
Pemanasan baru usai pukul 8. Dilanjutkan dengan sarapan.
Aku terkejut melihat makanan yang terhidang dihadapanku. Semangkuk nasi setara dengan tiga porsi orang dewasa ditambah sayur dan daging yang berlimpah. Melihatnya saja aku langsung tidak berselera. Aku sudah terbiasa dengan makanan penjara yang sedikit.
“Pastikan kalian tidak menyisakan satu butir nasipun. Apa yang dihidangkan harus kalian habiskan. Anggap saja ini sebagai salah satu latihan di Akademi Langit.” Ujar salah satu Senior.
Aku mulai menyuap makanan tersebut. Dan rasanya sungguh tidak enak. Daging tersebut hambar. Ini lebih buruk dari makanan di penjara. Bisa-bisa aku malah merindukan masa-masaku saat berada di penjara. Aku terus memaksa mulutku mengunyah makanan tersebut. Macam kakek-kakek yang tengah mengunyah makanan. Beberapa murid lain mulai menutupi mulut mereka. Beberapa ada yang mengerutkan dahi, mengangkat alis, berseru tertahan.
Makananku baru tandas sekitar sepuluh menit lamanya. Para senior berkeliling memeriksa piring kami. Jika mereka melihat sebutir nasi atau sisa makanan lainnya, mereka akan membentak. Menyuruh kami memakan satu mangkuk nasi lagi sebagai hukuman. Kasian sekali melihat murid-murid yang mendapatkan hukuman tersebut. Aku bisa membayangkan rasa mual yang mereka alami.
Seusai sarapan kami melanjutkan latihan.
Karena kami murid baru, para senior masih memberikan kami latihan ketahanan fisik. Kali ini kami disuruh berjalan di atas lumpur sejauh 5 meter sembari membawa dua ember berisi air. Latihan ini sangat sulit. Kami tidak boleh menumpahkan air yang berada di dalam ember. Jika tumpah, kami harus mengulanginya lagi dari titik awal. Aku kesulitan menjaga keseimbanganku. Langkahku terasa berat. Mukaku dan tubuhku kotor. Mungkin wajahku sudah terlihat seperti monster rawa. Dari latihan ini aku terjatuh sebanyak 10 kali.
Alat yang berada di tubuhku tidak membantu banyak. Buktinya aku sangat kelelahan. Tubuhku terasa sakit dan kakiku keram. Lenganku terasa kaku setelah membawa ember berisi air. Nafasku seperti mau habis dan keringat mengucur deras dari keningku. Aku sudah diambang batasku. Seragamku yang awalnya berwarna putih kini berubah menjadi coklat seluruhnya.
Namun, latihan kami belumlah berakhir. Dengan tubuh masih penuh dengan lumpur, para senior menyuruh kami untuk berlatih halang rintang. Tubuhku terasa lebih berat karena lumpur yang mengering di bajuku.
Kami disuruh melewati sebuah arena yang dipenuhi dengan jebakan dan rintangan. Dengan tubuh yang sudah lelah tentu fokusku menjadi berkurang. Beberapa kali tubuhku terhantam jebakan, jatuh berdebam. Saat aku mencoba menaiki dinding miring yang diberi tali, aku jatuh terguling. Saat aku tengah melewati tiang tipis dengan air dibawahnya aku tergelincir. Kami sama sekali tidak diberi kesempatan untuk berhenti sekedar menunggu rasa sakit hilang. Terakhir kami disuruh tiarap dibawah kawat berduri dan dilanjutkan dengan pendinginan. Hari yang sungguh melelahkan.
Aku telah selesai membersihkan diri. Merebahkan diriku diatas kasur asrama yang empuk. Melepas lelah dan rasa sakit di sekujur tubuhku. Lagi-lagi aku tak mendapati Marko ada di ranjangnya.
“Saatnya makan siang.” Monitor tersebut mengeluarkan suara.
Aku mengeluh, malas sekali melangkahkan kakiku. Namun aku juga tidak mau mendapatkan hukuman hanya demi memuaskan rasa malasku. Aku melangkah gontai menuju kantin asrama. Setiap kali aku bergerak tubuhku terasa sakit. Aku bisa menyaksikan murid baru lain yang meringis kesakitan.
