
Waktu berlalu dengan cepat. Hari silih berganti. Ingatanku sudah sepenuhnya pulih. Aku ingat kejadian hari itu. Kebakaran besar yang merenggut satu-satunya keluargaku. Kak Ikai. Dia sudah dipastikan tewas dalam musibah besar tersebut. Tidak, itu bukanlah murni sebuah kecelakaan. Aku masih ingat bagaimana drone-drone itu menjatuhkan bom-bom kecil ke pemukiman warga. Membuat kobaran api lebih besar. Tapi apa dayaku yang hanya anak kecil ini. Menyaksikan berita palsu yang menampilkan kebakaran itu murni sebuah kecelakaan. Penyebabnya tak lain karena amukan warga yang tidak terima atas keputusan para dewan petinggi. Mereka menyalahkan kami yang tak berdaya dengan bumbu kebohongan. Membuat kami seakan menjadi tokoh antagonis dalam kisah mereka.
Aku mulai mengenal pria yang merawatku. Namanya Ador. Entah apa tujuannya menyelamatkanku. Satu hal yang aku ketahui darinya. Ador sering sekali mengotak-ngatik peralatan miliknya dan menciptakan beberapa alat aneh. Sesekali dia mendatangi kamarku dan menunjukkanku berbagai penemuannya. Aku hanya terdiam menatapnya. Tak pernah kutunjukkan ekspresi selain wajah datar.
Dua minggu kemudian, luka-luka di tubuhku berangsur pulih. Hanya saja aku masih merasa aneh dengan tangan dan kakiku. Rasanya seperti tidak menyatu dengan tubuhku. Aku bisa menggerakkannya. Namun semua itu seperti harus mengerahkan otakku untuk berpikir. Keadaan tubuhku masih sepenuhnya diperban. Karena itu aku hanya bisa berbaring atau duduk.
Ador sering sekali bercerita banyak hal. Dia pernah bersekolah di jurusan kedokteran namun gagal. Dia mengaku jika alasannya tidak berhasil bukan karena penemuannya yang hancur ataupun tidak memuaskan. Melainkan karena seorang temannya meniru karyanya dan menganggap bahwa Ador menjiplak karya temannya itu. Alhasil dia dikeluarkan secara paksa dan dengan tidak terhormat. Namun dia memutuskan membangun laboratorium miliknya sendiri. Gedung ini bekas peninggalan keluarganya. Dia mengumpulkan anak-anak yang tidak beruntung dan memberi mereka suku cadang. Aku tidak terlalu mengerti maksud ucapannya.
Satu bulan berlalu. Berita di televisi tidak lagi membicarakan soal kebakaran besar tersebut. Digantikan proyek elit yang akan mereka jalankan di bekas kawasan kumuh itu. Aku ingat sekali seluk-beluk daerah perkumuhan tersebut. Bahkan letak rumahku yang sempat direkam sekilas. Kini semua itu rata dengan tanah. Buldozer raksasa dan mesin-mesin pembangunan terlihat terparkir dimana-mana. Media sibuk meliputi arsitek yang berperan besar dalam proyek tersebut.
Jangan tanyakan soal Agia. Aku tidak akan pernah lagi menyebut namanya atau mencoba mencari tahu keberadaannya. Rasa sakitku ditinggal olehnya masih membekas dan tidak kunjung hilang. Tidak, lebih tepatnya aku yang tidak menginginkan luka tersebut sembuh. Biar rasa sakitku ini menjadi kekuatanku kelak di masa depan.
Hari ini untuk pertama kalinya perbanku mulai dilepas. Aku berseru riang. Ekspresi pertama selain wajah datar yang aku tunjukkan kepada Ador. Hei! itu hanyalah sebuah ekspresi. Ada begitu banyak cara untuk menipu orang lain. Karena pada hakikatnya semua orang hanyalah penipu. Jati diri mereka tak lain hanyalah jiwa busuk yang suka sekali berpura-pura. Seperi halnya Ador. Aku yakin sekali dia melakukan ini semua hanya untuk penelitian. Membohongiku dan melakukan semacam proyek atau sebuah riset padaku. Karena aku menyaksikan sendiri apa yang telah dia perbuat kepadaku. Saat perban itu dibuka, aku tercengang. Itu bukan kaki dan tanganku. Itu sebuah tangan dan kaki dari besi.
