Kehancuran Batana

Kehancuran Batana
MOMEN


__ADS_3

Sebelum kembali ke rumah Tatu, aku menyempatkan diri untuk menjenguk teman-temanku. Mereka semua terbaring di atas kasur dengan selang oksigen yang terpasang di hidung mereka. Melihat wajah mereka membuatku kembali teringat dengan kejadian dimana Zenzen menangkap kami.


Ruzdora menepuk pelan bahuku. “Kau tidak pergi bersama pria tambun tadi?”


“Aku ingin melihat kondisi mereka sejenak. Memastikan kembali.”


Hening sejenak. Ruzdora ikut berdiri disampingku sembari menatap ke arah mereka semua.


“Ruzdora, semisalnya jika kau memiliki seorang teman dekat lalu teman itu tiba-tiba mengkhianatimu dan menyakiti orang-orang yang kau sayangi, apa yang kau rasakan? ” Aku memutuskan bertanya.


“Aku yakin dibalik sebuah pengkhianatan memiliki sebuah alasan, Lian. Aku pernah mengalami hal itu. Tapi itu sudah dulu sekali. Saat aku belum berkeluarga.”


“Benarkah?’


Ruzdora mengangguk. “Memang sulit memahami perasaan seseorang yang mengkhianati kita. Tapi, mari kita mengintip sisi gelap dari para pengkhianat. Apa alasan mereka melakukan perbuatan itu, apakah karena luka di hati mereka lebih besar dari yang kita bayangkan? Ataukah mereka hanya terpaksa melakukannya karena terkekang oleh sesuatu? Atau memang keputusan mereka untuk terjerumus ke dalam jurang kegelapan yang dalam? Semua itu pasti memiliki alasan, Lian. Alasan yang tidak bisa terjelaskan dengan kata-kata.”


“Jadi, apakah itu artinya aku harus memaafkan seorang pengkhianat?”


Ruzdora tersenyum. “Tentu saja tidak harus. Berkhianat itu menunjukkan tindakan pengecut. Mereka yang memutuskan berkhianat karena tidak mampu untuk menghadapi alasan tersebut. Karena itu kita tidak harus memaafkan, Lian. Tapi kita bisa memberi kesempatan. Semua itu tergantung pada dirimu sendiri.”


Aku mengangguk. Mungkin Marko, Vero, dan Bundara akan terkejut mendengar fakta jika Jora sempat berkhianat. Aku harus meminta penjelasan lebih detail dari Jora. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya setelah insiden tersebut karena ingatanku yang tidak bisa menerima lebih jauh masa lalu tersebut.


“Mungkin ini juga yang dirasakan Zenzen. Pria itu pasti pernah merasa dikhianati. Karena itu dia selalu berkhianat pada orang lain. Kau tahu, Lian? Semua orang jahat itu adalah orang baik yang tersakiti. Kau salah menilai jika Zenzen murni orang jahat.”


Aku menatap Ruzdora tidak mengerti. Bagaimana bisa dia berpendapat demikian mengenai Zenzen? Menyebutkan namanya saja membuatku pusing.


“Mungkin selama ini kita hanya menilai semua orang dari sisi luarnya saja. Kita lebih sibuk pada penderitaan kita masing-masing, memikirkan orang-orang terdekat kita, tanpa tahu apa yang dirasakan oleh orang lain tentang masa lalunya. Aku yakin Zenzen bukanlah pria jahat dulunya. Hei! Bukankah semua anak yang lahir di dunia ini dulunya polos dan suci? Lantas apa yang membuat semua orang biasa berbeda-beda? Tentu saja karena masa-masa yang mereka hadapi. Kenyataan pahit yang mereka lalui, perlakuan orang lain yang mereka terima, dan pandangan buruk kita terhadap mereka. Semua itu, hal itu, dan pandangan itu, mempengaruhi perilaku dan membentuk karakter mereka secara tidak langsung.”


Ruzdora terdiam sejenak. Dia tersenyum lembut menatapku yang tengah memasang wajah kaku. Pembicaraan ini entah mengapa menjadi perbincangan yang sangat sensitif.


“Tidak semua orang seberuntungmu, Nak. Atau bahkan seberuntung aku. Jadi jangan mencoba menyama-nyamakan orang. Mungkin Zenzen tampak kuat di luar, tapi hatinya tak lebih kuat dari hati seorang anak kecil yang rapuh. Dia mungkin kejam, tapi semua itu tak lain hanya untuk menyembunyikan rasa sakitnya, menyembunyikan sisi lemahnya beserta rasa takutnya. Karena itu cobalah untuk mencari tahu. Cobalah untuk memahami.”