Aku mulai memakan hidangan yang tersedia dihadapanku. Untungnya porsi kali ini tidak sebanyak tadi pagi. Namun kendala sebenarnya ialah rasa sakit disekujur tubuhku. Bahkan hanya sekedar mengangkat sendok saja serasa sebuah tantangan. Aku meringis menahan sakit. Pandanganku tertuju pada senior, takut-takut jika mereka menegurku.
Seusainya makan siang, kami para murid baru disuruh berkumpul di aula. Salah satu tempat paling luas di Akademi Langit. Kami akan melakukan kegiatan belajar mengajar. Tidak hanya latihan fisik, tentunya ilmu tetaplah hal penting yang harus kami kuasai. Kami duduk menyimak setiap penjelasan yang dilontarkan guru kami dengan mata terkantuk-kantuk. Para senior mengawasi kami. Jika mendapati ada yang tertidur, mereka membangunkan kami dan menyuruh kami berdiri.
Aku baru bisa istirahat seusai makan malam. Merebahkan diriku di atas ranjang. Rasa lelah ini setidaknya membantu. Aku tidak merasa terpaksa ketika memejamkan mata, dan tanpa kusadari, aku sudah terlelap.
Dua minggu berlalu.
Kami masih melakukan latihan yang sama berulang kali. Aku mulai terbiasa. Tubuhku mulai beradaptasi, tidak sakit lagi seperti pertama kali aku menjalankan latihan demi latihan. Aku tidak kesulitan saat berada di arena lumpur maupun halang rintang. Instingku semakin tajam dan refleksku semakin lincah. Aku sudah dapat menghindari setiap jebakan yang berada di arena halang rintang.
Namun, aku masih belum bisa berkomunikasi dengan Marko. Dia sangat jarang berada di kamar. Kalaupun ada, dia selalu terbaring di atas ranjangnya sembari menutupi wajah dengan lengannya. Nafasnya selalu tersengal setiap kali aku melihatnya. Dan akhirnya kami tidak pernah berbincang. Aku merasa dia tipe orang yang tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Aku pernah mendapati dia duduk di kantin sendirian.
Tak terasa satu bulan telah berlalu.
__ADS_1
Kini kami menjalankan latihan yang berbeda. Kami menuju tingkat selanjutnya yaitu bela diri. Kami tak lagi dibimbing oleh para senior. Melainkan dibimbing langsung oleh Master Sejah. Dia mengajari kami tehnik bela diri dasar. Yaitu kuda-kuda, tinjuan, menangkis, dan tendangan. Ini adalah latihan yang paling kusukai selama berada di Akademi Langit.
Selama satu bulan ini aku masih tidak bisa berbincang dengan Marko. Dia bahkan tidak pernah menanyakan namaku. Aku tidak berani menanyakan apapun darinya. Mungkin dia punya alasan tersendiri bersikap demikian. Layaknya Vero dan Bundara.
Hingga aku menyaksikan hal tak teduga. Aku tak sengaja melihatnya menangis.
Hari itu, lebih tepatnya malam itu. Aku tak sengaja terbangun dan mendapati suara. Suara tangisan. Mataku langsung tertuju ke arah Marko. Tangisan itu berasal darinya. Aku pikir mungkin saja dia mengigau di dalam mimpinya. Tapi aku salah, dia benar-benar menangis.
Hal itu terus berlanjut di hari-hari berikutnya. Aku mulai khawatir jika dia tidak pernah tidur selama ini. Apakah benar dugaanku jika dia memang memiliki masalah tidur? Ingin sekali aku menanyakan langsung kepadanya. Namun, aku memutuskan untuk tidak bertanya. Jika dia berusaha menyembunyikan wajahnya, itu artinya dia tidak ingin siapapun melihatnya, tidak ingin siapapun mencampuri urusannya. Akupun tidak pandai menghibur orang layaknya Vero.
Kami berdua tetap saling membisu.
Dua bulan berlalu. Aku telah menguasai seluruh tehnik yang diajarkan Master Sejah. Kali ini aku tidak menggunakan seragam putihku, melainkan seragam berwarna biru muda yang menunjukan aku bukanlah pemula lagi. Namun, aku masih penasaran perihal Marko. Selama ini aku tidak pernah melihatnya berganti warna seragam. Dia masih menggunakan seragam berwarna abu-abu.
