Kehancuran Batana

Kehancuran Batana
REUNI


__ADS_3

Aku mengetuk pelan pintu rumah Ruzdora.


“Bisakah kau lebih berhati-hati! Obat itu adalah barang berharga!”


Aku tekejut mendengar suara tersebut. Tampaknya Ruzdora tengah berseru dengan seseorang. Mungkin pekerja dari penjara. Aku tidak tahu jika Ruzdora bisa berseru seperti itu.


Beberapa saat kemudian pintu terbuka. Terlihat sudah wajah teduh Ruzdora, tapi untuk kali ini rambutnya terlihat berantakan. Dia terkejut begitu melihatku.


“Astaga! Ini sudah lama sekali dan wajahmu tidak berubah sama sekali, Nak! Tapi, ada apa ini? Wajahmu penuh dengan lebam.” dia berseru dengan wajah gembira. Kali ini pandangannya tertuju pada sekumpulan prajurit di belakangku.


“Maaf aku datang mendadak, Ruzdora. Aku dan orang-orang dibelakangku butuh bantuan.”


Ruzdora mengangguk, menyuruh kami untuk masuk. Dia memerintakan pekerja untuk membuatkan teh. Tunggu, teh! Aku masih mengingat rasa dari minuman tersebut. Rasanya sungguh aneh. Tapi apalah daya, aku hanya bisa menerima semua suguhan darinya. Kami tidak punya tempat lain untuk berlindung sementara ini.


“Aku akan menyiapkan peralatan medis untuk kalian. Sementara ini minumlah teh yang terhidang di atas meja. Termasuk kau, Lian.” Ruzdora tekekeh. Sifat jahilnya sungguh menyebalkan.


Para prajurit mulai meminum teh tersebut. Aku sudah bisa menebak reaksi mereka. Beberapa ada yang menyembur teh itu dari mulut mereka. Ada pula yang tetap meneguknya dengan wajah yang tidak jelas. Rasa teh ini memang benar-benar mengerikan. Kalian tidak akan tahu rasanya jika tidak mencobanya.


Sekitar setengah jam lamanya Ruzdora merawat luka-luka di tubuh kami. Untungya tidak ada luka serius. Berkat perlengkapan yang kami gunakan, dampak dari benturan tidak terlalu menyakiti kami.


Aku menjelaskan padanya tentang kondisi kami. Aku harus segera menghubungi Jora untuk melaporkan  kejadian saat kami tengah melakukan misi. Tidak banyak bertanya, beliau bergegas menghubungi Jora.


Sekitar 10 menit Ruzdora menjelaskan kondisiku pada Jora. Ruzdora memberi tahu kami jika Jora akan kemari untuk memastikan sendiri apakah benar semua yang kukatakan. Jadilah kami harus menunggu beberapa jam sampai Jora tiba. Sementara itu Ruzdora menyiapkan kamar agar kami bisa beristirahat. Aku sungguh beruntung bisa mengenalnya.


Kali ini aku tengah berbincang empat mata dengan Ruzdora. Para prajurit lain sudah terlelap. Melepas lelah atas semua kejadian yang telah berlalu. Besok-besok mereka tidak akan bisa kembali menjalani kehidupan normal.


“Bagaimana kabarmu, Nak? Ini sudah lama sekali, kenapa kau tidak pernah mengunjungiku?” Ruzdora memulai pembicaraan.


“Aku sangat sibuk. Jadwalku di Akademi Langit sangat banyak sampai membuatku tidak bisa berlibur. Aku minta maaf jika datang mendadak.”


Ruzdora tersenyum. Walau usianya sudah tua, dia tetap terlihat segar.


“Tak apa, Nak. Aku tidak keberatan kau datang kemari dalam keadaan apapun. Mau bagaimanapun, aku berhutang budi padamu.”


Aku mengangkat alisku. Sejak kapan aku pernah berjasa baginya? Justru seharusnya akulah yang berhutang budi padanya.


