
CTYAR!
Aku terbangun oleh suara petir yang menggelegar membelah langit. Mataku mengerjap-ngerjap. Aku terduduk, memperhatikan sekitar. Aku berada di dalam kamarku. Deru hujan masih terdengar. Memar di punggungku sudah di obati. Aku meringis kesakitan. Berjalan tertatih-tatih menuju dek kapal.
Aku menyeka keringat di dahiku. Mereka tak ada di dek, bahkan Vero tidak terlihat di ruang kemudi. Dimana sebenarnya mereka berada?
“Lian!”
Aku menoleh. Baru saja aku bicarakan, mereka muncul di belakangku. Aku bahkan mengelus dada. Itu sungguh horor. Mereka tiba-tiba muncul sedangkan suasana terasa mencekam.
“Kau baik-baik saja?” Jora bertanya pelan.
Aku mengangguk. Penawar racun tersebut bereaksi dengan cepat. Sekarang yang tersisa rasa sakit di punggungku.
“Kalian habis dari mana?” Kali ini aku yang penasaran. Bertanya lirih.
“Kami sehabis dari ruang penyimpanan. Makanan kita menipis, Lian. Kita sudah terjebak di pulau ini selama dua hari.” Bundara mengeluh.
“Dua hari?” Aku mengernyitkan dahi. Terbelak tidak percaya.
Mereka mengangguk serempak.
Itu artinya badai di luar sana tidak berhenti selama dua hari berturut-turut. Ini sungguh gawat.
“Kalian sudah mencoba menjelajahi pulau tersebut?”
Marko menggeleng. “Kami tidak ingin meninggalkanmu, Kapten. Sewaktu kau pingsan, kondisimu sungguh memprihatinkan. Sesekali tubuhmu kejang, panasmu meninggi sangat drastis, tangan dan kaki kaku. Racun hewan itu sangat berbahaya, membuat kami tidak bisa meninggalkanmu.”
Aku menghela nafas. “Terima kasih karena kalian semua menolongku.”
Vero merangkul leherku. Mengacak kasar rambutku. “Itulah guna seorang teman, Sobat. Kita saling melengkapi di waktu sulit.” Vero tertawa.
“Hentikan! Itu tidak sopan!” Marko keberatan.
Seperti biasa, nyaris tidak ada hari tanpa pertengkaran mereka. Aku hanya menatap dalam diam. Urusan melerai biarkan Jora dan Bundara yang menangani. Hingga badai di luar sana mengingatkanku soal pulau tempat kita berlabuh.
“Vero, apakah pulau itu berada di garis tujuan kita?”
Vero terhenti. “Eh, iya kalau tidak salah.”
“Kalau begitu, aku ingin memeriksa pulau tersebut.”
“Kau yakin, Lian? Di luar sana sedang badai, kau juga baru pulih.” Jora berseru keberatan.
Aku terdiam sejenak. Menatap mereka dengan wajah serius. “Kita tidak bisa melewatkan petunjuk apapun. Bisa saja di pulau tersebut terdapat tempat bernama Batana. Kita tidak akan tahu jika tidak memeriksanya. Aku juga merasa baik-baik saja. Siapa tahu kita juga bisa bertemu seseorang di sana dan meminta mereka untuk memperbaiki beberapa kerusakan di kapal kita. Tapi, aku tidak menyarankan kalian semua ikut. Dua orang harus tinggal di sini untuk menjaga kapal.”
Petir kembali menggelegar. Membuat kami semua terdiam.
“Baiklah, jika itu perintah Lian, kami akan setuju.” Bundara yang menjawab. Disusul anggukan yang lainnya.
“Kalau begitu, untuk dua orang yang tinggal di sini Vero dan Jora. Sisanya akan ikut bersamaku.”
“Eh, kenapa a..” Jora berseru tertahan.
“Ini perintahku.” Aku menatap tajam ke arahnya.
Dia mengeluh. Mengembungkan wajahnya lantas duduk di bangku penumpang.
“Vero, jika terjadi sesuatu di dalam pulau, kau mengerti apa yang harus kau lakukan, kan?”
__ADS_1
Vero menelah ludah. Mengangguk pelan.
Aku, Bundara, dan Marko bergegas untuk bersiap-siap. Kami mengenakan pakaian lengkap. Untungnya kapal tidak berlabuh terlalu jauh dari pulau. Kami tidak perlu repot-repot untuk berenang. Hujan masih deras, angin bertiup kencang. Petir kembali menggelegar, membuat sekitar kami berpendar sesaat. Aku sungguh tidak bisa mengira jika badai ini tidak berhenti selama dua hari berturut-turut.
