
Hari berlalu dengan cepat. Aku mulai menjalani hari-hariku dengan normal. Walau Ador belum kunjung memberiku tubuh bionik baru. Jadi bisa kalian bayangkan. Saat ini aku masih menggunakan satu tangan untuk beraktifitas. Kedua kaki bionikkupun sangat menghambat aktifitasku. Rasanya kini aku menjadi yang paling lelet dari anak-anak lainnya.
Hingga tepat di hari ke lima pasca keluar dari ruang perawatan, Ador akhirnya memberiku tubuh bionik yang baru. Seorang anak menyuruhku untuk mendatangi ruangan Ador. Aku tidak membuang-buang waktu dan bergegas mendatangi panggilan tersebut. Sangat risih rasanya beraktifitas hanya dengan satu tangan. Wajar saja jika kau tidak buru-buru begitu mendapat panggilan tersebut.
Ador terkekeh begitu melihatku yang datang dengan keringat bercucuran. “Aku yakin kaki bionik itu pasti membuatmu jauh lebih lelah, kan?”
Aku menggeleng. “Tidak, kok. Ini sama saja seperti kaki biasanya.” aku sengaja betul berbohong.
“Kalau kau anggap sudah seperti kaki biasa, itu artinya aku tidak perlu menggantinya, kan?” Ador tersenyum nyengir. Sengaja betul ingin membuatku kesal.
Aku hanya tersenyum. “Tapi Ador sendiri yang bilang akan menggantinya tempo lalu. Janji adalah janji.”
Ador tertawa terbahak-bahak dan menunjukkan tangan dan kaki bionik baru yang mengkilap. Tidak, itu tidak mengkilap. Lebih seperti kulit manusia hanya saja sedikit transparan. Aku bisa tahu jika tekstur dari lapisan tersebut lembut namun kuat hanya dengan melihatnya. Di ruas-ruasnya terdapat cahaya jingga yang berkilauan. Cahaya jingga tersebut lantas mengalir seperti sebuah aliran darah pada seluruh sistem di dalam lapisan terluar. Sirkuit-sirkuit itu membuat jaringan layaknya urat-urat di tubuh yang sesungguhnya.
“Ini lebih bagus dari pada tubuh bionikmu yang sebelumnya. Aku yakin seratus persen jika tubuh yang ini sangat mendekati organ gerak manusia. Aku merakitnya serumit mungkin. Kerangka tulangnya bahkan aku bentuk seperti kerangka manusia yang sesungguhnya. Kuberi lapisan sintetis yang menyerupai kulit manusia namun tetap anti gores. Dan lagi, tubuh bionik yang ini bisa merasakan getaran dan tekstur. Bisa dibilang ini adalah penemuan terbaikku. Haruskah kita mencobanya sekarang?”
Aku mengangguk. Ador mulai melepas semua bagian tubuh binoik yang lama dan menggantinya dengan yang baru. Butuh sekitar dua jam lamanya agar semua bagian bisa terpasang dengan baik dan benar. Tidak seperti tubuh bionik sebelumnya, bagian yang baru ini memiliki sistem pengunci yang rumit agar tidak mudah terlepas dan benar-benar menyatu dengan tubuhku. Ador mempersilahkanku untuk mencoba menggerakkan tubuh bionik baru ini. Aku mulai mencobanya.
Rasanya sangat berbeda. Aku mulai berdiri dan menggerak-gerakkan kedua kakiku. Aku nyaris tidak menggunakan pikiranku untuk menggerakkan beberapa bagian. Ini luar biasa! Rasanya tubuh bionik ini tengah menyatu dengan jiwaku. Bagaimana caranya Ador membuatnya sungguh sebuah misteri. Sekali lagi perlu aku akui, dia adalah ilmuwan yang luar biasa.
“Sekarang, coba kau tekan bagian lengan atasmu.”
