Kehancuran Batana

Kehancuran Batana
TERLUPAKAN 4


__ADS_3

Sempurna layar menunjukkan angka nol, pesawat tersebut bergetar kencang. Kami bahkan merasakan guncangan hebat yang menggetarkan lantai ruangan. Tia bergegas menggendong Liana. Khawatir jika bocah kecil itu terjatuh atau menangis ketakutan. Namun bukannya menangis Liana justru tertawa.


Aku memutuskan mengintip melalui jendela kamarku. Dari kejauhan, terlihat markas setinggi ratusan meter yang dapat disaksikan dari penjuru komplek. Markas itu dikelilingi asap tebal. Dan beberapa detik kemudian, sebuah cahaya menyiram seluruh komplek. Cahaya tersebut sangat silau. Gemuruh demi gemuruh menggema di setiap seluk beluk komplek. Dan beberapa menit kemudian, cahaya yang menyilaukan digantikan pemandangan pesawat raksasa yang menorobos angkasa. Membuat ekor asap yang menggurat langit bak sebuah tombak metalik. Aku termangu. Pemandangan yang luar biasa.


“Tia! Tia, kau lihat itu?” Aku beteriak memanggil Tia.


“Lihat apa?” Tia membalas dengan ketus. “Aku terlalu sibuk mengawasi Liana!”


Aku tidak tahu jika pesawat tersebut akan sekeren itu. Ibu tidak penah mengajakku untuk menyaksikan langsung pesawat luar angkasa tersebut. Dulu Ibu hanya menunjukkanku berbagai robot. Di antara robot-robot tersebut ada dua robot yang menarik perhatianku, yakni Robot Penjaga Perbatasan dan Big Boss. Ibu bilang jika kedua robot tersebut memilki fungsi sebagai penjaga di masa lampau.


 


 


***


Sudah nyaris satu bulan lamanya kedua orang tuaku tidak pulang. Jora sudah tidak bisa kuhubungi. Tidak ada lagi berita atau apapun mengenai Batana. Media seakan bungkam. Tidak satupun yang menyinggung soal Batana.


Hari ini aku tengah menonton sebuah film dengan tema robot yang mengancurkan dunia. Di dalam film tersebut dunia tengah dikuasai oleh robot dengan kecerdasan buatan. Aku bergidik ngeri. Bagaimana jika kejadian seperti itu benar-benar terjadi di dunia nyata? Aku cepat-cepat menggeleng. Terkadang prasangka buruk bisa saja terwujud.


Entah mengapa udara terasa dingin. Dan ruangan terasa gelap. Awalnya aku pikir semua ini efek dari film tersebut. Namun aku salah. Begitu aku mendongakkan kepalaku ke arah langit, terlihat awan hitam pekat berpilin di langit. Apakah hari ini akan hujan? Tidak, ini bukanlah mendung biasa. Awan tersebut jelas berwarna hitam pekat. Aku tidak pernah menyaksikan awan hitam sepekat itu.


“Tia!” Aku mencoba memanggil Tia.

__ADS_1


Hening. Tampaknya Tia tengah tertidur atau melakukan aktifitas lainnya.


Mataku masih menatap ke arah langit yang perlahan diselubungi cahaya merah kelabu. Seharusnya fenomena seperti ini sudah masuk dalam berita. Hologramku tiba-tiba mengalami glitch. Cahaya merah kelabu beserta awan hitam pekat tersebut berpilin dan menciptakan sebuah spiral raksasa. Aku bisa mendengar beberapa orang mencoba keluar dari rumah dan merekam fenomena tersebut. Dan beberapa menit kemudian, tragedi besar itu terjadi. Tragedi yang menewaskan jutaan manusia di seluruh daratan. Kebangkitan RP-2.


CTYAR!!


Aku berteriak panik sembari berpegangan di dinding ruanganku. Petir merah terang baru saja menyambar tepat ke arah markas. Orang-orang yang berada di luar berteriak ketakutan. Satu dua kembali masuk ke dalam rumah masing-masing. Yang lainnya masih dibuat penasaran dengan petir tersebut. Lampu di seluruh komplek padam.


DUAR!!!


Sebuah ledakan baru saja terjadi. Aku berlari keluar dari kamarku. Angin kencang menghantam keras atap kamarku yang terbuat dari kaca. Tak lama kaca tersebut retak dan pecah. Untungnya aku berhasil keluar sebelum kaca kamarku pecah sempurna. Rumah kami seakan dihantam benda keras. Aku bahkan berkali-kali terjatuh dan terguling.


“TIA! TIA!”


Seluruh ruangan gelap. Aku bahkan tidak tahu lagi berpegangan pada apa. Tidak ada satupun benda yang bisa kunyalakan. Tak lama kemudian, aku mendengar derap kaki seseorang mendekat.


