Kehancuran Batana

Kehancuran Batana
KEBOHONGAN ZENZEN 3


__ADS_3

“Itu sungguh luar biasa, Nak.” Seru Ador dengan wajah gembira.


Aku hanya menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Kukira dia akan marah. Aku benar-benar tidak sadar tadi. Begitu aku sadar robot tersebut sudah hancur dan berserakan di lantai.


“Bagaimana caramu melakukannya? Apa kau tidak takut sama sekali?”


Aku memutar bola mataku. Entahlah, aku tidak terlalu ingat.


Ador berdehem sejenak. “Kalau begitu cukup untuk simulasi hari ini. Karena Zenzen sudah melalui semua tingkatan level, aku tidak akan menyuruhnya untuk kembali ke arena tadi. Bisa-bisa semua bonekaku hancur sebelum kalian semua berhasil memulai tes tersebut. Kembalilah ke kamar kalian dan beristirahat. Aku sungguh mengapresiasi usaha dan keseriusan kalian semua dalam melalui tantangan ini. Kalian semua adalah murid dan anak didik kebanggaanku.”


Kami mulai beringsut. Samar-samar aku bisa mendegar bisikan negatif tentangku dari anak-anak lainnya. Tapi apa peduli aku. Aku hanya menganggap bisikan-bisikan tersebut seperti kicauan burung di pagi hari.


Malam menjelang. Aku duduk di pinggir lapangan. Bulan berbentuk setengah lingkaran yang tergantung di angkasa. Formasi bintang tampak menggurat elok angkasa yang menawan. Jika beruntung, aku bisa menyaksikan bintang jatuh. Awan mengambang tertiup angin malam yang berhembus pelan. Udara tidak terlalu dingin. Atau mungkin aku yang sudah tidak bisa lagi merasakan dinginnya malam dan panasnya siang.


Sebenarnya aku sudah tertidur tadi. Namun beberapa bisikan anak-anak mengenaiku membuatku terbangun. Saat aku kembali memejamkan mata, aku sadar jika aku tidak bisa lagi tertidur. Mereka mengatakan jika Ador pilih kasih lah atau komentar-komentar buruk lainnya. Apa yang salah dariku? Toh diriku ini hanyalah sebagai inang dari tubuh bionik buatan Ador.


Setelah puas menatap langit malam, aku memutuskan untuk kembali ke kamar. Tidak, sejatinya malam ini aku berniat untuk mencari tahu ruangan terlarang yang tidak boleh dimasuki siapapun. Ada satu cara yang aku ketahui. Ventilasi. Tempat itu satu-satunya area yang tidak bisa dijangkau oleh CCTV. Kemarin saat aku berkeliling, aku mendapati beberapa titik yang memiliki ventilasi. Salah satunya adalah kamar mandi.


Aku sudah merencanakan hal ini sebelumnya. Jika aku bisa menuju tempat itu kurang dari lima belas menit, ada kemungkinan aku tidak akan dicurigai. Lima belas menit adalah waktu rata-rata seseorang berada di kamar madi. Hei! Walau aku seorang cyborg tentu saja organ pencernaanku masih berfungsi dengan baik. Kalau tidak begitu makanan yang telah kukonsumsi berakhir... Ah, sudahlah. Tidak perlu aku bahas sejauh itu. Kalian pikirkanlah sendiri. Tidak harus aku yang menjelaskan semuanya.


Aku menuju ke kamar mandi yang letaknya di sudut gedung ini. Lokasi kamar mandi tidak terlalu jauh dari kamar tidur. Aku harus berjalan setenang mungkin agar tidak menimbulkan kegaduhan atau membuat seseorang terbangun dari tidurnya.


Aku mengunci pintu kamar mandi agar siapapun tidak bisa memasukinya saat aku tengah pergi. Aku naik ke atas closet dan mulai membuka baut ventilasi. Mudah sekali membukanya menggunakan tangan bionik ini. Kau hanya perlu memberi perintah melalui pikiran dan alat bantu ini akan bekerja dengan sendirinya. Aku membuka baut tersebut satu persatu. Untuk membuka ventilasi aku membutuhkan waktu sekitar satu menit. Itu artinya aku harus kembali ke kamar mandi ini sebelum tiga belas menit berakhir. Karena menit terakhir akan kugunakan untuk memasang kembali baut-baut tersebut.