“Lian, sebenarnya aku sangat berharap sedikit darimu. Ini mengenai alat yang tertanam pada tubuhmu.”


Aku menunduk. Pembicaraan tentang alat tersebut sangat tidak menyenangkan bagiku. Setiap kali Ruzdora menyinggungnya, aku selalu memalingkan muka atau mengalihkan pembicaraan. Aku masih belum bisa menerima keberadaan alat tersebut.


“Aku tahu kau tidak menyukainya, Lian. Tapi, alat itu adalah salah satu cara untuk menghentikan RP-2. Tidakkah kau ingin terbebas dari mereka?”


Aku Mengusap wajah. Sebenarnya, Ruzdora sudah pernah mengatakan kalimat tersebut berulang kali saat aku masih di penjara.


“Aku tidak memaksamu, Nak. Aku hanya berharap sedikit darimu.” Ruzdora menatapku dengan penuh harap. Membuatku merasa tidak nyaman.


“Aku masih tidak bisa.” Aku mengucapkan kalimat tersebut dengan tatapan dingin. Ruzdora mengangguk. Dia sangat paham dengan kondisiku.


“Ada baiknya kau beristirahat, Lian. Nona Kei masih dalam perjalanan. Kau harus kembali pulih dan menjelaskan semua kejadian tersebut. Apapun yang terjadi, aku akan selalu mendukungmu.” Ruzdora menyentuh pelan pundakku. Lantas meninggalkanku sendirian.


Aku menghela nafas. Ruzdora benar, aku harus beristirahat. Tubuhku terasa sakit dan lebam di wajahku terasa nyeri. Aku juga butuh tenaga untuk menjelaskan semuanya pada Jora. Meyakinkannya dan membuatnya percaya pada ucapanku.


 


 


***


 


 


“Lian, ini pesan terakhir Ibu. Hanya kau yang bisa menyelamatkan dunia. Camkan itu baik-baik! ”


Aku terbangun. Dalam mimpiku aku mendengar suara Ibu. Nafasku tersengal. Keringat bercucuran dari keningku. Aku menatap jam yang tergantung di sisi ruangan. Pukul 10 malam. Apakah selama ini aku tertidur? Padahal rasanya aku baru sebentar memejamkan mata. Aku memutuskan beranjak dari tempat tidurku. Seharusnya Jora sudah tiba di tempat ini.

__ADS_1


Aku berjalan menulusuri lorong. Samar-samar mendengar perbincangan dua orang. Aku mendekati asal suara. Mencari tahu siapa yang tengah berbincang. Aku mendapati Ruzdora dan Jora di ruangan tersebut. Terdapat dua pengawal yang berdiri di pojok ruangan.


“Lian, kau baik-baik saja?” Jora berdiri, lebih dulu bertanya.


Ruzdora terkekeh. “Tenang saja, Nona Kei. Dia bai-baik saja, aku sudah mengobati seluruh lukanya.”


Jora bernafas lega. Kembali duduk.


“Kenapa tidak membangunkanku dan memberitahuku jika Jora sudah tiba?” Aku bertanya pada Ruzdora.


“Aku tidak tega membangunkanmu yang tertidur nyenyak, Lian. Bukankah selama ini kau sulit sekali untuk tidur. Itulah alasan mengapa aku tidak membangunkanmu. Lagipula Jora juga tidak keberatan untuk menunggu sembari meminum teh.” Ruzdora kembali terkekeh.


“Iya, Lian. Aku juga sangat menikmati teh ini. Kau mau bergabung?” Jora menyodorkan teh tersebut padaku. Aku menatapnya heran. Bagaimana bisa dia bilang teh tersebut enak?


Aku menerima teh tersebut. Meminumnya perlahan. Aku sungguh dibuat terkejut dengan rasanya. Teh ini tidak seperti teh yang aku minum sebelumnya. Teh ini sedap dan manis.Aku menatap Ruzdora dengan muka masam.  Ini seungguh curang!