Kami tidak menyalakan mode nigt vision pada helm kami. Cahaya petir akan mengganggu penglihatan kami. Jadilah kami hanya berbekal senter yang tertanam di senapan sebagai penerangan. Kami telah sampai di tepi pantai. Tak ada satupun kapal atau perahu yang berlabuh di pesisir pantai. Apakah pulau ini tak berpenghuni? Kita akan tahu jawabannya jika memeriksa pulau ini lebih dalam.
Kami menelusuri pantai. Hujan deras sedikit mengganggu penglihatan dan langkah kami. Namun hal ini tidak akan menyurutkan niatku. Kami terus berjalan. Hingga pandanganku tertuju pada sebuah rumah yang sudah setengah hancur. Kami bergegas memasuki rumah tersebut. Hening. Tak ada siapapun di dalam sana. Kecuali seekor tikus yang berlari ke sana kemari.
“Jika ada rumah seperti ini, kemungkinan pulau ini berpenghuni, Kapten!” Marko mengutarakan pendapatnya.
Aku mengangguk. Kami kembali berjalan. Mencari rumah lainnya. Benar saja, sekitar sepuluh meter, kami melihat sebuah rumah tingkat. Setidaknya rumah tersebut masih utuh. Kami berlari menerobos derasnya hujan. Hingga kami tiba di pelataran rumah tersebut. Bergegas memasukinya.
Beberapa tikus menyambut kami. Mereka berlari ke sana kemari. Aku terus memasuki rumah tersebut. Di dalamnya sungguh berantakan. Terdapat foto-foto dan perabotan yang telah usang. Aku memeriksa beberapa alat dan dokumen-dokumen yang tergeletak sembarang. Bundara mengambil salah satu foto. Di dalamnya terdapat seorang gadis berusia lima tahun dengan kedua orang tuanya. Bundara kembali meletakkan foto itu. Lantas menyusulku yang telah melangkah menuju lantai dua.
Kami melangkah dengan sangat hati-hati. Petir kembali menggelegar. Membuat suasana semakin mencekam. Beberapa serangga merayap di atap-atap rumah yang telah berlubang di sana sini. Kami terus memeriksa satu persatu ruangan. Setiap kali kami membuka satu pintu, pintu tersebut akan mengeluarkan suara berderit.
Kini kami berada di ruang keluarga. Aku mendekati sebuah perapian. Jongkok di depannya sembari meletakkan tanganku di atas arang. Ini mengejutkan! Arang tersebut masih hangat, yang itu artinya seseorang baru saja menggunakannya. Aku memutuskan untuk memeriksa ruangan lainnya. Hingga kami menemukan sesuatu yang sungguh mengejutkan.
Seseorang tengah duduk di atas kursi goyang. Kami sontak menodongkan senjata. Di ruangan tersebut terdapat jendela yang terbuka, membuat hujan membasahi lantai. Kami mendekati sosok itu. Astaga, itu adalah mayat! Aku nyaris terjatuh saking kagetnya. Bundara berteriak dengan suara keras, Marko beringsut mundur. Mayat tersebut terlihat sangat mengerikan. Wajahya dipenuhi luka cakaran. Mulutnya menganga, tangannya memegangi lehernya.
“Kapten, apa yang terjadi di pulau ini?” Marko bertanya cemas.
“Apakah ini perbuatan RP-2?” Bundara ikut bertanya.
Aku menggeleng. “Bukan, ini perbuatan manusia.”
Kami bergegas keluar dari rumah tersebut. Tak sengaja, kami melihat siluet hitam dari kejauhan. Tidak begitu jelas. Hujan lebat menghalangi pandangan kami. Hingga petir membuat sekitar terang sesaat. Jelas sudah wujud siluet hitam itu. Siluet hitam tersebut adalah seorang manusia. Kami bergegas menghampirinya sembari menodongkan senapan. Sosok itu adalah seorang pria. Dia terlihat pucat. Mengenakan masker dengan pakaian yang telah compang-camping. Warna matanya merah dengan kantung mata kehitaman.
“Akhirnya...Akhirnya.” Sosok tersebut berujar lirih. Dia berlari mendekati kami.
“Siapa kau?” Aku bertanya lebih dulu.
“To...Tolong saya. Saya sudah terjebak di pulau ini selama seminggu.” Suaranya terdengar bergetar. Nafasnya tersendat-sendat.
