
Pesawat melaju dengan cepat. Kami tahu Zenzen akan segera mengejar. Aku baru saja mengenakan seragam prajuritku.
“Jora, kita harus kembali ke Kota Parit.” Aku menatap ke arahnya. Sebenarnya aku memiliki sejuta pertanyaan untuknya. Hanya saja ini bukan waktu yang tepat.
“Tidak, Lian. Kita harus menuju ke Kota Pandai Besi.” Jora mengelak.
Eh? Apa dia baru saja bilang pergi ke Kota Pandai Besi?
Seketika raut wajahku berubah. “Apa maksudmu?” Tanyaku dengan suara pelan.
Jora menghembuskan nafas sejenak. Menatap tajam ke arahku. “Jika kita kembali ke Kota Parit, kita semua hanya akan tertangkap oleh Zenzen. Ini sama saja dengan masuk ke kandang harimau. Saat ini kita harus memprioritaskan tujuan kita, Lian. Ingat! Kita tidak akan bisa terbebas dari semua masalah ini jika kita tidak menghentikan Robot Penjaga Perbatasan. Pikirkan itu baik-baik!”
Aku menggeleng pelan. Apakah dia benar Jora yang aku kenal?
“Kalau begitu turunkan aku dari pesawat ini, Jora!” Aku jelas menolak mentah-mentah setiap kalimatnya. “Aku tidak akan memilih jalan yang sama sepertimu. Aku tidak akan meninggalkan teman-temanku apapun yang terjadi!”
Aku meremas jemariku. Pembicaraan ini benar-benar membuatku sangat emosi. “Jora, asal kau tahu saja, aku memiliki rencana yang sudah aku susun selama tiga hari ini. Jika begini terus kau hanya akan mengacaukan semuanya.”
Jora melangkah mendekatiku. Wajahnya terlihat kesal. “Lian, tujuan kita sudah membentang di depan mata. Akan sia-sia jadinya jika kau kembali untuk menyelamatkan mereka. Lagipula tidakkah kau lihat, mereka hanyalah pecundang Kota Keios. Marko adalah murid yang tidak diakui, Bundara dan Vero adalah mantan narapidana,”
“CUKUP!” Aku berteriak dengan suara lantang. Membuat salah satu prajurit menodongkan senjata ke arahku.
Jora menyuruhnya untuk meninggalkan kami berdua. Prajurit tersebut mengangguk. Meninggalkan kami.
Aku menatap Jora dengan penuh amarah. “Hei, Jora! Jangan bercanda! Kau bilang mereka para pecundang? Padahal kita sudah menempuh perjalanan sejauh ini bersama-sama, tidakkah kau sudah melihat sebaik apa mereka? Mereka adalah orang-orang terbaik yang pernah aku kenal. Kau bahkan tidak tahu apapun tentang mereka. Ah, benar juga... Bukannya kau baru saja mengkhianati kami? Jadi, buat apa aku berbincang panjang lebar denganmu.”
Jora mengatupkan rahang. “Kau sendiri? Kau sendiri juga telah mengkhianati mereka, bukan? Kau tidak pernah menceritakan apapun pada mereka. Kau tidak pernah menceritakan soal masa lalumu sepenuhnya pada mereka. Kau tidak pernah sekalipun membicarakan apapun pada mereka! Lihatlah! Sekarang mereka semua tertangkap karena kau tidak menceritakan apapun tentang para bandit! Kau selalu saja mencemaskan dirimu sendiri!” Kalimat Jora terdengar berantakan.
Kabin hening sejenak. Menyisakan mesin pesawat yang mendesing pelan. Aku menunduk.
“Kau memang benar. Tapi, aku melakukan ini bukan atas kemauanku sendiri, Jora. Baiklah, karena kau sangat penasaran, aku akan memberitahumu satu rahasia kecilku.” Aku menatapnya dengan tatapan dingin. “Aku tidak punya ingatan soal masa lalu tentangmu. Ada sebuah alat yang tertanam di dalam tubuhku. Alat tersebut memblok ingatanku. Aku bahkan tidak tahu jika aku pernah bertemu dengan Zenzen saat usiaku enam tahun. Aku bahkan tidak tahu dimana aku lahir. Aku tidak tahu jika aku pernah mengunjungi markas dimana ibuku menghidupkan RP-2. Aku berniat memberi tahu semuanya nanti. Karena aku percaya pada kalian. Tapi, kau... Kau baru saja menghancurkan kepercayaanku, Jora. Apakah semua ini sudah lebih dari cukup untuk kujelaskan? Jadi biarkan aku menyelamatkan mereka. Karena mereka adalah orang-orang yang berharga bagiku. Mereka adalah keluargaku.”
