
“INI TIDAK ADA URUSANNYA DENGANMU, BOCAH SIALAN!”
“Kau tidak bisa memanggil nama orang dengan benar, ya?”
Vero dan Marko kembali bertengkar. Aku juga tidak tahu siapa dulu yang memulai. Tapi Marko terlihat menikmati pertengkaran ini.
“Grrrrr...” Vero menggeram layaknya binatang buas. Menatap tajam ke arah Marko.
“Ayolah, sampai kapan kalian berdua tidak akur?” Kali ini Jora ikut melerai.
Ajaib! Mereka berdua tidak lagi bertengkar. Apakah ini yang dinamakan kekuatan seorang wanita yang mampu menundukkan lelaki? Aku menggeleng, aku akan tetap memperlakukannnya layaknya penumpang gelap. Sebaik apapun pengaruhnya di tim ini, aku akan tetap tidak menganggapnya ada.
Aku tengah menatap pemandangan. Siang mulai berlalu, digantikan petang yang melukis langit.
Kami sudah mengudara selama tiga belas jam lamanya. Beruntung pesawat ini menggunakan tenaga surya, jadi kami tidak perlu repot untuk mengisi bahan bakar atau semacamnya. Namun hal ini yang menjadi kekurangannya, pesawat tidak akan bisa bertahan lama jika di malam hari.
Vero memutuskan untuk mendaratkan pesawat. Kami tengah berada di sebuah daratan tandus. Tempat tersebut hanya ditumbuhi tanaman kaktus. Tanahnya retak-retak. Terdapat beberapa bangunan dengan dinding besi. Namun sudah tidak ada kehidupan di sana. Kami memilih untuk tidur di dalam pesawat. Sangat berbahaya jika kami memutuskan untuk keluar. Bisa-bisa RP-2 menyerang tanpa sepengetahuan kami.
Aku terbangun tepat tengah malam. Rasanya aku tengah bermimpi bertemu dengan seorang gadis berusia sekitar tujuh tahun. Rambutnya pendek dan matanya tertutup dengan poni. Aku pernah memimpikan hal yang sama dua tahun yang lalu. Hanya saja aku sudah lupa perkataan gadis tersebut. Aku menatap ke langit-langit pesawat yang bening. Formasi bintang berpendar di atas sana. Bulan purnama bersinar sempurna, cahaya remangnya menerangi isi pesawat. Angin malam terlihat menerbangkan debu di dataran tandus. Menambah nuansa malam yang sunyi.
Entah mengapa hidup ini terasa begitu cepat. Rasanya baru kemarin desaku diserang, aku kabur dengan Ibu dan Liana, lantas aku terpisah dengan Ibu, RP-2 menyerang, dan aku tiba di Kota Keios. Rasanya baru kemarin aku berada dipenjara, menghabiskan malam penuh penderitaan, Bertemu dengan Vero dan Bundara, mengenal Ruzdora, melanjutkan kehidupanku di Akademi Langit, mengenal Marko, dan menjadi Prajurit Keios. Aku sungguh tidak membayangkan jika tengah berada di luar Kota Keios. Menatap langit bertabur bintang. Dengan teman-temanku yang kini tengah tertidur.
Teman?
Aku tidak tahu apakah aku pantas menganggap mereka temanku atau hanya sekedar rekan. Bukankah definisi seorang teman tidak memiliki rahasia di antara mereka? Mereka mungkin menceritakan sepenggal rahasia kecil mereka padaku. Tapi aku? Aku hanya pernah mengatakan kepada Vero dan Bundara sedikit tentang keadaan keluargaku. Lantas, apakah aku pernah menceritakan kejadian di kehidupanku seutuhnya?
Mungkin esok hari aku akan bercerita.
Esok kapan? Bukankah arti “esok hari” sangat banyak? Bisa saja minggu depan, bulan depan, atau tahun depan. Tidak ada kepastian dari kata tersebut.
Bosan memandang langit sembari merenung, aku memutuskan untuk melihat-lihat sekitarku. Sepi, senyap. Tidak ada kehidupan di sekitar sini. Bahkan belum ada tanda-tanda kehadiran RP-2. Mungkin robot itu hanya mencari tempat yang sekiranya ada kehidupan. Lebih tepatnya manusia. Mereka tidak menyerang makhluk lainnya. Sistem mereka sudah difokuskan hanya untuk memusnahkan kami.
Hingga...
Aku melihat ada sesosok orang yang tengah mengintip dari sebuah bangunan. Sosok hitam tersebut mengintip di balik jendela. Aku berdiri. Memperhatikan dengan jelas. Hanya ada cahaya remang rembulan yang menyinari bangunan tersebut. Bagaimana ini? Aku takut jika sesosok itu adalah seorang bandit.
