Kehancuran Batana

Kehancuran Batana
PERGINYA ZENZEN 3


__ADS_3

Seusai foto, beberapa anak tampak mendekatiku dan mengulurkan tangan sebagai tanda perpisahan. Aku tersenyum dan menjabat mereka satu persatu-persatu.


Dua orang gadis yang aku kenal di saat aku pertama kali masuk ke dalam kelas accel menghampiriku. Mereka juga ikut menjabat tanganku.


“Senang mengenalmu, Zenzen. Jika ada waktu mampirlah ke rumahku. Aku memiliki dua adik di rumahku. Yang paling kecil masih berusia tiga tahun dan namanya adalah Batrice. Dia sangat aktif dan periang. Aku sedikit iri dengannya karena dia dilahirkan dengan sehat. Apa perlu kita bertukar nomor? Siapa tahu kita masih bisa berhubungan setelah kelulusan ini.” Ujar gadis itu sembari merogoh tasnya.


“Kurasa tidak perlu.” Aku menolak sesopan mungkin. “Setelah ini aku akan masuk asrama dan sangat sibuk. Karena itu aku tidak akan bisa menghubungimu lagi.”


“Eh? Asrama? Bukannya kau punya alergi...”


“Zenzen, ayo kita pergi!” Ador memanggilku dari kejauhan. Membuat kalimat gadis itu terputus.


“Ah, sudah ya. Aku duluan.” Aku melambaikan tanganku.


Dua gadis itu membalas lambaianku. Aku dengan cepat berlari ke arah Ador.


Acara berakhir tepat pada pukul sebelas siang. Aku dan Ador bergegas menuju akademi untuk mengikuti tes masuk yang kebetulan bertepatan dengan hari kelulusanku. Kami tidak punya waktu untuk berleha-leha. Bergegas menuju akademi dengan menaiki bus.


Akademi itu bernama Akademi Talenta. Jaraknya sangat jauh dari laboratorium Ador. tepat berada di pusat kota. Aku sendiri belum pernah pergi sampai ke pusat kota. Entah seberapa besar kota ini. Aku tidak pernah tahu. Gedung-gedung pencakar langit mulai semakin banyak terlihat. Ujung-ujungnya tampak berkilauan diterpa cahaya matahari yang menyilaukan. Kali ini aku banyak menemukan iklan-iklan berbentuk hologram tersebar di mana-mana. Layar televisi raksasa yang digantung di gedung-gedung tinggi juga ikut meramaikan suasana kota yang padat dan modern.


Kami tiba lima jam kemudian. Sore menjelang. Aku mengira jika pusat kota akan dipenuhi dengan bangunan-bangunan pencakar langit. Tapi prediksiku salah. Di daerah ini justru sangat sepi dan dipenuhi dengan taman hijau beralaskan rumput jepang yang kehijauan. Pohon-pohon tampak rindang berjejer sepanjang jalanan. Banyak kujumpai berbagai perumahan minimalis bergaya modern. Mungkin pusat kota memang di desain dekat dengan alam karena harga oksigen mahal sekali. Setidaknya para penduduk kawasan elit ingin menghirup udara segar bukan udara perkotaan yang sesak. Walau begitu aku masih melihat penduduk di sini mengenakan masker kemana-mana.


Kami telah memasuki akademi tersebut. Akademi Talenta sangat besar dan megah. Bangunannya di cat berwarna putih polos dengan pilar-pilar bergaya klasik ala abad delapan belas. Aku pernah menyaksikan model-model bangunan seperti itu di sebuah buku pengetahuan yang aku baca. Dan tentunya juga pelajaran sejarah. Bangunan itu memiliki tiang penyangga yang memiliki ukiran garis vertikal  memanjang dari atas ke bawah. Sangat langka di masa ini bisa menemukan model bangunan yang mempertahankan seni arsitektur kuno di zaman dulu.


