Kehancuran Batana

Kehancuran Batana
TERCIPTANYA MONSTER


__ADS_3

 


 


Lagu yang kunyanyikan pilu


Rasa yang kurasakan sakit


Hidup yang kutempuh kebencian


Jalan yang kutapaki padang berduri


Jadi aku putuskan hari ini hujan saja.


 


 


Aku terbangun begitu mendengar seseorang menyanyikan lagu tersebut. Kudapati diriku kembali berada di ruang perawatan. Padahal baru seminggu yang lalu aku keluar dari ruangan ini dan sekarang aku kembali. Rasanya seperti aku telah melakukan kejahatan dan kembali dijebloskan ke dalam penjara. Hujan masih terdengar diluar sana. Hanya saja tidak sederas saat aku tengah bertarung dengan Bastian. Kini aku tahu bahwa ruangan ini tidak kedap suara. Dulu aku mengira ruangan ini kedap suara lantaran tidak mendegar satupun anak di ruangan sebelah. Mungkin karena saat itu ruangan tersebut sudah kosong atau bagaimana. Aku masih belum bisa merasakan kaki dan tangan bionikku. Mungkin Ador belum memperbaikinya. Aku mencoba menoleh, kudapati Adorlah yang menyanyikan lirik tersebut.


“Bagaimana kau tahu lagu itu?” Aku bertanya lirih. Tenagaku belum pulih sepenuhnya.


“Judul lagu itu adalah ‘Sembilu’, lagu yang diciptakan oleh seseorang yang memiliki cacat permanen pada kedua kakinya. Lagu itu dia ciptakan berdasarkan kisah hidupnya yang pahit. Walau demikian... Setidaknya sebelum akhir hayatnya, dia mencicipi sedikit manisnya kehidupan.” Jelas Ador sembari merakit sebuah tangan bionik. “Sungguh kisah yang luar biasa. Dari yang hanya seorang pengamen jalanan, dia berubah menjadi penyanyi yang dikenal di seluruh pelosok negeri. Sebutkan namanya, maka orang-orang akan keluar rumah dan mencari-cari keberadaannya. Siapapun yang tidak mengenalnya, hanya akan disebut kudet alias kurang update. Ditambah lagi kau akan dianggap tidak kekinianlah atau ketinggalan zamanlah.”


Ruangan kembali hening. Menyisakan suara denting obeng dan putaran baut.


“Ngomong-ngomong kenapa kau menanyakan hal itu, Nak?”


Aku menatap ke langit-langit ruangan. “Aku pernah mendengarnya dari seseorang.” Jawabku dengan datar.


Ador kembali mengutak-atik tangan bionik tersebut, lantas mendatangiku sembari membawa tangan tersebut.


“Ini memang tidak sebagus yang sebelumnya. Setidaknya untuk sementara kau bisa menggunakannya sampai aku membuat yang baru.” Ador mulai memasangkan tangan tersebut.


“Soal Bastian. Bagaimana dengannya?”


Gerakan tangan Ador terhenti sejenak. lantas kembali melanjutkan pemasangan tangan bionik tersebut.


“Coba gerakan.”


Aku mengangguk. Mulai mencoba menggerakkan tangan tersebut secara perlahan dengan pikiranku. Tidak buruk. Hanya saja untuk tingkat kehalusan dan kefleksibelan, aku lebih menyukai yang sebelumnya. Tapi tak apalah. Toh, Ador akan membuatkan kembali yang baru seperti yang dia bilang tadi, tangan bionik ini hanya untuk semenatara.


“Aku juga akan membuatkan kaki kananmu. Untuk kaki kirimu, aku sudah mencoba memperbaikinya sedikit. Kaki bionik itu hanya mengalami kerusakan sedikit di bagian baterai akibat terlalu panas. Walau begitu aku tetap akan mengganti semua tubuh bionikmu. Oh iya, soal tangan satunya lagi aku tidak akan membuatnya lebih dulu. Jadi untuk sementara ini kau hanya bisa menggunakan tangan kananmu. Suku cadangku sudah habis dan aku harus menggambil bahan-bahan yang lainnya. Lalu kau juga tidak boleh bergerak dulu. Mungkin kau tidak sadar karena beberapa tubuh besi yang kupasangkan kepadamu membuatmu merasa dingin, tapi kau mengalami flu dan suhu tubuh aslimu lumayan panas. Bahkan kemarin malam kau mengigau memanggil-manggil nama seseorang.”