Aku menatap ke arah Vero. Dia terlelap. Aku tidak ingin membangunkannya, dia butuh tenaga untuk mengendarai pesawat besok hari. Kali ini aku menatap Bundara, dia juga terlelap. Mengeluarkan suara mendengkur. Aku takut dia marah jika aku bangunkan. Marko? Aku langsung menggeleng. Dia memang memiliki kemampuan yang hebat, tapi dia masih sangat muda. Jora? Itu ide buruk. Dia wanita, dan lebihnya lagi, aku masih menganggapnya penumpang gelap. Bukan bagian dari tim.
Baiklah, aku yang akan memastikan sendiri. Aku tidak ingin orang lain mati karenaku. Jadilah aku turun dari pesawat sendirian. Tak lupa aku mengenakan seragam lengkap termasuk helm. Menekan alat komunikasiku yang terhubung langsung dengan milik mereka. Bersiap atas segala kemungkinan. Bisa saja sosok tersebut memiliki senjata dan menembakku.
Aku berjalan seperlahan mungkin mendekati bangunan itu. Sesekali bersembunyi di balik puing-puing bangunan yang sudah berkarat.nafasku tertahan. Belum ada reaksi dari sosok tersebut. Aku kembali melangkah. Beruntung, helm ini dilengkapi dengan night vision. Aku bisa dengan mudah melihat area di sekitarku.
Aku sudah berada di depan bangunan usang berkarat, Membuka pintu perlahan. Sayangnya pintu tersebut mengeluarkan suara menderit. Langsung saja, sebelum aku sempat menodongkan senjataku, sebuah tangan besar merangkul leherku. Membanting tubuhku ke lantai. Aku kembali berdiri. Mencoba untuk menodongkan senjataku ke arah sosok tersebut.
“Eh, kau bukan bandit?” Sosok tersebut terkejut.
Aku melepas helmku. Sosok tersebut tidak memakai masker. Ini mengejutkan! Aku tetap menodongkan senjataku. Bisa saja dia menjebakku.
“Kau sendiri siapa?”
“Oho, santai, Bro. Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu. Mari kita luruskan kesalah pahaman di antara kita. Kau lihat sendiri, kan? Aku tidak mebawa senjata apapun.” Dia menganggkat tangan.
__ADS_1
Dia benar. Tak kudapati ada senjata tergantung di sekitar tubuhnya. Dia hanya mengenakan baju lusuh dengan syal yang melingkar di lehernya. Aku mengangguk menurunkan senjataku.
Sosok tersebut adalah seorang kakek-kakek dengan tubuh kekar. Dagunya telah dipenuhi janggut yang telah beruban. Dia mengenakan topi kupluk berwarna abu-abu. Matanya berwarna cokelat terang. Aku bisa melihatnya dengan jelas karena kini kami tengah duduk di dekat perapian.
“Aku Happy. Seorang pengembara. Kau sendiri, siapa namamu, Nak?”
“Lian.” Aku menjawab singkat.
“Ohohoho, kau kelihatannya bukan orang yang suka diajak bicara.”
Aku menggeleng. Tidak membenarkan hal itu sepenuhnya.
“Ngomong-ngomong, kau baik-baik saja tidak menggunakan masker?”
Aku mengangguk. Sudah terbiasa sejak kecil.
“Ini sungguh mengejutkan bertemu orang yang sejenis denganku. Aku tadi tengah berjalan, lantas aku melihat pesawatmu mendarat. Awalnya kukira pesawat tersebut milik para bandit. Aku berlari secepat mungkin ke bangunan terdekat. Aku terus mengawasi pesawatmu dari gedung ini. ternyata kau hanya remaja biasa. Hei, coba kau tebak berapa usiaku! Jika kau menjawab dengan tepat, aku akan memberikanmu sesuatu. ”
“Tujuh puluh, mungkin?” Aku berseru tidak yakin.
“Ayolah, kau pasti bisa lebih baik, Bro. Jangan nilai seseorang dari wajahnya. Nilai aku dari tubuh kekarku.” Happy menunjukkan lengannya yang kekar.
“Empat puluh.”
“Ding-dong! Lebih tepatnya empat puluh satu, Nak. Tapi sebagai apresiasi kerena kau nyaris menjawab dengan benar, aku akan memberikanmu hadiah.” Happy mengambil sebuah daging panggang yang terletak di dekat perapian. Menyodorkannya padaku.
Aku menatap sejenak daging tersebut. Aku takut jika dia memberikan obat tidur atau semacamnya padaku. Aku masih belum bisa mempercayainya.
