Kehancuran Batana

Kehancuran Batana
PENGKHIANAT?


__ADS_3

Sehari setelah perpisahan kami dengan suku nomaden.


“UAHHHH!!! Aku bosan!” Vero yang tengah mengemudikan pesawat berseru. Dia mengaktifkan mode auto pilot. Memutar bangkunya menghadap ke arah kami.


“Apa yang sedang kau pikirkan, Vero?” Tanya Bundara.


“Ayo kita melakukan permainan.” Vero memberi usul.


“Huh! Kau sungguh kekanak-kanakan, Vero Bangka.” Marko meledek sembari memasang wajah meremehkan.


“KAU BILANG APA? DASAR BOCAH TAK TAHU DIRI!”


Mulai sudah pertengkaran tak berarti mereka. Aku hanya menggeleng pelan. Hingga terbesit sebuah pertanyaan besar di benakku.


“Jora, sebenanrnya aku sudah lama ingin menanyakan hal ini. Bagaimana caramu meminta izin dari Walikota Keios?”


“Itu mudah sekali, aku memberi tahu maksud dan tujuan dalam misi ini. Aku menjanjikan kebebasan padanya. Tapi tentunya dalam batasan waktu yang ditentukan. Aku sebisa mungkin tidak memperlihatkan bahwa aku memiliki rencana untuk menjatuhkannya.”


Entah mengapa, walau kata-kata Jora terdengar meyakinkan, perasaanku sangat tidak enak. Aku merasa seperti ada satu bagian yang hilang. Hanya saja aku tidak tahu apa bagian itu.


Marko dan Vero masih asik bertengkar. Lebih tepatnya saling beradu mulut. Sesekali Bundara menyuruh mereka untuk diam. Namun beberapa menit kemudian pertengkaran mereka kembali berlanjut. Hingga radio di dalam pesawat kembali menangkap sebuah suara. Tidak, itu bukan hanya sebuah suara, melainkan proyeksi tiga dimensi hologram yang terlihat samar. Vero bergegas menstabilkan alat tersebut. Mencari tahu dari mana asal proyeksi tersebut.


Astaga! Kami semua dikejutkan dengan sosok dalam proyeksi tersebut! Dia adalah...


“Akhirnya aku bisa menghubungi kalian.” Ujar Walikota Keios di dalam proyeksi tersebut.


Tiba-tiba, pesawat kami mengalami guncangan hebat. Seperti dihantam oleh sebuah gelombang yang tak kasat mata.


“APA YANG TERJADI? BAGAIMANA BISA WALIKOTA KEIOS MENGHUBUNGI KITA? GUNCANGAN APA TADI?” Bundara berseru panik.


Alarm pesawat mulai berbunyi. Menandakan bahaya tengah mendekat.


“Lian! Kita diserang!” Seru Vero tak kalah panik.


Seketika, semua area disekitar kami gelap. Ini bukan karena mendung yang tiba-tiba muncul. Namun sesuatu yang sangat besar tengah terbang di atas kami. Awalnya tidak begitu jelas lantaran awan putih yang menyelubungi benda raksasa itu. Tapi kami segera tahu jika itu adalah sebuah pesawat raksasa.


“Aku perintahkan kalian untuk mendarat di Kota Parit sekarang juga!” Walikota Keios berteriak marah. Wajahnya terlihat sangat tidak senang.


Kini pandanganku tertuju pada Jora. Meminta penjelasan darinya.


“Jora, apa-apaan ini?”


Jora hanya terdiam. Dia sendiri juga terlihat bingung dengan kondisi saat ini.


“AKU PERINTAHKAN KALIAN UNTUK MENDARAT SEKARANG JUGA!” Walikota Keios berseru lebih lantang.


Tepat setelah kalimat itu usai diucapkan, mesin di pesawat kami mati sejenak. Lantas bergerak tak terkendali. Vero mencoba mencari tahu apa yang tengah terjadi.


“Lian, pesawat kita dikendalikan dari jarak jauh. Aku tidak bisa mengendalikannya.”