“Untuk apa memahami jika aku sendiri tidak bisa memahami diriku.” Aku mendesah pelan.


“Oi! Pemahaman tentang diri kita itu mudah, Lian. Untuk apa lagi kau memilih memahami dirimu sendiri? Toh jawaban itu ada di diri kita sendiri.” Ruzdora tertawa pelan. Lantas menepuk pelan bahuku. “Ah, sepertinya aku harus pergi, Lian. Aku ada panggilan darurat. Senang bisa mengobrol seperti ini denganmu. Pembicaraan seperti ini selalu bisa mengisi kekosongan di hati pria tua ini. Kau juga sebaiknya bersantailah sedikit. Istirahatkanlah kepalamu sejenak setelah semua kejadian yang kau alami. Kalau begitu sampai berjumpa lagi, Nak.”


Ruzdora melambaikan tangan. Meninggalkanku yang mematung menatap ke arah ruang perawatan. Menatap sekali lagi ke arah teman-temanku.


“Pemahaman, ya?” ujarku di dalam hati.


 


 


***

__ADS_1


 


 


“Hei, Bocah! Kenapa wajahmu serius sekali?”


Aku mengerjab. Tatu baru saja membuyarkan lamunanku. Aku menggeleng pelan. Fokus ke arah jalanan kota. Kami tengah menaiki mobil bobrok milik Tatu (Sebenarnya tidak terlalu buruk. Hanya saja mobil Tatu kerap kali mengeluarkan suara berderam yang tidak menyenangkan. Bahkan lebih parahnya lagi, mobil ini sering sekali mengeluarkan asap). Bukan lagi taxi bernama Victor.


“Astaga... Aku benar-benar tidak menyangka anak berusia delapan belas sepertimu sudah mengalami kejadian seperti ini. Aku yakin pikiranmu sedang kusut saat ini. Hmmmm... padahal saat aku berada di usia delapan belas adalah masa-masa terindah yang pernah aku miliki.”


“Benarkah? Seperti apa masa delapan belas tahunmu itu?” Entah mengapa aku malah tertarik.


Tatu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tampaknya dia tengah berusaha mengingat.


“Hei, jangan bilang kau lupa.” Aku memicingkan mataku. Menatapnya dengan tatapan menyelidik.


“Hahaha! Mana mungkin aku lupa. Tentu saja aku mengingatnya dengan sangat detail. Aku hanya memancingmu, Lian.”


Aku menatap Tatu dengan wajah datar. Kembali menatap ke luar jendela mobil dengan menopang dagu. Mobil terhenti di sebuah perempatan, tampak beberapa kumpulan remaja yang mengenakan seragam yang sama di dekat perempatan tersebut. Mereka semua terlihat tengah menunggu bus atau semacamnya di sebuah halte. Saling berbincang dan melempar candaan. Tampaknya mereka remaja yang seusia denganku. Wajah mereka terlihat bahagia walau memakai masker bening dan tabung yang tergantung di pinggang mereka. Apakah itu yang seharusnya dialami oleh remaja berusia delapan belas tahun? Menghabiskan waktu untuk hal yang percuma. Mengabaikan masalah dan menjalani hari tanpa memikirkan segala hal. Indah sekali jika aku bisa memiliki hari-hari seperti itu.


“Apa kau tidak pernah bersekolah, Lian?”


Aku tersentak. Tanganku terpeleset begitu mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut Tatu. Sekolah? Mengecap bangku sekolah dasar saja tidak pernah. Hari-hariku hanya dipenuhi dengan pemahaman tentang bertahan hidup. Setidaknya itu yang selama ini diajarkan Ibu kepadaku. Tentang dunia yang hancurlah, dunia yang tidak baik bagi manusia, dan berbagai pemahaman lainnya. Dan kini otakku hanya dipenuhi oleh pikiran negatif.


“Tidak pernah.” Aku menjawab singkat.


“Baiklah, sepertinya kau sangat penasaran dengan masa dimana aku berusia delapan belas tahun. Sebenarnya tidak terlalu menarik amat. Namun lebih banyak kenangan bahagia dibandingkan kenangan pahit. Mau aku ceritakan masa-masa itu, Lian?” Tatu kembali berujar dengan nada tinggi. Sengaja betul membuatku kesal.