“Tentu saja sangat sulit mempercayai orang di dunia ini. Terlebih lagi jika kau pernah dikhianati. Ah, pasti sangat sulit untuk percaya pada siapapun. Tapi untuk kasus ini, aku memintamu untuk percaya padaku, Nak. Daging tersebut tidak kuberi apapun, hanya daging rusa biasa. Cobalah, kau akan tahu rasanya.”
Baiklah, setidaknya segigit saja.
Aku mengunyah daging tersebut. Sedap. Terasa empuk dan bumbunya meresap. Aku bisa menilai jika Happy orang yang handal dalam memasak.
“Boleh aku bertanya?” Aku mulai berujar.
“Tidak ada salahnya, Nak.”
“Apakah benar anda tidak memiliki senjata?”
Happy tertawa. Suaranya sangat keras. “Tentu saja aku punya, senjata itu ada di diriku. Senjata yang sudah ada sejak kita dilahirkan. Panca indra. Kau tahu? Panca indra adalah senjata sekaligus nikmat yang terindah. Aku bisa mendengar suara dengan telinga, meraba benda dengan kulit, melihat pemandangan dengan mata, merasakan makanan dengan lidah, mencium aroma dengan hidung. Selain itu, apa yang aku butuhkan? Aku selalu mengandalkan indraku, Nak. Lantas menggunakan benda apapun yang ada disekitarku. Kemanapun aku pergi, ketika bahaya mengintai, jika kau bertanya bagaimana caraku menghadapi Robot Penjaga Perbatasan? tentu saja dengan indraku.”
“Aku tahu benda itu berbahaya. yang itu artinya aku hanya harus menghindari pertemuan dengannya. Dengan telingaku aku bisa mendengar suaranya dari kejauhan, lantas mencari jalan lain untuk berputar. Jika semisalnya bertemu, aku tinggal menghajarnya dengan tubuhku. Kau percaya? Aku bisa menghancurkan mereka dengan satu kali pukulan.” Hapyy nyengir. Kembali memamerkan lengannya.
“Jika kau bertanya, bagaimana caraku mendapatkan uang selama perjalananan? Tentu saja dengan melihat. Aku menyaksikan cara orang-orang mendapatkan uang, mempelajarinya, memprosesnya di dalam otakku. Alhasil, aku menemukan satu cara yang sangat ampuh. Menjual sesuatu yang sangat dibutuhkan manusia. Makanan.”
“Aku sering berburu selama perjalanan, seperti yang kukatakan tadi, aku menggunakan apapun yang ada di sekitarku. Menemukan hewan-hewan langka seperti, rusa, kelinci, dan ayam hutan. Binatang tersebut sangat sulit di tangkap, dan dagingnya juga enak. Aku selalu menjualnya di desa atau kota terdekat. Lantas mendapatkan uang. Hanya sesimpel itu.”
Aku mengangguk setuju. Di desaku, kelinci adalah binatang yang sulit ditangkap walau harus menggunakan senapan sekalipun. Gerakan mereka lincah dan pendengaran mereka sangat tajam. Asal kau menginjak ranting di jarak puluhan meter dari kelinci-kelinci itu, mereka akan berlari dengan sangat cepat. Itulah mengapa kelinci selalu menjadi target buruan di desaku. Agar kami terbiasa hidup di dunia yang kejam ini.
“Kau mau tahu alasanku mengembara?”
__ADS_1
Aku mengangguk, kelihatannya menarik.
“Aku sudah mengunjungi berbagai tempat, negara, alam, di dunia ini. Percaya atau tidak? Aku sudah menjadi seorang pengembara selama dua puluh tahun. Aku bahkan lupa dimana tempat lahirku. Aku mengembara karena menyukainya. Menyaksikan tempat-tempat baru, bertemu dengan orang-orang yang berbeda suku, mempelajari bahasa asing. Sungguh menyenangkan melakukannya.”
“Kau bisa bayangkan, ada sebuah benua yang bersalju sepanjang tahun. Mereka membangun rumah berbentuk setengah lingkaran dengan penghangat yang canggih di dalamnya. Mereka menunggangi Yak dan berburu menggunakan serigala. Seperti sebuah legenda bukan? Tapi itu nyata, Nak. Aku sendiri yang menyaksikannnya. Sangat menyenangkan mengenal mereka. Lalu ada juga sebuah suku yang dinamakan Suku Nomaden. Mereka selalu berpindah tempat, mengembara ke berbagai tempat sama sepertiku. Hanya saja mereka berkelompok, menggunakan teori migrasi. Mencari tempat hangat jika cuaca dingin, dan mencari tempat sejuk ketika cuaca panas. Teknologi mereka tak kalah canggih, rumah mereka mampu dilipat dan berubah menjadi sebuah mobil. Aku pernah bertemu mereka, bercengkrama, saling bertukar pengetahuan. Ada satu peraturan dalam suku mereka, kau harus tersenyum ketika berjumpa, dan tersenyum ketika berpisah.”
