Kehancuran Batana

Kehancuran Batana
AKU ZENZEN 2


__ADS_3

 


 


“Sejak kapan kau berubah pikiran?”


Aku mengerjab. Agia baru saja memecah lamunanku.


“Oh, itu terjadi begitu saja. Kakakku kesakitan tadi pagi. Sepertinya karena dia terlalu sering menahan lapar. Aku panik dan mencoba meminta bantuan pada orang-orang yang aku temui di jalan. Tapi sepertinya tidak ada yang mau menolongku. Tidak ada satupun.” Langkahku terhenti disusul Agia yang melihatku terdiam.


“Kau pasti banyak mendengar ucapan mereka, kan?”


Aku mengangguk.


Agia mendesah sejenak.”Seharusnya kau bilang padaku. Kalau kakakmu sedang sakit setidaknya aku bisa membantu walau sedikit.” Agia mengacak kasar rambut pendeknya yang ikal.


“Aku takut kau tidak akan mau mendengarkanku, maaf.” Aku memalingkan wajah. Pembicaraan ini entah mengapa berubah menjadi canggung.


Hening sejenak. Menyisakan suara hujan yang mulai mereda. Setidaknya mantel ini membuatku tidak terlalu kedinginan.


“Hei, ini bukan salahmu.  Ah, bagaimana mengatakannya ya... Sudahlah! Semakin lama kita di tempat ini, kakakmu akan semakin sakit dan bertanya-tanya kemana kau pergi. Ayo, tempatnya sudah tidak terlalu jauh.” Agia melambaikan tangan. Kembali berlari.


Kami tiba di sebuah gedung satu laintai. Halaman gedung dipenuhi dengan lampu remang berwarna jingga. Terdapat papan nama yang menggantung miring di atas atap bangunan. Tidak jelas tulisan apa yang tertulis pada papan tersebut. Pintu depan terbuat dari kayu yang tampak sudah lapuk. Aku bisa mendengar suara seseorang saling berbincang di dalam. Agia mendorong pintu. Seketika semua orang menatap kami.


“Agia! Darimana saja kau, Bocah!” Seru seseorang dengan tubuh jangkung.


“Kalau sudah datang cepatlah kemari! Dan siapa orang yang ada di belakangmu itu?” Ujar lagi seseorang lainnya.


“Ah, ini adalah temanku. Zenzen namanya. Dia ingin bergabung dengan kita.”


Seseorang dengan kacamata hitam yang duduk di atas sofa reot berdiri dan mendekat ke arahku. Dia melepas kacamatanya dan memicingkan matanya ke arahku. Dia terlihat yang paling tua di antara mereka. Mungkin usianya sekitar lima belas tahun.


“Kau serius ingin bergabung atau hanya paksaan?” Tanyanya dengan nada serius.


Aku menatap ke arah Agia sejenak. Agia hanya mengangguk. Menyuruhku untuk mengatakannya.


“Iya, aku ingin bergabung.” Aku menjawab tegas.


Pria itu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Teman-temannya menatapnya dengan tatapan heran. Aku sendiri juga bingung dengan situasi ini.


“Kembalilah besok. Kau tidak layak.” Dia berujar santai.


Eh? Aku berdiri mematung. Agia juga terkejut dengan keputusan tersebut.


“Tunggu dulu Kudeta. Mohon tarik lagi keputusanmu. Dia tidak sebodoh yang kau bayangkan. Zenzen itu cerdas. Walau ini pengalaman pertama baginya. Setidaknya beri dia kesempatan. Kau akan tahu betapa bermanfaatnya anak ini.” Agia mencoba membelaku.


“Tidak, aku sudah langsung tau dari wajahnya. Lihatlah anak ini! wajahnya terlalu bersih dan polos. Aku yakin dia tidak akan pandai dalam urusan tipu menipu. Aku ini pintar dalam menilai orang. Kembalilah lain waktu jika kau sudah siap.” Kudeta melambaikan tangannya tidak peduli. Kembali duduk dan mengenakan kacamata hitamnya.


Agia menatapku dengan wajah cemas. Aku yakin dia merasa tidak enak denganku.

__ADS_1


“Apa yang kau lakukan, Agia? Kenapa kau diam saja? Cepat kemari atau kau tidak akan mendapatkan tugasmu.” Ujarnya dengan nada ketus.