Kali ini kami mempelajari cara mengantisipasi dampak dari serangan jika kami terjatuh atau terlempar. Salah satu tehnik yang diajari ialah cara berguling bila kami terdorong atau terjatuh akibat pukulan lawan. Dalam latihan ini, para senior menggunakan alat pelontar angin. Tekanan anginnya mampu mendorong atau menjatuhkan kami sejauh beberapa meter. Lantainya dilapisi busa empuk agar tidak ada murid yang terluka atau cedera saat melakukan simulasi ini.
Latihan ini lebih sulit dari pada saat aku masih berlatih berjalan di atas lumpur. Tiap kali angin mendorongku aku selalu kehilangan keseimbangan dan gagal mendaratkan kaki dengan sempurna. Alhasil aku malah terjatuh dengan posisi tengkurap. Aku masih belum mengerti cara menguasai latihan ini.
Aku memutuskan menggunakan waktu luangku untuk melatih tehnik ini. Mendatangi gym yang tersedia di Akademi Langit. Ada trampolin yang tersedia di sana. Setidaknya fungsi trampolin dan alat pelontar udara hampir mirip. Sama-sama mampu melontarkan tubuhku beberapa meter di udara.
Hal tak terduga menantiku di gym. Untuk pertama kalinya, aku melihat Marko di luar asrama. Dia tengah berlari di salah satu alat tread mil. Terjawab sudah mengapa dia sangat jarang berada di kamar. Dia menggunakan waktu senggangnya untuk berlatih. Aku urung untuk menyapanya, berlalu seakan tidak peduli.
Aku selesai berlatih pukul 7 malam. Gym telah sepi, namun aku masih melihat Marko berlatih menggunakan alat olahraga lainnya. Aku sempat bertanya-tanya soal tubuh kecilnya. Bagaimana bisa dia sangat kuat berlatih seharian dengan tubuh yang lebih kecil dariku? Bahkan setelah melakukan seluruh latihan di Akademi Langit dia masih saja berlatih di gym. Sekali lagi, mungkin dia memiliki alasan. Bukankah dulu Bundara kemari demi menghapus rasa sakit dan prasangkanya? Akupun juga demikian, berkat kehidupanku di Akademi Langit aku sudah tidak perlu meminum teh tak sedap milik Ruzdora hanya untuk tidur.
Tiga bulan berlalu yang itu artinya sudah enam bulan lamanya aku berada di Akademi Langit. Hari ini aku tengah mengikuti ujian. Semua latihan yang kami kuasai di ujikan kembali sebelum menuju tingkat yang selanjutnya. Aku berhasil lulus semua tes tanpa adanya kesulitan. Tidak banyak murid yang berhasil lulus dalam tes ini. Bagi mereka yang gagal harus mengikuti ujian ulangan yang akan dilaksanakan bulan depan.
Namun, lagi-lagi aku memiliki pertanyaan baru tentangnya. Akhir-akhir ini aku selalu mendapati Marko duduk melamun di salah satu bangku gym. Awalnya aku berpikir, mungkin saja dia beristirahat sejenak. Tapi besok-besoknya, dia duduk lebih lama dibandingkan latihannya. Matanya terlihat kosong seakan tengah meratapi sesuatu.
Marko teman sekamarku yang misterius. Begitulah aku menyebutnya. Kemisteriusannya bahkan mengalahkan kemisteriusanku. Aku masih sering berbincang dengan murid lain, mengenal beberapa teman seangkatanku. Tapi Marko, aku tidak pernah mendapatinya berbincang dengan siapapun.
Lalu aku memutuskan untuk mengakhiri kebisuan ini. Memulainya dengan pertanyaan ringan.
“Senior,” Aku memanggilnya demikian karena warna seragamnya yang berwarna abu-abu.
Marko yang tengah berbaring di atas kasurnya menatapku. Tatapannya begitu dingin dan sangat tidak bersahabat.
“Waktu itu aku belum sempat memperkenalkan diriku. Aku merasa tidak sopan dengan hal itu. Namaku Lian.” Aku mengucapkan kalimat tersebut dengan wajah datar. Sampai saat ini aku masih belum bisa tersenyum pada orang lain. Bahkan, saat aku masih berada di penjara, aku tidak pernah tersenyum di hadapan Vero dan Bundara.
Dia tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya aku melihat ekspresi lain selain wajah dinginnya.
“Aku sudah tahu. Ah, jangan panggil aku dengan senior. Aku tidak pantas.” Hanya itu kalimat yang terucap dari mulutnya. Dia kembali menutupi wajahnya dengan lengannya.
