Kehancuran Batana

Kehancuran Batana
REUNI 2


__ADS_3

Besoknya, aku memberi tahu rencana ini kepada empat belas prajurit tersebut.


“Hei! Itu terlalu lama. Kami tidak ingin Kapten Wan membunuh prajurit lain. Akan ada banyak nyawa melayang.” Ujar salah satu prajurit.


“Aku belum selesai menjelaskan rencanaku. Selama aku berada di luar kota, aku minta kalian untuk membangun pasukan. Aku ingin kalian bergabung dengan para pemberontak, meyakinkan beberapa prajurit dan melakukannya tanpa sepengetahuan walikota sampai aku kembali.” Aku mencoba meyakinkan mereka.


Mereka semua berpikir. Mencerna baik-baik kalimatku.


“Berapa lama kau akan pergi?” Tanya prajurit lainnya.


“Beri aku waktu dua sampai tiga bulan. Jika aku belum kembali sampai batas waktu yang ditentukan, kalian boleh bertindak sesuka kalian.”


Mereka menyetujuinya.


Aku menuju tempat Vero dan Bundara. Beruntungnya, Jora dengan senang hati mengantarkanku, dia memiliki supir pribadi yang setia membawanya kemanapun. Aku tidak perlu repot-repot menumpang angkutan umum atau meminjam kendaraan.


Aku akan mendatangi kediaman Bundara terlebih dahulu. Tempatnya tidak terlalu jauh. Hanya setengah jam perjalanan, aku sudah tiba di rumahnya. Rumah tersebut terlihat kecil dengan dinding yang telah kusam. Beberapa jendelanya sudah pecah dan halamannya sangat berantakan. Aku bergegas mengetuk pintu depan. Namun saat aku ketuk, pintu tersebut terbuka sendirinya. Berderit.


“SIAPA DISANA?” Terdengar suara menggelegar dari dalam rumah.


Tentu saja aku mengenali suara tersebut. Bundara, dia menghampiri ruang tamu dengan hanya mengenakan kaos putih yang sudah terlihat kotor. Tangan kanannya memegang tongkat besi. Matanya terkejut mendapati aku telah berada di daun pintu.


“Astaga! Aku kira maling, ternyata kau, Lian!” Bundara tertawa. Tubuh kekarnya bergerak-gerak.


Kini pandangannya tertuju pada Jora yang tengah berdiri dibelakangku. Dia terkejut. Sontak menunduk hormat. “Nona Kei, maaf atas kelancangan saya. Silahkan masuk.” Bundara salah tingkah. Wajah sangarnya terlihat kikuk.


“Aku tidak bisa berbasa-basi, Bundara. Aku ingin mengajakmu bergabung dalam misiku.” Aku memasang wajah serius.


“Misi?” Mata hitamnya membulat. Sejujurnya, dia lebih terlihat melotot dari pada terkejut.


Aku mengangguk. “Aku ingin kau bergabung dalam misi pemusnahan RP-2. Kita akan melakukan perjalanan keluar sana.”


Bundara tengah berpikir. Memegang dagunya. “Jika Nona Kei sampai repot-repot kemari, itu artinya pastilah misi ini sangat penting. Tentu saja aku tidak bisa menolaknya, Lian. Lagipula aku sudah rindu ingin melihat dunia luar. Bosan sekali menatap langit-langit berhias puing. Mungkin perjalanan ini bisa membantu menyembuhkan luka di hatiku.”


Jora yang tengah berdiri dibelakangku berbisik, “Apa yang dia masuk, Lian?”


“Seperti katamu, setiap orang punya pengalaman pahit dalam hidupnya.” Aku mengangkat bahu. Menjawab santai.


Kali ini aku akan menemui Vero. Bundara ikut dalam perjalanan. Pakaiannya telah berganti. Menggunakan seragam Prajurit Keios. Jora sendiri yang memberikannya. Tentunya pakaian tersebut lebih canggih.


Kami tiba di kediaman Vero. Kali ini rumahnya terlihat lebih buruk dari tempat tinggal Bundara. Atapnya nyaris roboh. Mungkin kehidupan dari mantan narapidana pasti sangat buruk. Aku mengetuk pintu dengan sangat pelan. Takut-takut jika pintu tersebut hancur. Namun yang terjadi, pintu tersebut roboh. Dibelakangku, Jora dan Bundara bergidik ngeri.