Agia tidak punya pilihan. Dia beranjak dari posisinya. Berjalan dengan langkah kaki berat. Aku meremas jemariku sembari menunduk. Padahal aku datang kemari dengan penuh harap. Namun semua ini berakhir dengan kekecewaan.


“Sial...” Aku mendesis pelan.


Seketika mereka semua menoleh ke arahku. Agia bahkan terkejut dengan ucapanku.


“Kalian seenaknya menilai seseorang padahal kalian sendiri juga orang rendahan. Baiklah, aku tidak akan pernah bergabung dengan kalian. Akan aku pastikan jika kalian menyesal suatu hari nanti.” Aku menatap mereka dengan penuh kebencian.


“Bocah ini!” Seseorang hendak maju untuk menghajarku. Namun Agia lebih dulu mencegatnya.


“Maafkan dia, Kak! Dia hanya sedang banyak pikiran. Aku akan segera membawanya keluar.” Agia menatap ke arahku lantas berbisik pelan, “Zenzen, ada roti di kamarku. Ambil saja semuanya dan bawa pulang.”


Aku mendengus sejenak. Mulai berbalik dan  berjalan keluar.


“Tunggu sebentar!”


Langkahku terhenti. Kudeta, orang itu baru saja menghentikanku.


“Kau aku terima.”


Aku terkejut dengan ucapannya. Bertanya-tanya apakah aku tidak salah dengar.


“Kenapa tiba-tiba, Bos?” tanya seseorang lainnya.


“Sudahku bilang aku itu pandai menilai seseorang. Aku hanya melakukan tes kecil-kecilan padanya. Sudahku putuskan dia akan bergabung malam ini juga.” Kudeta menjawab santai.


“Tunggu apalagi? Kau mau berdiri terus di depan pintu itu semalaman atau mau bergabung dengan kami?”


Aku mengangguk. Bergegas bergabung.


Mereka semua menepuk bahuku dan menjabat tanganku. Mereka memperkenalkan diri masing-masing.


Aku menghafal nama mereka satu persatu. Tidak sulit bagiku untuk melakukannya. Mereka semua memiliki nama dan kepribadian yang unik. Droid, dia seorang laki-laki dengan berbagai pernak pernik emas yang melingkar di lehernya. Wajahnya hitam dengan rambut nyaris botak.  Dia ahli dalam membuka kunci dan membobol berangkas. Badas, seorang gadis berambut pendek sebahu. Dia menjadi satu-satunya perempuan dalam kelompok ini. Tingginya hampir sama denganku. Dia mudah marah dan ahli di bidang bela diri. Jujur saja, aku sempat kaget dengan keahliannya. Mau bagaimanapun fisiknya terlihat seperti gadis biasa.


Songmin. Laki-laki jangkung dengan rambut disemir ke belakang. Dia ahli dalam menyamar dan berakting. Wajahnya yang tampan membuat semua orang berpikir jika dia adalah pria kaya. Biasanya dia selalu mendapatkan tugas sebagai pengalih perhatian. Anggar, ahli dalam menyelinap. Tubuhnya lebih kecil dariku. Usianya bahkan lebih muda dariku. Dia sangat lincah dan tubuhnya lentur. Sehingga memungkinkan baginya menyelinap melalui ventilasi. Terakhir adalah Kudeta. Dia bos dari kelompok ini. Dia cerdas dan pandai menilai situasi. setidaknya itu yang aku dengar dari Agia.


Khusus bagi Agia, dia memiliki bidang mencuri dengan cara yang berbeda. Dia pandai sekali mencuri secara langsung dengan melakukan sedikit trik. Dia lebih suka mencuri dari pakaian seseorang dibanding mencuri di sebuah rumah ataupun pertokoan. Walau demikian Kudeta tetap memanfaatkannya untuk menambah penghasilan.


Target Kudeta malam ini adalah sebuah toko yang menjual pakaian. Dia sudah membuat rencananya dengan sangat matang. Karena aku pemula, aku hanya perlu mengawasi si pemilik toko. Rencana kami akan dimulai tepat pada pukul sebelas malam. Waktu yang tepat untuk melancarkan aksi.


