Kehancuran Batana

Kehancuran Batana
TANGAN BESI 3


__ADS_3

“Sebenarnya aku sudah lama ingin menanyakan hal ini. Bagaimana kalian bisa menemukan keberadaanku?” Kali ini aku yang melontarkan pertanyaan.


Tatu tertawa. “Tentu saja itu hal mudah. Setiap orang di kota ini selalu diberikan informasi mengenai siapapun yang datang dari dunia luar. Kami mengetahui namamu di antara mereka dan bergegas menemuimu. Namun pihak rumah sakit masih melarang siapapun untuk menjenguk pasien yang sedang koma.”


Aku mengangguk. Terjelaskan sudah bagaimana mereka bisa menemukanku.


“Aku mendengar ini dari seorang dokter. Dia bilang aku tidak boleh menggunakan kekuatanku untuk satu bulan. Jadi aku tidak bisa menunjukkannya pada kalian.” Aku menunduk sedih.


“HAHAHA! Tentu saja kau bisa, Lian.” Tatu mengusap janggutnya sembari memicingkan mata.


“Bagaimana caranya?”


“Kami adalah dua ilmuwan ternama di kota ini. kami bahkan menciptakan alat-alat canggih yang ada di rumah sakit ini. tentu saja kami bisa menolongmu. Tapi kami harus melakukan riset terlebih dahulu. Bergabunglah dengan kami, Lian. Kau akan bertemu dengan orang-orang yang sejenis denganmu. Dan kita akan bersama-sama mengalahkan Zenzen. Hanya orang tidak normal seperti kita yang sanggup mengalahkannya.” Tatu berseru dengan semangat sembari mengepalkan tangannya.


Natania menjewer telinga Tatu. “Maaf saja, Tatu. Kami semua normal kecuali kau.”


“Itu sakit sekali, Natania! Sakit sekali!” Tatu mengusap telinganya yang semerah kepiting rebus.


 


 


***


 


 


Dua hari kemudian, Ruzdora mengizinkanku untuk berpergian. Namun hanya di sekitar Kota Pandai Besi.


“Tubuhmu sudah sembuh total. Hanya saja luka di tangan kananmu akan sulit sembuh. Maka dari itu jangan melepas perban yang terbalut di tanganmu. Karena aku khawatir luka di tanganmu akan kembali terbuka.  Kau mengerti?” Ruzdora menasihatiku.


Aku mengangguk. “Terima kasih, Ruzdora.”


Aku mulai beranjak meninggalkan ruangan. Namun Ruzdora lebih dulu mencegatku. Membuatku menghentikan langkahku sembari memasang wajah bingung.


Ruzdora mengangkat jari kelingkingnya. “Kau harus berjanji untuk tidak menggunakan kekuatanmu selama satu bulan, Lian.”


GLEK! Aku lupa soal itu. Sepertinya Ruzdora tidak akan mengizinkanku pergi sebelum mengucapkan sebuah sumpah atau semacamnya. Aku mengusap rambutku. Tidak ada pilihan lain selain melakukan perjanjian. Aku mengacungkan jari kelingkingku. Kelingking kami saling mengait.


“Ucapkanlah perjanjiannya, Lian!”


Aku menghela nafas panjang. Terkadang Ruzdora sangat cerewet jika menyangkut soal kesehatan atau semacamnya.


“Aku Lian Clue, berjanji tidak akan menggunakan kekuatanku.” Aku mengucapkannya dengan nada datar. Hampir terdengar seperti sedang mengigau.

__ADS_1


“Selama berapa lama?” Ruzdora melengkapi sumpahku.


Aku kembali menghela nafas sejenak. “Satu bulan.”


Ruzdora melepaskan jari kelingkingnya. Menepuk pelan bahuku. “Bagus, pria sejati tidak akan pernah mengingkari janjinya. Sekarang pergilah dan nikmati hari liburmu selama satu bulan ini.” Ruzdora mengakhiri kalimatnya dengan terkekeh.


Aku mengangguk sembari tersenyum tipis. Ruzdora selalu menjadi seseorang yang bisa kuandalkan.


Akupun meninggalkan rumah sakit. Setelah aku perhatikan untuk terakhir kalinya, bangunan tersebut sangat besar. Aku tidak tahu seberapa luas bangunan tersebut. Malas sekali menjelaskan bentuknya. Saat ini aku harus bergegas menemui Tatu. Hanya dia yang tahu cara agar aku bisa mengalahkan Zenzen. Tapi tentu saja aku tidak bisa menggunakan kekuatanku selama satu bulan.


Aku menghentikan sebuah mobil taxi. Mobil tersebut berwarna merah terang  dengan garis berwarna kuning di sisi mobil. Garis tersebut tampak bercahaya dan berkilauan. Terdapat stiker bertuliskan, “Victorious”. Pintu taxi terbuka. Mengeluarkan suara mendesis. Namun aku dikejutkan dengan keadaan di dalam taxi. Tidak ada supir di dalamnya. Hanya ada beberapa panel dan tombol yang sama sekali tidakku mengerti. Mungkin jika ada Vero di sini, dia bisa mencari tahu maksud dari tombol-tombol tersebut.