“Jika kau tanya sudah berapa banyak tempat yang kukunjungi? Sangat banyak sampai aku lupa jumlah pastinya. Aku hanya bisa mengingat tempat yang sangat berkesan bagiku. Sekarang giliranmu untuk bercerita, Nak. Mengapa kau bisa berada di sini?”
“Aku punya sebuah misi.”
“Astaga! Apakah aku mengganggumu, Nak?”
Aku menggeleng. “Kami tengah beristirahat. Di dalam pesawat ada tiga orang rekanku. Kami hendak memusnahkan RP-2.”
“Itu sungguh mulia! Aku sangat tidak suka benda itu. Selain para bandit, mereka adalah salah satu penghambat perjalananku. Mereka juga yang membuat manusia bertindak serakah demi keselamatan mereka sendiri. Seperti kejadian delapan tahun yang lalu. Hari dimana manusia menggunakan senjata nuklir.”
“Aku masih ingat, hari itu aku tengah berada di sebuah kota. Menikmati jajanan, berbelanja, dan lain-lain. Lantas aku mendengar suara gemuruh dari kejauhan. Merasa bahaya mendekat, aku menyuruh orang-orang disekitarku untuk berlari. Robot itu datang, membantai ratusan penduduk di kota tersebut. Lantas suara gemuruh lainnya berdatangan, suara itu berasal dari langit. Ratusan armada pesawat berdatangan. Mereka menutupi langit, membuat sekitar gelap. Lantas dengan santainya menjatuhkan bom nuklir. Itu sungguh menyedihkan. Semua menjadi korban, anak kecil, wanita, remaja, dan orang-orang yang tak berdosa lainnya.”
“Aku sangat beruntung bisa selamat dari bencana besar tersebut. Sungguh sedih melihatnya. Tapi, aku lebih sedih lagi jika mengetahui penyebab bangkitnya RP-2 adalah karena manusia. Aku tidak tahu siapa yang melakukannya. Mungkin dia punya tujuan tersendiri.”
Aku menghela nafas. Merasa bersalah soal hal tersebut. Ibuku ikut serta dalam menghidupkan RP-2. Tentu saja hal itu membuatku berat hati.
“Ah, sebentar lagi pagi menyingsing. Aku harus melanjutkan perjalananku, Nak. Oh, ngomong-ngomong kau dari mana, Nak?”
“Kota Keios.”
“Aku tidak tahu ada kota bernama Keios. Baiklah, itu mungkin bisa jadi tujuanku selanjutnya.”
Aku menggeleng tegas. Itu ide buruk. “Kota tersebut tidak menerima orang asing masuk.”
“Oi! Kalau begitu aku batalkan. Aku sangat tidak suka berkunjung ke tempat yang tidak ramah pengunjung. Kalau begitu, aku akan bersiap-siap. Ada baiknya kau kembali ke pesawatmu, Nak.”
“Aku masih punya satu pertanyaan.” Aku memotong.
“Apa itu, Nak?”
“Apa kau mengenal sebuah kota mati bernama Batana dan seorang pria berjanggut tebal dengan tangan besi?”
“Hmmm...Aku sudah lupa, Nak. Sangat banyak kota mati di dunia ini. Aku tidak tahu kota mana yang kau maksud. Kalau soal pria berjanggut tebal dengan tangan besi, aku juga tidak tahu.”
Aku mengangguk. Sedikit ada perasaan kecewa di lubuk hatiku.
“Yosh! Kalau begitu aku pergi dulu, sangat menyenangkan mengenalmu. Siapa namamu tadi?” Happy mengangkat salah satu alisnya.
“Lian. Lian Clue.”
“Oke, Lian, semoga kita berjumpa lagi. Aku beri saran padamu, jauhilah area-area radiasi. Kau tidak akan senang berada di tempat tersebut.”
Aku mengangguk. Aku pasti akan mengingat dengan baik pesan itu.
“Salam buat teman-temanmu, Lian. Sampai jumpa.” Happy melambaikan tangannya. Lantas meninggalkanku.
__ADS_1
Aku terduduk menatap perapian yang sudah padam. Tampaknya akan sulit untuk menemukan Kota Batana. Saat ini petunjukku hanya ada satu, pergi ke arah utara.