Hujan sempurna berhenti. Menyisakan mendung dan gemuruh di langit malam. Kami berjalan secara terpisah. Jika berkerumun hanya akan memancing perhatian orang lain. Songmin dan Badas lebih dulu pergi. Mereka harus memastikan lokasi aman dari penglihatan siapapun. Mereka juga bertugas untuk membuat orang-orang menjauhi daerah tersebut. Kami berkomunikasi menggunakan alat semacam walkie talkie. Walau alat itu terkenal jadul di zaman ini, kami tetap bisa menggunakannya. Apalagi Agia bilang jika alat itu sudah dimanipulasi sehingga tidak akan terlacak satelit ataupun teknologi lainnya.


Songmin memberi sinyal. Dia memberi tanda jika terdapat setidaknya ada tiga orang yang tengah berpatroli di dekat toko tersebut. Dia meminta saran dari Kudeta. Apakah tiga orang itu perlu dijauhkan atau cukup dipingsankan dengan tehnik bela diri milik Badas.


“Jauhkan saja, kita coba dulu cara aman. Jika terjadi hal yang tidak diinginkan, kalian urus dengan cara kedua.” Kudeta berujar santai.


Songmin mengangguk. Kami bisa menyaksikan aktifitas mereka melalu kamera tersembunyi yang diletakkan di saku baju milik Songmin. Dia mulai berakting layaknya seseorang yang tengah berlari dari sesuatu. Sedangkan Badas entah pergi ke mana. Sepertinya dia mengambil jalan yang berbeda dengan Songmin. Aku masih belum mengerti rencana apa yang mereka lakukan.

__ADS_1


“Tadi ada seseorang yang mencoba mencegatku di jalanan, dia memalakku dan mengancam akan membunuhku jika aku tidak memberinya sepeserpun uang.” Ujar Songmin dengan mantap. Aktingnya sungguh meyakinkan.


Tak lama kemudian terdengar suara keributan di gang lain. Mudah sekali menipu ketiga orang tersebut. Mereka bergegas mengarah ke asal suara. Disusul Songmin di belakang mereka. Rencana pengalihan perhatian sukses. Kami langsung menuju rencana berikutnya.


Kali ini giliran Droid yang beraksi. Dia pergi menuju ke arah belakang toko. Bicara soal CCTV, Droid juga ahli dalam bidang ini. Dia bisa menyabotase alat elektronik. Kami bisa memanfaatkan hujan sebagai alasan lsitrik padam. Dengan santai Droid mematikan listrik. Dia mencoba membuka beberapa akses menuju ruang utama agar Anggar bisa menyelinap masuk tanpa ketahuan. Walau hanya toko biasa, toko itu tetap memiliki beberapa sistem keamanan super. Yeah, walau tidak secanggih di pusat kota. Namun cukup untuk membuat penjahat profesional ketahuan jika melakukan suatu kesalahan.


Anggar mulai berjalan di tengah gulita mengenakan kacamata night vision. Jujur, aku sungguh takjub menatap bagaimana cara mereka melancarkan aksi. Aku bahkan sempat lupa jika aku harus segera pulang lantaran kakakku yang tengah sakit.


“Hei, bagian menariknya akan dimulai sekarang.” Agia berbisik pelan.


Anggar mulai memasuki sebuah ventilasi dibantu oleh Droid. Dia memanjat ventilasi menggunakan kedua tangan dan kakinya. Tergelincir sedikit dia bisa jatuh dan cedera. Anggar melewati ventilasi demi ventilasi dengan mudah. Berkat tubuh kecilnya, dia bisa sampai di ruang utama tanpa ketahuan.


Anggar menuju sebuah ruangan yang tampak seperti sebuah berkas penyimpanan. Memberi kode pada Droid untuk membuka berkas tersebut. Droid mengangguk dan memecahkan kode rumit yang tidak aku pahami. Mungkin dia kembali menyabotase atau semacamnya. Dalam beberapa menit, berkas itu berdesing pelan.


Namun masalah datang. Pemiliki toko mulai kembali. Aku, Kudeta, dan Agia segera bersembunyi. Ini benar-benar hal yang tidak terduga.


“Anggar, cepatlah bersembunyi di balik lemari kecil di ujung ruangan. Pemilik toko telah kembali. Dan Droid, pulihkan sistem keamanan agar pemilik toko tidak curiga. Jangan lupa mengunci kembali brankas.” Kudeta memberi perintah.