Aku mulai beranjak masuk. Aku mempelajari beberapa tehnik memanjat saat dulu menjadi seorang pencuri. Anggarlah yang mengajariku. Walau saat ini aku menggunakan tubuh bionik, tetap saja hal itu tidak semudah yang kalian pikirkan, ini lebih sulit dibandingkan saat simulasi dengan boneka-boneka konyol tersebut. Aku harus bergerak sepelan mungkin dan tidak menimbulkan suara.


Aku merangkak perlahan. Beberapa ruangan telah aku lewati. Anak-anak yang lainnya masih tertidur. Setidaknya aku masih aman sekarang. Aku harus segera menuju ruangan terlarang tersebut sebelum waktu yang telah kutentukan habis. Lewat sepersekian detik saja,  akan menjadi kuburan yang aku ciptakan sendiri.


Lima menit terlampaui, aku berhasil tiba di tempat tujuan tanpa diketahui. Itu artinya tersisa sembilan menit lagi. Aku mengintip dari celah-celah ventilasi. Ruangan itu dipenuhi dengan berbagai peralatan. Selain peralatan terdapat pula robot-robot yang tidak kumengerti fungsinya. Yang jelas Ador tidak mungkin menyembunyikan benda-benda itu jika tidak berbahaya. Hingga mataku menangkap salah satu objek yang menarik. Sebuah benda berbentuk kubus. Kubus tersebut diletakkan dalam sebuah tabung kaca. Kubus itu bersinar elok bak sebuah lampion. Terdapat ukiran berbentuk garis yang saling membetuk pola heksagon pada permukaannya. Cahaya jingga terangnya menyinari setengah ruangan. Terdapat beberapa kabel tak beraturan yang terpasang pada kubus tersebut. Apakah itu semacam sumber energi atau sebuah baterai? Yang jelas aku memiliki firasat jika benda itu bisa membantuku untuk menjalankan rencanaku.


CESSS.


Aku mendengar sebuah pintu berdesis. Sepertinya seseorang baru saja keluar dari kamar. Aku bisa mengetahui datangnya asal suara melalui gema yang ada di dalam ventilasi. Sial! Aku harus segera kembali walau sisa waktuku masih lama. Aku bergerak dengan cepat dengan tetap tidak menimbulkan suara yang bisa memancing kecurigaan seluruh penduduk gedung laboratorium ini.


Aku bisa menyaksikan kemana anak yang berjalan itu pergi. Sepertinya dia mengarah ke kamar mandi. Aku mempercepat lajuku. Jantungku berdegup dengan kencang dan keringatku bercucuran dengan deras.


Tepat waktu! Aku tiba lebih dulu dari anak tersebut. Bergegas menutup ventilasi sembari menyalakan keran agar suara baut-baut yang sedang kupasang tidak terdengar. Jika dugaanku benar anak itu pasti sudah berada di depan pintu kamar mandi dan melihat kunci pintu yang berwarna merah. Menandakan seseorang tengah menggunakan kamar mandi. Tepat ketika baut terakhir terpasang dengan baik dan benar, aku menekan tombol flush pada closet. Menyiram wajahku dengan air agar aku tidak tampak berkeringat. Lantas membuka pintu kamar madi.


Bastian. Dialah anak yang berdiri di hadapanku. Kami bertatapan sejenak. Bastian tampak curiga kepadaku.

__ADS_1


“Kau tidak mau menggunakan toiletnya?” Aku menawarkan.


Dia terdiam sejenak. Lantas menghela nafas panjang. Aku mulai beringsut meninggalkannya.


“Hei, kau.”


Langkahku terhenti. Bastian baru saja memanggilku. Jantungku berdegup dengan kencang. Aku berusaha menenangkan diriku. Akan terlihat mencurigakan jika aku memasang wajah kaku. Aku menarik nafas panjang. Berbalik dan kembali menatap ke arahnya. Sebisa mungkin bersikap natural.