“Hei, Jangang menatapku seperti itu, Nak.” Ruzdora tertawa.


Kini aku bergabung dengan mereka. Memulai pembicaraan. Aku menceritakan keseluruhan cerita mulai dari saat Kapten Wan berdiskusi soal rencana  penyerangan sampai di saat Pesawat Keios menyerang kami.


“Itu buruk sekali! Aku tidak pernah tahu hal tersebut.” Jora berseru, seakan tidak percaya pada apa yang baru saja dia dengar.


Aku mulai menjelaskan pendapatku. “Jika dugaanku benar, kemungkinan besar misi ini sebagai upaya pengurangan penduduk Kota Keios. Logikanya jika Kota Keios berada di bawah puing, itu artinya akan sulit untuk memperluas wilayah. Mau tak mau mereka harus mengurangi jumlah penduduk yang ada di dalam kota ini. Aku pernah mendengar dari temanku, ada salah satu daerah kumuh di pinggir kota yang sama sekali tidak terurus. Kemungkinan besar mereka sengaja dibiarkan agar penduduk di sana mati dan mampu mengurangi jumlah penduduk. Tapi tentunya hal ini juga tidak cukup. Semisalnya, jika setiap harinya ada dua anak yang terlahir, berapa jumlah penduduk  yang akan bertambah dalam setahun?”


Ruangan lengang sejenak. Ruzdora dan Jora tengah berpikir.  Menghitung.


“780 penduduk.” Mereka berdua menjawab serempak.


Aku mengangguk. Membenarkan. “Hal ini juga yang membuatku curiga dengan dibangunnya Akademi Langit. Mengapa Akademi Langit dengan fasilitas yang bak hotel bintang lima malah digratiskan? Bukannya Kota Keios juga membutuhkan uang untuk pembangunan, makanan, dan lain-lain?”


“Jika soal Akademi Langit, aku akan jelaskan.” Jora memotong kalimatku.


“Kami sengaja menggratiskan Akademi Langit untuk para remaja yang ingin menjadi prajurit. Ini sama seperti kami menghargai mereka.”


“Pendapatku, Akademi Langit hanyalah tempat penampungan. Seperti perangkap yang diberi umpan di dalamnya. Akademi Langit adalah tempat untuk mengurangi jumlah penduduk. Mereka setiap harinya menerima puluhan remaja. Yang itu artinya, setiap hari mereka juga harus meluluskan murid. Lalu, Markas Prajurit Keios menerima prajurit baru setiap hari. Bisa-bisa markas tidak akan cukup menampung seluruh prajurit.”


Jora menatapku. Wajahnya terlihat tegang. Bibirnya bergetar. Dia seperti mendengar fakta yang sangat mengejutkan.


“Tapi tentunya semua ini hanya pendapatku semata. Tidak ada dasar atau bukti apapun. Sebenarnya aku hanya ingin kau memeriksa Kapten Wan. Itulah tujuanku untuk menemuimu. Kau bisa melupakan semua yang aku katakan.”


Ruangan kembali hening. Ruzdora mengusap wajahnya, sedangkan Jora menunduk sembari meremas bangku. Aku khawatir dia tidak bisa menerima semua ucapanku.


“Ruzdora, aku ingin berbicara empat mata dengan Lian.” Wajah Jora berubah serius. Ruzdora mengangguk.


“Kalian juga para prajurit!” Jora memerintahkan dua pengawalnya untuk meninggalkan ruangan. Mereka mengangguk. Lantas meninggalkan kami berdua.


“Lian, sebenarnya aku selalu ingin mengatakan ini sejak kau masih mendekam di penjara. Aku selalu ragu, tapi untuk kali ini aku akan mengatakannya.” Jora menarik nafas sejenak. “Kita semua tidak akan pernah bisa terbebas dari hal ini jika RP-2 tidak segera musnah. Sejatinya aku ingin sekali bertanya padamu mengenai dunia luar. Tapi melihatmu yang selalu murung, aku jadi takut untuk bertanya. Aku sangat butuh informasi darimu, Lian. Tolong, ceritakan padaku apa yang telah terjadi padamu dua tahun yang lalu? Kenapa kau bisa sampai di kota ini dengan selamat?”