Sial! Aku benar-benar kesal.


Kami tidak bisa berbuat apa-apa. Pesawat kami telah diambil alih sepenuhnya. Kami hanya bisa pasrah. Dari kejauhan aku bisa melihat sebuah kota besar dengan parit yang mengelilingi kota tersebut. Terdapat dinding dan beberapa bangunan tinggi di salah satu bagian kota. Mungkin itu semacam benteng. kami mendarat di bandara milik mereka. Dari dalam pesawat, aku bisa menyaksikan ratusan prajurit berpakaian tentara dengan warna cokelat muda. Mereka semua menodongkan senjata ke arah kami. Aku sungguh tidak mengerti situasi macam apa yang sedang kami hadapi.


“Sebaiknya kalian tidak melawan para prajurit di luar sana!” Walikota Keios kembali memberi perintah dari proyeksi hologram pesawat kami.


Saat ini aku hanya bisa menduga beberapa hal. Kemungkinan besar Walikota sudah tahu tujuan kami untuk menjatuhkannya. Kemungkinan berikutnya, para prajurit Kota Keios yang aku titipkan pada Ruzdora mulai bergerak tanpa menghiraukan perjanjianku. Dan yang terakhir, soal Jora. Kemungkinan besar dia membohongi kami tentang meyakinkan Walikota Keios soal kebebasan.


“Jora, sebaiknya kau bersiap untuk menjelaskan apa yang terjadi.” Aku bebisik dengan nada ketus.


“Aku tidak melakukan apapun, Lian. Sungguh!” Jora berusaha meyakinkan kami. Wajahnya terlihat pucat.


Pintu pesawat terbuka. Seketika para prajurit tersebut merengsek masuk. Marko, Vero, dan Bundara sempat melawan ketika para tentara tersebut mulai meringkus kami. Namun mereka dengan cepat menembakkan bius. Membuat kami jatuh terkulai tanpa bisa berbuat apapun.


 

__ADS_1


 


***


 


 


Aku terbangun dan mendapati diriku di dalam sebuah ruangan berwarna putih. Tanpa pintu. Aku tersentak. Tempat ini mirip sekali dengan ruang sekap milik Kota Keios.


Apa-apaan ini? Apakah kami dibawa kembali ke Kota Keios?


Aku hendak beranjak dari tempatku berdiri, namun tanganku terborgol dengan alat yang menyatu pada dinding ruangan. Aku mengatupkan rahang. Mencoba melepaskan tanganku.


Percuma. Alat itu tidak bergeming sedikitpun. Mau tidak mau aku harus memperhatikan kondisiku serta keadaan di sekitarku. Mataku meniti setiap lekuk dan arsitektur ruangan. Hingga pandanganku tertuju pada lingkaran berwarna merah yang berada di pojok ruangan. Kemungkinan besar itu adalah kamera pengawas.


Jika demikian seluruh tindakanku diawasi oleh mereka. Aku benar-benar tidak bisa berpikir bagaimana caraku untuk kabur.


“MARKO! BUNDARA! VERO! JORA! APA KALIAN BISA MENDENGARKU?”


Hening.


Jika mereka tidak bisa mendengarku, ada kemungkinan ruangan ini kedap suara atau mungkin mereka berada di tempat yang berbeda denganku. Aku terus berpikir. hingga sebuah cahaya kehijauan menyiram seluruh ruangan.


“Tahanan di ruang sekap nomer 4 sudah sadar. Kondisi tubuh mulai pulih. Tidak ada tindakan mencurigakan.”


Beberapa saat setelah suara itu terdengar. Langit-langit ruangan terbuka dan mengeluarkan beberapa belalai dengan ujung berwarna merah terang. Belalai itu mengitari tubuhku layaknya benda hidup, seakan tengah memeriksa kondisiku. Lantas salah satu belalai menancap tepat di belakang leherku. Aku meraung kesakitan. Tapi aku lebih khawatir jika mereka sudah tahu keberadaan alat yang tertanam tepat di belakang leherku.