“Apa?” Tanyaku dengan santai.


Hening sejenak. Tatapan kami saling beradu.


“Aku tidak akan kalah darimu. Akan aku buktikan jika aku lebih hebat darimu walau kaki bionikku tidak sehebat milikmu.”


Aku mengerjap. Lantas tersenyum menyeringai. “Terima kasih atas pujiannya.”


Aku berlalu dan meninggalkannya yang berseru tidak terima.


“Siapa juga yang memujimu, Bocah!”


Aku hanya melambaikan tangan tidak peduli.


 


 


 


 


Hari esok berjalan dengan sangat buruk.


Pagi menjelang. Aku bangun tepat sebelum jam makan. Kuputuskan untuk berlari sejenak di lapangan guna melatih reflek dan mengasah tubuh bionikku. Embun pagi menempel di ujung-ujung rumput lapangan. Udara pagi menerpa wajah dan rambutku. Sudah sejak lama aku tidak mengenakan masker. Bahkan sebelum aku bergabung dengan kelompok pencuri. Namun baru kali ini aku merasakan udara sesegar ini. Mungkin karena tempat ini bukan berada di area kumuh.


Aku masih belum tahu dengan tepat letak laboratorium milik Ador ini. Walau lapangan tengah merupakan lapangan terbuka tanpa atap, aku tetap tidak bisa melihat adanya gedung ataupun bangunan di sekitar kami. Mungkin jarak antara laboratorium ini dengan gedung-gedung lainnya terpisah lumayan jauh. Ketika aku mendongak ke atas, aku hanya bisa menyaksikan langit biru yang membentang luas dengan awan putih bak kapas lembut.


Bel telah berbunyi. Menandakan waktu sarapan. Anak-anak berhamburan keluar dari kamar masing-masing. Mulai menuju ruangan yang tampak seperti kantin walau tidak luas. Kami semua berbaris untuk mengantri mendapatkan makanan.


Namun kesialan itu terjadi. Ketika aku telah usai mengambil jatahku, dua orang anak yang setahun lebih tua dariku menyenggol bahuku dan nyaris membuat tanganku tergelincir dan menjatuhkan makananku. Untung saja aku reflek memantapkan peganganku. Sengaja betul mereka melakukannya. Aku nyaris berseru marah dan hendak protes. Tapi aku urung. Bisa-bisa image ku sebagi anak yang baik hilang begitu saja.

__ADS_1


Seusai makan beberapa anak mulai bermain di lapangan. Aku hanya duduk diam di pinggir lapangan sembari menatap tajam ke arah mereka. Sial! Aku yakin mereka semua kompak ingin mengucilkanku. Aku harus mencari cara agar mereka berhenti berbuat sepeti itu padaku.


Saat yang tepat! Aku melihat Ador tengah melintasi lorong di pinggir lapangan. Aku bergegas lari ke arah kerumunan anak-anak yang tengah bermain di lapangan.


“Halo, Kak. Bolehkah aku bergabung?”


Gerakan mereka terhenti. Ada sekitar tujuh anak yang tengah bermain. Sedangkan sisanya berada di sisi lapangan. Ketiga orang yang di pinggir lapangan adalah yang paling senior di antara kami. Dan salah satunya Bastian. Melihatku mendekat, ketiga orang yang di sisi lapangan mendekatiku dan mencoba untuk mencegahku bergabung.


“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Bastian dengan nada ketus.


Aku menghela nafas panjang. “Seharusnya aku yang harus bertanya kepadamu. Apa salahnya jika aku bergabung dan bermain dengan kalian?”


Suasana mulai menegang. Aku dan Bastian saling berhadapan. Anak-anak lain tentunya lebih memihak Bastian. Namun tujuanku memprovokasi mereka bukanlah karena hal itu melainkan untuk hal lain.


“Ada apa ini?” Ador yang dari tadi melihat ketegangan di antara kami datang dan bercelutuk. Seketika kami semua menunduk hormat ke arahnya.


