
“Zenzen! Ada masalah genting!”
Aku terbangun. Mendapati Agia tengah duduk tepat di depan jendela. Hari masih gelap. Sepertinya ini tepat tengah malam. Aku mengusap mataku yang masih terasa berat.
“Ada apa, sih? Kenapa kau membangunkanku tengah malam begini?” Aku mengusap rambutku yang berantakan.
“Zen, ini sangat serius. Kudeta mengajak kita semua untuk berkumpul.”
“Apa?” Aku yang masih setengah tertidur melotot begitu mendengar kabar itu.
Bulan purnama bersinar elok. Namun awan menutupi rasi bintang yang tersembunyi di baliknya. Malam ini udara terasa sangat dingin, membuat kepulan embun di setiap helaan nafas. Kami berdua berlari secepat mungkin. Jika Kudeta memanggil dengan keadaan seperti ini, aku yakin ada suatu masalah yang sangat serius.
Kami tiba sekitar lima belas menit kemudian. Nafasku tersengal dan keringat mengucur dengan deras. Tampaknya anggota yang lain telah berkumpul lebih dulu. Aku dan Agia bergegas masuk ke dalam ruangan.
“Kenapa di saat keadaan seperti ini? Padahal baru saja aku merasakan kejayaan kita ada di depan mata.” Keluh Droid di tengah perbincangan.
“Ada apa?” Aku bercelutuk. Mencoba ikut bergabung dalam pembicaraan.
“Ah, Zenzen. Kau sudah datang rupanya. Kita punya masalah serius. Sepertinya kita tidak akan biasa meneruskan proyek kita.” Jawab Droid dengan nada sedih.
Eh? Apa maksudnya?
“Kemarin aku mendengar kabar burung jika area ini akan diratakan dan dijadikan kawasan elit. Kalau tidak salah beberapa arsitek sudah mendatangi tempat ini bersama para pekerja. Aku menyaksikannya sendiri saat tengah membeli beberapa barang di pasar gelap.” Songmin menambahkan.
“Kalau begini kita tidak akan pernah bisa mencuri lagi. Aksi kita akan mudah diketahui. Ditambah lagi kita hanya mencuri di bagian pelosok. Jika tempat ini berubah menjadi kawasan elit, itu terlalu memicu perhatian banyak orang. Kita akan dengan mudah diketahui dan ditangkap.” Kudeta menambahkan.
__ADS_1
Seketika seluruh ruangan ramai. Mereka semua berseru tidak terima.
“Apa lagi yang sebenarnya mereka inginkan, sih? Apa tidak cukup bagi mereka yang sudah memiliki kawasan elit di pusat kota. Kenapa masih saja menambah penderitaan kita? Apa perlu aku bunuh satu persatu orang-orang sialan itu?” Badas berseru-seru. Dia jelas yang paling keberatan di antara kita.
“Kita tidak bisa tinggal diam, Kudeta. Mungkin kita bisa menggerakkan massa untuk menentang proyek tersebut. Seperti yang kita lakukan sebelumnya, kita ini pencuri, kita ini seorang penipu. Tentu menipu massa akan sangat mudah, kan?” Anggar memberi saran.
Ruangan hening sejenak. Entah mengapa Kudeta lebih banyak diam. Aku juga tidak tahu harus berkata apa. Pikiranku benar-benar kosong. Rasanya baru kemarin aku bergabung dengan mereka dan menikmati kebersamaanku dengan mereka. Tapi hari ini semua itu seakan direbut dariku.
“Ini adalah sesuatu yang tidak bisa diselesaikan oleh seseorang seperti kita.” Kudeta berujar lirih.
“Jadi kau akan menyerah begitu saja?” Songmin berseru tertahan.
“Tidak, Kudeta benar. Ini adalah sesuatu yang tidak bisa diselesaikan oleh orang-orang seperti kita.” Aku meremas jemariku. “Kita tidak punya kekuasaan apalagi hak untuk menentang mereka yang berada jauh di atas kita. Satu-satunya cara agar kita bisa selamat dari situasi ini adalah pindah dari daerah kumuh ini.”
“Hei, yang benar saja? Pindah? Kau pikir akan semudah itu?” Seru Badas dengan tatapan tajam.
