
“Ador, apa kau di dalam?” Aku mengetuk pelan pintu kamar Ador.
Pintu terbuka. Mengeluarkan suara berdesing.
“Oh, Zenzen. Kau rupanya. Masuklah.”
Aku mengangguk. Kamar Ador lebih terlihat seperti sebuah bengkel dibandingkan kamar. Namun tidak seburuk kamarku dulu saat tinggal di daerah kumuh. Terdapat sebuah kasur lusuh di pojok ruangan dengan berbagai buku-buku kuno. Sedangkan di sisi ruangan terdapat berbagai perabotan dan barang-barang yang tampak seperti tubuh bionik buatannya. Mungkin Ador masih memikirkan kejadian tadi pagi.
Penampilan Ador sama berantakannya dengan kamar ini. Rambutnya kusut tak beraturan. Kancing bajunya tidak terkancing dengan baik dan benar. Kacamatanya bahkan tampak merosot sedikit ke bawah. Usia Ador sekitar empat puluh lima tahunan. Namun kini dia tampak seperti kakek-kakek berusia tujuh puluh tahun. Raut wajahnya terlihat sangat tidak nyaman dan penuh dengan oli dan debu.
“Maaf, pasti kau sangat tidak nyaman dengan anak-anak lain.” Ador menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Terlihat sekali jika dia merasa bersalah. Lantas duduk di atas meja kerjanya sembari mengotak-atik alat-alat buatannya tersebut.
Aku hanya tersenyum tipis. “Tidak juga.”
“Aku tahu kau pasti terkejut dengan sikap mereka yang seperti itu. Tapi ketahuilah, mereka semua memiliki kenangan pahit yang akhirnya membuat mereka bersikap seperti itu. Karena itu aku mohon kau bisa memaklumi sikap mereka.”
Aku hanya menunduk. Sepertinya aku tetap tidak bisa menerima semua perkataan Ador. Mau bagaimanapun yang salah adalah mereka semua. Tapi tak ada salahnya untuk berpura-pura baik.
__ADS_1
“Apa yang sedang kau lalukan?” Aku bertanya begitu memperhatikan Ador yang tengah menyambungkan berbagai sirkuit pada tubuh bionik tersebut.
“Oh, aku tengah mencoba untuk membuat kaki bionik yang baru untuk Bastian. Besok dia akan berulang tahun. Setidaknya aku sudah menyiapkan benda ini sejak satu bulan lalu. Aku ingin memberinya surprise. Anak itu mudah sekali salah paham denganku. Karena itu aku tidak ingin memberi tahunya untuk memberinya pelajaran jika aku bukanlah pria yang pilih kasih pada anak-anakku. Bisakah kau merahasiakan hal ini?”
“Lalu apa benda yang ada di sebelahnya itu?” Aku menunjuk sebuah benda yang tampak seperti tangan besi.
Ador mengambil benda tersebut dan mendekatkannya ke arahku. Tangan robot itu bergerak-gerak. Tangan tersebut memiliki warna emas mengkilap dengan tekstur yang halus. Terdapat ruas-ruas yang mengeluarkan cahaya berwarna jingga.
“Ini adalah sarung tangan petinju. Aku juga akan memberikannya kepada Bastian sebagai hadiah besok. Ah, jadi ingat dulu bagaimana pertama kali bertemu dengannya.” Ador terdiam sejenak sembari meletakkan kembali sarung tangan besi tersebut.
“Bastian adalah anak pertama yang kuselamatkan dari semua anak-anak yang aku kumpulkan di tahunnya. Dia berhasil mengendalikan rasa sakit dan traumanya. Usianya juga sama denganmu saat itu. Dua belas tahun. Aku menyelamatkannya dari sebuah akademi bela diri. Dia yatim piatu dan tidak memiliki saudara ataupun kerabat sejak lahir. Dia besar tanpa mengenal apa itu kasih sayang. Dia tidak terlalu cerdas namun memiliki semangat yang luar biasa. Karena semangatnya itu, dia bisa memasuki sebuah akademi dengan uang yang dia kumpulkan sendiri di usianya yang masih sangat belia.”
Ador terdiam sejenak. Matanya berkaca-kaca. Membayangkan apa yang terjadi pada Bastian membuatnya merasa sangat sedih. “Untuk pertama kalinya Bastian ingin melawan kenyataan pahit tersebut. Dia menantang seorang anak di akademinya dalam sebuah pertandingan yang tidak resmi. Hasilnya bisa ditebak. Bastian kalah telak dalam pertandingan tersebut.”
“Bayangan akan dirinya yang kalah walau sudah melakukan banyak hal dan berlatih setiap harinya membuatnya sangat terpukul. Bastian marah pada dirinya sendiri. Dia tidak terima dengan kekalahannya dan menyerang kembali lawan di hadapannya. Tapi apa yang terjadi? Bastian yang celaka dalam pertandingan tersebut. Lawannya membanting tubuh kecil Bastian ke atas lantai berubin sekencang mungkin. Mata kanannya terluka dan dia tidak bisa melihat dengan jelas. Belum sampai disitu, teman-teman dari lawannya mulai menghajar Bastian bersamaan, bahkan sampai ada seseorang yang mematahkan kakinya. Tidak, itu lebih seperti menghancurkan kakinya.”
“Akibat insiden tersebut, Bastian harus dirawat di sebuah rumah sakit. Namun dia tidak berdaya begitu mendengar biaya perawatan yang sangat besar. Ditambah fakta bahwa dia tidak akan bisa lagi untuk berjalan normal. Semua itu membuat dirinya hancur berkeping-keping. Membuat retakan besar di hatinya. Belum cukup sampai di situ penderitaannya, semua anak-anak yang membulinya dinyatakan tidak bersalah. Akademi tutup mulut. Membisu mengenai masalah tersebut. Membalikkan fakta bahwa hal itu disebabkan karena kecerobohan Bastian yang memaksakan diri untuk berlatih hingga menyakiti tubuhnya sendiri.”