“Hasil positif. Lian clue memiliki sesuatu di dalam tubuhnya. Nama alat belum diketahui. Fungsi sebagai regenarasi sel, pertahanan tubuh,  pembuka kunci.”


Aku menggigit bibirku. Mereka sudah tahu soal alat ini. Tapi aku tidak tahu siapa yang tengah menelitiku saat ini. Semua teknologi di sini sangat berbeda dengan Kota Keios. Ada kemungkinan aku masih ditahan di Kota Parit.


Belalai di belakang leherku mulai terlepas. Lantas kembali ke langit-langit ruangan. Beberapa saat kemudian sebuah pintu terbuka. Ada seseorang yang masuk ke dalam ruangan. Dan betapa terkejutnya diriku, mengetahui siapa yang masuk ke dalam ruangan.


“Akhirnya aku menemukanmu, Bocah.”


“Zenzen.” Aku menggeram.


“Wah wah wah, tak kusangka kau sudah mengetahui namaku, Bocah. Tidak, apa sebaiknya aku memanggilmu dengan Nak Lian?”


“JANGAN MEMANGGIL NAMAKU DASAR PSIKOPAT!” Emosiku mulai meledak. Walau udara di dalam ruangan terasa dingin, keringat membasahi tubuhku.


“Kau tidak diajari cara berbicara dengan orang yang lebih tua darimu, ya? Siapa nama ibumu? Aha, Batrice. Aku masih ingat bagaimana cara dia mati.”


DEG!


Tubuhku terasa berat. Seperti ditarik oleh grafitasi dalam skala besar.


“Kau bilang apa?”


Zenzen menyeringai. Kembali mengulangi kalimat yang baru saja dia ucapkan dengan suara lebih rendah.


“Aku menyaksikan bagaimana ibumu tewas dua tahun yang lalu, Lian. Tubuhnya terko...”


“SIALAN KAU, ZENZEN! AKU PASTIKAN! AKAN AKU PASTIKAN KAU MATI DENGAN SANGAT MENGENASKAN!” Aku berusaha melepaskan tanganku dari borgol ini. menghentakkan kedua kakiku layaknya orang gila. Rasa amarah sudah sepenuhnya menguasaiku.


“Ayolah, tidak baik berbicara seperti itu pada orang yang lebih tua darimu. Ah, kebetulan aku ingin berbincang santai denganmu. Sebaiknya kau duduk manis dan mendengarkan semua perkataanku.”


Aku mendengus keras sebagai jawaban. Nafasku tidak teratur. Jantungku berdegup sangat kencang. Aku yakin wajahku terlihat sangat menyeramkan saat ini. Tidak ada siapapun yang lebih kubenci selain psikopat alis tebal itu.


Sebuah kursi muncul dari lantai ruangan. Zenzen dengan santainya duduk di atas kursi tersebut. Wajah jahat dengan senyuman liciknya membuatku benar-benar ingin meninju wajahnya. Tapi apalah daya, tanganku terborgol sangat erat.


“Sepertinya kau salah paham soalku, Nak. Baiklah, akan aku ceritakan dengan senang hati kisah tentangku.”


“Aku tidak tertarik!”

__ADS_1


“Oh, ya? Aku yakin kau akan sangat tertarik. Karena anak kecil sepertimu selalu tertarik mendengar sebuah cerita. Kisah ini dimulai ketika usiaku 8 tahun. Aku terlahir dari keluarga miskin di tepi kota. Karena kami miskin, kami sering mengalami kelaparan. Yah, bisa dibilang aku sangat berbakat di bidang pencurian dan perampokan karena masa-masa sulit itu. Tapi mari kita kesampingkan hal itu.”


“Saat itu pemimipin di kotaku melakukan alokasi perluasan area elit. Mereka berencana untuk meratakan area kumuh dengan tanah. Mengubahnya menjadi kawasan para manusia berduit. Mereka sama sekali tidak peduli dengan ratusan atau bahkan jutaan rakyat miskin yang tinggal di area kumuh tersebut. Dengan santainya mereka membakar daerahku. Membuat ratusan anak kehilangan orang tuanya. Membuat beberapa orang mengalami cacat permanen. Termasuk diriku.”


