Kehancuran Batana

Kehancuran Batana
BIONIK


__ADS_3

Akademi Talenta. Tempat bagi para anak-anak disabilitas dengan bakat yang menakjubkan berkumpul. Jika kau menyaksikan sebuah sirkus atau pertunjukan bakat akrobatik di luar sana dengan kondisi mereka yang mengenakan tubuh bionik, semua itu berasal dari Akademi Talenta. Memang kehidupan mereka akan terjamin di masa depan jika mereka sukses. Tapi jika mereka gagal, mereka hanya akan dibuang ke jalanan atau bahkan mereka tidak akan pernah bisa melangkah maju sedikitpun dan hanya akan menjadi sampah masyarakat.


Dua tahun sudah aku lalui didalam akademi ini. Aku sudah menyaksikan berbagai isak tangis mereka yang gagal di Akademi Talenta. Menyaksikan mereka yang pergi dengan kepala menunduk saat dinyatakan tidak bisa melanjutkan ke jenjang berikutnya. Aku mengerti bagaimana perasaan mereka. Tapi aku tidak punya waktu untuk mengurusi urusan orang lain.


Harus kuakui hidup di tempat seperti ini sangat sulit. Kalian tidak akan percaya apa saja yang terjadi padaku selama dua tahun ini. Nyaris tidak ada kata bernafas ataupun bersantai sejenak dalam akademi ini. Kami bagai sebuah besi yang ditempa menjadi sebuah pedang. Bayangkan saja bagaimana sebuah pedang tercipta. Mulai dari biji besi yang dileburkan menggunakan bara api dengan suhu tinggi, lantas di cetak, kemudian ditempa sembari dibakar, dilas sedemikian rupa, ditempa kembali, dan jadilah sebuah pedang yang masih belum sempurna. Begitulah kehidupanku di akademi ini. Keseharianku bagai di penjara. Berasa hidup seperti tahanan. Latihan di sini lebih sadis dibandingkan dengan menu latihan yang diberikan Ador padaku dulu. Memang tangan dan kakiku adalah tubuh bioik. Tapi tentu saja untuk menggerakkannya menggunakan tenaga dan pikiran.


Bayangkan saja, setiap pagi kami harus berlari mengelilingi lapangan seluas lapangan sepak bola sebanyak dua puluh kali. Di awal-awal aku bahkan nyaris pingsan atau muntah akibat perutku yang sangat keram. Anak baru lainnya lebih parah, ada yang bahkan tidak sadarkan diri selama dua hari di awal latihan berat ini.


Untuk makannya juga sangat diatur di akademi ini. Minimal aku harus menghabiskan dua mangkuk nasi dalam satu kali jadwal makan. Aku yang tidak terbiasa makan banyak harus melahap semua itu seperti kakek yang kehilangan giginya. Rasa lelah akibat latihan pagi dengan perut keram ditambah aku harus menghabiskan makanan sebanyak itu.i Euhh... angan mebayangkannya atau kalian semua akan merasa mual.


Tapi itu dulu, saat ini aku sudah berbeda dengan saat usiaku masih tiga belas. Saat ini aku tak lagi kerepotan dengan masalah-masalah seperti itu. Seperti menapaki sebuah bukit dan kau akan mencapai pada titik di mana kau bisa merasakan hasil dari ujianmu. Begitulah yang kurasakan saat ini. Usahaku selama dua tahun membuahkan hasil. Walau tidak banyak setidaknya aku berhasil mendapatkan berbagai prestasi dalam beberapa bidang akademis dan fisik.


Usiaku sudah lima belas tahun. Hanya saja ada satu hal yang masih belum aku mengerti tentang tubuh bionik milik Ador ini. Tubuh bionik itu memang menyesuaikan dengan gestur tubuhku. Semakin aku bertumbuh maka tubuh bionik itu juga akan semakin bertumbuh. Tanpa aku sadari aku merasa sedikit lebih tinggi. Kebanyakan murid lain harus menjalani operasi untuk membuat tubuh mereka lebih tinggi dengan mereparasi tubuh bionik mereka. Namun itu hanya berlaku bagi murid yang kehilangan kakinya. Namun aku tidak membutuhkan hal seperti itu. Tubuh bionik ini seakan hidup. Entah bahan apa yang digunakan Ador pada tubuh bionik tersebut. Ah, kurasa tidak penting memikirkan hal itu saat ini. Masih ada satu hal yang lebih penting. Aku belum bisa mengalahkan murid kebanggaan Akademi Talenta.

__ADS_1


Mendung yang membentang luas terlihat dari atap-atap kaca yang menghias lorong asrama. Aku berjalan melintasi lorong sembari membawa tas ranselku. Hari ini adalah hari liburku setelah dua tahun berada di asrama ini. Sebenarnya aku bisa mengambil libur tahun kemarin. Tapi aku memutuskan tidak akan mengambilnya sampai aku layak untuk kembali ke laboratorium.