“Tia, apa yang terjadi di sini?”


Tiba-tiba suara sirene evakuasi menggema. Suara tersebut memekakkan telinga. Tak lama kemudian ruangan kembali terang. Namun ruangan dipenuhi dengan cahaya merah remang. Tia bergegas membawaku keluar dari rumah.


DUAR!


Ledakan kembali mengguncang rumah kami. Beberapa barang dan plafon rumah mulai berjatuhan. Kami menunduk bersamaan. Liana mulai menangis panik. Asap mengepul di sekitar kami.

__ADS_1


Astaga! Pintu keluar kami sudah terhadang reruntuhan bangunan. Tia menyerahkan Liana padaku dan mencoba mengangkat puing-puing tersebut. Apalah daya, Tia hanya seorang wanita biasa. Dia tidak tangguh dan tidak terlatih untuk keadaan seperti ini. aku mulai bergetar ketakutan. Tia berusaha sekuat tenaga. Dan saat itulah kami benar-benar tidak tahu. di luar sana, tepat dari arah markas ratusan robot berlari kencang. Mulai memburu manusia satu persatu.


Teriakan demi teriakan terdengar di luar rumah kami. Sebuah tangan robot tiba-tiba saja meluncur masuk bagai bor. Kami berteriak panik. Aku terguling kebelakang sembari memeluk Liana dengan erat. Sedangkan Tia terjatuh ke arah puing-puing bangunan. Sepasang mata merah mengintip dibalik celah sedangkan tangan dengan bilah pisau di setiap jemarinya mencoba menangkap kami.


“LIAN, PERGILAH KE RUANG BAWAH TANAH!” Tia berteriak kencang.


Aku menggeleng kuat. Air mataku berderai membasahi pipi. Aku sangat ketakutan sampai tidak sanggup untuk berdiri.


“KENAPA KAU TIDAK PERNAH MENDENGARKAN KATA-KATAKU?” Tia mulai berkaca-kaca. Aku tahu dia juga sangat ketakutan.


Aku terisak. Sementara itu robot tersebut mulai membuat lubang semakin besar. Aku yakin dalam beberapa detik, robot itu akan sempurna masuk ke dalam ruangan.


“CEPAT PERGI!!!” Tia berteriak sekencang mungkin. Mencoba mengalahkan segala kericuhan yang terjadi.


Tepat ketika aku mulai berlari, robot tersebut sempurna masuk dan menyerang Tia. Aku bisa mendengar jeritannya. Aku bergegas lari keruang bawah tanah. Liana menangis kencang. Tangisannya menarik perhatian robot tersebut. Dan benda mematikan itu mengejar kami. Tangannya melesat tepat ke arahku. Aku terguling dan terjatuh di beberapa undakan tangga. Ruangan semakin gelap lantaran ruang bawah tanah tidak diterangi apapun.


Aku menunduk dan bersembunyi di salah satu meja. Liana masih menangis. Aku berusaha menenangkannya.


“Kumohon Liana, tenanglah.” Aku juga sama takutnya dengan Liana. Walau berusaha menenangkannya aku dipenuhi dengan rasa takut. Suaraku bahkan bergetar.


Liana tetap menangis. Dalam sekejap, robot itu memasuki ruang bawah tanah. Sebuah meja terlempar. Aku berteriak kencang. Hingga aku teringat lubang  yang sudah ditutup di dekat pencucian. Aku bergegas lari ke tempat tersebut. Setidaknya aku bisa memanfaatkan robot itu untuk membuka lubang tersebut. Hanya itu peluangku untuk kabur.


Robot tersebut sedikit kesulitan mengejar kami lantaran ruang bawah tanah sangatlah sempit. Nafasku tersengal. Keringat mengucur deras dan air mataku tidak berhenti berlinang. Liana masih menangis keras. Dentuman demi dentuman terus mengguncang ruangan bawah tanah. Hingga aku tiba di lokasi. Lubang itu tertutup sangat rapat. Seakan tidak ada celah untuk dibuka. Aku menatap ke robot dengan mata merah yang sudah berdiri di daun pintu setinggi dua meter. Robot tersebut mengacungkan jemarinya, dan melontarkan tangannya yang melesat bagai tombak, aku menghindar dengan cepat. Tepat sasaran, tangan robot itu membuka lubang pelarianku. Aku tidak menyia-nyiakan waktu walau sedetikpun. Berlari cepat masuk ke dalam lubang tersebut. Tanpa melihat kebelakang sedikitpun. Menyisakan suara robot yang meraung marah.

__ADS_1


 


 


__ADS_2