“Seorang dokter menyelamatkanku. Ah, apakah hal itu bisa dibilang menyelamatkan? Tentu saja tidak. Beberapa dari kami yang selamat mereka kumpulkan di sebuah markas. Kau bisa menebak apa yang mereka lakukan pada kami? Mereka menjadikan kami sebagai bahan percobaan. Hahahaha, padahal kita ini sesama manusia. Tapi kini tidak lagi untukku. Setidaknya aku sedikit berterima kasih karena mereka sudah melakukan percobaan itu pada tubuhku. Karena dengan begini, aku bisa membunuh manusia lebih mudah.”


Aku mengatupkan rahangku. Cerita tersebut terdengar sangat tidak masuk akal dan penuh dengan hawa tidak menyenangkan. Ingin sekali aku menutup kedua telingaku.


“Aku memutuskan untuk membalaskan dendamku pada seluruh umat manusia. Aku mulai menyembunyikan identitasku. Mengubah namaku. Aku bahkan terpaksa untuk menempuh pendidikan yang sangat menyedihkan. Dan merangkak ke puncak dengan penuh rasa sakit. Hingga aku menjadi seorang kepala negara. Dan saat itulah aku memutuskan untuk membangkitkan seluruh Robot Penjaga Perbatasan di dunia. Bisa dibilang, ibumu adalah pahlawan bagiku, Lian.”


“TUTUP MULUTMU SEBELUM AKU BENAR-BENAR MENCABIKMU!!!!” Aku berteriak lebih keras. Suaraku menggema memenuhi ruangan.


“Astaga, kau ini benar-benar anak yang tidak sopan. Tapi mau bagaimanapun kau harus tetap mendengarkan ceritaku. Karena aku akan memberi tahumu semua kebenaran tentang ibumu.”


“Ibumu adalah seorang ilmuwan yang sangat hebat. Sejatinya kau pernah bertemu denganku, Lian. Usiamu saat itu 6 tahun. Kau masihlah anak kecil polos yang sangat menggemaskan. Aku bahkan memperlakukanmu layaknya anakku sendiri. Terkadang ibumu mengajakmu mengunjungi laboratorium. Aku bahkan mengingat dengan jelas wajahmu saat menyaksikan RP-2. Kau mengatakan jika robot-robot itu sangat keren.”


Aku menelan ludah. Aku tidak bisa mempercayai hal itu.


“Aku memerintahkan ibumu beserta para ilmuwan lainnya untuk membangkitkan RP-2. Alhasil dalam kurung waktu empat tahun, mereka sukses untuk membangkitkan robot- robot itu. Rencanaku berhasil, dengan begini aku bisa membuat para manusia seperti kalian tunduk di hadapanku. Tidak akan ada lagi yang meremehkanku ataupun mencoba menjatuhkanku. Tapi, tak kusangka jika ibumu akan menjadi serangga pengganggu untukku.”


“Ibumu beserta teman-temannya melarikan diri. Aku yakin mereka pasti mencari cara untuk menghentikan robot-robotku. Jadilah aku mengembara menjadi seorang pemimpin kelompok bandit. Mencari ibumu untuk membunuhnya. Hingga aku mendengar kabar dari salah satu anggotaku, jika ibumu sudah menemukan alat untuk menghentikan RP-2.”


“Aku mendengar jika alat itu tertanam di dalam tubuh seseorang. Tidak kusangka ternyata orang itu adalah anaknya sendiri. Sungguh ironi yang sangat lucu. Bagaimana bisa seorang ibu tega menanamkan alat yang sangat berbahaya di dalam tubuh anaknya sendiri. Manusia benar-benar sangat aneh.”


“Diam kau! Kau tidak tahu apa-apa tentang ibuku!” Tubuhku bergetar hebat. Entah mengapa dadaku terasa sesak. Air mata mulai membendung di ujung mataku. Bersiap tumpah kapan saja.