“Kau sudah gilah, hah?” Badas berseru marah. Aku yakin dia masih sangat membenciku.
“BADAS, DIAMLAH!” Kudeta beseru dengan suara lantang.
Untuk pertama kalinya kami semua mendengar Kudeta berteriak seperti itu. Kudeta yang aku kenal selalu santai dan tenang di tengah situasi apapun. Tapi hari ini jelas adalah sesuatu yang tidak akan bisa kita selesaikan. Terutama masih ada rumor tentang kami yang tersebar. Jika kita salah mengambil langkah, itu sama saja dengan kita menginjak padang yang berduri.
Ruangan hening. Semua wajah tertunduk.
“Semua yang dikatakan Zenzen benar. Kita tidak bisa terus menerus mencuri dan berulah. Mulai malam ini kelompok kita harus bubar. Uang yang kita kumpulkan sudah melebihi ekspetasi. Cukup bagi kalian untuk menunjang hidup dan melakukan semua yang kalian inginkan. Badas, kau bisa menjadi seorang atlet seperti yang kau impikan. Songmin, jadilah model dan lakukan operasi untuk menutupi luka yang ada di punggungmu. Anggar, teruskan pendidikanmu yang sempat berhenti itu. Kau bisa mendaftar di sekolah khusus dengan orang-orang yang bisa menerima keberadaanmu. Droid, jadilah seorang ahli komputer, bukalah bengkel elektronik. Agia, kau bisa melakukan pertunjukan sulap dengan trik-trikmu. Dan Zenzen, kau bisa pergi kemanapun dengan kakakmu.” Kudeta hanya menunduk.
__ADS_1
Mereka semua mulai terisak. Mau bagaimanapun mereka sudah bersama sejak kecil. Sedangkan aku sangat baru di anggota ini. Tentu saja hari-hari mereka lebih berkesan dibandingkan hari-hari mereka denganku.
Malam itu kelompok kami resmi bubar. Helaan nafas dan desahan kekecewaan tidak henti-hentinya mengalir disetiap langkahku. Kami hanya bisa pasrah dan menerima keputusan Kudeta. Sesuai kesepakatan, Kudeta membagikan uang dari hasil curian yang kami kumpulkan malam ini secara merata.
Agia hanya membisu sepanjang perjalanan. Aku yakin dia sama sedihnya dengan yang lainnya. Agia tidak pernah memiliki keluarga. Baginya merekalah keluarganya. Tempat untuk dia pulang. Baginya merekalah kehidupannya. Kenyataan itulah yang membuatnya sangat terpukul.
“Apa rencanamu selanjutnya, Agia?” Aku bertanya lebih dulu.
“Aku tidak tahu. Aku tidak bisa memikirkan apapun.”
Aku menyilangkan tanganku di belakang kepala. Mendongak menatap langit. “Kau mau ikut pergi denganku dan Kak Ikai?”
“Memangnya kau mau pergi kemana? Kau sendiri yang bilang jika pindah akan menjadi sangat sulit.”
Langkahku terhenti. “Setelahku pikir-pikir sepertinya ada cara lain. Aku ingin pergi ke tempat antah berantah dengan kakakku. Ke tempat dimana aku tidak memiliki tetangga. Tempat dimana aku bisa berlarian dengan bebas. Ke tempat dimana aku bisa memandang langit tanpa adanya kabut. Bukannya ada tempat seperti itu di dunia ini? Kak Ikai tidak perlu lagi mengurung diri di dalam kamar sembari memandang ke arah luar melalui jendela kecilnya. Tidak ada lagi yang akan mengganggu kehidupan kita. Tidak ada lagi orang-orang yang berdiri di atas kita. Setidaknya tempat seperti itulah yang inginku cari.”
Agia tersenyum tipis. “Apa benar aku bisa pergi ke tempat seperti itu?”
“Tentu saja bisa.”
“Baiklah, aku akan ikut denganmu. Aku juga tidak tahu harus diapakan uang yang aku dapatkan. Tapi jangan sampai kau menyalahkanku jika kakakmu akan sering bertengkar denganku.”
Aku mengacungkan jempol.
__ADS_1