“Kita dengarkan dulu penjelasan orang ini.” Aku memberi perintah.
“Kalau begitu, aku... Aku punya aman... Maksudku tempat aman.” Ujar sosok itu dengan gagap.
Kami mengikuti langkahnya. Tidak terlalu jauh, kami hanya berjalan kaki selama lima menit. Kami tiba di sebuah gua. Terdapat api unggun di dalamnya. Dia menyuruh kami untuk duduk. Mataku tetap awas, semisalnya ini adalah jebakan, aku harus menemukan celah bagi kami untuk melawan atau kabur.
“Aku...Aku cerita akan apa yang terjadi...kami enam jumlahnya. Badai...” Kalimatnya patah-patah. Membuat kami kesulitan mencernanya.
Pria itu menunjuk langit dengan tangannya yang bergetar. “Enam kami semua jumlah... Pesawat jatuh. Kami hidup, hidup bertahan... Tapi mati semua karena... karena mereka.”
Aku mengeluh. Sulit sekali memahami kalimatnya yang gelagapan.
“Semua mati... semua mati...kkhhhh. aku hidup sendiri...”
“Lian, ada yang aneh dengan orang ini.” Bundara berbisik di dekatku.
Bundara benar. Kalimat orang ini sangat belepotan. Suaranya serak dan tangannya bergetar. Apakah dia sedang mengalami trauma atau semacamnya?
“Maaf, kami tidak terlalu mengerti ucapanmu. Bisakah kau tenang sejenak?” Aku mencoba menenangkannya.
Dia mengangguk. “Kami, ada yang aneh kepala. Di dalam ada... Ada sesuatu aneh. Aku apa tidak tahu. Saya bingung. Sakit aneh rasanya. Seperti... ada bengkak.”
Marko menepuk helmnya. Aku tahu apa yang dia rasakan. Kalimat pria ini bukannya semakin membaik malah semakin berantakan.
Pria itu semakin menunjukkan reaksi yang janggal. Sesekali bola matanya melirik kesana kemari. Dia menggaruk-garuk kepalanya. Membuat rambutnya rontok berjatuhan. Sejatinya, sangat menyeramkan melihat tampangnya. Aku mulai curiga ini bukan suatu trauma. Jangan-jangan, ini yang dikatakan Ibu dulu. Soal orang-orang yang terkena radiasi.
__ADS_1
“Ada banyak... teriak semua pokoknya. Aku ketakutan sekali sangat pokoknya. Aku tolong bawa... Bawa aku keluar maksudku. Dari ini pulau mengerikan...”
Pria itu kini menoleh ke kanan dan ke kiri. Kakinya bergerak-gerak. Kami mulai merasa tidak enak. Hingga terdengar suara seseorang berteriak dari luar goa. Teriakan itu disusul dengan suara petir. Membuat kami semua terkejut. Serempak berdiri dan hendak menyaksikan hal apa yang ada di luar sana. Namun pria itu mencegatku, memegangi lenganku sembari menggelengkan kepalanya.
“Ja... Jangan.” Suaranya mulai terdengar menggeram.
Aku mulai resah. Bundara bahkan melepaskan genggaman orang itu dari lenganku. Marko menodongkan senjatanya ke arahnya.
“Ja...krrr”
Ada apa dengan orang ini? Kini dia mengeluarkan suara-suara aneh. pria itu tertunduk. Tangannya bergetar lebih kencang. Dan...
“ARGHHHH!”
Pria itu menyerang Marko secara tiba-tiba. Marko yang belum siap dengan serangan mendadak tersebut terjatuh. Aku dan Bundara segera menolongnya. Pria itu berusaha membuka helm Marko. Dengan cepat Bundara melempar pria itu. Dia terjatuh dan menabrak dinding gua. Marko mengaduh kesakitan. Hampir saja helmnya terbuka.
Kukira pria itu akan pingsan akibat benturan keras, tapi aku salah. Pria itu kembali bangkit dan hendak menyerang kami. Aku menodongkan senjataku dan hendak menekan pelatuk. Namun, tanganku mendadak kaku. Aku tidak bisa membunuh manusia. Aku putuskan untuk membuatnya tak sadarkan diri. Memukul kepalanya menggunakan moncong senapanku.
Kami kembali mendengar suara teriakan dari luar gua. Suaranya susul menyusul.
“Kita harus segera meninggalkan tempat ini!” Aku memberi perintah.
