Kehancuran Batana

Kehancuran Batana
TERLUPAKAN 5


__ADS_3

 


 


Aku telah keluar dari lubang pelarianku. Lubang tersebut mengarah ke lapangan dekat rumahku. Tempat itu sudah dipenuhi puing-puing bangunan. Langit dipenuhi dengan pesawat –pesawat kecil yang melintas. Robot-robot menyerang warga. Membunuh mereka tanpa ampun. Salah satu pesawat mencoba mengevakuasi para warga yang selamat. Aku hendak mendekati pesawat tersebut


Aku merangkak melewati puing-puing bangunan. Liana masih menangis. Namun suaranya tersamarkan oleh teriakan dan suara-suara dentuman yang terjadi. Sekumpulan orang bersenjata mulai berdatangan. Baku hantam dan jeritan para warga terus berpilin di tengah atmosfer ketegangan. Aku terbatuk. Debu di sekitarku sangat banyak. Nuansa medan yang berwarna kemerahan membuat suasana serasa sangat mencekam.


“Tolong kami!” Aku mendekati prajurit terdekat.


Prajurit tersebut meraih tanganku dan menggendong Liana. Membawaku mendekati pesawat. Disusul beberapa warga lainnya.


Sayang seribu sayang. Salah satu robot mengincar pesawat tersebut. Prajurit yang hendak membawaku ke dalam pesawat lekas berhenti dan menembakkan peluru ke arah robot tersebut. Tidak terhindarkan, robot tersebut bergerak sangat cepat. Dia merusak pesawat dengan mudahnya. Dan pesawat itu meledak. Beruntungnya aku dan Liana berada agak jauh dari lokasi ledakan.


Prajurit itu memutuskan untuk membawa kami ke pesawat lain yang telah mendarat. Tempat itu tidak terjamah oleh para robot. Aku bergegas masuk dan prajurit itu menyerahkan Liana ke pangkuanku. Setelah menampung sekiranya dua puluh orang lebih, pesawat akhirnya lepas landas. Aku masih bisa melihat para warga yang meminta untuk diangkut pula. Mereka menangis ketakutan. Namun pesawat ini hanyalah pesawat darurat yang tidak bisa menerima banyak muatan.


Aku memeluk Liana yang menangis keras. Wajahnya kotor dan rambutnya berantakan. Di beberapa bagian tubuhnya terdapat luka gores dan lebam. Kondisiku jauh lebih parah. Di tangan dan lututku terdapat luka yang sangat besar akibat terguling sembari melindungi Liana. Saat ini aku sangat takut.  Aku baru saja kehilangan Tia, aku baru saja menyaksikan puluhan warga dibantai di depan mataku, dan aku baru saja berhadapan langsung dengan robot yang memiliki sepasang mata merah yang terang. Robot yang sangat kukenal, robot yang pernah Ibu perlihatkan padaku. Robot Penjaga Perbatasan atau bisa disebut sebagai RP-2. Tentu saja semua hal itu cukup membuatku trauma. Dan aku dihadapi pada ketakutan yang lebih besar, aku takut kehilangan kedua orang tuaku.


Setelah setengah jam berlalu dengan cepat, kami tiba di sebuah tempat pengungsian. Sebuah gedung raksasa berbentuk setengah bola dengan dinding baja yang mengelilinginya. Berbagai sirene dan pengeras suara terdengar lantang saling bersautan. Pesawat mendarat di lapangan luas. Suasana tempat pengungsian terlihat suram. Walau demikian, tempat ini diterangi dengan lampu remang. Kami bergegas turun. Liana tidak lagi merengek.


Kami semua diarahkan ke gedung pengungsian. Kami diperintahkan untuk berbaris guna memeriksa identitas kami. Hal ini berfungsi untuk mengetahui semua informasi mengenai keluarga yang berhubungan dengan kita. Ini akan membantu para prajurit menemukan daftar korban yang hilang.


Bagi para korban yang perlu penanganan darurat akibat luka fatal dari serangan robot-robot tersebut, akan mendapatkan perawatan khusus. Bagi yang mengalami luka kecil hanya akan mendapatkan pertolongan pertama. Aku bisa menyaksikan banyak petugas medis hilir mudik. Membawa para korban yang sekarat. Aku memeluk Liana dengan erat. Ngeri menatap para korban yang bersimbah darah.


Tiba giliranku dan Liana untuk pemeriksaan identitas. Seorang prajurit menodongkan  alat berbentuk kotak dengan layar berwarna kehijauan ke arah wajahku. Lantas layar itu berubah menjadi proyeksi hologram. Menampilkan siapa kedua orang tuaku dan kerabat-kerabatku. Prajurit itu berseru terkejut.