Aku mengangguk dan mengikuti suruhannya. Menekan bagian kiri lenganku. Tiba-tiba kulit sintetis tersebut terangkat dan terbuka. Menampakkan sebuah baterai dengan warna jingga menyala. Baterai tersebut berbentuk heksagon dengan lapisan bak kristal. Kabel-kabel dan setiap jaringan sirkuit menyatu pada baterai tersebut. Aku yakin itulah yang menjadi sumber tenaga dari tubuh bionik ini.
“Mulai sekarang kau tidak perlu lagi mengisi ulang baterai pada tubuh bionikmu dengan listrik. Karena baterai ini memiliki sitem recharge yang mampu membuatnya mengisi daya secara otomatis. Benda itu menyerap semacam energi listrik statis alami yang ada di sekitar kita. Pemicunya bisa dari mana saja. Bahkan dari tubuh kita sendiri. Walau demikian dia juga akan memberikan energi pada tubuhmu sehingga kau tidak perlu lagi repot-repot mengisi daya secara manual. Jadi, gunakanlah sebaik mungkin.”
Kini aku tahu benda misterius apa yang berada di ruangan rahasia milik Ador. Benda berbentuk kubus dengan warna jingga dan memiliki guratan berbentuk heksagon pada permukaannya. Itu adalah sebuah sumber energi. Namun sistemnya berbeda dengan sumber-sumber energi yang lain. Kubus itu menyerap energi listrik yang berada di sekitar laboratorium. Energi itu bisa datang dari mana saja. Bahkan saat hujan kemarin dengan petir yang menyambar adalah makan besar bagi kubus tersebut. Jika Ador menyimpannya selama bertahun-tahun, aku yakin kubus itu telah menyimpan energi yang sangat besar. Jika aku asumsikan, kubus itu memiliki kekuatan setara dengan sebuah bom nuklir yang mampu meluluh lantakkan sebuah negeri. Aku sangat yakin suatu hari nanti aku bisa mengambil kubus tersebut.
“Ah, aku nyaris lupa. Tubuh bionik itu dilengkapi dengan pelindung tipis yang mampu memantulkan benda. Sekarang coba kau ikuti aku.” Ador beranjak dan melambaikan tangannya. Menyuruhku untuk mengikutinya.
Kami kembali pada ruang simulasi. Ador menempatkan beberapa benda bak sebuah pelontar bola baseball. Semua alat itu diletakkan berjejer.
__ADS_1
“Zenzen, coba kau tengadahkan tangan kananmu ke arah depan sembari membuka telapak tanganmu lebar-lebar. Bayangkan kau tengah mengusap sehelai kain.”
Aku mengangguk paham. Membuka telapak tanganku sembari membayangkan tengah mengusap sebuah kain. Tiba-tiba aku merasa tanganku sedikit bergetar. Lantas muncul sebuah hologram berbentuk heksagon transparan dengan warna jingga. Aku tidak tahu apa fungsi dari hologram tersebut.
“Itu memang hanya sekedar hologram. Tapi itu hanya sebagai penanda bagian tubuh mana yang akan dilindungi. Hologram itu adalah bentuk visualisasi dari tameng yang saat ini tengah melindungimu. Namun tameng itu tidak bisa dilihat dengan kasat mata. Tameng itu tersusun dari gelombang kuat yang mampu melontar balikkan sebuah objek. Kali ini aku akan mencobanya dengan menggunakan pemukul kasti. Pastikan kau tidak bergerak. Hal itu bisa mempengaruhi gelombang tersebut. Jika ada keraguan sedikitpun, aku bisa memecah gelombang tersebut dan membatalkan tamengnya.”
Sekali lagi aku mengangguk paham. Entah mengapa aku sangat bersemangat kali ini. Rasanya seperti memiliki sebuah mainan baru yang tak terkira harganya. Aku tetap berkonsentrasi. Ador memang benar. Aku bisa merasakan adanya gelombang yang mengalir di setiap sirkuit pada tangan kananku.
Ador mulai mengayunkan pemukul kasti tersebut. Aku berusaha untuk tetap fokus. Begitu tongkat kasti tersebut menyentuh hologram yang berwarna jingga, pemukul itu patah dan terlempar menabrak dinding ruangan. Aku nyaris terkejut dengan apa yang baru saja kulihat.
