
Sebelum kembali ke rumahku, aku lebih dulu mengantar Jora ke rumahnya. Kami berdua berpisah. Untuk sesaat dia tersenyum lebar. Baru pertama kali aku melihatnya tersenyum lepas seperti itu. Kami berdua saling melambaikan tangan. Akupun bergegas pulang. Aku yakin Ibu akan memarahiku.
Namun begitu aku tiba di rumah, aku tak mendapati Ibu ada di rumah. Hanya ada Liana dan Tia yang merupakan pengasuh Liana. Tia tengah duduk di meja makan sembari memakan roti berbentuk kotak balok dan menyuapi Liana bubur bayi.
“Aku sudah bilang untuk pulang sebelum malam, kan?” Ujar pengasuh itu ketus.
“Maafkan aku, Tia.” Aku mengusap rambutku.
“Ibu dan Ayah dimana? Aku tidak melihat mereka.” Aku bergabung ke meja makan. Mengambil sepotong roti sintetis itu. Dan melahapnya seperti bocah yang tak makan seharian.
Tia menghembuskan nafas panjang. “Sepertinya mereka tidak akan pulang selama seminggu.”
“Eh, kenapa Ibu dan Ayah tidak memberi tahuku?”
“Ibumu memiliki panggilan mendadak di markasnya dan harus segera ke sana. Ayahmu terlalu khawatir dengan ibumu dan mengantarnya ke sana. Oh, ibumu juga menitipkan pesan untukmu. Kau tidak boleh keluar rumah selama ibumu pergi.”
“Tentu saja itu tidak adil!” Aku menolak mentah-mentah pesan itu.
“Pokoknya tidak boleh! Aku akan mengunci rumah ini jika perlu.” Tia tetap bersikeras.
“Oho, memangnya Tia pikir aku tidak bisa keluar dari rumah ini.” Ledekku sembari meneguk segelas air.
“Jangan mencoba kabur. Aku sudah menutup lubang rahasia di bawah tempat pencucian. Tempat biasa kau menyelinap kabur saat tengah bertengkar dengan ibumu dan ayahmu.”
GLEK! Aku nyaris tersedak dan menatap wajah Tia yang terlihat licik.
“Bagaimana? Bagaimana Tia tahu?”
Tia tersenyum licik. “Ibumu yang memberi tahuku.”
__ADS_1
Tia benar, lubang itu sudah ditutup dengan bongkahan besi yang dilas. Padahal itu satu-satunya jalan keluarku ketika aku ingin bermain apabila Ibu tidak mengizinkanku. Aku mengacak kasar rambutku. Yang benar saja! Masak aku harus merana di rumah membosankan ini selama seminggu. Padahal aku baru saja menemukan tempat baru yang menyenangkan. Ini benar-benar tidak adil!
Aku melangkah gusar ke kamarku. Merebahkan tubuhku dengan kasar di atas kasurku. Menatap langit kamar yang didesain transparan sehingga aku bisa menyaksikan jutaan bintang di angkasa sana.
Bagi anak kecil sepertiku, hidup seperti ini membuatku merasa sedih. Orang tuaku terlalu sibuk dengan masalah mereka masing-masing. Dan hal seperti itu terkadang membuatku kesepian. Ibu selalu bilang jika ada teknologi semua manusia akan bahagia. Namun, lihatlah! Saat ini di kamarku bertumpuk mainan berteknologi tinggi. Tapi aku tidak menyukainya. Setidaknya aku ingin menghabiskan waktu sejenak dengan orang tuaku. Seperti saat usiaku masih enam tahun. Dimana Ibu mengajakku berkeliling di tempat kerjanya. Menunjukkanku berbagai robot-robot keren walau itu hanya menjadi alasanku agar bisa bersama Ibu.
Dan semua pikiran ini membuatku terlelap dalam tidur.
Esok hari. Aku menjalani hidup yang membosankan di rumah suramku. Pukul delapan pagi, aku menatap ke arah luar dari balik jendelaku yang menguap. Hari ini suhu ruangan terasa dingin. Tia menghidupkan pendingin ruangan lantaran di luar sana dipenuhi dengan drone yang terdengar bising dan membuat udara terasa panas. Para pekerja di komplek ini mengangkut bongkahan besi beserta benda-benda yang tidak kumengerti menggunakan drone raksasa seukuran gajah. Yeah, mungkin sedikit lebih besar dari gajah. Aku mendengus bosan, hingga sebuah telepon berbentuk layar hologram di kamarku berdenting pelan. Tanda seseorang tengah mencoba menghubungiku. Aku berjalan gontai macam mayat hidup yang baru saja dibangkitkan. Setidaknya hal itu yang aku lihat di televisi tempo lalu. Sebuah film dimana para mayat hidup yang disebut sebagai zombi berjalan gontai dengan mulut menganga. Setidaknya demikianlah kondisiku saat ini.
Aku mengeluh begitu mendapati seseorang yang menghubungiku. Tak lain adalah Ayah.
“Oh, Lian, kau sudah bangun rupanya.” Ayah tersenyum semaksimal mungkin. Rambutnya terlihat kusut dengan kantung mata yang terlihat seperti panda.
“Dimana Ibu?” Aku mengabaikan sapaannya. Bertanya datar.