Hentikan.


“Aku harus memusnahkan RP-2 untuk menjatuhkan walikota, Lian. Semua yang kau katakan tadi benar. Hanya saja, semua itu tidak bisa dilakukan jika seluruh RP-2 di dunia ini musnah. Aku ulangi sekali lagi, apa yang terjadi padamu?” Wajah Jora memelas.


Hentikan.


“Aku tidak ingat.” Aku menjawab asal.


Lengang sejenak.


“Kalau begitu, aku akan membuatmu mengingatnya, Lian. Liana, adikmu. Tidakkah kau ingat hari dimana dia meninggal?”


Hentikan!


“Liana meninggal lantaran pendarahan yang terjadi di...”


“AKU TIDAK INGAT!” Aku berseru. Mengagetkan Jora yang belum sempat menyelesaikan kalimatnya.

__ADS_1


Ruangan kembali senyap. Jora menatapku tidak percaya. Nafasku mulai tidak karuan. Tanganku bergetar. Aku sedikit merasa bersalah membentaknya. Aku menunduk.


“Lian, setiap orang punya pengalaman pahit. Tidak hanya kau, Lian. Kau tahu? Walikota Keios bukanlah ayah kandungku. Orangtuaku sudah meninggal sejak tragedi kebangkitan RP-2. Kita tidak bisa menyalahkan benda tak bernyawa dan tak berperasaan tersebut. Yang seharusnya kita salahkan ialah orang yang membangkitkannya.”


Aku meremas jemariku. Kalimat tersebut seakan ditujukan pada Ibuku.


“Lian, aku ingin kau ikut denganku.” Jora menatapku dengan wajah dingin. Dia terlihat tidak gentar sama sekali.


Aku tidak mau.


“Aku akan membuatmu mengingatnya. Sepahit apapun pengalamanmu, aku akan terus membuatmu mengingatnya. Aku tidak peduli jika pembaca menyebutku seorang antagonis. Aku tidak peduli jika mereka tidak menyukaiku.”


Pukul sebelas malam.


Toko-toko telah tutup dan tidak banyak penduduk yang berada di jalanan. Satu dua kendaraan melintas. Lampu-lampu di pinggir jalan berjejer bagai barisan. Membuat jalan terlihat terang. Aku menggigit bibir. Seakan tahu kemana Jora akan membawaku. Aku meremas jemariku lebih erat. Setiap kali mobil terhenti, aku selalu merasa ketakutan. Takut jika kami telah tiba di tempat tujuan.


Jora sesekali memperhatikanku. Wajahnya terlihat khawatir. Namun dia tetap membulatkan tekadnya. Aku sama sekali tidak bisa menolak ajakannya. Mau bagaimanapun dia sudah banyak membantuku dalam dua tahun ini.


Kami telah tiba di sebuah dataran dengan rumput bagai permadani. Aku tidak tahu jika di Kota Keios ada tempat seperti ini. terdapat jalan setapak yang dialasi bebatuan sungai. Sepanjang jalan tersebut terdapat bunga-bunga yang membuat elok pemandangan. Namun, tubuhku terasa dingin begitu melihat bebatuan yang berjejer rapi di dataran tersebut. Dan masing-masing batu bertuliskan nama seseorang.


Aku mohon, hentikan.


Jora menuju bagian tengah dari dataran ini. Dan...


Aku terjatuh di dekat sebuah nisan. Di sana tertuliskan, Liana. Lengkap dengan tanggal kematiannnya. Hanya saja, tidak ada keterangan tempat lahir. Aku tidak kuasa menahan air mata. Setelah selama ini, aku belum bisa menerima kematiannya. Aku masih belum bisa melepaskannya. Jora hanya menatapku dari kejauhan. Tidak tahu harus mengatakan apa.