“Selamat pagi, Tuan Lian. Anda tidak perlu membayar. Karena kami tahu anda adalah tamu spesial. Anak dari penciptaku. Nona Batrice Clue. Bagaimana kabar ibu anda? Apakah dia sehat?”


Eh? Apakah mobil ini baru saja berbicara denganku?


“Hei! Kenapa wajahm anda terkejut seperti baru pertama kali menyaksikan tiga puluh keajaiban dunia?”


(Di masa ini wajar jika keajaiban dunia ada tiga puluh.)


“Maaf, aku sama sekali tidak tahu menahu soal kota ini karena aku bukan berasal dari kota ini.”


“Astaga... Siapapun tahu jika anda lahir di tempat ini. Kelahiran anda bahkan diumumkan di penjuru kota. Oi! Seharusnya aku mengantarkan anda ke tempat tujuan. Jadi kemana anda akan pergi?”


“Saya baru saja memindai tubuh anda. Tampaknya ada sesuatu yang memblok ingatan anda, Tuan. Mungkin hal itu yang membuat anda tidak mengenali kota ini. dan sepertinya anda baru saja mengalami luka serius.”


Aku tersenyum tipis. Aneh sekali rasanya berbincang dengan taxi.


“Jadi bagaimana dengan ibumu? Aku tidak pernah melihatnya selama ini. terakhir aku melihatnya sebelum tragedi besar melanda dunia. yeah, semua orang tahu tragedi tersebut akibat kecelakaan yang ditimbulkan oleh sekelompok ilmuwan besar. Tapi mereka tidak bersalah, yang salah adalah pemimpin tersebut.”


Aku mulai tertarik. “Bisakah kau menceritakan bagaimana kejadian saat itu secara terperinci. Dan juga jangan panggil aku dengan sebutan tuan. Cukup Lian saja.”


“Apakah anda yakin? Biasanya orang-orang banyak menghindari topik ini.”


Aku mengangguk tegas. Walau Zenzen sudah menceritakannya, tentu saja hal itu tidak lengkap. Bisa saja aku mendapatkan versi yang berbeda dari ceritanya.


“Baiklah, jika itu bisa menghilangkan kebosananmu selama perjalanan, aku akan menceritakannya dengan senang hati. Sebelumnya aku ingin memperkenalkan diri, namaku Smoothly Victorious. Agak sulit dieja memang. Kau cukup memanggilku Victor. Dan aku terhubung pada seluruh taxi di kota ini. ”


Sekali lagi aku merasa aneh mendengar benda tak bernyawa berbincang padaku layaknya berbincang dengan seorang teman lama. Tak lama Victor menyalakan lagu sebagai instrumen penggiring ceritanya. Dia membuka hologram dan menayangkan...


Astaga! Itu ibuku!


“Akan lebih mudah jika aku menayangkan beberapa artikel dan video yang berkaitan dengan kejadian itu.”


Aku bisa menyaksikan sebuah kelompok berjas cokelat muda yang menjulur sampai ke lutut. Mereka tengah berjalan di tengah kerumunan orang yang besorak riang menyambut mereka. Mereka semua berjalan menuju panggung yang dihiasi lampu berwarna warni. Sepanjang mereka berjalan, puluhan drone berterbangan di sekitar mereka. Mengambil gambar dari setiap sudut. Dalam rekaman tersebut aku bisa menyaksikan Ibu tersenyum lebar menampakkan gigi putihnya yang cemerlang. Dia melambaikan tangannya pada ratusan orang yang menyambut mereka. Tampaknya ini kejadian sebelum aku lahir. Ibuku terlihat sangat muda di video tersebut.

__ADS_1


Terdapat sebuah simbol berbentuk kepalan tangan besi dengan tulisan “BATANA” di bagian saku jas mereka. Aku terus menyaksikan video dokumentasi tersebut. Kelompok tersebut berdiri di atas panggung. Seorang pembawa acara menyambut kedatangan mereka dengan berbagai lawakan dan beberapa ucapan lainnya. Lantas menyuruh Ibu untuk berdiri di atas mimbar yang berwarna kuning dan abu metalik dengan pola heksagon.


“Tes, tes.” Ibu melakukan testimoni sejenak.


“Selamat malam, saya Batrice Clue. Pemimpin dari organisasi penemu berbakat terbesar di dunia. Yaitu Batana.”


Para penonton bertepuk tangan. Aku tidak tahu jika ibuku sangat terkenal. Mungkin jika aku menyebut nama ibuku dengan orang-orang yang sebelumnya kujumpai, aku bisa lebih cepat menemukan Batana. Bukan menyebutkan Batana sebagai kota mati.


