milikku? Aku yakin siapaun bisa melihatnya walau hanya sekali lihat. Kaki palsuku yang sebelumnya telah berkarat dan beberapa kali harus direparasi. Karena itu aku ingin mengulangi pertandingan yang terasa tidak adil seperti itu. Kini kami impas. Tubuh bionik kami sama-sama baru.” Ujar Bastian dengan mantap.
Anak-anak lain mulai menyetujui kalimat Bastian.
Aku tersenyum tipis. “Kini aku tahu kenapa kau kehilangan penglihatanmu, Bastian. Sepertinya kau tidak pernah ingin melihat seseorang lebih unggul darimu, bukan? Kalian semua bahkan menyaksikan sendiri bagaimana Ador menyederhanakan sistem di tubuh bionikku.”
Semua anak tetap tidak menyetujui kalimatku. Arina semakin menatapku dengan penuh kebencian.
“Sudah cukup, Zenzen. Kami semua tidak akan mendengarkan perkataanmu.”
Aku mengusap-ngusap jidatku. “Wah, kini aku juga tahu penyebab kau kehilangan telingamu. Karena kau tidak pernah belajar untuk mendengarkan orang lain. Kau hanya mendengar apa yang kau sukai dan menutup telingamu dengan kenyataan yang tidak kau sukai.”
Arina melotot. Matanya mulai berkaca-kaca. “Kau... Kau sudah keterlaluan, Zenzen!” Arina hendak maju dan menamparku. Namun Bastian mencegatnya terlebih dahulu. Apa ini? apakah aku tengah melihat drama romantis di depanku?
Aku tersenyum sinis. Kembali menatap ke arah Bastian. “Sepertinya kau sangat takut pada bocah berusia dua belas tahun sepertiku, ya? Karena itu kau tidak akan pernah tenang sampai kau berhasil mengenyahkanku dari tempat ini.”
Raut wajah Bastian berubah. Dia termakan oleh tindakannya sendiri.
Bastian tertawa pelan. “Aku? Takut? Jangan bercanda, Bocah. Kaulah yang harusnya takut padaku.”
Entah mengapa kalimat itu membuatku sangat kesal dan muak. Kalimat yang sungguh ingin membuatku muntah. Kalimat yang keluar dari seseorang yang sok berkuasa. Sok merasa dirinya hebat. Sok merasa dirinya berada di paling atas. Baiklah, ini tidak bisa dibiarkan, seseorang harus membuatnya sadar. Siang hari dengan hujan lebat ini akan menjadi saksi bisu bahwa akulah yang lebih hebat darinya. Akan aku pastikan hal tersebut.
“Bailah, aku terima tantangan keduamu. Kuharap kau tidak akan menyesali perbuatanmu dan menangis tersedu-sedu di bawah hujan. Ah, aku yakin walau kau menangis pasti air matamu tidak akan terlihat. Sungguh beruntungnya dirimu karena hari ini hujan.” Aku menanggapi celaannya dengan santai.
“Bastian, kau tidak perlu menanggapi ocehan Zenzen. Kami semua sudah mengakui bahwa kau yang paling hebat di antara kami.” Arina berusaha membujuk Bastian.
“Tidak, aku akan bertarung dengan anak bermulut besar ini.”
Hujan semakin lebat. Tanah di lapangan mulai dipenuhi genangan air dan sedikir berlumpur. Walau hujan, tubuh kami dilengkapi dengan sistem water resistant. Yang memungkinkan kami beraktifitas walau tubuh bionik kami terkena air sekalipun. Angin berhembus kencang. Menghempaskan dedaunan yang basah oleh tampias hujan. Aku dan Bastian membiarkan tubuh kami basah kuyup diguyur derasnya hujan.
Kami akan melakukan ini dalam dua putaran. Hal itu sudah sangat cukup. Terutama saat ini hujan. Petir dan kilat bisa saja memecah konsentrasi kami. Lumpur bisa saja membuat kami tergelincir, dan lebatnya hujan bisa saja mengganggu pandangan kami. Hal itu sudah cukup untuk menjadi rintangan besar dalam perlombaan ini.
__ADS_1