Aku mendengar suara langkah kaki yang terburu-buru. Dan mendapati Vero dengan rambut berantakan dan matanya merah, tampaknya dia baru terbangun dari tidurnya. Bajunya kusut dan kancingnya tidak terkait dengan benar. Aku bahkan nyaris tidak mengenalinya. Vero menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Aku sedikit jijik menatapnya.


Vero menguap lebar. Dibelakangku, Jora dan Bundara menatap tidak percaya. Bundara mulai mengambil tindakan, menjitak kepala Vero.


“ADUH! Bundara, apa yang kau lakukan di kamarku? Ini masih jam tiga pagi, alarm ditanganku bahkan belum berbunyi.” Vero memegangi kepalanya.


Aku menepuk jidat, tampaknya Vero tengah mengigau.


“Dasar tidak sopan! Ada Nona Kei disini!” Bundara menyadarkan Vero yang masih setengah tertidur. Mungkin?


Seketika Vero terlonjak. Mulutnya gelagapan. Dia menunduk hormat.


“Ma, maafkan saya, Nona! Aku sungguh tidak sadar!” Vero berseru salah tingkah. Wajahnya memerah, menahan malu.


“Tunggu sebentar! Aku akan merapikan diriku terlebih dahulu.” Vero lari terbirit-birit menuju kamarnya.


Aku bisa mendengar suara barang terjatuh dan beberapa keributan lainnya. Dalam waktu lima menit, dia sudah tampil rapi.


“Maaf atas kelancangan saya, Nona. Silahkan duduk di...” Vero menatap ke arah sofa reotnya. Aku tahu apa yang dia pikirkan.


“Tidak perlu repot-repot, Vero.” Aku memotong pembicaraan. Memberi tahu maksud dan tujuanku kemari. “Aku ingin mengajakmu bergabung dalam misi pemusnahan RP-2. Kita akan keluar dari kota ini.”

__ADS_1


“Sungguh? Itu sebuah kehormatan! Dengan senang hati aku bergabung. Lagi pula aku juga ingin menatap matahari yang terbenam di balik laut. Aku bahkan lupa julukan untuk pemandangan tersebut.” Vero memegang dahi. Berpikir keras.


“Sunset.” Aku menjawab singkat.


“Ah... Itu dia! Tapi aku punya satu syarat, Lian.” Vero mengacungkan jari telunjuknya. “Tolong rahasiakan kejadian memalukan ini.” Dia mengatakannya dengan suara pelan.


Aku mengangguk.


Kali ini Jora yang berdiri di belakangku kembali berbisik. “Siapa orang aneh ini?”


Tujuanku selanjutnya adalah Akademi Langit. Aku akan mengajak Markonce bergabung. Kini jumlah kami ada empat orang. Vero juga sudah mengenakan seragam Prajurit Keios. Dia terlihat bergaya saat mengenakannya.


Sejujurnya aku sedikit ragu ingin mengajak Marko bergabung. Namun aku merasa kasihan padanya jika dia terjebak di Akademi Langit selamanya hanya demi mewujudkan cita-citanya. Aku ingin mewujudkan impiannya. Bukankah dia memiliki impian menjadi prajurit garis depan?


Setibanya aku disana, kami langsung menjadi pusat perhatian. Vero bahkan mendongakkan kepalanya sembari mebusungkan dada. Bergaya layaknya seorang jendral yang hendak berperang. Bundara menepuk kepalanya. Menyuruhnya untuk menghentikan sikapnya. Vero mengaduh pelan. Wajahnya terlihat masam. Setelah sekian lama, sikap mereka masih sama. Tidak berubah sedikitpun.


Aku menyuruh seorang murid untuk memanggil Markonce kemari. Murid itu bergegas. Lima menit kemudian, aku bisa melihat seorang anak lelaki berambut pirang lari terbirit-birit dari kejauhan. Nafasnya tersengal. keringat mengucur deras dari keningnya. Dia masih mengenakan seragam abu-abu. Dibelakangku, Vero dan Bundara menatap heran.