Aku menyebut diriku layak hari ini karena aku telah berusia lima belas tahun. Sekitar tiga tahun yang lalu Ador pernah mengatakan soal pengembangan tubuh bionikku yang hanya bisa terjadi saat aku berusia lima belas tahun. Untungnya aku masih mengingat kata-katanya dan penjelasannya soal hubungan usiaku dengan tubuh bionik ini. Karena itu aku memutuskan mengambil hari liburku di hari ini untuk menanyakan apa yang dimaksud oleh Ador.


Salju telah memenuhi pelataran akademi. Udara terasa dingin menusuk. Aku menghembuskan nafas pelan. Uap mengepul pelan dari ujung bibirku. Kurapatkan syal yang melingkar di leherku. Mulai berjalan di atas salju yang menutupi jalan setapak. Beberapa murid yang yang memiliki keluarga terlihat dijemput oleh orang tua mereka di pelataran akademi. Saling berpelukan dan mengucapkan selamat kepada anaknya.


Sama seperti saat aku pertama kali datang ke Akademi Talenta. Hari inipun aku menumpangi bus untuk menuju laboratorium Ador. Jalanan kota sudah dipenuhi oleh salju. Ranting-ranting pepohonan dipenuhi Embun yang mengkristal yang menggantung bak stalaktit. Jendela bus berembun begitu aku menghembuskan nafas.


Hari ini kuputuskan untuk tidak mengenakan masker. Aku sudah terbiasa dengan udara kotor atau istilah lainnya mengenai udara yang tercemar di zaman ini. Percaya atau tidak, selama aku di akademi aku tidak pernah mengenakan masker sekalipun. Untungnya aku tidak mendapatkan teguran. Kesehatanku stabil dan keadaanku baik-baik saja walaupun tidak mengenakan masker. Para pembimbing hanya menganggap aku memang kebal dengan udara kotor. Mereka sering sekali memujiku dan mengatakan sangat jarang bisa bertemu dengan orang-orang yang tidak peduli dengan udara kotor. Entah itu pujian atau sindiran, yang jelas aku memang tidak suka mengenakan masker sejak usiaku dua belas tahun.


Aku telah tiba di depan laboratorium milik Ador. Taman hijaunya sudah berubah menjadi daratan putih bersalju. Aku membuka gerbang perlahan dan masuk ke laboratorium tersebut. Sudah dua tahun lamanya aku tidak pergi ke laboratorium ini. Semua interiornya tidak ada yang berubah. Sama persis dengan dua tahun yang lalu.


“Ador, ini aku.”

__ADS_1


Hening, aku melintasi lorong. Hingga langkahku terhenti. Aku mendapati sebuah ruangan dengan pintu setengah terbuka. Itu adalah salah satu ruang perawatan. Aku membuka pintu itu. Tidak ada siapapun di sana. Hanya ruangan kosong dengan ranjang pasien ruangan dan beberapa tubuh bionik yang telah rusak diletakkan di pojok ruangan.


Aku segera menuju ke ruangan Ador. Begitu aku membuka ruangan pribadinya...


“Selamat datang, Zenzen!”


Sebuah balon berisi pita dan kertas kilap bersemburan tepat di hadapanku. Aku hanya memasang wajah datar. Mereka semua ternyata tengah menyiapkan sebuah kejutan untukku. Sayang sekali aku tidak merasa terkejut apalagi senang. Ador terkekeh. Setelah kusadari, ada anggota baru di laboratorium. Tapi ada dua orang menghilang. Entah apa saja yang telah terjadi di laboratorium ini selama aku berada di akademi dua tahun lamanya.


Ador memelukku dan menepuk-nepuk bahuku. Wajahnya terlihat semakin keriput dan rambutnya sudah beruban. Tapi dia masih sehat dan bugar.


“Astaga! Kau sudah semakin tinggi sekarang! Yang itu artinya tubuh bionikku pasti bekerja dengan baik.” Ador mengusap keningnya. “Itu artinya aku tidak perlu repot-repot memperbaiki atau meraparasi ulang tubuh bionik tersebut. Benda itu sepertinya bekerja dengan alami. Tapi itu juga dipengaruhi oleh inangnya. Karena inangnya cerdas, tubuh bionik itu bekerja dengan baik. Hei! Untuk apa aku berbicara teori panjang lebar di hari kedatanganmu. Ayo, lebih baik kita bersantai sedikit dan merayakan kepulanganmu. Aku sudah menyiapkan cokelat hangat dan beberapa hidangan hangat lainnya. Sia-sia aku bangun pagi-pagi membuat semua makanan itu jika akhirnya dibuat dingin oleh cuaca. Aku juga akan memperkenalkanmu ke beberapa anggota baru lainnya.”


Aku hanya tersenyum kecut. Sejujurnya aku benci dengan acara-acara seperti ini.

__ADS_1


 


 


__ADS_2