Kehancuran Batana

Kehancuran Batana
TERCIPTANYA MONSTER 5


__ADS_3

Seperti yang dikatakan Dio (anak yang duduk dibangku sebelahku saat pelajaran di kelas) minggu lalu, ternyata Ador benar-benar bisa mengajak seseorang keluar jika suasana hatinya sedang senang. Kami melintasi lorong dan tiba di sebuah pintu yang menuju dunia luar. Pintu berdesing dan cahaya menelisik masuk memenuhi lorong. Walau sebenarnya lorong sudah terang oleh lampu, sih. Hanya saja cahaya matahari lebih menenangkan dan terasa hangat.


Kami melintasi jalanan yang lengang. Terlihat beberapa pekerja kantoran berjas yang mengenakan masker dan membawa koper kemana-mana. Satu dua orang tampak tengah diikuti oleh sebuah drone. Mungkin di kota ini drone sangat trend untuk dijadikan seorang asisten. Spanduk-spanduk raksasa memenuhi sudut jalanan. Kami melintasi trotoar khusus bagi pejalan kaki hingga tiba di sebuah halte. Jujur, ini adalah pengalaman pertama bagiku menyaksikan sebuah kota sesungguhnya. Sebuah bus menepi. Orang-orang mulai menaiki bus. Aku dan Ador duduk di dekat jendela. Begitu semua penumpang telah naik, bus menderu dan mulai mengendara membelah jalanan.


Bus mulai memasuki pusat kota. Kendaraan-kendaraan mulai terlihat ramai. Spanduk-spanduk semakin ramai terlihat di sana-sini. Cahaya matahari tampak jelas menelisik di antara bangunan. Membuat bangunan-bangunan tersebut tampak megah dan berkilauan. Aku terus membayangkan bagaimana rasanya berada di atas gedung-gedung tinggi tersebut.


“Ador, kenapa anda tidak pernah mengajak anak-anak lainnya?” Aku memutuskan untuk bertanya.


“Itu karena aku khawatir mereka akan kembali teringat dengan masa lalu mereka.” Ador menjawab singkat.


“Bukankah itu artinya anda mengurung mereka? Jujur, aku merasa risih jika terus menerus berada di laboratorium pengap itu.”


“Kau sebut laboratoriumku pengap?” Ador melotot.


Aku mengangkat bahu dan memalingkan wajahku. Kembali menatap ke luar jendela bus.


“Perkataanku serius tadi. Mereka memang tidak memiliki keinginan untuk menapaki dunia luar. Aku bisa melihat hal itu dari tatapan mereka. Kurasa mereka semua kini sangat bergantung padaku. Tapi sekali lagi aku tahu kau berbeda.”


“Dari mana anda tahu hal itu? Atau jangan-jangan selama ini anda adalah cenayang?” Aku meletakkan tanganku didepan dada seolah aku terkejut mendengar perkataannya.


“Anak ini, sepertinya kau sangat ingin sekali aku jitak, ya?”


Aku hanya tersenyum nyengir. Ada kesenangan tersendiri bisa membodohi Ador. Rasanya dia mudah sekali dipermalukan.


“Karena aku ini orang tua, makanya aku mengerti bagaimana rasanya. Mana mungkin anak kecil sepertimu memahami orang dewasa seperti kami?” Ador mengusap wajahnya.

__ADS_1


Aku menggelengkan kepala. “Untuk apa aku memahami? Toh, memahami hanya akan membuat kita semakin merasa sakit. Lebih baik tidak tahu apa-apa dari pada mengetahuinya. Seperti lebih baik kita tidak memahami betapa pahitnya dunia ini dibandingkan kita harus tahu akan pahitnya dunia.”


Ador tertegun dan berbisik pelan. “Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu di tempat umum seperti ini.”


Aku baru menyadari beberapa orang memandangku dan berbisik pelan. Ador hanya mengangguk patah-patah pada mereka sembari mengusap rambutnya. Sekali lagi aku tidak peduli.


Kami tiba di sebuah restoran sederhana. Itu adalah restoran mie. Restoran itu didominasi oleh warna merah menyala dengan tulisan-tulisannya yang berwarna putih. Bangunannya pun bergaya klasik dengan dinding bata. Kami memasuki restoran tersebut, aroma kuah yang sedap tercium sangat kuat. Membuat perut siapapun bisa bergejolak meminta makan begitu mencium aromanya. Kami duduk di salah satu meja lesehan beralaskan tikar bambu. Aku sama sekali tidak pernah merasakan pengalaman seperti ini. Walau sederhana semua ini terasa sangat nyaman.