Aku tidak ingin Liana mati. Aku ingin melihatnya tersenyum. Aku ingin melihatnya tumbuh dewasa. Aku ingin dia terus hidup.


Perlahan, ingatanku di hari itu mulai kembali. Aku ingat, jika aku memiliki satu janji, bagaimana bisa aku mencoba melupakan kenangan tersebut? Kali ini aku mulai mengingat pesan Ibu. Pesan penting yang juga berusaha kulupakan.  Soal pergi ke kota mati bernama Batana.


“Lian, dengar! Ibu akan memberimu pesan. Terkadang petunjuk bisa datang dari diri kita. Pergilah ke arah utara dan cari kota mati bernama Batana. Temui pria berjanggut tebal dengan tangan besi. Beri pesan jika Zenzen sudah bergerak.”


Aku menangis layaknya seorang bayi. Aku tidak peduli lagi jika orang-orang di sekitarku meledekku atau menganggapku anak kecil. Aku sungguh tidak kuasa menahan seluruh kesedihan ini. Aku ingin mengeluarkannya. Aku ingin melepaskannya.


“Lian, ini pesan terakhir Ibu. Hanya kau yang bisa menyelamatkan dunia. Camkan itu baik-baik! ”


Aku seakan bisa mendengar suara Ibu menggema di sela-sela tangisku.


Sekitar lima menit lamanya aku menangis di dekat pusara tersebut. Aku menyeka ujung mata. Jora mulai berani mendekat. Dia ikut terduduk di sampingku sembari merogoh sesuatu di saku bajunya.


“Kuharap, ini bisa membantu.” Jora menyodorkan sebuah kain dengan bentuk segi tiga. Aku mengenal kain tersebut. Kain tersebut ialah tudung yang dipakai Liana.


Aku menerimanya. Entah mengapa, setelah menangis tadi aku merasa sedikit lega. Mungkin cara tebaik bukanlah melupakan. Melainkan menerima.


Aku memutuskan memberi tahu Jora. Aku memberi tahu pesan penting tersebut. Jora menatapku penuh penghargaan.


“Aku sungguh beterima kasih, Lian. Aku juga minta maaf karena sudah bersikap buruk padamu. Memaksamu untuk mengingat semua kenangan pahitmu.”


Aku mengangguk. “Jora, aku memutuskan untuk mewujudkan kalimat Ibuku. Jadi, aku akan keluar dari kota ini.”


“Kalau begitu,aku akan menyiapkan tim yang akan ikut bersamamu.”


Aku menggeleng. “Aku sudah membuat tim tersebut.”


“Eh, siapa?” Mata Jora membulat.


Aku kembali menuju penjara. Tujuanku ialah bertemu dengan Vero dan Bundara. Aku berharap mereka ada di sana, berniat untuk mengajak mereka bergabung. Aku sampai lupa jika ini sudah malam.


Sayangnya, setiba aku di sana, salah satu prajurit mengatakan jika mereka sudah lama keluar dari penjara. Aku mengusap wajah. Akan sulit mencari mereka di seluruh penjuru kota.


Tiba-tiba aku teringat cerita Bundara. Dia pernah pergi ke gedung informasi Kota Keios untuk mencari ibu kandungnya. Seharusnya tempat tinggal mereka akan terdata di sana. Untung saja, gedung tersebut buka dua puluh empat jam. setiba aku di sana, aku langsung mendapatkan informasi tempat tinggal mereka. Aku memutuskan pergi di hari esok. Ini sudah larut. Aku juga harus mengistirahatkan tubuhku. Aku masih harus mejelaskan perihal rencanaku kepada empat belas prajurit lainnya yang kini tengah berlindung di rumah Ruzdora.


 


 

__ADS_1


__ADS_2