Aku menggangguk. Aku baru tahu hal itu begitu merasa hidungku sedikit gatal dan tenggorokanku sedikit sakit.


Ador terdiam sejenak, “Soal Bastian aku sudah mengurusnya kemarin. Dia kuusir dari laboratorium ini tepat pada malam harinya. Sejujurnya aku ingin sekali memaafkannya. Tapi melihatnya melakukan hal buruk ini kepadaku membuatku tidak bisa lagi melihat bagian mana darinya yang harus kumaafkan. Dia sempat bilang jika kau juga melukainya. Tapi aku tahu alasanmu melakukan hal tersebut, kau hanya ingin menghentikannya. Anak-anak lain juga sudah bersaksi. Awalnya mereka berpikir kau mencoba memprovokasinya, tapi begitu kutunjukkan rekaman CCTV di kamarmu, mereka terdiam seribu bahasa. Menunduk malu  atas perbuatan mereka semua.”


Aku tersenyum tipis. Aku tidak menyangka jika di setiap kamar terpasang CCTV. Ternyata kami semua benar-benar di bawah pengawasan Ador.


“Aku membiarkan dia mengenakan kaki bionik milikku. Walau aku tidak memperbaiki kerusakannya. Aku yakin kaki bionik itu tidak akan bertahan lama. Dan untuk matanya aku juga tidak membuatkannya kembali. Biarlah itu semua menjadi hukuman baginya. Lagipula usianya juga sudah mencapai delapan belas tahun, yang itu artinya dia sudah cukup umur untuk mengukir kisah hidupnya sendiri. Dia tidak bisa lagi tergantung padaku.” Ador menunduk. Terlihat kesedihan yang sangat dalam dari raut wajahnya.


“Anda sedih karena anda gagal, kan?” Aku menanggapi.


Ador tersentak. Sudah kuduga. Dia hanya sedih karena telah gagal untuk kesekian kalinya. Gagal mengendalikan seseorang yang telah dia didik selama bertahun-tahun. Aku yakin Ador berpikir bahwa Bastian akan terus patuh padanya. Namun kenyataannya, Bastian tetap tidak bisa mematuhi beberapa perkara.

__ADS_1


“Kau benar. Aku lebih menganggap diriku menyedihkan. Selama bertahun-tahun aku didik dia dengan sepenuh hati. Tapi tak kusangka bahwa dia masih menyimpan rasa sakit dan juga traumanya selama bertahun-tahun. Bagaimana bisa aku tidak menyadari hal sekecil itu?”


“Wajar saja anda tidak menyadarinya. Toh, siapa pula yang bisa melihat isi hati seseorang. Bahkan seorang ilmuwan jenius pun tidak akan pernah bisa memecahkan rumitnya sebuah perasaan.”


Ador mengangguk, dia menyetujui ucapanku. Aku tersenyum tipis. Sama halnya seperti Ador yang tidak pernah tahu sama sekali tentang perasaanku. Biarlah dia tidak mengetahuinya. Karena suatu hari nanti, akan aku ungkap sendiri sifatku yang sebenarnya.


“Bagaimana dengan Arina? Terakhir kali aku melihatnya, dia ditampar dengan keras oleh Bastian.”


“Arina masih tidak sadarkan diri. Tidak, aku yakin dirinya sendirilah yang ingin membuatnya tidak sadarkan diri. Kejadian kemarin pasti telah membuatnya syok berat dan hal itu membuatnya mengingat kembali akan masa lalunya. Kini dia kehilangan kedua pendengarannya akibat insiden tersebut. Tapi aku akan segera membuatkannya alat bantu pendengaran yang baru.”


Entah mengapa aku sama sekali tidak merasa iba. Mengingat soal kalimatnya yang ia katakan kepada Bastian tentangku. Soal untuk tidak mendengarkan kata-kataku. Kurasa itu adalah hukuman yang sempurna baginya. Agar dia belajar untuk selalu mendengarkan perkataan orang lain. Bukan hanya mendengar apa yang ingin di dengarnya.


“Kau istirahatlah terlebih dahulu. Aku akan pergi untuk mencari beberapa suku cadang. Aku sudah menyiapkan buku untuk kau baca dan beberapa benda agar kau tidak bosan. Jika butuh sesuatu, kau bisa memanggil anak-anak yang lainnya melalui tombol yang ada di samping ranjangmu. Tombol itu terhubung dengan sebuah kamar. Siapapun yang mendengarnya akan segera mendatangimu.”


Aku mengangguk paham. Ador mulai beringsut. Meninggalkan ruangan dan menutup pintu. Menyisakanku sendirian di dalam kamar ini.