“Kau serius, Lian? Warna abu-abu? Berarti dia murid yang tak dianggap.” Vero mendekatiku. Berbisik pelan.


Aku mengangguk tegas.


“Ada...Ada apa, Senior?” Marko berujar disela-sela nafasnya. Wajahnya pucat.


Aku menyuruhnya untuk menarik nafas dalam terlebih dahulu. Akan gawat jika penyakitnya tiba-tiba kambuh. Bisa-bisa Jora akan meragukannya. Dia mengangguk. Menenangkan dirinya.


“Marko, aku ingin meminta bantuanmu. Bergabunglah...”


“TIDAK BISA!” Suara seseorang memotong pembicaraanku. Suara tegas yang sangat kukenal.


Kami semua menoleh. Suara tersebut ialah suara Master Sejah. Dia datang menghampiri kami. Wajahnya mengeras. Bahkan Vero dan Bundara dibuat ketakutan. Aku tetap berdiri tegak. Marko menatapnya tajam.


“Aku sudah mendengar rencanamu, Nona kei. Kau akan membentuk tim untuk memusnahkan RP-2 di luar sana. Kau bisa saja meminta murid lain yang belum lulus. Tetapi untuk anak ini, aku tidak akan pernah mengizinkannya.”


“Master Sejah, aku menantangmu duel satu lawan satu.” Aku menatap tajam. Tidak ada rasa takut sedikitpun di dalam hatiku.


Master Sejah tersenyum kecut. Marko mencoba menghentikanku. Kali ini dia yang berdiri di hadapan Master sejah.


“Tidak! Akulah yang akan menantangmu, Master!” Marko berseru dengan suara lantang. Membuat murid-murid yang awalnya melintas tidak peduli menatap kami.


Aku menatap Marko tidak percaya. Marko hanya tersenyum.


“Jika anda kalah, anda harus mengizinkan saya bergabung. Tapi jika anda yang menang, anda bisa berbuat apapun pada saya. Anda boleh mengeluarkan saya dari Akademi Langit. Anda juga boleh menghukum saya sesuka hati anda.” Marko berseru mantap.


Master Sejah tertawa. Tertawa menghina. “Aku terima tantanganmu. Akan aku pastikan kau menyadari posisimu, Nak.”


Aku urung untuk menghentikan Marko. Mungkin ini bisa menjadi kesempatan emas baginya untuk mendapatkan pengakuan. Aku akan tetap mendukungnya apapun yang  terjadi.


“Tenang saja, Senior. Akan aku buat ajaranmu tidak sia-sia.” Marko menepuk pelan bahuku.


Untuk sementara, misi kami harus tertunda. Kini kami tengah berada di arena pertarungan. Para murid senior tengah mempersiapkan arena. Hampir seluruh penduduk di Akademi Langit hendak menyaksikan pertarungan langka ini.


Arena tersebut berbentuk lingkaran. Terdapat garis putih di tepinya. Menandakan batas dari arena pertarungan. Marko dan Master Sejah akan bertarung dengan tangan kosong. Yang bisa kulakukan hanya berharap Marko yang menang. Aku juga sempat menjelaskan kepada Vero, Bundara, dan Jora alasanku mengajak Marko bergabung. Setelah mendengarnya, mereka hanya terperangah.


Aku sungguh tidak tahu jika Marko punya satu rahasia kecil lainnya. Mungkin hari itu akan menjadi salah satu sejarah di Akademi Langit. Disaksikan ribuan murid yang duduk di bangku penonton. Menjadi sebuah berita besar yang akan tersebar di penjuru Kota Keios. Membuatku akan semakin menghormati Marko.


Kini marko dan Master Sejah telah berada di atas arena. Ketegangan memenuhi atmosfir ruangan. Suara dukungan lebih berpihak pada Master Sejah. Beberapa bahkan ada yang mencemooh Marko. Namun, Marko tak menanggapi berbagai hinaan yang tertuju padanya. Wajahnya tetap tenang. Matanya tetap fokus. Dia menarik nafas dalam. Memasang kuda-kuda.