__ADS_1


“Astaga! Kamu anak dari Batrice Clue?” Tanya prajurit itu setengah tidak percaya.


Aku mengangguk lirih. Prajurit itu lantas membawa kami keluar dari barisan. Membawa kami masuk ke dalam tempat pengungsian. Aku bergidik ngeri menatap orang-orang yang terduduk di lantai ruangan dengan luka dan lebam di wajah mereka. Yang lainnya bersandar di dinding ruangan sembari meringkuk ketakutan. Tak jarang ada ynag menangis terisak. Setidaknya mereka semua tidak perlu mengenakan masker di ruangan ini. karena ruangan ini dilengkapi dengan alat daur ulang udara.


Prajurit itu membawaku ke lantai atas yang tampak lebih terjaga. Terdapat beberapa anak kecil dan orang dewasa di lantai ini. Hanya saja mereka semua terlihat seperti orang penting. Prajurit itu kemudian membawaku ke salah satu ruangan berwarna putih dengan sebuah kasur empuk yang tergantung di dinding ruangan.


“Tunggulah di sini, aku akan segera menghubungi orang tuamu.”


“Apakah orang tuaku ada di sini?” Aku bertanya lirih.


Prajurit itu mengusap rambutku. “Tenang saja, kami akan membawanya kemari dengan selamat. Sementara itu kau harus menerima perawatan.”


Prajurit itu beringsut dan meninggalkan kami berdua. Tak lama kemudian, seorang perawat memasuki ruangan.


Setelah mendapatkan perawatan, kami menerima makanan. Aku sangat tidak berselera saat ini. Setelah mengalami kejadian seperti tadi, siapa pula yang memiliki nafsu makan. Saat ini aku hanya ingin menangis. Namun jika aku menangis, Liana akan terganggu. Apa lagi dia tengah tertidur karena efek samping obat. Sejatinya perawat tadi juga memberiku obat, namun hal itu sama sekali tidak membuatku mengantuk. Ingatan mengerikan itu lebih kuat dari pada pengaruh obat tersebut.


Setelah menunggu sekitar satu jam, pintu ruangan akhirnya terbuka. Aku mendongak. Penasaran siapa yang tengah masuk ke dalam ruangan. Astaga! Mereka adalah Ibu dan Ayah! Mereka berdua bergegas memelukku dan menggendong Liana yang tengah tertidur. Kami berempat saling berpelukan dalam tangis.


“Lian, maafkan Ibu. Maafkan Ibu yang sudah meninggalkanmu di tengah keadaan seperti ini.” Ibu terisak dan memeluk kami sangat erat. Sampai-sampai membuat Liana terbangun.


“Kami berjanji tidak akan pernah meninggalkan kalian berdua.” Ayah menambahkan  di tengai derai air matanya.


Aku menangis dengan suara keras. Menumpahkan semua perasaan yang telah kualami.


“Ibu, Tia, Tia...” Aku tercekat.

__ADS_1


Ibu mengusap lembut rambutku. “Tidak apa-apa, Lian. Kamu tidak perlu menceritakannya.”


Kini Ibu memegangi bahuku. “Lian, ada yang harus Ibu katakan padamu. Kita harus bergegas pergi dari tempat ini.”


“Kemana kita akan pergi?” Aku menyeka ujung mataku.


“Kita akan pergi sangat jauh dari tempat ini.”


“Lalu bagaimana dengan yang lainnya? Apakah para pengungsi lain juga akan pergi sangat jauh seperti kita?”


Ibu tersenyum lembut. “Saat ini hal yang paling penting bagi Ibu adalah membawa kalian berdua ke tempat yang paling aman.”


“Apakah Ibu yang membuat para robot-robot itu bangkit?”


Ibu terdiam. Raut wajahnya berubah. Ruangan hening sejenak. menyisakan suara sirene di luar sana. Ibu kemudian menyuruh Ayah untuk meninggalkan kami berdua.


“Lian, Ibu tahu saat ini kau sangat ketakutan. Tapi...”


“Jika Ibu menyangkalnya, itu artinya semua yang aku katakan benar, kan? Ibu yang membangkitkan Robot Penjaga Perbatasan.”


“Kau benar. Tapi Ibu melakukannya dengan terpaksa.”


“Kalau Ibu bisa membangkitkannya, kenapa Ibu tidak mencoba mematikan mereka kembali?” Air mataku kembali berlinang.


Ibu menunduk. “Maafkan Ibu, Lian.”

__ADS_1


Ibu mulai berdiri dan menjulurkan tangannya ke arahku. Wajah Ibu seketika berubah menjadi serius. Aku mundur beberapa langkah. Wajah Ibu terlihat dingin. Sekilas Ibu memancarkan aura yang tidak menyenangkan.


“Ibu, Ibu kenapa?” Aku terisak.


__ADS_2