 


 


***


 


 


Keesokan harinya, Aku sudah diizinkan untuk keluar dari ruang perawatan. Untungnya fluku tidak terlalu parah. Namun cukup untuk membuatku bersin hingga beberapa kali. Sejatinya ini benar-benar menyebalkan. Ditambah aku hanya bisa menggunakan tangan kananku untuk melakukan berbagai aktifitas. Kaki sementaraku pun juga tidak berjalan dengan baik. Ador merakitnya dengan terburu-buru, jadilah aku seorang Zenzen yang berjalan gontai layaknya mayat hidup di film-film.


Namun ada sesuatu yang aneh hari ini, sepanjang aku berjalan ke kamarku, anak-anak lain menyapaku dengan ramah. Aku bahkan tidak tahu nama mereka semua. Satu dua bahkan menawarkan bantuan untuk membantuku berjalan. Aku menolak. Rasanya risih sekali diperlakukan demikian. Walau begitu, mereka tetap mengikutiku kemanapun aku pergi. Aku berhenti tepat di depan kamarku. Terdiam sejenak. Ada dua orang anak yang tengah mengikutiku di belakang. Mereka berdua ikut berhenti. Seakan tengah menungguku untuk mengatakan sesuatu. Aku menghela nafas panjang.


Dua anak itu saling tatap. “Kami bukan sedang mengikutimu, melainkan ingin memasuki kamar kami.”


Aku berseru tertahan. Lupa kalau dua anak itu merupakan penduduk sekamarku. Aku bergegas masuk sembari menahan malu yang luar biasa. Aku langsung merebahkan diri di atas kasurku. Tapi debu di kasurku membuatku bersin-bersin. Aku kembali duduk, hendak mencari tisu, namun kudapati kedua anak itu sudah berada di depanku sembari menyodorkan sekotak tisu. Aku mendesah pelan. Lantas mengambil tisu tersebut dari tangan mereka dan bergegas tidur kembali. Anehnya, dua anak itu belum kunjung beranjak dariku. Aku mengeluh, kenapa pula mereka tak segera pergi? Sekali lagi aku kembali duduk dan menatap tajam ke arah mereka berdua.


“Kalian bisa pergi sekarang.” Aku berujar datar.


“Oke, jika kau butuh sesuatu atau apapun itu, kau bisa meminta bantuan kami.” Ujar seorang anak. “Oh ya, kau belum tahu namaku, kan. Aku Soren.”


“Aku Kenny. Kau bisa memanggilku Ken.”


Aku menggeleng tidak peduli. Lantas kembali pada posisi tidurku.


“Kau ingin kami pijat?”


Aku spotan duduk. “Pergi!”


Ini benar-benar bisa membuatku gila. Sepanjang aku pergi, beberapa anak yang berpapasan denganku terus menerus menawarkan bantuan. Kurasa Ador terlalu berlebihan. Ini sungguh keterlaluan. Aku ingin cepat-cepat mendapatkan tubuh bionik baruku agar aku tidak terus menerus menerima penghinaan ini. Rasanya semua perhatian kini tertuju padaku. aku tidak pernah mengharapkan hal ini sebelumnya. Yang aku inginkan hanyalah ketenangan. Dan ketenangan yang kumaksud adalah aku hanya ingin sendirian dan akan terus menyendiri.


Sorenya seperti biasa, aku memandang langit senja dengan awan yang bergerak pelan dari pinggir lapangan. Suasananya terasa nyaman dan tentram. Kali ini tidak ada anak-anak yang menggangguku. Setidaknya untuk saat ini aku memang tidak ingin diganggu. Sebenarnya tadi ada seorang anak mencoba menyapaku. Tapi aku lebih dulu mengusirnya. Bilang jika aku tidak butuh bantuan ataupun mengenal siapapun. Walau usia mereka semua beberapa tahun lebih tua dariku, tapi kini mereka malah menghormatiku. Mungkin hal itu dikarenakan pertarunganku dengan Bastian. Atau karena Ador yang menyuruh mereka? Entahlah. Yang jelas aku sedikit lega dengan kondisi ini. Tidak akan ada yang berani mengusikku.


Kecuali satu orang.


Aku yang tengah asik memandang langit sembari memikirkan beberapa hal tiba-tiba terusik oleh suara langkah kaki yang mendekat. Aku tidak menoleh ke sumber suara.  Aku sudah tahu ini akan terjadi. Seseorang pasti mendekatiku lagi untuk menanyakan sesuatu. Atau hanya sekedar menyapa.