“Aku tahu kau akan sulit menerima kenyataan ini. Tapi ini satu-satunya cara agar kau bisa selamat. Seperti yang aku bilang dulu, kau mengalami luka bakar hebat di sekujur tubuhmu. Aku berusaha sekeras mungkin untuk menyelamatkanmu. Aku mencoba mengumpulkan beberapa aset penelitianku dan merombaknya menjadi tangan dan kaki palsu. Tapi aku sudah berusaha, Nak. Dan inilah hasil yang aku dapatkan. Sejujurnya aku ingin mengatakannya padamu dari awal. Tapi melihat kondisi mentalmu yang belum pulih, kuputuskan untuk menundanya. Dan hari ini kau menyaksikannya dengan mata kepalamu sendiri apa yang telah terjadi padamu. Kuharap kau bisa menerimanya.”
Aku menunduk. Tersenyum tipis. Apakah ini semacam hukuman untukku? Kakakku mengalami cacat permanen sepanjang hidupnya setelah kecelakaan yang menimpanya. Dan kini aku juga mengalami hal yang sama dengan Kakakku. Aku cacat. Bahkan keadaan ini lebih parah dibandingkan Kak Ikai. Aku juga kehilangan tanganku. Belum sampai disitu, setengah badanku juga dipenuhi dengan berbagai mesin sebagai penopangku untuk bisa duduk secara tegak. Sekali lagi, sudah berapa banyak yang direnggut dariku. Hingga hanya tersisa kebencian di dalam hatiku.
Aku tetap tersenyum. “Aku baik-baik saja, terima kasih.” Ujarku sembari menahan rasa mual yang luar biasa.
Ador ikut tersenyum sembari mengelus kepalaku. “Kau sungguh anak yang luar biasa.”
Keesokan harinya aku mulai belajar untuk berjalan. Karena sudah sangat lama terbaring di atas kasur, membuat sekujur tubuhku terasa sakit saat digerakkan. Ador menuntunku untuk bisa berdiri dengan tegak. Aku harus mengerahkan pikiranku untuk menggerakkan tangan dan kaki palsu tersebut. Rasanya seperti berjalan di dalam lumpur. Terasa berat dan lambat. Hal ini membuatku cepat lelah dan berkeringat.
Tiga hari, aku mulai terbiasa. Kaki dan tangan palsuku tidak lagi terasa asing. Alat itu sudah seperti bagian dari tubuhku sendiri. Aku tidak perlu mengerahkan pikiranku sekuat tenaga lagi. Sama seperti dulu dimana aku masih memiliki tangan dan kaki normal. Itu yang kurasakan saat ini. Hanya saja aku masih belum bisa melakukan kegiatan berat. Ador masih memantau perkembanganku. Kami lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar. Rasanya seperti terkurung di dalam sel penjara. Mungkin ini juga salah satu hukumanku. Entahlah.
__ADS_1
Aku tidak tahu dimana letak laboratorium milik Ador. Ruanganku tidak dilengkapi dengan jendela. Membuatku tidak bisa mengintip dunia luar. Aku tidak pernah bertanya kepada Ador. Aku tidak akan bisa mempercayainya sebaik apapun dia kepadaku. Toh, selama ini dia hanya berpura-pura. Lebih banyak kebohongan dibandingkan kejujuran yang dia berikan kepadaku.
Ador pernah bilang jika ada beberapa anak lain yang serupa dengan nasibku. Namun anehnya aku tidak pernah mendengar suara anak-anak tersebut. Hal itu menambah kecurigaanku pada Ador. Dari berbagai peralatan yang di miliki, sepertinya Ador bukan berasal dari daerah kumuh. Aku berasumsi jika dia tinggal di kota. Seperti yang dia ceritakan kepadaku, Ador pernah bersekolah di jurusan kedokteran. Tentu saja hal itu membutuhkan biaya yang besar. Ada kemungkinan jika Ador berasal dari kalangan keluarga kaya. Atau mungkin dia suruhan seseorang yang diutus untuk melakukan penelitian rahasia. Menggunakan anak kecil sebagai percobaan. Untuk saat ini aku hanya perlu menunggu dengan sabar.