Aku benar-benar tidak tahu cara menghadapinya. Sekali lagi aku tidak pandai menghibur layaknya Vero. Aku beranjak dari tempatku berdiri. Meninggalkannya yang terbaring di atas ranjangnya. Niatku mengakhiri kebisuan ini gagal.
__ADS_1
Aku memutuskan untuk mencari tahu dengan bertanya ke salah satu teman seangkatanku. Berharap menemukan jawaban atas pertanyaanku tentangnya. Aku bertanya ke salah satu temanku yang dikenal dengan hobinya menulis tentang orang lain ataupun kejadian menarik selama berada di Akademi Langit. Orang-orang seperti ini biasanya disebut data base.
“Rahabas, aku ingin menanyakan sesuatu padamu.” Aku memanggil namanya. Memulai pertanyaan.
“Astaga! Apa kau benar-benar Lian teman seangkatanku yang misterius? Ini berita menarik” Dia berseru terkejut. Mencatat kejadian ini di buku kecilnya. Lengkap dengan tanggal, bulan, tahun, dan waktu kejadian. Sebenarnya ini sungguh menyebalkan. Namun demi menemukan jawaban atas pertanyaanku, aku membiarkannya.
“Silahkan, Lian. Kau ingin menanyakan apa?” Dia kembali ke arah pembicaraan sembari masih memegang pena dan buku kecilnya.
“Ini soal teman sekamarku, Markonce namanya. Apa kau tahu sesuatu tentangnya?”
Dia membuka catatannya. Membolak-balik halamannya. Tangannya begitu gesit, matanya bergerak-gerak. Dan terhenti di salah satu halaman.
“Apa warna seragamnya?” Dia bertanya memastikan.
“Abu-abu” Aku menjawab singkat.
“Kau yakin?” Dia kembali memastikan.
Aku mengangguk tegas, tidak sabaran menunggu jawabannya.
“Itu artinya dia masuk ke dalam daftar gelap, Lian. Seragam abu-abu ialah seragam untuk murid yang tidak diakui Akademi Langit atau bisa disebut daftar gelap. Karena warna abu-abu mencerminkan warna mendung dari langit...”
“Tunggu sebentar! Apa kau baru saja bilang seragam abu-abu sebagai daftar gelap? Kalau begitu apa bedanya dengan yang memakai warna hitam?” Aku memotong pembicaraanya.
“Aku tahu apa yang kau pikirkan, Lian. Pasti kau berpikir semakin gelap warna seragam, itu artinya pangkatnya semakin tinggi. Tapi coba kau pikir-pikir kembali, bukannya tidak ada warna langit yang berwarna abu-abu selain langit yang mendung? Kalau hitam tentunya ada, yaitu warna angkasa luar. Maka dari itu abu-abu menjadi daftar warna kelam. Siapapun yang menggunakannya, berarti dia tidak akan pernah bisa menjadi seorang prajurit.”
“Alasan! Beri tahu aku alasan kenapa mereka tidak diakui!” Aku berseru ketus.
“Eh, tentunya informasi ini tidak gratis. Sebagai imbalan, bisakah aku meminta tanda tanganmu sebagai bukti kau pernah berbincang denganku?”
Aku menepuk jidat. Aku tidak percaya jika dia memberi informasi ini secara tidak gratis. Aku mengambil buku kecilnya, menggurat tanda tanganku lengkap dengan nama lengkapku. Yang aku tidak habis pikir, sejak kapan dia memiliki fotoku di dalam catatannya? Memangnya dia stalker apa?
“Baiklah, aku akan memberi tahumu. Alasannya bermacam-macam, tapi yang baru kuketahui ada tiga. Melanggar berbagai peraturan yang berlaku, tidak sopan pada para senior ataupun guru di Akademi Langit, dan yang terakhir karena memiliki riwayat penyakit.”
“Marko termasuk yang mana?”
“Hei, aku sudah bilang informasiku tidak gratis. Sebagai gantinya, bisakah kau menceritakan masa lalumu?”
Aku memutuskan pergi. Lebih baik aku mencari tahu sendiri dari pada harus menceritakan hal tersebut.
“Tu, Tunggu! Setidaknya hanya sepotong saja...”
Aku tidak peduli. Meninggalkan dia yang mendesah kecewa.
__ADS_1