Kehancuran Batana

Kehancuran Batana
RENCANA


__ADS_3

 


 


“Apa-apaan ini? Kenapa Pria tidak sopan itu berada di sini?” Tanya Ruzdora dengan nada ketus sembari menunjuk ke arah Tatu


‘Hei, Bung. Aku kemari hanya ingin bernegoisasi denganmu. Mari kita lupakan hubungan buruk yang terjadi dengan kita.” Tatu mencoba menenangkannya.


“Maaf saja, sejak awal kita memang tidak pernah saling mengenal. Untuk apa aku harus meladenimu?”


“Ruzdora, maaf mendatangimu tanpa persetujuan lebih dulu.” Aku menengahi. “Tapi Tatu dan aku kemari bukanlah tanpa alasan.”


Ruzdora menghela nafas panjang. “Baiklah, jika ini ada hubungannya denganmu, aku akan menerimanya dengan senang hati, Lian.”


Aku mulai menjelaskan. “Kami membutuhkan alat dan bahan khusus untuk menciptakan sebuah alat tempur terobosan terbaru. Alat yang dimana kami buat khusus untuk mengalahkan Zenzen. Dan alat itu harus dihasilkan dari bahan terbaik dengan tingkat kefleksibelan dan kekuatan yang tinggi. Hanya saja kami tidak memiliki peralatan yang memadai beserta bahan untuk menciptakan alat tersebut. Dan kami ingin meminta bantuan padamu.”


“Apakah dengan menciptakan alat tersebut kau tidak akan menggunakan kembali kekuatanmu?” Ruzdora kembali bertanya.

__ADS_1


“Aku tidak tahu, Ruzdora. Tapi setidaknya dengan menggunakan alat tersebut, aku tidak perlu menggunakan kekuatanku selama satu bulan.”


“Jadi, apa yang harus aku lakukan untuk memenuhi permintaanmu?”


“Begini, aku dan Tatu punya rencana untuk mengambil bahan-bahan tersebut dari Kota Pandai Besi. Hanya saja membeli dan menggunakan bahan dari tempat itu membutuhkan izin yang sangat ketat. Kami harus meminta persetujuan dari Walikota Pandai Besi untuk mendapatkan bahan-bahan tersebut. Sayangnya kami tidak bisa melakukannya. Aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama seperti yang terjadi tempo lalu. Aku juga tidak bisa berlama-lama di kota dan harus segera berangkat ke tujuanku selanjutnya. Aku khawatir jika Zenzen menempatkan seorang mata-mata di kota ini. Seperti yang dikatakan Tatu kepadaku, dia bilang Kota Pandai Besi memiliki data dari semua orang yang tinggal, masuk, dan pergi dari kota ini. Tentu saja itu bisa lebih membahayakan semua orang yang berada di sekitarku. Tapi untungnya Natania sudah mengurus hal tersebut. Dia bisa memanipulasi informasi dan menghapus namaku dari daftar tersebut. Hanya saja itu tidak akan berlangsung lama, karena mereka pasti akan menyadari hal tersebut.”


Ruzdora mengangguk paham. “Itu artinya aku hanya perlu menghubungi Walikota Keios untuk memintakan izin tersebut kepada Walikota Pandai Besi untuk mendapatkan bahan-bahan tersebut dengan alasan sebagai kebutuhan kota, kan?”


Aku mengangguk. “Iya, karena aku pernah dengar jika Walikota Keios tidak sepenuhnya menutupi diri dengan dunia luar. Pasti ada saatnya dimana dia melakukan hubungan dengan kota lain untuk kepentingan kotanya sendiri. Apalagi saat ini Jora tengah dirawat di rumah sakit Kota Pandai Besi. Mau tidak mau kedua walikota itu akan saling berhubungan.”


“Satu hal lagi. Jangan lupa untuk memberi tahu Walikota Keios soal kabar menghilangnya Zenzen. Aku yakin saat ini Zenzen tengah mengumpulkan pasukan dan memulai kembali rencananya. Setidaknya katakan kepada Walikota Keios untuk berhati-hati agar tidak mengulang kesalahan yang sama." Aku tidak punya  pilihan selain mengatakan kalimat itu walau aku tahu Walikota Keios sama buruknya dengan Zenzen.


“Ruzdora, kapan kira-kira teman-temanku akan siuman?” Aku tidak tahan untuk tidak menanyakan hal tersebut.


Ruzdora tersenyum tipis. “Mereka menunjukkan perkembangan yang menakjubkan, Lian. Mungkin sekitar satu minggu mereka akan segera siuman. Mereka lebih kuat dari pada yang kau bayangkan. Aku yakin mereka memiliki tekad yang besar untuk segera pulih di alam bawah sadar mereka. Kau tidak perlu khawatir dan percayakan semua ini padaku.”


Aku merasa lega mendengar kabar tersebut. “Terima kasih, Ruzdora.”

__ADS_1


“Apa rencanamu selanjutnya, Tatu?” Aku kini bertanya pada Tatu.


“Ah, benar. Aku harus memeriksa keadaan menara pemancar yang berada di markas Batana. Aku harus memastikan status menara itu apakah masih aktif atau hancur sepenuhnya. Karena menara itu hanya satu-satunya cara untuh menonaktifkan seluruh RP-2 sekaligus. “


“Apa menara itu masih ada walau ledakan besar itu terjadi?” Aku bertanya ragu.


Tatu mengangguk. “Menara itu didesain sedemikian rupa agar inti dan sirkuit di dalamnya tidak rusak walau terjadi ledakan besar. Menara itu juga memiliki kecerdasan artifisial sehingga bisa melindungi dirinya sendiri. Hanya saja, aku yakin jika menara itu dijaga dengan ketat oleh para robot-robot tersebut. Mereka pasti tidak akan membiarkan siapapun mendekati menara tersebut walau semili.”


“Kenapa para robot-robot itu tidak menghancurkan menara tersebut?” Kali ini Ruzdora yang dibuat penasaran.


“Itu karena mereka tidak bisa. Ruangan inti dari menara itu seperti sebuah benteng yang tak tertembus. Sekalipun seluruh menara hancur, akan tersisa satu bagian yang terselamatkan. Seperti rekaman black box dari pesawat yang meledak. Ruangan itu tidak bisa ditembus oleh apapun. Terkunci rapat dan tidak terhancurkan. Ruangan itu adalah ruang pemancar.”


“Ruangan itu pasti ruangan dimana kalian mengaktifkan RP-2.” Aku menduga-duga.


“Yap, kau benar, Lian.”


 

__ADS_1


 


__ADS_2