Seseorang mendekati kami. Kulitnya terlihat putih dengan mata sipit, memakai ikat kepala berwarna merah dan mengenakan sarung tangan hitam. Pria itu menyapa Ador dan melambaikan tangannya. Ador balas menyapa sembari terkekeh.


“Siapa anak di sebelahmu itu?” Tanya pria itu sembari menatap ke arahku.


“Ah, anak ini. Bisa dibilang dia adalah murid terbaikku saat ini.”


Pria itu mengangguk. “Saya kira hanya saya murid Master. Ternyata ada anak lain rupanya. Baiklah, karena Master sudah jauh-jauh datang kemari demi mendatangi restoran sederhana beralaskan tikar bambu ini, saya akan membuatkan menu baru yang belum kami masukkan pada list menu.” Pria itu menunduk hormat lantas berlalu meninggalkan kami.


“Dia juga salah satu pasienku.”


Eh? Padahal dilihat dari wajahnya setidaknya pria itu berumur dua puluh lima tahun. Bukankah Ador pernah bilang jika pasien pertama yang selamat dari hasil percobaannya adalah Bastian? Kenapa ada orang lain yang tidak kami ketahui?


“Kau pasti tengah bertanya-tanya tentang pria itu, kan?”


Aku mengangguk.


“Bastian memang pasien pertamaku, berkat dia aku memberanikan diri membuka sebuah klinik ilegal.” Ador memelankan suaranya. “Kau pikir dari mana aku bisa dapat uang, hah? Tentu saja aku tidak menyia-nyiakan bakatku selama berada di dalam laboratorium itu. Aku juga membuka sebuah klinik secara ilegal. Yang hanya bisa dilihat dari jaringan internet gelap. Dan Gyo alias pria tadi mendatangiku suatu malam. Dia memiliki nasib yang hampir sama denganmu. Kedua tangannya lumpuh akibat sebuah kecelakaan yang membakar tangannya sampai harus diamputasi. Kalau tidak salah kecelakaan itu terjadi di dapur. Dia lupa untuk mematikan gas kompor sehingga terjadi sebuah ledakan yang menghanguskan restorannya.”

__ADS_1


“Aku masih ingat sekali bagaimana dia memohon padaku untuk mengembalikan kedua tangannya yang sakit. Dia mendatangiku begitu menyaksikan videoku yang menayangkan Bastian saat mengenakan tubuh bionik buatanku. Dia mengaku belum pernah menyaksikan teknologi tubuh bionik sehalus milikku. Karena itu dia memutuskan untuk meminta tolong padaku. Hah... Padahal dia datang dalam keadaan bangkrut dan tidak memiliki uang sepeserpun. Karena merasa kasihan, aku memutuskan untuk memenuhi permintaannya. Tapi ada satu syarat, di masa yang akan datang, dia harus menjadi sukses dan membayar semua hutangnya padaku. Gyo menyetujui syarat tersebut. Jadilah aku membuatkan tangan bionik untuknya.”


“Tapi Gyo terlalu malu untuk menunjukkan pada orang-orang bahwa dia cacat. Karena itu dia menutupinya dengan baju lengan panjang dan sarung tangan hitam. Dia telah memenuhi syaratku. Dalam kurung waktu dua tahun, perlahan namun pasti dia memulai kembali bisnis restorannya. Teknologi buatanku membuatnya semakin lihai dalam memasak. Entah apakah itu memang kemampuan aslinya atau berkat penemuanku? Hal itu lah yang selalu dipikirkannya. Tapi aku selalu mengatakan, semua penemuanku berawal dari otak penggunanya. Tentu saja itu bakat murni yang tidak bisa terbantahkan. Jadilah dia seorang koki hebat yang menciptakan rasa sederhana namun mengunggah selera.”


“Kalau begitu, pasti ada banyak orang yang juga menggunakan teknologi buatan anda, kan?”


“Tidak banyak. Hanya ada sekitar lima orang dari luar laboratorium. Dan rata-rata usia mereka berada di dua puluhan ke atas.”


“Apakah sampai sekarang Gyo masih memiliki hutang pada anda?”