“Seperti yang aku bilang, gelombang itu mampu memantulkan sebuah benda. Bagaimana menurutmu?”
Aku mengangguk. “Sungguh jenius.” Ujarku dengan singkat.
Ador menepuk jidat. “Astaga... Tak kusangka anak berumur dua belas tahun sepertimu hanya mengatakan hal tersebut.”
“Justru karena usiaku yang masih dua belas membuatku hanya berpikir pendek.” Aku menambahi.
Ador tertawa. “ Kalau begitu kita lanjutkan untuk sesi berikutnya. Kali ini kau bisa memancarkan gelombang tameng itu dari berbagai arah. Hanya saja kau tidak bisa melakukan hal itu terus menerus. Kenapa? Karena hal itu akan sangat cepat untuk menghabiskan energimu. Yeah, walau sejatinya tidak secepat yang kau bayangkan. Jadi apa kau ingin mencobanya?”
“Baiklah, caranya hampir sama seperti sebelumnya. Tapi kali ini kau harus membayangkan tengah dibelai oleh kain-kain di sekitarmu. Pilih titik mana yang ingin kau lindungi sambil tetap menengadahkan tanganmu ke depan.”
Aku mulai mengikuti instruksinya. Menenangkan pikiranku sembari membayangkan diriku tengah dikelilingi oleh beberapa helai kain. Hening. Tidak terjadi apapun. Bahkan gelombang tameng yang ada didepanku kini menghilang.
“Bukan begitu. Kau harus merasakan seluruh bagian tubuhmu tengah dibalut oleh kain yang sedang tertiup angin.”
Aku memiringkan kepala. Sama sekali tidak mengerti maksud dari ucapannya.
Ador kembali menjelaskan secara detail. “Baiklah, sepertinya kau tidak akan mengerti jika aku jelaskan secara imajiner. Mari kita beralih ke penjelasan logika. Seluruh tubuhmu kini terhubung oleh semacam jaringan yang kusebut dengan WAVE. WAVE bergerak oleh sebuah dorongan dari pikiranmu. Dari dorongan itulah tercipta sebuah gelombang elektromagnetik yang sangat kuat pada seluruh tubuhmu sehingga menghasilkan sebuah benturan yang kemudian membentuk semacam tabung pada area di sekitar tubuhmu. Karena itu aku menamainya dengan ‘WAVE’ atau dalam bahasa kita yang berarti ombak. Ombak bisa sangat berbahaya tergantung oleh seberapa kencangnya sebuah tiupan angin. Angin di sini aku ibaratkan sebagai pikiranmu sedangkan ombak adalah aliran magnetik yang tercipta dari dorongan pikiranmu. Nah sekarang kau hanya perlu mendorong pikiranmu dan mengalirkannya melalui jaringan nirkabel yang terhubung dengan tubuh aslimu. Dengan demikian kau bisa menciptakan tabung yang akan melindungimu dari berbagai arah. Tapi kau juga tidak boleh terlalu mendorong keras pikiranmu. Karena itu hanya akan membuat gelombang tersebut menjadi tidak beraturan.”
Aku menelan ludah. Penjelasan itu terdengar sangat rumit. Bagaimana caranya aku bisa mendorong pikranku tanpa harus memaksanya? Baiklah, tidak ada salahnya jika aku mencoba. Mendorong tanpa memaksa. Bukankah aku sering melakukannya saat tengah melakukan perlombaan maraton dengan Bastian. Mungkin aku bisa menerapkan metode itu. memfokuskan pikiranku dengan tenang. Namun mematikan seperti sebuah ombak.
__ADS_1
Aku menarik nafas dalam. Mencoba merasakan setiap energi yang mengalir di seluk beluk tubuh bionikku. Setelah kuyakin aku bisa menghempaskan energi tersebut, kudorong pikiranku perlahan sembari kubayangkan adanya usapan kain di sekelilingku namun dengan posisi tangan tetap menengadah ke depan. Perlahan namun pasti, di sekelilingku mulai dipenuhi oleh cahaya hologram berwarna jingga dengan bentuk heksagon seukuran telapak tangan orang dewasa. Aku tetap berkonsentrasi dan mendorong pikiranku secara berkala. Ador berseru tertahan. Aku yakin dia juga tegang menunggu hasil dari latihan ini. Menunggu penuh harap.