__ADS_1
Ador kembali merakit komponen-komponen dari kaki bionik tersebut. Aku hanya terdiam. Sebenarnya aku sangat mengantuk mendengar cerita tersebut. Kisahku lebih menyakitkan dan pahit. Karena itu aku sama sekali tidak merasa kasihan ataupun simpati padanya. Namun aku harus mendengarkan kisah itu sampai akhir. Agar aku tahu dimana letak dari kelemahan terbesar Bastian. Ternyata benar-benar mudah sekali menjatuhkannya. Dia hanya iri pada orang berbakat. Dia hanya iri pada orang-orang yang jenius sejak lahir. Hal seperti itulah yang membuatnya haus akan kasih sayang. Sungguh kekanak-kanakkan.
“Aku yang akhirnya mendatanginya dan memberinya sedikit harapan. Awalnya dia menolah mentah-mentah tawaranku. Setelah semua kejadian yang dia alami, dia sangat trauma dan sulit untuk memercayai orang lain. Aku terus membujuknya. Memberinya penawaran. “Jika bersamaku, aku pastikan kau bisa berjalan kembali,” Kalimat seperti itulah yang aku haturkan untuknya. Sulit sekali untuk membujuknya. Baru diterima karena aku yang membayarkan tagihan rumah sakit. Bastian mau tidak mau harus mengikutiku. Aku yakin saat itu dia merasa memiliki hutang padaku.”
“Seperti yang aku janjikan padanya. Aku membuatkannya kaki bionik dan mata buatan agar mengembalikan apa yang hilang darinya. Namun harga yang harus dibayar mahal sekali. Dia harus benar-benar kehilangan kaki kanannya. Alias menjalani amputasi untuk digantikan dengan kaki bionik. Bastian membutuhkan waktu lama untuk memikirkannya. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menerima tawaranku.”
“Sejatinya dia juga tidak langsung bisa menerima kaki bionik milikku. Ketika sadar kaki kanannya telah berganti dengan kaki palsu, dia sangat syok dan sedikit ketakutan. Bahkan dia sempat menyesal memilih keputusan tersebut. Kubiarkan dia merenung selama berhari-hari lamanya. Sementara itu, aku mulai mengumpulkan beberapa anak lainnya. Namun semua dari mereka menyerah. Dan memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka masing-masing. Itulah masa-masa terberatku, Nak. Melihat kematian anak-anak itu dan kegagalanku sebagai seorang dokter. Tapi di hari itu, aku masih ingat bagaimana akhirnya perasaan semangat itu datang. Bastian, anak itu akhirnya menerima kenyataan tersebut. Dia berhasil melalui ujian itu selama tiga bulan lamanya. Walau masih tersisa ketakutan dalam mimpinya. Demikianlah kisah Bastian bermula.”
“Dia mulai belajar berjalan menggunakan alat buatanku. Sungguh perasaan haru dan bangga memenuhi seluk beluk dadaku. Menggantikan rasa sakitku atas kehilangan anak-anak lainnya. Kujadikan dia senior dari anak-anak lainnya. Kubesarkan dia sepenuh hati. Kuajak dia berkeliling walau hanya sejenak. Sungguh kenangan yang tak terkira. Dia mulai menikmati perannya sebagai kakak tertua. Tak pernah kusadari sedikitpun jika hatinya pernah terluka. Dan hari ini telah membuktikan semuanya. Bastian masih belum bisa merelakan kenangan pahit tersebut. Dia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa seseorang bisa lebih unggul darinya. Hari ini aku sadar, bahwa aku masih gagal menjadi seorang dokter yang baik.”
Hening. Gerakan tangan Ador kembali terhenti. Garis bibirnya menurun. Menunjukkan rasa sedih yang sangat dalam. Entah apakah itu palsu atau tidak. Namun aku tahu bagaimana rasa akan kegagalan setelah kau melakukan riset selama bertahun-tahun lamanya. Akupun pernah mengalami hal tersebut. Merasa diriku gagal pada segala hal. Tapi itu sebelum aku bertemu dengan kelompok pencuri. Aku selalu menganggap diriku tidak beruntung dan akan selalu terpuruk. Tapi kenyataannya tidak. Akulah yang harus memutus rantai tersebut. Rantai yang mengekang bahwa diriku ini menyedihkan. Jika aku tidak memotong rantai tersebut, aku hanya akan berada dalam kekangan terpuruk untuk selamanya.
Ador mengacak kasar rambutku. “Setidaknya kau harus bisa menghormatinya, Zenzen, mau bagaimanapun dia lebih tua darimu. Dia memiliki harga diri yang tinggi.”
Aku tersenyum tipis. Itulah yang membuatnya tidak akan pernah sembuh. Ador tidak memberi tahunya kenyataan bahwa orang berbakat akan selalu lebih unggul dibandingkan seseorang yang tidak memiliki bakat namun memiliki seratus persen usaha. Ador hanya memberinya sebuah angan-angan palsu bahwa dirinya lebih unggul dibandingkan siapapun. Lihatlah akibat dari kesalahan sepelenya selama bertahun-tahun! Bastian hanya akan dibelenggu kembali oleh masa lalu kelamnya. Pada akhirnya semua waktu dan kenangan bersama Ador itu hanyalah sebuah kepalsuan baginya. Pada akhirnya aku hanya akan dianggap sebagai antagonis dalam kisah yang dia tulis.
__ADS_1