Aku belajar berbagai hal dari Ador. Berkat otakku yang jenius, aku bisa mengaplikasikan ajaran Ador dalam bentuk tindakan dengan mudah. Dari yang hanya memperhatikannya aku mulai melakukan eksperimen sendiri. Sesekali ketika Ador meninggalkan ruangan, Aku mengotak-atik mesin yang ada pada tubuhku. Menyambungkannya dengan kabel listrik untuk menambahkan energi di dalamnya. Dengan demikian, aku bisa memusatkan energi tersebut dan mengubahnya menjadi kekuatan. Agar tidak menimbulkan kecurigaan, aku mengubah parameter mesin menjadi ukuran standar dengan mengotak-atik sirkuitnya. Hal ini juga aku pelajari saat aku masih menjadi seorang pencuri.
Dua bulan berlalu, Ador sudah menambahkan beberapa fitur di tubuhku. Aku semakin lihai mengendalikan alat-alat tersebut. Rasanya sudah seperti tubuhku sendiri. Aku sudah terbiasa dengan Ador. Kami menjadi akrab walau semua itu hanyalah topeng dan taktik licikku untuk mengendalikannya. Jika tiba waktunya, aku hanya perlu memanfaatkan Ador. Untuk saat ini aku hanya perlu bersikap layaknya seorang anak kecil yang patuh dan penurut.
“Zenzen, aku punya kabar bagus untukmu.”
Aku yang tengah membaca buku menatap ke arahnya. Aku sudah terbiasa dengan kalimat tersebut. Biasanya Ador selalu mengatakan hal bagus jika membawa barang baru ataupun penelitiannya yang lebih mutakhir untuk melengkapi bagian tubuhku.
“Kau sudah bisa keluar dari kamar ini.”
Aku mengerjapkan mataku. Astaga! ini sesuatu yang sungguh mengejutkan. Setelah dua bulan lamanya aku menunggu, akhirnya aku mendengar kalimat tersebut. Aku membulatkan mata. Inilah momentum yang aku tunggu. Hidup akhirnya berpihak padaku. kini aku bisa menjalankan rencanaku yang selanjutnya.
“Iya, aku sangat senang mendengar hal tersebut.” Ujarku sembari menyunggingkan senyum penuh kebohongan.
Kami tiba di ruang depan. Ador menekan tombol. Pintu berdesing pelan. Cahaya yang sangat silau menusuk mataku. Sudah sangat lama aku tidak menyaksikan dunia luar. Tentu saja wajar bagiku merasa sangat berbeda. Aku mendapati sebuah lapangan di tengah gedung. Lapangan tersebut terbuka tanpa atap. Terdapat beberapa anak kecil lainnya yang sama sepertiku. Mereka semua mengenakan alat bantu. Hanya saja mereka tidak separah keadaanku. Aku menunduk. Jadi benar jika anak-anak itu di bawa kemari untuk objek penelitiannya.
“Bergabunglah, Zenzen. Kau sudah bisa menggerakkan tubuh itu sesukamu. Kau bahkan bisa membela dirimu jika suatu hari nanti kau mendapatkan masalah serius. Kehidupanmu hari ini adalah buah dari kesabaranmu selama dua bulan. Kau tahu? kau sungguh beruntung bisa hidup. Beberapa anak lain yang tidak bisa mengendalikan alat itu dengan pikirannya meninggal akibat stress berat yang mereka alami. Bagi seorang anak kecil kehilangan anggota tubuh ditambah lagi kehilangan anggota keluarga dalam sebuah insiden merupakan sebuah penyakit dan trauma yang luar biasa. Ada pepatah yang mengatakan jika trauma bisa membunuh seseorang. Itu benar sekali, Nak. Hanya segelintir saja yang bisa selamat dan sembuh dari sebuah trauma. Luka di luar memang ada obatnya. Sedangkan luka batin? Hanya diri kita sendiri yang bisa menyembuhkannya. Kau menunjukkan padaku hasil yang berbeda. Kau kini sama dengan anak-anak yang ada di lapangan tersebut. Kau bisa bertahan.”
Tidak. Aku berbeda.
"Kau berhasil melalui ujian tersebut selama dua bulan ini. Saat pertama kali melihatmu, aku merasa tidak akan pernah memiliki kekuatan untuk menyelamatkanmu. Namun ketika kau terbangun dan menatapku dengan tatapan penuh arti... Aku tahu kau masih ingin hidup. Saat itulah aku mulai mengumpulkan beberapa alat dan bahan untuk menciptakan sebuah alat yang mampu menopangmu untuk tetap hidup. Tidak hanya itu, aku juga merakitnya dan memodifikasinya sebaik mungkin. Aku menciptakan sebuah karya yang belum pernah kuciptakan sebelumnya berkatmu, Nak. Dan kini tubuh buatan itu menjadi hadiah untukmu. Berlarilah, Nak. Selama kau bisa berlari, dengan alat itu kau tidak akan pernah merasa lelah sedikitpun.” Ador tersenyum sembari mengacak kasar rambutku.