“Tapi, bagaimana dengan pria ini, Kapten?” Marko bertanya pelan.
“Dia sudah tak tertolong!” Aku menjawab singkat. Soal penjelasan, nanti saja akan aku beri tahu. Saat ini kami harus bergegas keluar dari pulau ini.
Begitu kami keluar dari gua, sekumpulan orang menyerang kami. Mereka begitu agresif. Aku tidak bisa melepaskan tembakan ke arah mereka. Aku hanya bisa melawan dengan tinjuan dan tendangan. Mau bagaimanapun mereka adalah manusia.
Beeberapa dari mereka mencoba melepas helm kami. Aku sangat kesulitan menangkis serangan mereka yang gesit. Hujan menghalangi pandanganku. Marko menggunakan jurus andalannya, sedang Bundara mengandalkan fisiknya. Kami terus menerobos kumpulan manusia yang sudah tidak memiliki akal. Alias otak mereka telah rusak akibat radiasi.
Aku menyimpulkan demikian lantaran pulau ini sedikit membentuk cekungan. Walau tidak bisa melihat keseluruhan dari pulau ini namun aku bisa merasakan dari kemiringan serta tekstur tanah. Kemungkinan besar pulau ini pernah dibom bardir oleh bom nuklir.
Salah satu dari mereka melompat ke arahku. Pijakanku tidak mantap, membuatku tergelincir, terjatuh dan terguling. Sekitar delapan orang mengepungku. Mereka berteriak layaknya orang gila. Mencakar-cakar lengan dan tubuhku. Marko dan Bundara sama-sama terdesak. Mereka berdua tidak bisa membantuku.
Aku terus berlindung dari cakaran dan pukulan mereka. Sialnya, aku benar-benar tidak berani melepaskan tembakan. Petir menggelagar, membuat wajah mereka yang menyeramkan terlihat jelas walau sesaat. Aku menggigit bibir. Menepis setiap serangan mereka.
Aku memutuskan menggunakan senapanku. Namun bukan untuk menembak, melainkan untuk memukul mereka sampai pingsan. Setidaknya mereka masih empat puluh persen manusia. Berhasil! Satu persatu pingsan terkena pukulan senjataku. Aku mendekati Marko dan Bundara untuk membantu mereka.
Kami kembali berlari menuju kapal. Sekitar lima orang mengejar kami. Aku dengan cepat menghindar setiap kali mereka melompat untuk menangkap tubuhku. Setiap kali ada yang menghadangku, aku akan melepaskan pukulan ke arah kepala mereka.
Kami telah tiba di dekat kapal. Namun, air membuat langkah kami terhambat. Anehnya, hal ini tidak mempengaruhi kecepatan orang-orang itu. Mereka dengan santainya berlari mengejar kami walau di dalam air. Salah satu dari mereka menerkamku. Membuatku terjerembap ke dalam air. Leherku di cekik dan helmku di bentur-benturkan ke batu karang. Aku berteriak. Mengerahkan segala kekuatanku. Detik-detik sebelum aku kehabisan nafas, aku meninju hidung sosok tersebut. Dan dengan cepat kembali berlari menuju kapal.
Kami tiba di kapal dan bergegas memasukinya. Vero dan Jora yang tidak mengerti situasinya melontarkan pertanyaan kepada kami.
“Apa yang terjadi? Kalian seperti orang yang baru saja dikejar orang gila.”
Aku mengeluh. Nafasku tersengal. “Cepat tinggalkan pulau ini!”
“Eh, tapi badainya...”
“CEPAT!” Aku memotong pertanyaan Vero.
Dia bergegas menuju ruang kemudi. Aku masih bisa melihat kerumunan orang-orang itu berusaha mengejar kami. Dan mereka berakhir tragis. Tenggelam di tengah amukan badai.
“Tadi itu apa?”Jora yang sempat memperhatikan kumpulan orang-orang aneh itu bertanya pelan.
“Mereka orang-orang yang terkena dampak radiasi. Sel di otak mereka mati dan membuat mereka cenderung berperilaku layaknya orang gila. Bahkan jika parah, mereka bisa seperti binatang buas.” Aku menjawab pertanyaan di sela-sela nafasku yang tersengal.
Bundara dan Marko melepaskan helm mereka. Lantas duduk di atas bangku penumpang. Wajah mereka sangat pucat. Jora segera mengambil air. Ketegangan kami belum selesai, kami masih punya satu urusan yang harus kami hadapi. Badai yang kini kembali kami hadapi.
__ADS_1