Jora menelan ludah. Matanya terlihat berkaca-kaca. “Lantas bagaimana denganku? Kau akan meninggalkanku begitu saja? Apakah kau masih menganggap aku bukan bagian dari tim? Aku selalu menahan rasa kesalku setiap kali kau tidak memperbolehkanku membantumu. Padahal aku sudah menganggapmu sebagai teman yang berarti. Aku mencoba melindungimu seperti kau melindungiku dulu. Iya, kau memang melupakannya, tapi aku tidak akan pernah melupakan masa laluku. Aku tidak akan melupakan kalimat yang kau ucapkan saat itu. Kalimat itu membuatku memilki alasan untuk hidup di dunia ini, Lian.” Jora menyeka ujung matanya.
“Jora, ketahuilah... Alasan aku tidak membiarkanmu membantuku, karena kau adalah orang yang paling berharga bagiku. Aku sudah menganggapmu sebagai tim sejak dua tahun lalu. Hari dimana kau mengunjungiku di penjara. Bukankah semua ini tidak harus diungkapkan dengan kata-kata?” Aku tersenyum tipis.
Jora menutup mulutnya. Terduduk di atas kursi penumpang. Menyesali semua kalimat yang dia lontarkan padaku. “Aku sungguh minta maaf, Lian. Aku, aku tidak tahu harus berbuat apa? Aku hanya ingin melindungimu. Aku melakukan semua ini untuk melindungimu. Tapi, tapi aku berada di dalam belengu Zenzen. Aku sangat ketakutan saat itu. Sejatinya akulah yang salah di sini. Jika dari dulu aku memberi tahumu siapa aku sebenarnya, mungkin, mungkin semua ini tidak akan berakhir seperti ini...” Jora terisak. Mengusap pipinya yang berlinang air mata.
Aku menepuk bahunya. Nadaku melunak. Setidaknya dia memiliki alasan melakukan semua ini pada kami. Itu sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan semuanya. Jora pasti memiliki kehidupan yang lebih menyakitkan dari pada aku. Dia mengingat semua tragedi di masa lampau. Tidak sepertiku yang sudah melupakan semuanya.
“Hei, ini bukan akhir dari perjalan kita, Jora. Selama kau masih mempercayakan tugas ini sepenuhnya padaku, aku yakin kita pasti akan mencapai tujuan kita. Jadi, apakah kau masih mempercayakan semuanya padaku?”
Jora menatap ke arahku. Mengangguk pelan. “Maukah, maukah kau memaafkanku, Lian? Dan apa kau masih menganggapku bagian dari Falcon?”
Aku mengangguk tegas sembari tersenyum lebar. “Tentu saja aku memaafkanmu. Bukankah kita saling menceritakan untuk saling memaafkan?”
Jora beranjak dari tempat duduknya. Menuju ke ruang kemudi. Menyuruh pilot untuk memutar balik. Dia juga membagi pasukan menjadi dua kelompok. Kelompok satu akan menghentikan Zenzen untuk sementara, sedangkan kelompok dua akan mengikuti kami kembali ke Kota Parit. Pilot tersebut mengangguk, dengan cepat memutar kemudi. Kembali ke Kota Parit.
__ADS_1
“Aku pasti akan menyelamatkan mereka. Tidak peduli bahaya apa yang akan menghadang nanti.” Ujarku dengan suara lirih.
***
Sesuai dugaanku, sepertinya Zenzen sudah menghubungi seluruh bandit di Kota Parit jika aku akan datang. Beberapa pesawat kecil berwarna hitam legam menembakkan senjata ke arah kami. Pesawat kami harus melakukan manuver untuk menghindari terjangan peluru dan ledakan lainnya. Dentuman demi dentuman terdengar. Langit sudah dipenuhi dengan ledakan bak kembang api. Beberapa pesawat telah gugur. Terjun bebas. Lantas meledak di bawah sana.
Pertarungan sengit tak terhindarkan. Baku hantam terus terjadi. Asap hitam mengepul dimana-mana. Bagai langit yang dicoret cat hitam. Begitulah aku menggambarkan kondisi kami saat ini. Pesawat kami berkali-kali menukik tajam. Untungnya sabuk pengaman membuat tubuhku tidak terlempar.
