Kehancuran Batana

Kehancuran Batana
TERCIPTANYA MONSTER 3


__ADS_3

“Eh, kenapa harus menunggu seminggu?”


“Alasan pertama yang kusebutkan tadi adalah masalah energi. Membuat tameng dalam jumlah banyak akan menguras banyak energi. Tapi mari kita kesampingkan hal itu. Alasan kedua adalah masalah kesehatanmu. Sebagai mana kau tahu, pemicu munculnya gelombang itu adalah dari pikiranmu. Jika kau terlalu sering menggunakan pikiranmu dengan keras maka hal itu bisa membuat rasa sakit pada otakmu. Karena itu jika kau gagal untuk melakukan sesi ini, kita harus melanjutkan minggu depan.”


Begitu, ya? Kukira aku akan selalu bisa menggunakan cara ini selama berulang kali. Ternyata aku hanya bisa menggunakannya sesekali. Yeah, mungkin aku tahu jika Ador sangat berlebihan saat ini. Di matanya aku hanya seorang anak dengan fisik dua belas tahun. sejatinya jiwaku sudah tumbuh dewasa lebih cepat dibandingkan umurku. Aku pernah melalui ujian hidup yang sulit dan mengecap betapa pahitnya kehidupan jalanan. Aku harus merawat kakakku yang lumpuh tepat ketika kedua orang tuaku meninggalkan kami ke alam sana. Hal itulah yang membuatku dewasa lebih cepat. Otakku ditempa untuk berpikir lebih keras setiap detiknya. Hatiku dipoles oleh kejamnya kehidupan jalanan. Karena itu kini aku selalu menunjukkan sikap yang tak wajar. Ditambah aku pernah menjadi seorang pemikir dalam sebuah kelompok. Dari hasil mencuri itu kami bisa mengumpulkan uang jutaan banyaknya. Jika saja dulu kami ketahuan, pasti kami akan masuk di berita lokal. Orang yang berhasil menangkap kami akan dihadiahi sejumlah uang. Kami dijuluki si Pencuri Yang Tak Terlihat di mulut orang-orang. Siapa yang membuat kami bisa sampai pada titik itu? tentu saja aku. Jantung dari keberhasilan kami. Walau kini semua uang yang aku dapatkan berakhir sia-sia. Terbakar di bawah kobaran api yang ganas. Menjadi abu dan terpendam di bawah proyek elit pembangunan perumahan atau lokasi royal bagi kalangan kaya.


Aku kembali mengangguk sebagai bentuk patuhku dari pernyataan Ador. Setidaknya untuk saat ini biarlah aku menjadi seekor anjing penurut yang mengikuti seluruh perintah tuannya. Suatu hari nanti aku pasti akan menggigitnya. Bahwa aku bukanlah anjing kecil yang selalu menurut, melainkan anjing buas yang bisa menancapkan taringnya ke leher majikannya kapanpun.


Aku kembali menengadahkan tangan kananku ke depan lantas menggunakan pikiranku seperti yang tadi dia jelaskan. Heksagon-heksagon jingga itu bermunculan dan berputar-putar lantas terdiam dan semakin membesar. Begitu heksagon-heksagon tersebut sempurna menyelubungi tubuhku bak sebuah tabung, aku mengangguk sebagai sinyal bahwa aku sudah siap.


“Nah, aku akan menghidupkan mesin pelontar bola baseball  sebagai simulasi untuk menguji ketahanan tameng yang telah kau ciptakan. Mesin-mesin itu akan bergerak acak dan menyerangmu dari berbagai arah. Pastikan kau tetap fokus dan mengusahakan tamengmu untuk tetap stabil dan kokoh. Jangan sampai perasaan panik atau takutmu memecah konsentrasi pada pikiranmu. Sejatinya perasaan dan pikiran itu saling terhubung.” Ador mulai menyalakan mesin-mesin tersebut.


Aku menarik nafas panjang. Sudah seperti tradisi jika kau akan dihadapi oleh sesuatu yang sangat menegangkan. Saat ini heksagon-heksagon di sekelilingku masih dalam keadaan stabil. Mesin-mesin itu berdesing dan mulai bergerak mengitariku. Satu bola baseball di lontarkan tepat di depanku. Mungkin itu semacam percobaan apakah aku saat ini fokus atau tidak. Jawabannya adalah aku sangat fokus. Bola itu menabrak heksagonku dan memantul ke sisi ruangan. Total ada lima mesin yang mengitariku secara acak. Kali ini dua bola dihempaskan secara bersamaan dari dua sisi yang berbeda. Satu bola terpantul namun yang satunya lagi berhasil memecah heksagonku dan membentur tubuhku.


“Ah, sayang sekali...” Ador menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Eh, secepat itu? Aku tidak terima! “Ador, aku hanya membuat salah satu tameng pecah tapi yang di sekelilingku saat ini masih stabil.”


Ador memegangi dagunya. Tengah menimbang-nimbang. “Baiklah, sepertinya itu akan aku hitung sebagai kesalahanmu dalam pemusatan pikiran. Aku yakin itu bukan karena  pikiranmu yang kacau. Jika saat ini pikiranmu kacau kau pasti sudah membatalkan semua tameng-tameng tersebut. Oke, kita bisa lanjutkan kembali.”


Aku kembali membangun lapisan heksagon yang baru untuk menutupi bagian yang bolong. Mesin-mesin itu kembali bergerak. Dimulai dari dua bola yang dilesatkan secara bersamaan. Aku memusatkan pikiranku secepat mungkin ke titik yang akan diterjang oleh bola. Berhasil! Kedua bola itu memantul. Hanya saja satunya tidak terpantul terlalu jauh. Ador kembali menghentikan mesin-mesin itu. Memberi evaluasi pada apa yang baru saja terjadi.