Untungnya tes belum dimulai. Tes akan dimulai tepat pada pukul lima sore. Namun akademi sudah dipenuhi oleh berbagai calon siswa dan mobil-mobil mewah yang terparkir rapi di halaman akademi. Aku bisa menyaksikan anak-anak seusiaku tengah melatih tubuh bionik mereka. Tubuh bionik mereka tampak fleksibel dan berkelas. Tidak, jujur saja masih lebih fleksibel milik Ador. Aku bisa membandingkannya walau hanya sekilas. Ada perbedaan tipis antara tubuh bionikku dengan milik mereka.


Ternyata orang-orang sepertiku lebih banyak dari pada yang aku sangka. Jumlahnya mungkin lebih dari ratusan. Itulah yang aku saksikan sepanjang menelusuri halaman akademi yang memiliki luas berhektar-hektar. Siswa senior dengan tubuh bionik terlihat tengah berlarian di sisi lapangan. Mereka melakukan berbagai gerakan layaknya sebuah latihan militer. Kelompok lain bahkan tengah melakukan aksi bela diri di lapangan terbuka. Terlihat jelas jika mereka tengah unjuk gigi. Beberapa orang berjas juga tampak berdiri di sisi lapangan sembari membawa gadget dan sonar pen. Mengangguk-angguk dan saling berbincang. Lantas kembali mengamati kelompok tersebut.


“Hei, lihat itu.” Ador berbisik pelan dan menunjuk salah satu hologram raksasa yang berada tepat di tengah sebuah air mancur berbentuk lingkaran.


Hologram itu menayangkan sebuah cuplikan dari wajah seseorang. Cario. Aku bisa langsung tahu karena wajahnya sering sekali muncul di televisi. Bahkan namanya pernah di sebut di kelasku dalam pelajaran teknologi dan komunikasi. Dia disebut sebagai ilmuwan cerdas yang menemukan tubuh bionik menggunakan panas tubuh manusia. Ador sering sekali mengumpat jika dia menyaksikan wajahnya di televisi atau sekedar mendengar namanya.

__ADS_1


Dalam cuplikan singkat itu terlihat Cario yang masih muda menerima berbagai penghargaan sebagai siswa berbakat di eranya. Beberapa cuplikan berikutnya di ambil ketika usianya sudah lebih tua. Cuplikan terakhir menunjukkan adegan di mana Cario menerima jabatan sebagai pemilik dari Akademi Talenta.


“Untuk para calon siswa baru kami himbau untuk segera memasuki ruangan yang telah kami tentukan. Tes akan segera dimulai dalam waktu satu jam...”


Begitu mendengar pengumuman tersebut aku dan Ador bergegas mencari ruang tes yang dimaksud. Beberapa pemandu telah bersiap di gerbang gedung. Tapi pemandu-pemandu itu bukanlah manusia. Melainkan sebuah drone.


Aku meremas jemariku. Perasaanku tidak tenang sepanjang drone itu menuntun kami menuju ruangan. Padahal aku sudah berusaha untuk melawan rasa cemasku saat menyaksikan drone. Selain belajar berbagai bidang aku juga mempelajari salah satu hal yang sangat penting bagiku. Yakni melawan rasa cemasku dengan sebuah drone. Aku sering melatih diriku saat sepulang dari kelas dengan mengikuti beberapa pekerja kantoran yang membawa drone sebagai asisten mereka. Biasanya aku melatih mentalku dengan berjalan berdampingan di dekat drone itu sejauh satu meter. Setidaknya hal itu berhasil, aku jadi tidak terlalu takut ataupun gelisah berada di dekat benda-benda itu.


Namun hari ini jarak drone itu nyaris setengah meter di atas kepalaku. Dan aku belum pernah sedekat ini dengan benda itu sebelumnya. Tentu saja perasaan itu kembali. Perasaan gelisah yang sangat tidak enak. Aku berusaha tetap tenang dan mencoba memberi sugesti pada pikiranku bahwa itu hanyalah benda mati yang tidak memiliki jiwa. Untuk apa aku takut? Toh, Pada hakikatnya mereka tidak lagi menjadi ancaman bagiku.