Zenzen tertawa sangat keras. “Tentu saja aku sangat mengenal perawakan ibumu, Lian. Ibumu adalah seorang ilmuwan yang sangat cerdas. Aku bahkan baru bisa menemukan ibumu selama bertahun-tahun. Dan tidak kusangka, aku menemukan lokasi dimana ibumu bersembunyi. Kau bisa menebaknya, kan? Kejadian dua tahun lalu. Itulah hari dimana aku bisa menemukan ibumu. Yang sayangnya dia berhasil kabur membawamu.”


“Tapi tentu saja aku bukanlah orang yang mudah menyerah. Aku akan terus mengejarmu dan ibumu. Hingga aku tidak sengaja menemukan jasad ibumu. Dia sudah terkoyak-koyak oleh para robot-robot tercintaku. Padahal dia tidak akan mati dengan mengenaskan seperti itu jika tunduk padaku. Lihatlah akibatnya, dia mati dengan sangat tragis. Aku bahkan tertawa terbahak-bahak di depan jasadnya.” Zenzen tertawa terbahak-bahak dengan suara keras. Seakan melakukan reka adegan dua tahun lalu.


Air mataku mulai berderai. Aku tidak kuasa menahan tangisku.


“Tapi tenang saja, Nak. Aku tidak akan membunuhmu. Karena aku akan menjadikanmu sebagai bonekaku. Aku akan menggunakanmu sebagai pembuka gerbang di seluruh dunia. Sangat senang rasanya ibumu menciptakan alat yang sangat berguna seperti itu. Dan ketahuilah, Nak. Bahwa kau ini,” Zenzen mendekat ke arahku. Lantas berbisik pelan, “sama sepertiku, kau sudah bukan lagi manusia.”


Aku tersentak.


“Simpelnya , aku ingin membuat penawaran denganmu, Nak. Jika kau tunduk padaku tanpa melakukan perlawanan sedikitpun, akan aku jamin kau memiliki kehidupan yang layak seperti para pengikutku yang lainnya.”


Aku menatap tajam ke arahnya. Tersenyum menyeringai. “Sayang sekali, aku menolak. Aku tidak mau disandingkan dengan orang hina sepertimu.”


Raut wajah Zenzen berubah. Dia melotot memandangku. “Sayang juga untukmu, Nak. Kalau begitu aku hanya perlu menyakiti teman-temanmu.”


Tepat ketika kalimat itu dilontarkan, tiga buah layar hologram terpampang di hadapanku. Astaga! Mereka adalah, Vero, Bundara, dan, Marko. Mereka semua dalam keadaan sadar dengan tangan terborgol. Di hadapan mereka terdapat sebuah belalai yang diselimuti dengan listrik.


“LAKUKAN!” Zenzen memberikan perintah.


Belalai itu menyetrum tubuh mereka. Rahangku bergetar. Aku berteriak sekencang mungkin. Tidak tega menatap teman-temanku yang berteriak kesakitan.


“HENTIKAN!!! KUMOHON HENTIKAN!!!” Tubuhku meronta-ronta. Aku tidak sanggup melihat mereka berteriak kesakitan.


Zenzen menyuruh alat-alat itu berhenti. Lantas hologram dihadapanku menghilang. Aku menunduk. Tenagaku seakan terkuras seluruhnya.


Zenzen mulai beranjak dari tempat duduknya. Melangkah mendekati pintu yang setengah terbuka.


“Jangan mencoba melakukan hal aneh, Lian.” Langkah Zenzen terhenti. Dia memasang wajah liciknya. “Karena aku tidak akan segan untuk membunuh teman-temanmu. Jadilah anak penurut yang baik.”


“Sialan... Sialan! SIALAN KAU ZENZEN! AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMAAFKANMU!!!”


Zenzen kembali melangkah. Sama sekali tidak mempedulikan teriakanku. Menghilang dibalik pintu yang tertutup rapat. Menyisakan teriakanku yang menggema memenuhi ruangan.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2