Mereka bergegas melakukan apa yang diperintahkan oleh Kudeta. Anggar bersembunyi di salah satu lemari kecil seukuran anak-anak tepat ketika pemilik toko membuka pintu. Tampaknya dia ingin memastikan penyebab padamnya listrik di area tersebut. Oi! Bukannya setiap terjadi mati lampu akan dilaporkan secara otomatis ke pusat kota. Hal itulah yang membuat pemilik toko kembali karena menerima laporan tersebut. Mungkin dia mendapatkan informasi jika penyebab mati lampu berasal dari tokonya.


“Droid, bisakah kau potong satu kabel yang menghubungkan toko tersebut dengan beberapa perumahan? Kau hanya cukup mengirisnya dan beri sedikit air agar tampak seperti korslet.” Kudeta kembali memberi perintah.


Droid mengangguk, bergegas memutar. Mencari kabel yang tepat. Sementara itu, pemilik toko tampak mengitari ruangan demi ruangan. Entah apa yang dipikirannya, dia membuka berangkas miliknya. Aku bisa mendegar Anggar berusaha menahan nafas. Ini situasi yang benar-benar gawat. Pemilik toko itu membuka lemari satu persatu.


“Kudeta, Anggar dalam bahaya.” Aku berseru cemas.


“Diam dan perhatikan, Nak. Setelah ini Aku akan memanggil Songmin.”


Tak lama kemudian Songmin telah kembali. Namun dia mengenakan seragam patroli. Aku bisa menduga apa yang terjadi. Sepertinya ketiga patroler yang ditemuinya tadi dipingsankan secara paksa oleh Badas. Aku tidak sempat menyaksikan kamera milik Songmin karena terlalu serius memikirkan posisi Anggar. Songmin berseru begitu melihat sebuah kabel yang nyaris putus dipersimpangan jalan. Pemilik toko bergegas keluar begitu mendengar seruan Songmin. Mengecek situasi apa yang telah terjadi.


Anggar aman. Dia kembali keluar dari tempat persembunyiannya, bergegas mengambil beberapa barang berharga yang bisa dijual. Tak di sia-siakan waktunya sedikitpun. Dia bergegas kembali masuk ke dalam ventilasi. Tak lupa menutupnya seperti semula. Satu hal yang aku mengerti, Kudeta tidak pernah membiarkan anggotanya meninggalkan jejak.


Anggar telah tiba di luar toko. Bergegas berlari menjauhi toko. Sementara itu Droid kembali ke belakang toko dan kembali mengotak-ngatik di semacam terminal yang berada di belakang toko. Tampaknya dia memulihkan kembali listrik di area ini. Hanya saja mungkin tidak akan pulih seperti semula lantaran dia akan sengaja mengadu domba pemilik toko dengan tetangga-tetangganya. Hal itu dilakukan agar semua orang menyalahkan pemilik toko yang tidak memastikan dengan baik kabel-kabel listrik yang terhubung dengan tokonya.


Misi selesai. Lampu kembali menyala dan Songmin terlihat tengah menasihati pemilik toko. Aktingnya sungguh meyakinkan. Sementara itu Badas telah kembali bergabung dengan kami. Disusul Droid dan Anggar yang berjalan pulang dengan santai. Kami harus membuat hal ini senatural mungkin.


Kami pikir masalah ini akan selesai dengan mudah. Tampaknya tidak. Pemilik toko tidak mudah dibodohi. Dia protes dengan Songmin dan mengatakan jika ini bukan salahnya. Kemarin kabel itu masih baik-baik saja. Songmin mulai bingung dengan situasi yang dia hadapi. Melihat hal itu Kudeta tidak bisa tinggal diam.


“Agia, ini saatnya bagimu untuk beraksi.”


Agia mengangguk. Dia bergegas berlari ke arah mereka. CCTV di area toko belum pulih. Jadi mudah baginya untuk mencuri beberapa uang yang berada tepat di saku celana pemilik toko. Tangannya sangat cepat. Dia seperti seolang pesulap. Aku tidak tahu jika Agia memiliki bakat seperti itu. Songmin berpura-pura menyadari hal itu.


“Pak, uang anda dicuri!” Serunya.


Pemilik toko kaget. Songmin bergegas mengikuti kemana perginya Agia.


“Ini saatnya bagi kita pulang.” Kudeta berujar santai sembari tersenyum tipis. Lantas pergi begitu saja.


 

__ADS_1


 


__ADS_2