“Ada apa, Nak? Kenapa wajahmu terlihat berkeringat?” Ador menyadarkan lamunanku.


Aku tersenyum nyengir sembari mengusap rambutku. “Aku rasa aku sedikit gugup. Belum pernah seumur hidupku mendatangi sebuah tempat bergengsi seperti ini. Ada banyak anak-anak lain yang terlihat sangat hebat dariku. Karena itu aku merasa sedikit gugup.”


“Tidak perlu khawatir, Nak. Walau kau tidak berhasil diterima di akademi ini, aku tidak akan pernah menuntutmu kelak. Toh, ini hanya permintaan egoisku yang seharusnya tidak pernah aku lakukan. Tapi setidaknya aku ingin melihat wajah pria itu merasa tersinggung untuk sekali saja. Karena itu aku memintamu untuk masuk ke akademi ini.”


Aku melambaikan tangan. “Tidak apa, Ador. Aku merasa terhormat bisa diberi kesempatan seperti ini sekali seumur hidup.” Setidaknya perbincangan ringan ini bisa mengalihkanku dari drone tersebut.


Aku mengangguk paham. Drone itu berdenting sejenak dan meninggalkan kami berdua .


Kami memasuki sebuah ruangan yang memiliki luas bak sebuah ruang opera. Bangku-bangku sudah dipenuhi oleh para pendaftar. Lebih banyak yang berasal dari sebuah agensi sedangkan sebagian kecilnya bersama orang tua mereka. Aku dan Ador duduk di salah satu bangku. Menunggu giliranku untuk dipanggil.


Satu setengah jam berlalu. Namaku akhirnya dipanggil. Ador mengacungkan jempol guna menyemangatiku. Aku mengangguk tegas sembari melangkah menuju sebuah ruangan yang telah diinformasikan sebagai tempat berlangsungnya tes.


Aku memasuki ruangan tersebut. Terdapat dua orang penguji berpakaian rapi dengan bahan jas berwarna abu-abu muda. Mereka mempersilahkanku untuk duduk di atas sebuah kursi di tengah ruangan yang serba putih. Aku mengangguk sopan dan mulai duduk di atas kursi tersebut.


Tes pertama hanyalah sebuah wawancara. Mereka hanya menanyakan berbagai hal padaku dan aku hanya perlu menjawabnya. Rata-rata pertanyaan itu berupa siapa waliku dan bagaimana aku bisa berakhir dengan tubuh seperti ini. Soal pertanyaan bagaimana aku bisa berakhir seperti ini tidak kujawab dengan jujur. Hei! Bagaimana mungkin aku mengatakan jika penyebab cacatku ini akibat dari kebakaran setahun silam yang disebabkan oleh kalangan elit yang berkuasa. Bisa-bisa aku sudah lebih dulu ditendang keluar dari tempat ini sebelum melakukan tes-tes berikutnya.


Seusai wawancara, penguji memintaku melakukan beberapa gerakan sederhana. Seperti mengangkat barang, melempar barang, menulis, dan berbagai gerakan lainnya. Semakin lama geraka-gerakan yang diuji semakin rumit. Tapi semua itu sangat mudah kulalui. Hei! Aku ini pernah mengalahkan Bastian dalam pertarungan satu lawan satu mengenakan mode sederhana dari desain tubuh bionik yang dulu. Tentu saja gerakan-gerakan kecil seperti ini hanyalah batu loncatan bagiku.


Tes gerakan  telah usai. Kini saatnya beralih pada tes akademis. Aku duduk di sebuah bangku dan terdapat sebuah tablet di hadapanku. Begitu aku mengetuk layar tablet, sebuah soal muncul. Terdapat enam soal dari berbagai mata pelajaran yang berbeda. Aku dengan cepat mengerjakan soal tersebut.

__ADS_1


Setengah jam berlalu. Aku sudah selesai mengerjakan tes tersebut. Dengan demikian berakhir sudah semua tes di akademi ini. Ador menungguku penuh harap. Kudapati dia tengah mondar-mandir di lorong sembari menggigit jemarinya.