“Saat ini kami sedang menggarap proyek besar. Pembuatan pesawat luar angkasa. Seperti yang kita ketahui, bumi kita semakin rusak. Berbagai bencana melanda. Udara berubah menjadi kotor sehingga kita harus menggunakan masker dan membawa tabung daur ulang oksigen kemana-mana. Sangat menyusahkan, sangat merepotkan. Pasti itu yang terbesit dipikiran kalian. Tapi kami akan membebaskan penderitaan ini dengan menciptakan pesawat luar angkasa dan menjelajahi dunia luar. Menemukan bumi baru yang lebih baik.”


Para penononton bersorak gembira. Aku benar-benar tidak percaya pada apa yang baru saja ibuku katakan dihadapan mereka. Itu artinya Ibu berperan langsung dalam proyek pengiriman manusia ke luar angkasa.


Victor kembali menayangkan video yang berbeda. Kali ini ibuku terlihat lebih tua. Tapi ibuku tidak terlihat senang. Dia seperti menyimpan sesuatu di balik wajahnya. Dalam video tersebut terpampang sebuah pesawat raksasa yang sekiranya bisa menampung jutaan manusia. Mungkin pesawat tersebut setara dengan sebuah kota. Ibu tampak berdiri di atas mimbar. Kembali berorasi.


“Untuk sementara ini kami akan mengirimkan manusia dalam ekspedisi ke luar angkasa dan menemukan planet yang pantas untuk kita huni. Kami telah memilih bibit-bibit unggul untuk menjalankan ekspedisi ini. kami melakukan seleksi ketat dan memutuskan untuk memilih seratus juta orang dari seluruh dunia secara adil. Kami harap, mereka bisa menemukan bumi yang lebih baik untuk kita semua.”


Video berganti pada rombongan panjang yang meliuk seperti barisan semut. Mereka memasuki pesawat raksasa tersebut.


Kali ini Victor tidak lagi menampakkan video ibuku. Dia menayangkan berbagai berita seperti penemuan baru, rencana baru, proyek baru, dan berbagai penilitian yang tengah dilakukan oleh Batana. Tidak ada hal menarik, seluruh media seakan bungkam. Hingga video berakhir pada tragedi tersebut. Kebangkitan RP-2.


Video tersebut tampaknya video amatiran yang diambil oleh seorang penduduk. Dalam video tersebut dia merekam langit hitam yang berwana merah kelabu. Langit mengeluarkan petir berwarna merah terang. Tepat ketika petir tersebut berpendar, video tersebut mengalami glitch. Lantas menayangkan sebuah ledakan beserta teriakan para penduduk. Video tersebut terhenti. Aku nyaris tidak bernafas.


Kali ini video beralih pada seseorang berpakaian tentara yang tengah berdiri di atas podium. dalam video tersebut bertuliskan, "Panglima Arju Ana.” Dia tengah menyampaikan mengenai rencana mereka menghancurkan RP-2 menggunakan bom nuklir. Dan tampaknya rencana tersebut menerima respon positif dari para penduduk.


Video berpindah dan menampilkan puluhan pesawat yang memenuhi langit sepeti kawanan capung yang sedang bermigrasi. Dalam video, pesawat-pesawat tersebut mulai tampak memancing RP-2 ke sebuah tempat. Strategi ini mengingatkanku pada kejadian saat aku menjalani misi pertamaku di Kota Keios. Strategi kandang harimau, begitulah aku menyebutnya.


Kekacauan mulai terjadi. Ini semua persis seperti yang Ibu ceritakan padaku. efek dari ledakan tersebut sangat berbahaya. Rumah sakit dipenuhi dengan orang-orang yang berteriak seperti orang gila. Aku jadi teringat dengan kumpulan manusia tidak waras di pulau entah berantah yang tidak sengaja kami singgahi.


Video terakhir menampakkan pembangunan dinding setinggi ratusan meter. Perlahan seluruh kota dikelilingi dengan dinding. Setelahnya Victor hanya memaparkan sebuah artikel yang menunjukkan bahwa Batana telah dinyatakan hilang.


Aku menarik nafas dalam. Walau hanya sebuah video dan beberapa artikel, hal itu cukup membuatku lelah untuk menyaksikannya. Aku seakan bisa merasakan penderitaan orang-orang di masa itu. Kekacauan dimana-mana dan mereka harus terkurung di dalam dinding ataupun beberapa macam kurungan lainnya layaknya seekor burung dalam sangkar.


“Hanya itu informasi yang aku miliki dan diperbolehkan untuk disebar luaskan. Jadi, bagaimana keadaan ibumu?” Victor kembali pada pertanyaan yang sama.


“Ibuku sudah meninggal sejak dua tahun yang lalu.” Aku menjawab singkat.


“Aku turut berduka atas kematian ibumu. walau demikian, setidaknya ibumu memberikan janji pada umat manusia soal pergi ke luar angkasa dan menemukan bumi baru. Tidak semua orang membenci ibumu, Lian. Aku juga berada di pihak ibumu, karena dialah yang menciptakanku.”


Aku menangguk, tersenyum tipis. “Terima kasih, Victor.”


“Dengan senang hati.”


 


 

__ADS_1


__ADS_2