Hei! Kuda-kuda itu tidak pernah kulihat sebelumnya. Dia meletakkan kakinya sedikit kedepan dengan tangan yang menyilang melindungi bagian dada. Para penonton tampak heran, itu bukan kuda-kuda yang diajarkan di Akademi Langit. Marko menghempaskan kedua tangannya. Bersiap untuk bertarung dengan tangan kanan yang mengacung kedepan layaknya moncong ular.


Wasit mulai memberi aba-aba. Peraturannya sederhana, mereka harus mencetak 10 poin dengan menjatuhkan lawan. Semua tersebut tergantung damage dari serangan. Untuk pukulan akan diberi 2 poin, untuk tendangan 3 poin, dan smack down akan diberi 5 poin. Namun bagi siapapun yang tidak bangkit dalam waktu 10 detik, akan dinyatakan kalah. Apabila ada yang keluar dari arena tersebut, juga akan langsung dinyatakan kalah.


Wasit mengangkat tangan. Pertandingan dimulai. Mereka berdua terlihat saling berputar. Mencari celah untuk melesatkan serangan. Master Sejah melepaskan pukulan mengarah ke bagian ulu hati Marko. Dengan gesit dia menghindar, berputar, dan melepaskan tendangan yang terlihat seperti sabit. Aku belum pernah melihat gerakan tersebut.

__ADS_1


Tendangannya nyaris mengenai kepala Master Sejah. Kuda-kuda Marko belum mantap. Master Sejah tidak membuang kesempatan ini, dia kembali melesatkan pukulan. Awalnya, aku pikir Master Sejah yang akan terlebih dahulu mencetak poin, namun aku keliru. Marko sudah merencanakan hal tersebut. Marko lebih dulu menahan serangan tersebut. Gerakannya begitu gesit. Dengan tubuh kecilnya, dia membanting Master Sejah ke lantai. Membuat para pendukung Master Sejah menganga tidak percaya. Seakan mulut mereka tersumpal sesuatu.


Master Sejah kembali bangkit. Marko berhasil mendapatkan 5 poin berkat serangan tersebut. Master Sejah memperbaiki kuda-kudanya. Wajahnya memerah lanataran penuh dengan amarah. Dia mulai serius. Sepertinya pertandingan ini tidak akan berakhir dengan cepat. Master Sejah mulai merengsek maju. Gerakannya sangat cepat. Dia melepaskan tehnik 1000 pukulan. Itu tehnik tersulit di Akademi Langit. Namun yang membuatku takjub, Marko menghindari serangan tersebut dengan santai. Tangannya bergerak gesit, mengikuti irama dari pukulan Master Sejah.


Master Sejah berputar dan melepaskan tendangan ke arah kaki Marko. Marko melakukan salto dengan anggunnya. Kali ini giliran Marko yang menyerang. Dia bergerak cepat. Meliuk-liuk. Lantas melepaskan pukulan. Tidak! Itu bukan pukulan! Lebih seperti tamparan. Dengan telapak tangan yang terbuka, dia menampar ulu hati Master Sejah. Seketika, Master Sejah terpental beberapa meter. Seperti ada angin yang mendorongnya. Padahal Marko hanya seperti menampar lembut. Master Sejah terpelanting. Tubuhnya terguling-guling di atas lantai arena.  Dan berakhir di luar arena pertarungan. Pertandingan berakhir.


Critical attack! Kemenangan telak untuk Marko.


Ruangan hening. Seluruh murid membisu. Master Sejah entah dalam keadaan sadar atau tidak. Dia terbaring di lantai. Tidak bergerak sedikitpun. Marko menghembuskan nafas pelan. Membungkuk hormat. Wasit bahkan menatap Marko dengan wajah kaku. Setelah beberapa detik, wasit akhirnya mengangkat tangan.


“Pertarungan berakhir!”


Ruangan masih hening. Pertarungan ini bahkan belum sampai sepuluh menit. Master Sejah sudah K.O dengan keadaan di luar arena. Marko sama sekali tidak terluka. Hari itu, akan menjadi sejarah di Akademi Langit. Pasti akan dimuat di artikel dan diletakkan di museum. “Murid yang Tidak Diakui Mengalahkan Master Akademi Langit dengan Dua Kali Serangan.” Kira-kira begitulah judulnya.