Perlahan, semakin lama heksagon-heksagon itu semakin membesar. Terdapat lima hologram heksagon yang kini tengah mengitari tubuhku. Satu di bagian depan. Satu di kanan, satu di kiri, satu di belakang dan yang terakhir di bagian atas. Ketika heksagon-heksagon itu sudah seukuran sebuah payung, Ador berteriak kegirangan. Aku takjub dengan hasil ini.
Ador menghampiriku dengan berlari. Tapi dia lupa jika tubuhku masih terselubung oleh gelombang-gelombang tameng tersebut. Akibatnya dia terhempas dan tersungkur di atas lantai. Aku dengan cepat menonaktifkan tameng-tameng itu dan menghampirinya.
“Ador, kau baik-baik saja?”
Ador meringis sejenak. “Sudah kuduga kau akan berhasil, Nak!” dia bersorak riang.
Aku memutar bola mataku. Lagi pula kenapa dia sangat bodoh ingin menghampiriku disaat aku nyaris sempurna membuat tameng-tameng itu menyelubungi seluruh tubuhku. Kini aku harus mengulang semuanya dari awal dan aku tidak yakin akan bisa melakukannya sama persis dengan yang tadi.
Ador memelukku dengan girang. Aku hanya memasang wajah datar sementara Ador berseru-seru layaknya orang gila. Dia bahkan melakukan selebrasi dengan mengelilingi ruangan sembari mengacungkan kedua tangannya ke atas. Dia benar-benar tampak seperti anak kecil yang tengah berlari-lari mengejar layangan. Aku hanya memutar bola mataku.
“Kalian lihat itu, hah? Aku Ador yang sangat jenius! Hahaha! Pasti ‘kau’ tidak akan pernah bisa menjiplak karyaku yang satu ini!”
Aku menganga. Tidak pernah kusaksikan sisi Ador yang seperti ini. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala. Pikiranku hanya dipenuhi dengan keheranan.
“Ador, apa bisa kita lanjutkan?” Aku mengusik kegembiraannya.
Ador yang tengah terduduk di sisi ruangan sembari menengadahkan kedua tangannya terdiam. Lantas menatapku dan kembali berdiri. Dia berdehem sejenak. Menepuk-nepuk jas laboratoriumnya dan membenarkan kacamatanya yang miring kemudian menghampiriku. Dia juga sempat mengusap rambutnya yang berantakan dan mencoba merapikannya kembali. Aku bahkan malu melihatnya yang bertingkah demikian.
“Ehem, bisakah kau melupakan apa yang kau lihat tadi?” Ador menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Sepertinya tidak akan bisa. Aku yakin apa yang barusan aku lihat akan menjadi mimpi burukku malam ini.”
Ador menunduk sejenak. “Oke, kata-katamu terdengar menusuk sekali. Kita akan lanjutkan untuk sesi berikutnya. Kali ini kau harus bisa menahan bolan-bola yang akan melesat ke arahmu. Kau cukup membuat tameng-tameng seperti tadi. Usahakan kau fokus, jika semisalnya hari ini kau tidak menunjukkan perkembangan yang signifikan, kita akan melanjutkannya minggu depan.”
“Eh, kenapa harus menunggu seminggu?”
“Alasan pertama yang kusebutkan tadi adalah masalah energi. Membuat tameng dalam jumlah banyak akan menguras banyak energi. Tapi mari kita kesampingkan hal itu. Alasan kedua adalah masalah kesehatanmu. Sebagai mana kau tahu, pemicu munculnya gelombang itu adalah dari pikiranmu. Jika kau terlalu sering menggunakan pikiranmu dengan keras maka hal itu bisa membuat rasa sakit pada otakmu. Karena itu jika kau gagal untuk melakukan sesi ini, kita harus melanjutkan minggu depan.”
__ADS_1