“Sepertinya aku tahu apa yang telah terjadi. Kalian semua pasti menganggap aku melakukan perlakuan yang spesial kepada Zenzen.”


Semua anak terdiam. Termasuk Bastian.


“Kalau begitu akan aku beri tahu alasannya. Zenzen mengalami luka bakar parah di sekujur tubuhnya di tambah lagi dia kehilangan tangan dan kakinya. Saat aku menemukannya dia banyak kehilangan darah dan nyaris tewas. Aku tidak menceritakannya kepada kalian semua karena aku takut kalian hanya akan teringat kembali dengan masa lalu kalian. Tapi hari ini kalian semua yang memaksaku menceritakan kejadian di hari itu.” Ador tampak serius. Nada bicaranya terdengar tegas dan sedikit emosi.


“Sebelum memberi Zenzen tubuh bionik itu, aku sudah lebih dulu membuatkannya tubuh bionik yang serupa dengan kalian. Namun tubuh itu tidak mampu untuk menopang kehidupannya. Dia bahkan nyaris mati karena sedikit kesalahanku. Aku memutuskan untuk menganalisis apa letak kesalahanku. Aku mencoba mencari cara untuk membuatnya terus bertahan. Aku terus menerus mencari tahu, membuat sesuatu yang baru, dan melakukan riset pada peralatanku. Akhirnya kutemukan tubuh bionik yang cocok dengannya dan mampu membuatnya bertahan hidup. Jadi jangan anggap aku melakukan perlakuan spesial hanya pada Zenzen.”


Semua anak menunduk. Tampaknya mereka salah paham dengan Ador selama ini.


“Justru kalianlah yang seharusnya bersyukur. Kalian hanya kehilangan satu dua bagian dari anggota tubuh kalian. Kenapa pula kalian harus iri dengannya? Ah, soal di arena simulasi. Itu murni merupakan kekuatan Zenzen. Kalian tahu apa pemicunya? Itu karena Zenzen tidak memikirkan apapun selama di arena. Dia tetap tenang dan fokus. Padahal di antara kalian semua, Zenzenlah yang memiliki kenangan paling pahit. Tapi dia mampu melalui semua itu. Melupakan memori kelam itu seperti menghapus sebuah file yang berada di dalam komputer. Dia tidak membiarkan ingatan-ingatan itu mengalir. Namun membiarkan ambisi besarnya mengalir seperti air terjun. Dari situlah tercipta kekuatan yang tidak pernah kalian sadari. Kalian lebih banyak mengeluh dan memikirkan orang lain. Ah, sejujurnya aku juga tidak pantas mengatakan hal ini karena aku tidak pernah mengalami hal yang kalian semua alami. Mungkin kalian semua akan lebih mengerti jika aku mengalami hal yang sama dengan kalian.”


Ador mendesah kecewa. “Kalau kalian masih tidak terima dengan semua ucapanku, bagaimana jika kalian melakukan sedikit pembuktian. Namun untuk intensitas perangkat milik Zenzen akan aku sederhanakan dan aku samakan dengan milik kalian semua. Kalian hanya cukup melakukan perlombaan lari mengitari lapangan ini. Siapapun yang mencapai garis finis paling awal, dialah yang terkuat di antara kalian.”


Semua anak saling tatap. Lantas mengangguk bersama-sama.


“Zenzen, kau tidak keberatan dengan keputusan ini, kan?”


Aku tersenyum lebar. Tentu saja aku tidak keberatan.


Ador mulai mengotak-atik seluruh sistem tubuh bionik milikku. Karena disederhanakan maka aku tidak akan bisa menggunakan tenaga internal seperti saat di ruang simulasi. Tubuh bionik ini kini hanya benar-benar berfungsi sebagai alat bantu. Ador menyederhanakannya langsung di depan anak-anak agar tidak ada lagi yang menaruh curiga padaku ataupun Ador.


Kami mulai berdiri di sisi lapangan. Musuh terberatku mungkin adalah Bastian. Dia memiliki keunggulan dengan kaki buatannya. Namun jika aku tidak mencoba maka aku tidak akan pernah tahu.

__ADS_1


 


 


__ADS_2