“Nona Jora! Kita tidak bisa menembus pertahanan mereka. Terlalu beresiko untuk terus maju!” Teriak pilot pesawat.
“Terus bertahan! Kita tidak punya cara lain!” Jora menjawab seruan pilot tersebut tak kalah lantang.
Aku mengatupkan rahang. Sebenarnya aku bisa saja menggunakan kekuatanku saat ini. tapi aku masih akan menggunakannya jika sudah tiba di Kota Parit.
“Jora, bisakah kita terbang sedikit lebih rendah dan suruh pasukanmu untuk memancing mereka ke arah kita? Aku punya satu rencana unutuk menghadapi mereka.”
“Eh, kau yakin?” Jora bertanya memastikan.
Aku mengangguk tegas. Jora bergegas memerintahkan pilot. Perintah disetujui.
Aku menuju bagian belakang pesawat. Mengambil salah satu senjata. Mengikatkan tubuhku dengan tali.
“Lian, apa yang kau lakukan?” Tanya Jora dengan suara lantang.
Aku punya sebuah rahasia kecil. Salah satu dari rahasia itu adalah kemampuanku untuk membuat gelombang yang dapat mengganggu kinerja mesin. Aku melatih kekuatan ini saat berada di ruang sekap. Melatihnya diam-diam. Oi! Nanti saja aku akan menceritakannya! Saat ini aku harus menghadapi kejaran bandit-bandit di luar sana.
Aku menekan tombol pintu. Dalam beberapa detik pintu pesawat terbuka. Berkat tali yang kupasangkan di tubuhku, aku tidak terjatuh saat angin menarikku keluar.
Aku mengeluarkan kepalaku. Melambai pada para bandit.
“HEI! AKU TARGET KALIAN, KAN?” Ujarku dengan suara lantang. Berharap para bandit-bandit tersebut mendengar.
Sekejap, seluruh bandit mengejarku beramai-ramai. Seperti kerumunan gagak yang hendak menangkap mangsanya. Aku mengalirkan tenagaku pada senjata yang kupegang. Sebenarnya aku tidak tahu apakah cara ini akan berhasil atau tidak. Tapi, aku akan lebih frustasi lagi jika tidak mencoba hal ini.
Aku tengah berkonsentrasi. Jora bahkan ikut memegangi tali yang mengikat di tubuhku. Takut jika aku terjatuh tiba-tiba. Cahaya kebiruan menyelubungi senapan tersebut. Ketika aku merasa skala kekuatan yang akan kutembakan besar, aku menekan pelatuknya.
__ADS_1
BUSH!
Sebuah peluru dengan gelombang berwarna kebiruan melesat cepat bak anak panah. Gelombang tersebut melebar dan menghantam pesawat-pesawat tersebut. Seketika pesawat-pesawat tersebut terhenti. Turbo-turbo pesawat hitam itu tersendat. Lantas satu persatu berjatuhan. Meledak begitu menghantam ke daratan. Dengan begini kami bisa terbang dengan tenang.
Jora berseru tertahan. Aku mengusap keningku. Butuh waktu untuk memulihkan tenagaku. Hal yang merepotkan dari kekuatan ini ialah penggunaannya. Setiap kali aku menggunakannya dalam skala besar, tubuhku akan terasa lemas. Aku menutup pintu pesawat.
“Hei, Sobat! Apa-apaan tadi itu?” Tanya prajurit di dalam pesawat.
Aku terduduk di atas kursi. Memberi isyarat jika aku butuh istirahat.
“Lian, tadi itu hebat sekali! Bagaimana caramu melakukannya?” Jora membulatkan mata.
“Seperti katamu tadi, Jora. Semua penjalasan ini kita bicarakan nanti saja. Kita harus bergegas menuju bandara Kota Keios dan membawa mereka pergi dari sana. Tapi sebelum itu, bisakah kau mengeluarkan sesuatu dari leherku?” Aku menunjuk bagian belakang leherku.
“Eh?” Jora mengangkat kedua alisnya. Meminta penjelasan.
“Sepertinya Zenzen menanamkan sesuatu di dalam leherku. kemungkinan besar alat tersebut adalah pelacak. Sebenarnya aku bisa saja mematikan pelacak ini saat berada di ruang sekap. Tapi jika aku melakukannya aku akan langsung ketahuan kalau aku memiliki kekuatan lain. Dan yang paling penting, mereka bertiga akan berada dalam bahaya. Saat ini aku sudah mematikan pelacak tersebut. Kalian hanya cukup mengeluarkan alat tersebut. Sungguh menganggu rasanya. Terutama saat aku menoleh.”