“Apa yang anda lakukan di sini?”


Ador terkejut dan merapikan jas labnya. “Ah, tidak ada. Ayo, aku akan mentraktirmu makanan.”


Aku tersenyum dan mengangguk. Aku sudah cukup lelah untuk berdebat dengannya.


Ador kembali mengajakku ke restoran yang sama seperti satu tahun yang lalu. Restoran itu tidak pernah berubah. Sama persis saat aku pertama kali berkunjung kemari bersama Ador. Kami memasuki restoran tersebut. Denting bel terdengar. Gyo yang masih mengenakan celemek bergegas keluar dan menyambut Ador. Penampilannya masih terlihat sama dengan setahun yang lalu. Mengenakan sarung tangan hitam.


“Astaga! Sudah lama sekali anda tidak berkunjung kemari, Master.”


Ador terkekeh. “Maaf, pria tua ini terlalu sibuk mengurusi banyak hal. Kau tahu sendiri, kan? Anak yang satu ini sedang menuju jenjang sekolah berikutnya. Karena itu aku sibuk mempersiapkan berbagai hal sebagai bekal anak ini untuk meneruskan pendidikannya.”


Gyo mengangguk paham. “Kalau begitu, khusus untuk hari ini akan aku gratiskan. Senang rasanya mendengar kabar ini langsung darimu, Master.” Pandangan Gyo kini terarah kepadaku. Dia menjulurkan tangannya dan menjabat tanganku. “Kau juga, buatlah Master bangga padamu.”


Aku bisa merasakan tangan besinya dari jabatan tangannya. Aku hanya tesenyum.


Kami menikmati makanan sembari menatap pemandangan kota yang mulai diterangi oleh berbagai cahaya lampu. Langit semakin gelap dan menampakkan semburat keunguan. beberapa bintang mulai terlihat samar di sisi langit yang sudah gelap. Formasi burung gagak terlihat melintas di antara gedung-gedung. Membuat pemandangan terasa nyaman dan tentram.


Setelah makanan kami tandas, Ador mengucapkan terima kasih pada Gyo sembari berpamitan. Kami kembali menuju halte. Malam sudah sempurna menutupi kota. Lampu jalanan mulai dihidupkan. Berpendar elok menerangi jalanan yang lenggang. Udara terasa dingin. Membuat jendela bus berembun. Aku hanya menatap ke luar jendela bus. Menikmati nuansa kota yang mulai ramai oleh berbagai cahaya lampu dan hologram-hologram bercahaya. Ador sudah terlelap di sampingku. Hanya tersisa aku sendiri yang menatap jalanan sembari tersenyum licik.


“Hei, bagaimana keadaan di sana?” Tanya seorang anak begitu aku telah tiba di laboratorium.


Aku melepas jaketku dan maskerku. “Kalau kau tertarik kenapa tidak minta saja pada Ador untuk mengirimkanmu ke sana.” Aku menjawab dingin. Malas sekali meladeni mereka semua.


Selama satu tahun ini Ador juga berhasil menyelamatkan beberapa anak. Kami ketambahan lima orang. Yang itu artinya jumlah kami menjadi lima belas. Namun dua orang yang paling senior telah merantau ke tempat lain. Aku tidak tahu apakah itu bisa disebut merantau atau tidak. Yang jelas mereka berdua sudah tidak tinggal lagi di tempat ini. Ador tidak memberi tahu detailnya. Yang jelas aku dengar, semalam sebelum mereka berdua pergi, terdengar Ador tengah berdebat dengan seseorang. Aku tidak pernah menanyakan apa yang terjadi pada mereka berdua. Untuk apa mengurusi orang lain jika aku sendiri belum bisa mengurusi diriku sendiri dengan baik. Ah, aku baru ingat jika aku punya satu pekerjaan rumah yang harus aku selesaikan. Sepertinya mulai sekarang aku harus membiasakan diri untuk berjalan di dekat drone.


 


 

__ADS_1


__ADS_2