“Tentu saja masih. Lebih tepatnya sebuah hutang budi, Nak,. Hutangnya sudah lunas satu tahun yang lalu. Tapi dia tak henti-hentinya mengirimi uang kepadaku.” Ador kembali berbisik. “Mau kuajarkan bagaimana cara membangun kesetiaan pada orang lain?”


Aku memutar bola mata. “Untuk apa membangun kesetiaan pada orang lain?”


“Hei, jangan berlagak polos kau. Membangun kesetiaan itu penting. Dengan membangun kesetiaan kau bisa mendapatkan bantuan dengan mudah di saat kau sulit. Kau juga bisa menerima lebih banyak kasih sayang dan perhatian dengan membangun sebuah kesetiaan. Caranya sangat mudah, Nak. Pertama yaitu sebuah tatapan. Kau harus bisa menundukkan seseorang melalui sebuah tatapan. Kenapa dengan tatapan? Melalui tatapan kita menunjukkan kepada orang lain bahwa kita bukanlah orang yang bisa direndahkan atau diinjak-injak. Lalu hal kedua adalah perbuatan. Perbuatan adalah pengaruh besar dalam membangun sebuah kesetiaan. Bagaimana kita harus memperlakukan orang lain? Bagaimana cara kita merangkul orang lain? Semua hal itu adalah bagian dari perbuatan.”


“Lalu ilmu. Semakin kau berilmu maka semua orang akan semakin takjub dan hormat kepadamu. Semakin kau cerdas semua orang akan mengikutimu kemanapun dan kapanpun. Karena itulah ilmu sangat penting. Kita harus lebih cerdas untuk bisa membangun kesetiaan pada hati orang lain. Dan yang terakhir adalah perkataan. Perkataan juga bisa membangun kesetiaan. Banyak pepatah yang mengatakan jika sebuah perkataan bisa membunuh seseorang. Itu tidak salah, Nak. Karena perkataan itu bisa menjadi sebuah senjata yang mematikan. Selain itu, perkataan juga bisa menjadi sebuah emas jika berharga dan penuh makna.”


Aku mengangguk paham. Hal itu bisa dicatat. Mungkin akan berguna untukku suatu saat nanti.


Makanan kami telah tiba. Kami dihidangkan semangkok mie dengan kuah berwarna kemerahan dan aromanya yang sedap. Mie itu dilengkapi dengan potongan daging, irisan telur rebus, dan jamur. Kami menyantap mie itu sampai tandas. Lantas kembali ke laboratorium.


Sepanjang perjalanan kami lebih banyak diam. Ador, pria tua itu kini tertidur pulas di sampingku. Aku lebih banyak melamun memandang ke arah luar jendela bus. Ternyata kota tidak seburuk yang aku pikirkan. Aku ingin tinggal di tempat seperti ini dan menjadi orang-orang yang penting seperti mereka. Aku tidak ingin terus menerus bersembunyi di balik bayangan seperti yang aku katakan tempo lalu. Dengan demikian aku akan tahu bagaimana rasanya setara dengan mereka semua. Menikmati hidup mewah bergelimang harta. Tidak, aku tidak ingin setara dengan mereka. Aku ingin berada lebih tinggi di atas mereka semua. Bukankah semua penduduk di kota ini secara tak sadar berkontribusi dalam proyek pembangunan elit di area kumuh? Bukankah mereka membangun sebuah rumah mewah di atas rumahku yang telah hancur dan dibawahnya bersemayam kuburan kakakku? Tidak boleh, hal itu tidak boleh terjadi. Semua orang-orang itu harus merasakan apa yang aku rasakan. Mereka harus menyaksikan betapa mengerikannya dilahap kobaran api yang ganas. Mereka harus merasakan betapa sesaknya menghirup asap tebal dan debu-debu yang berterbangan. Takkan aku biarkan mereka semua merasa nyaman di bawah siraman sinar mentari yang menghangatkan. Setidaknya untuk sekali saja, aku ingin mereka bernaung di bawah hujan yang deras nan dingin dan merasakan betapa pedihnya kehilangan. Setidaknya sekali saja.


Kami telah tiba di laboratorium. Anak-anak lain sibuk mengerumuniku dan bertanya-tanya dari mana aku datang. Aku hanya mendengus pelan sembari melambaikan tanganku. Berlagak lelah dan berpura-pura menguap agar mereka tidak menggangguku. Siapa pula sekarang yang berani menggangguku sejak kejadian pertarunganku dengan Bastian.

__ADS_1


 


 


__ADS_2