“Oke, oke, aku akan ceritakan. Tampaknya kau mulai kesal dengan pria tambun ini. aku penah merasakan sekolah, Lian. Mendengar dentang bel, mengerjakan PR walau secara digital. Duduk di bangku sekolah, menatap halaman sekolah dari balik jendela kelas. Bahkan aku pernah merasakan cinta masa muda.”


“Bisa kau skip saja untuk persoalan cinta. Jangan membuatku merinding selama perjalanan ini.”


“Hei, ayolah... Siapa pula yang tidak suka mendengar kisah cinta. Tapi aku akan menghargai permintaanmu. Kau tahu? Ibumu dulunya adalah remaja biasa sepertimu. Dangkal juga jika soal percintaan. Sangat polos dan juga sangat cantik.” Tatu berujar menggoda. “Begitu pula Natania. Dulunya dia tidak sejutek sekarang. Ramah dan juga lembut. Pintar dan sangat perhatian. Ah, sungguh masa-masa yang indah.” Tatu mendesah pelan. Seakan melihat semua itu seperti menyaksikan film yang tengah diputar.


“Kami masuk pukul delapan pagi dan pulang pukul empat sore. Pulang sekolah mengerjakan tugas bersama-sama. Atau hanya sekedar berkumpul di cafetaria. Betapa banyak kenangan indah. Dan begitu sedikit kenangan pahit. Yeah, itulah masa-masaku saat berusia delapan belas. Apa kau tidak ingin mencoba bersekolah, Lian?”


“Itu tidak akan pernah terjadi.” Aku menanggapi dengan dingin.


“Siapa bilang itu tidak bisa terjadi. Kamu mana tahu tentang masa depanmu.” Tatu balas dengan gurauan.


“Karena kita hanya menunggu kabar dari dokter tua itu, bagaimana jika kita luangkan waktu sejenak untuk berlibur.” Tatu memberi saran.


“Bagaimana bisa aku berlibur di saat genting seperti ini? Bagaimana jika Zenzen tiba-tiba muncul di tengah kota? Menangkapku dan membunuh teman-temanku. Atau lebih parahnya lagi membawa masuk RP-2 ke dalam kota dan membunuh jutaan masyarakat tak berdosa di kota ini. Sejarah terulang kembali dan kita tidak memiliki kesempatan untuk memperbaikinya.”


Tatu memasang wajah datar. “Oke, kini kau mulai terdengar seperti Batrice yang cerewet. Ayolah, Nak... Percayakan saja masalah itu pada orang dewasa. Bukannya tadi kita sudah sepakat? Anak berusia delapan belas tahun sepertimu tidak wajar memikirkan hal rumit seperti ini. Bisa-bisa kau memiliki keriput sebelum tua. Tidak, tidak, aku yakin kau akan memiliki keriput sebelum dewasa. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Aku yakin kau pasti akan senang.”

__ADS_1


Tatu membanting stir. Mobil menderu lebih cepat. Membelah jalanan, melewati bangunan-bangunan pencakar langit, berbelok di antara taman, dan tiba di sebuah daerah pinggiran yang tidak terlalu jauh dari letak rumah Tatu. Terdapat sebuah lapangan luas tanpa rumput satupun beserta beberapa anak seusiaku yang tengah bermain sebuah permainan. Entahlah aku tidak tahu apa permainan yang mereka lakukan. Mereka tampak menendang-nendang sebuah benda berbentuk bola. Terdapat dua kelompok dengan dua warna pakaian yang berbeda. Mereka saling berhadapan dan memperebutkan bola tersebut. Menendangnya ke sana kemari dan mengopernya antar sesama tim. Aku tidak pernah tahu ada permainan seperti itu. Semasa aku kecil, aku hanya mendapatkan berbagai mainan dengan teknologi tinggi. Setidaknya itu yang aku lihat di dalam ingatanku. Begitu pula ketika aku hidup di Desa Padang Rumput, kami hanya disibukkan dengan berburu dan saling bahu membahu dengan para warga.


Tatu mendekati kerumunan. Seketika semua orang yang sibuk menendang bola ke sana kemari menghentikan aktifitas mereka. Beberapa orang yang mengenal Tatu menyapanya. Aku hanya berdiri di tepi lapangan. Menyaksikan dari kejauhan.


“Lian! Apa yang kau lakukan mematung di tepi lapangan seperti itu? Cepatlah kemari!”


Aku mengusap rambutku.


“Hei, Lian.” Jun menyapaku. Dia juga bergabung dalam tim tersebut. Begitu pula dengan Jin.


“Kebetulan sekali, kami sedang kekurangan satu orang di tim kami. Bergabunglah jika kau mau.”