“Ayah, kenapa di luar banyak sekali drone melintas?”
“Kepala negara memaksa proyek pengiriman manusia ke luar angkasa segera selesai untuk beberapa hari ke depan, walau ibumu sempat bertengkar dengannya. Dia sangat terobsesi dengan kata-katamu kemarin. Soal menerima segalanya. Tapi apalah dikata, mana mau kepala negara mendengarkan. Mungkin kami tidak bisa pulang selama dua minggu atau lebih. Ibumu akan melanjutkan proyek pembangkitan Robot Penjaga Perbatasan yang dia garap selama empat tahun ini. Kami masih belum tahu alasan kepala negara meminta hal itu. Tapi ibumu memang wanita yang luar biasa. Tentu saja itu yang membuatku jatuh hati padanya.”
“Euh, haruskah Ayah membicarakan hal itu sekarang?” Aku mengernyit jijik.
Ayah tertawa pelan. “Setidaknya Ayah hanya ingin bilang jika kau harus bersikap baik di rumah. Dengarkan semua perkataan Tia padamu. Jangan lupa untuk menjaga adikmu dengan baik. Kami sungguh kasihan padanya. Di usianya yang masih dua tahun dia harus jauh dari kedua orang tuanya. Mau bagaimanapun satu-satunya yang dia miliki saat ini adalah kau, Lian. Jadilah seorang kakak yang baik.”
“Tunggu, Ayah...”
Layar tersebut menghilang sebelum aku sempat mengucapkan kata-kataku. Aku menghela nafas panjang. Hendak beranjak dari tempatku. Namun telepon tersebut kembali berbunyi. Aku bergegas menerima panggilan tersebut.
“Ayah?” Aku tertegun begitu melihat seseorang yang menghubungiku bukanlah ayahku. Melainkan Jora. “Oh, ternyata kau, Jora.” Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
__ADS_1
Jora tersenyum sejenak. “ Hari ini kau tidak main di luar?”
Aku menggeleng pelan. “Ibuku tidak mengizinkanku keluar dari rumah. Dia sedang sibuk dengan dunianya sendiri. Kalau kau bagaimana? Kau tidak bermain di luar?”
“Tentu saja aku juga tidak bisa. Orang tuaku juga sedang di markas. Kemarin malam mereka baru saja berangkat.” Dia tediam sejenak sembari memainkan anak rambutnya. Kembali berujar. “Lian, kau sudah tahu soal pemilihan manusia yang akan dibawa keluar angkasa?”
Aku memutar bola mataku. “Aku tidak terlalu peduli soal hal itu.”
“Hmmm, orang tuaku ternyata tidak terpilih. Mereka berdua bilang jika negara masih membutuhkan kehadiran mereka dan beberapa ilmuwan lainnya. Setidaknya aku sedikit lega dengan fakta itu.” Jora tersenyum tipis.
“Kalau begitu bagus! Kita bisa bermain dan merayakan hal ini jika nanti orang tua kita sudah pulang dari tugas mereka.” Aku tertawa riang. Lega mendengar hal itu darinya.
“Lian, dua hari lagi orang tuaku akan kembali. Jadi mungkin aku sudah diizinkan untuk bermain di luar.”
“Ah, aku iri soal hal itu. Orang tuaku baru kembali setelah dua minggu lebih. Padahal aku ingin sekali bermain di luar, bukan mengurung diri di kamar menyedihkan ini sebatang kara. Adikku Liana masih terlalu kecil untuk aku ajak bermain. Tia, ah lupakan perempuan itu. Dia terlalu mengerikan untuk aku ajak bermain. Aku sudah cerita sendiri, kan? Dia itu seperti...” Aku merendahkan suaraku, “nenek sihir”
Jora tertawa renyah. Menampakan gigi putihnya yang tersusun rapi. “Kau memang pandai melawak, Lian.”
Aku membusungkan dada. “Mungkin aku memang berbakat di dalam bidang itu. Apa aku jadi pelawak saja ya kalau besar nanti. Tidak seperti kedua orang tuaku yang sangat kaku.” Aku menjulurkan lidahku. Memasang wajah bodoh.
Jora menyeka ujung matanya. “Lian, bagaimana jika begini saja. Jika dua hari lagi orang tuaku sudah kembali, aku akan bermain keluar dengan teman-teman dan merekam segala aktifitas kami menggunakan multifunction area recorder. Kau bisa melihat sekeliling kami dari rekaman itu di kamarmu. Lantas memproyeksasikannya di kamarmu atau di rumahmu. Kau bisa menentukan ke arah mana kau ingin melihat. Jadi kau seakan bisa bermain bersama kami.”
“Itu sangat cemerlang, Jora! Tumben kau mau bermain di luar tanpa aku yang harus menghampirimu terlebih dahulu.” Aku tersenyum lebar. “Terima kasih.”
Jora terlihat salah tingkah. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Kalau begitu sampai jumpa dua hari lagi, Lian.”
Layar menghilang, disusul dengan sebuah suara yang terdengar makin keras.
“LIAN, KAU TIDAK DENGAR, HAH? INI WAKTUNYA SARAPAN” Seru Tia dengan suara lantang.
__ADS_1