Aku tersenyum nyengir. Satu lagi kebohongan yang dia ucapkan.
“OI! Kalian semua!” Ador memanggil anak-anak tersebut.
__ADS_1
Ada sekitar sepuluh orang di lapangan tersebut. Aku bisa menilai usia mereka dari tinggi badan dan wajah mereka. Rata-rata usia mereka sekitar lima belas tahun ke atas. Kemungkinan besar akulah yang paling muda di antara mereka. Ador mulai saling mengenalkan kami.
“Aku Zenzen.” Ujarku santai.
“Mulai hari ini dia akan menjadi salah satu bagian dari kalian. Kuharap kalian semua bisa akrab dengannya layaknya sebuah keluarga.” Ador berkata penuh harap.
Namun yang kusaksikan saat itu adalah pandangan mereka yang menatap tajam ke arahku. Aku bisa mendeteksi adanya kebencian dari senyuman mereka. Entah apa alasan mereka menatapku seperti itu. Aku hanya tersenyum santai.
Ador mengajakku berkeliling. Tempat ini tidak terlalu besar. Layaknya sebuah laboratorium mini dengan berbagai kamar bak asrama. Ada beberapa ruangan yang tidak boleh aku kunjungi. Ador bilang jika ruangan-ruangan itu berisi penemuannya dan sangat berbahaya jika benda-benda itu melukai orang lain. Karena itulah dia tidak mengizinkan siapapun masuk ke dalam ruangan-ruangan tertentu.
Seusai berkeliling, Ador mengajakku ke sebuah kamar dengan empat ranjang. Sepertinya ruangan itu akan menjadi kamarku. Jika ada empat rajang, tiga ranjang lainnya akan ditempati oleh orang lain.
“Baiklah, jika kau membutuhkan sesuatu, kau bisa memanggilku di ruangan yang sudah aku tunjukkan sebelumnya kepadamu. Bertemanlah dengan mereka, Zenzen. Aku yakin mereka akan senang mengenalmu.”
Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Bersikap layaknya anak manis yang patuh pada ucapan orang tua.
Ador mulai beranjak dan meninggalkanku sendirian di dalam kamar. Aku menghela nafas panjang. Setidaknya aku punya satu masalah serius. Aku harus segera akrab dengan penghuni lainnya untuk melancarkan aksiku. Apapun yang terjadi aku tidak akan pernah ingin memiliki teman sejak “pengkhianat” itu meninggalkanku sendirian. Tapi tidak ada salahnya berpura-pura, kan?
Ketiga orang anak yang sekamar denganku mulai berdatangan. Aku hanya memperhatikan mereka dengan tatapan canggung. Demikian dengan mereka. Hingga salah satu anak dengan badan paling tinggi menghampiriku.
“Hei! Darimana kau mendapatkan tangan dan kaki seperti itu? Milikmu jauh berbeda dengan yang kami kenakan.” Ujar anak itu sembari menggoyang-goyangkan tangan palsunya.
“Aku yakin dia yang membuat Tuan Ador bekerja susah payah dan tidak tidur selama beberapa malam. Bahkan Tuan Ador sampai sakit untuk beberapa minggu. Kau tahu, lah. Penyakit orang tua.” Yang lain menambahkan.
Aku hanya tersenyum. “Tidak juga. Tuan Ador selalu mengatakan jika dia senang bisa membuat karya yang tidak pernah dia ciptakan sebelumnya. Bahkan dia sendiri yang bilang berkat kehadiranku, dia bisa terus melangkah maju. Oh, pasti Ador tidak mengatakannya kepada kalian, ya? Maaf.”
Anak itu berseru tertahan. “Kau pasti merasa spesial karena Tuan Ador memperlakukanmu dengan baik. Tapi perlu kau ketahui, jika kau tidak berguna baginya dan hanya merepotkannya, kau hanya akan dibuang seperti barang rongsokan yang tidak berharga. Jadi jangan bersikap seenak jidat karena kau bisa bernafas bebas di tempat ini.”
Aku hanya mengangkat bahu tidak peduli. Lantas berlalu menuju ranjangku. Menganggap mereka seperti angin selintas.
__ADS_1