Jora menyuruh prajuritnya untuk mengambil kotak medis. Bergegas membius bagian belakang leherku. Walau tidak terasa sakit, aku tahu jika pelacak tersebut baru saja ditarik keluar. Rasanya jauh lebih baik.
Kami sudah mendekati Kota Parit. Tapi para bandit sudah menanti kedatangan kami. Mereka berjaga di sepanjang benteng. kemungkinan besar Kota parit sudah lama dikuasai oleh mereka. Aku tidak menyaksikan penduduk di sana yang berani menentang atau mencoba melawan para bandit tersebut. Zenzen pasti menanamkan rasa takut di dalam hati mereka. Membuat mereka semua tunduk dan hanya bisa pasrah.
Kami mulai menembaki para bandit yang tengah berjaga tersebut. Mereka masih memiliki pesawat tempur yang tersisa. Tapi aku tidak bisa menggunakan kekuatanku saat ini. kekuatan terakhirku akan aku gunakan saat tiba di markas mereka.
“Jora, suruh pasukanmu untuk mengalihkan perhatian mereka. Sementara itu kita akan mendarat di markas mereka.”
Jora mengangguk. Memberi perintah pada seluruh armada.
Kami terus mendekati markas mereka dengan hati-hati. Menghindari setiap rudal yang melesat ke arah pesawat kami. Untungnya pilot kami sangat tanggap dan profesional menghindari serangan demi serangan yang datang. mungkin dia adalah pilot terbaik yang ditunjuk untuk membawa Jora dengan aman.
Aku menyuruh pilot tersebut untuk mendaratkan kami tepat di atas markas.
“Hei! Itu sangat beresiko! Di sana ada ratusan bandit yang siap menangkap kalian.” Bantah pilot tersebut.
“Tenang saja, aku masih memiliki kekuatan yang tersisa. Aku berencana untuk mengendalikan seisi markas mereka menggunakan kekuatanku. Di dalam markas tersebut terdapat senjata otomatis yang digunakan untuk para penyusup. Aku berancana untuk meretas senjata-senjata tersebut melawan bandit-bandit yang tersisa. Saat aku berada di dalam sana aku sudah menandai bagian-bagian yang akan aku lewati. Kau hanya cukup menembaki para bandit yang berada di luar markas.”
“Baiklah, aku percayakan padamu.” Seru pilot tersebut sembari mengangguk.
“Jora, apakah masih ada pasukan yang tersisa?” Kali ini aku bertanya pada Jora.
Jora mengangguk sembari memperhatikan panel yang berada di dalam pesawat. Matanya bergerak mengikuti setiap informasi yang diberikan panel tersebut. “Masih ada sekitar delapan puluh orang. Tapi itu termasuk tiga puluh tiga pilot. Jadi prajurit yang tersisa hanya ada empat puluh tujuh orang.”
“Tak apa, itu lebih dari cukup. Perintahkan mereka untuk mengawal kita di dalam markas.”
“Baik!” Jora mengangguk tegas. Segera memberi perintah.
Begitu tiba di markas mereka, Kami bergegas turun dari pesawat menggunakan tali. tentu saja aku menggunakan pakaian pelindung beserta helm. Bisa-bisa mereka segera menangkapku begitu melihat wajahku. Sekerumunan bandit menembakkan peluru ke arah kami. Baku tembak mulai memenuhi lapangan. Atmosfer terasa sangat menegangkan. Aku harus menghindari terjangan peluru yang melesat cepat ke arahku. Satu dua bahkan nyaris mengenai tubuhku. Aku melemparkan bom asap. Setidaknya ini bisa sedikit mengejutkan mereka.
__ADS_1
Aku bergegas memanfaatkan kesempatan ini beserta beberapa prajurit lainnya untuk merengsek masuk ke markas mereka. Sementara prajurit lain aku tugaskan untuk mengatasi bandit-bandit di luar sana. Begitu menyentuh markas, aku seakan melihat proyeksi tiga dimensi bangunan raksasa tersebut. Struktur bangunan, setiap sistem keamanan, kamera pengawas, ruangan-ruangan, dan senjata yang tertanam di dalam bangunan. Gerbang markas terbuka.