“Pergi selama aku bicara baik-baik.”

__ADS_1


Langkah itu terhenti. “Zenzen!”


Aku menoleh. Kudapati Arina sudah berdiri di hadapanku.


“Kau tidak perlu berteriak aku juga sudah dengar.” Aku berseru ketus. Kembali memalingkan wajah.


“Maaf.”


Suasana kembali hening. Menyisakan gemerisik rumput lapangan yang ditiup pelan oleh buaian angin senja.


“Kenapa lagi? Kalau ini soal Bastian, aku tidak akan pernah membahasnya lagi.”


Arina mengatupkan rahang. “Aku kehilangan pendengaranku yang satunya lagi.”


“Itu sudah jelas, kan? Kemarin Bastian menamparmu sampai kau terpental. Syukur-syukur hanya pendengaranmu yang hilang.” Aku tersenyum sinis sembari menopang dagu. “Kenapa? Kau baru menyesal sekarang?”


Arina terdiam. Dia meremas jemarinya. Menunduk kesal sembari menggigit bibirnya.


“Hei, apa sekarang kau juga tidak mendengarkanku? Bukannya Ador sudah membuatkan alat bantu dengar untukmu?”


Arina mengangguk pelan. Tetap dalam posisi menunduk. Untuk sekilas, kini dia tampak seperti anak kecil berusia delapan tahun.


“Sebenarnya apa yang telah terjadi denganmu dan Bastian kemarin?”


“Aku sudah bilang, jika ini menyangkut soalnya aku tidak akan berbicara.”


“Bukan, ini bukan tentangnya. Tapi tentangmu.”


“Jadi sekarang kau akan mendengarkanku? Kejadian kemarin pasti sudah membuatmu sadar betapa pentingnya untuk mendengarkan perkataan orang lain. Sayang sekali kau terlambat menyadarinya” Aku menggeleng-gelengkan kepala. Berlagak kecewa padanya.


“Baiklah, aku akan memberi tahumu. Aku memang ingin menghajarnya.” Aku menanggapi dengan singkat.


“Kenapa? Kenapa kau ingin menghajarnya?”


Aku mengusap keningku. “ Hei, aku ini bukan tipe yang berbelit-belit sepertimu. Aku sudah menjawabnya dan jawabanku adalah ‘aku ingin menghajarnya’. Tidakkah kalimat itu sudah menjelaskan berbagai hal? Tentu saja sudah. Untuk apalagi aku memberi tahumu detailnya. Lagi pula kau juga bisa menyaksikan sendiri rekaman CCTV di ruangan Ador. Tidak perlu aku yang harus menjelaskan segala hal. Menyebalkan. Kalau kau memang mencintainya, kenapa kau tidak lari saja sekarang dari tempat ini dan ikut dengannya. Atau jangan-jangan Ador menahanmu? Apa perlu aku yang harus bilang padanya jika kau ingin pergi? Apa perlu aku—”


“Cukup!” Arina berseru lantang.


Aku mengernyitkan dahi. Aku benar-benar tidak mengerti dengan tingkah lakunya.


Arina mulai membuka mulutnya. Tapi sebelum dia berbicara, aku sudah lebih dulu menyelanya.


“Jika ini permintaan maaf, aku tidak akan menerimanya.”


Aku berdiri dan beranjak dari tempat dudukku. Melangkah menjauh darinya.


“Bagaimana cara agar kau bisa memaafkanku?”


Langkahku terhenti. Lantas berbalik dan menatap ke arahnya, “Lebih baik aku pergi dari sini dibandingkan harus memaafkanmu.” Aku kembali melangkah. “Oh satu lagi. Mulai sekarang aku akan menganggap kita tidak saling mengenal. Jika berpapasan aku hanya akan menganggapmu sebagai orang asing. Aku tidak akan menyebutkan namamu atau mencoba menyapamu. Toh pada awalnya kita memang tidak saling mengenal. Jangan salah paham. Selama ini aku hanya mengenal sebatas namamu saja. Camkan itu baik-baik.” Aku melangkah pergi.


Saat aku mulai menjauh darinya, bisa kudengarkan isak tangisnya yang memilukan. Aku sama sekali tidak merasa kasihan. Biarlah begitu. Hei! jangan sebut aku ini orang jahat. Aku hanya ingin memberinya sebuah pelajaran. Hanya itu. Biarkan dia mengenang hari ini. Biarlah dia menjadikan hari ini sebagai bagian dalam mimpi buruknya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2