Aku menatap ke arah Tatu sejenak. Tatu hanya mengangguk. Menyuruhku untuk bergabung.


“Baiklah, hanya saja aku tidah tahu permainan apa yang kalian lakukan.”


“Eh, benarkah? Kau belum pernah bermain sepak bola sebelumnya?” Jin menyela.


“Tenang saja, permainan ini sangat mudah. Kau hanya perlu menendang bola ke arah gawang lawan yang dijaga oleh seseorang. Tapi kau tidak boleh menyentuh bola menggunakan tanganmu, terkecuali penjaga gawang. Selain itu juga ada beberapa pelanggaran. Kau tidak boleh mendorong, memukul, dan menjagal tim lawan. Permainan ini juga dibutuhkan kerja sama tim. Kau bisa mengoper bola ke temanmu untuk mendapatkan sebuah gol. Pokoknya ikut saja dulu, kau akan paham dengan sendirinya.” Jelas Jun.


Aku mengangguk. Sebelum bergabung, Jin dan Jun lebih dulu memperkenalkanku pada mereka semua. Beberapa lebih banyak penasaran alasanku tidak mengenakan masker. Yang lainnya tidak terlalu peduli. Hanya menganggap hal biasa. Aku bergabung di dalam tim si kembar. Karena aku masih bermain sebagai pemula, aku ditempatkan di posisi belakang. seseorang menjadi wasit dalam permainan. Menyalakan peluit. Bola mulai ditendang.


Kami mendapatkan giliran untuk menyerang. Jin dan Jun tampak gesit menghindari terjangan demi terjangan. Kelincahan mereka membuatku takjub. Bagaimana caranya mereka bisa berkonsentrasi membawa bola sedangkan ada banyak orang yang menghalangi mereka? Tentu saja itu merupakan hal baru bagiku. Bola mulai dioper ke sana kemari. Hingga seseorang melakukan kesalahan. Bola berhasil direbut tim lawan. Tak pikir panjang, tim lawan mulai melesat maju. Mendekat ke arah belakang. Inilah saatnya bagi kami pemain belakang untuk beraksi.


“Lian! Rebut bolanya!”


Aku mengeluh. Saat ini tim lawan semakin mendekat ke arahku. Mungkin dia tahu aku pemula dan menganggapku tidak bisa merebut bola  tersebut. Tidak ada pilihan lain. Aku hanya perlu merebut bolanya, kan? Permainan ini hanya sesimpel itu.


Insting bertarungku mulai keluar.


Aku dengan cepat melesat maju. Lawan di depanku terhenti. Mencari jalan lain. Sebelum hal itu terjadi, kakiku dengan cepat mengait bola itu. Tim lawan terkejut. Dia tidak menyangka hal itu terjadi. Beberapa orang lainnya mulai mendekat. Mencoba menghalangiku. Aku dengan gesit memutar tubuhku. Seakan menari di tengah pertempuran. Aku mendrible bola sebaik mungkin. Menghindari terjangan tim lawan. Hingga aku mulai terdesak. Seseorang dari timku berseru lantang. Menyuruhku untuk mengoper ke arahnya.


Aku dengan cepat menendang bola.


Tendanganku tepat sasaran. Begitu bola diterima, aku dengan cepat merangsek ke depan. Aku mulai menikmati permainan ini. Belum pernah kurasakan permainan semenyenangkan ini. Aku mulai larut dan semakin lihai dalam menggiring bola. Dalam waktu hitungan menit, aku berhasil mencetak gol.


“Wooooohhh! Apa-apaan iu! Kau hebat sekali Pemula.” Seru seseorang.


Kami melakukan selebrasi sejenak. Mereka menepuk bahuku dan merangkulku. Masih kurang, mereka mengacak kasar rambutku. Aku hanya pasrah dan menerima semua perlakuan mereka padaku.


Kami kembali bermain. Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa petang mulai menjelang. Langit menampakkan semburat kemerahan. Awan jingga mengambang elok di angkasa. Skor berakhir dua-satu. Timku menang. Tapi itu tidak menjadi permasalahan. Toh, esok-esok hari mereka akan kembali bermain.


Jin dan Jun pulang bersamaku dan Tatu. Sejak tadi Tatu duduk di pinggir lapangan sembari memberi seruan semangat. Dia bahkan lebih semangat dibandingkan diriku.


“Sudahku bilang kau akan senang, Lian.” Tatu tertawa terbahak-bahak. Suaranya memecah kesunyian senja.

__ADS_1


 


 


__ADS_2