Jora yang pertama kali memberi tepuk tangan, disusul ribuan murid lainnya. Marko melambaikan tangan kearahku. Wajahnya terlihat ceria. Itulah satu rahasia kecil dari Marko. Selain penyakitnya, dia adalah seorang petarung. Petarung misterius.


Aku menghampiri Marko di luar gedung Akademi Langit. Master Sejah tengah dirawat di ruang kesehatan. Untungnya dia hanya pingsan. Tidak ada luka yang berarti. Aku menjabat tangannya. Melontarkan pertanyaan dengan tidak sabaran.


“Kenapa kau tidak memberi tahuku?”


“Maaf, Senior. Aku tidak bermaksud merahasiakannya darimu. Aku hanya bisa melakukan tehnik-tehnik tersebut dalam waktu yang singkat. Jika terlalu lama, penyakitku akan kambuh. Ah... Tentunya tehnik ini juga tidak akan sempurna berkat ajaranmu, Senior.” Marko mengusap rambutnya.


Dia benar, setelah pertarungan tadi wajahnya sedikit pucat. Aku tidak tahu hasilnya jika Pertarungan tersebut akan berlangsung dalam waktu lama. Bisa saja Marko pingsan di tengah pertandingan karena kehabisan nafas. Tapi tetap saja itu sungguh hal yang menakjubkan.


Vero, Bundara, dan Jora menyusul bergabung.


“Apa nama tehnik tadi?” Kali ini Vero yang bertanya tidak sabaran.


“Tha phak.” Marko menjawab singkat.


Kini mata Marko tertuju pada Jora. Dia membungkuk hormat. “Maaf tadi saya tidak sempat membungkuk hormat padamu, Nona Kei. Suatu kehormatan bisa bertemu langsung dengan anda.”


Jora hanya mengangguk pelan. Memberinya selamat.


“Senior, ngomong-ngomong, siapa dua orang aneh tersebut?” Marko menunjuk Bundara dan Vero. Yang ditunjuk tersenyum dengan wajah melotot.


“Kau bilang apa, Bocah Sialan? Kau bilang kami aneh?” Vero bersuara dengan nada tinggi. Menatap tajam ke arah Marko.


“Ah, aku tarik kata-kataku. Maksudku, hanya kau orang aneh disini. Aku melihatmu membusungkan dada setiap kali melangkah. Itu sungguh memalukan.” Marko mengangkat bahu. Menanggapi dengan santai.


Bundara menahan tawa. Menutupi mulutnya dengan tangannya. Vero menggeram kesal.


“Lian, aku tidak setuju Bocah Sialan ini bergabung.” Vero mengatakan hal tersebut sembari menunjuk wajah Marko.


“Eh... Yang memutuskan bukan kau, Tua Bangka. Senior Lian yang memutuskan.”


“Kau bilang aku apa?” Veroka melotot.


“Sudah cukup, Vero!” Bundara melerai sembari menahan tawa.


Aku menatap diam mereka yang kini tengah bertengkar. Lebih tepatnya Vero dan Marko. Bundara mencoba melerai. Jora sudah berbisik menyuruhku untuk menghentikan pertengkaran mereka. Aku hanya menggeleng. Toh, mereka juga akan capek sendiri.


Sepuluh menit lamanya mereka adu mulut. Marko yang pertama kali mengalah. Kini kami sudah berada di dalam mobil. Marko juga sudah mengenakan seragam Prajurit Keios. Saat menerimanya, tangannya bergetar. Dia nyaris menangis haru. Namun urung begitu Vero hendak meledeknya.


“Apa lagi rencanamu, Lian?” Jora bertanya, memecah lenggang.


“Aku akan mengambil senjataku yang dulu.” Aku menjawab datar. Aku tengah menatap ke luar jendela mobil


“Eh, maksudmu senjata yang waktu itu? Senjata itu kini disita.”


“Aku tahu itu. Tapi, senjata tersebut sangat ampuh melawan RP-2. Dalam sekali tembakan, robot-robot tersebut bisa hancur berkeping-keping.”


“Benarkah?” Alis Jora terangkat. Seakan dia baru tahu ada senjata yang begitu hebat.

__ADS_1


“Kalau begitu, kita ambil senjata tersebut!”


__ADS_2