“Kau tidak boleh hanya terfokus pada dua titik itu karena akan mempengaruhi titik-titik lainnya. Jika salah satu gelombang tameng itu memiliki sebuah tekanan yang kuat, maka titik yang memiliki tekanan lemah akan menjadi bergelombang dan tidak membentuk tameng kokoh yang kau inginkan. Sifat gelombang itu seperti sebuah jelly karena itu bolamu hanya akan memantul sedikit. Tapi apa yang terjadi jika yang menyerangmu adalah sebuah peluru. Aku yakin saat ini kau sudah tewas.”


Aku memasang wajah datar. Oke, itu memang kesalahanku.


“Kita lanjutkan untuk sesi berikutnya.”


Aku mengangguk, menstabilkan ulang seluruh tamengku. Kali ini aku lakukan secara merata. Tiga bola dihempaskan secara acak dari tiga titik. Aku melakukan seperti yang disuruh oleh Ador. Meratakan pikiranku pada seluruh tameng. Bola itu terdiam sejenak tepat didalam hologram namun hologram itu tampak lebih transparan dari yang sebelumnya. Lantas beberapa saat kemudian bola-bola itu terpantul kembali ke sisi ruangan.

__ADS_1


“Tidak, bukan seperti itu, Nak.” Ador melambai-lambaikan tangannya.


Aku menggigit bibirku. Kali ini apa lagi?


“Kau memang meratakan seluruh pikiranmu. Tapi kau hanya sekedar meratakannya. Pemerataan itu teralu lemah sehingga membuat bola-bola itu tidak memantul secara langsung namun membuatnya terjebak sejenak di antara gelombang lemah yang kau ciptakan, karena itu dia berhasil menembus tameng transparanmu beberapa senti. Lalu dipantulkan kembali walau tidak terlalu kuat.”


Aku menghela nafas pelan. “Tapi cara ini sejatinya masih bisa digunakan, kan?” Aku akhirnya berbicara. Kesal sekali rasanya mendapatkan ocehan panjang lebar dan penjelasan teoritisnya. Walau aku tahu teori-teori itu sangat berguna nantinya.


“Memang bisa digunakan, tetapi tidak terlalu efisien. Cara itu bisa kau gunakan untuk menghentikan sejenak beberapa benda yang melesat ke arahmu, lalu dengan pikiranmu kau bisa mengembalikannya sesukamu. Tapi apa yang terjadi jika kau dihadapi oleh sebuah benda yang bergerak. Contohnya adalah sebuah drone”


Aku menelan ludah. Mendengar kata drone membuatku teringat tentang kebakaran itu sejenak. Hal itu berdampak pada tamengku. Mereka semua menghilang begitu saja.


“Apa yang kau lakukan, Nak?” Ador berseru terkejut mendapati tameng-tameng itu telah menghilang.


Aku memutar bola mataku sambil mengangkat kedua bahuku. “Mungkin aku sudah lelah.” Jawabku asal. Sebenarnya bukan karena itu. Pikiranku kacau karena Ador mengucapkan kata drone tadi. Aku tidak mau dia mengetahui sisi lemahku karena aku membencinya. Sejujurnya aku memang butuh waktu untuk melupakan kejadian tersebut. Aku memang tidak takut saat ini. Hanya saja pikiran tentang drone-drone sialan itu kadang mengusik pikiranku. Sesekali kejadian di hari itu bisa muncul dalam mimpi. Walau hanya sejenak tapi cukup untuk membuatku membuka mata dalam mimpi singkat itu. Tapi aku tidak ingin membiarkan mimpi itu sampai menghancurkan diriku. Karena itu selama ini aku selalu melawan. Jika bermimpi, aku hanya perlu terbangun dan kembali tertidur. Toh, mana mungkin aku akan memimpikan hal yang sama dalam satu malam.


“Kalau begitu kita tidak punya pilihan lain selain menunggu untuk minggu depan. Selama seminggu ini aku akan memberikan banyak teori tentang gelombang tameng tersebut. Pastikan kau membaca lebih banyak buku soal pikiran atau pengendalian jiwa. Sejatinya itulah kunci dari latihan ini.”


“Disitulah letak kesalahanmu tadi, Nak. Kau akan sangat kesulitan jika benda itu memiliki kemampuan bergerak. Oke, aku akan mengambil misal dari sebuah drone. Drone di zaman ini memiliki kecepatan rata-rata delapan puluh meter  perdetik. Itupun hanya yang model biasa. Walau demikian model biasa tetap dilengkapi dengan baling-baling dan turbo yang memungkinkan untuk bergerak secara vertikal maupun horizontal. Ketika sebuah drone mendekati tameng lemah yang kau ciptakan dan terhenti pada suatu titik, maka drone tersebut akan memutar baling-baling mereka pada tahap maksimal sehingga gelombang lemah itu akan terganggu oleh getaran dari drone tersebut. Membuat tameng lemah seperti itu hanya akan pecah karena getaran kecil yang diciptakan. Karena cara kau menyederhanakan pikiranmu dan membaginya dengan rata pada seluruh tameng yang kau buat sangatlah tidak efisien. Maka dari itu aku menyebutnya sebagai tameng gagal.”


“Bagaimana dengan sebuah peluru? Apakah tameng itu juga pecah jika dihujani oleh peluru?”


Ador berpikir sejenak. “Sepertinya masih bisa. Hanya saja aku sarankan kau untuk tidak menggunakannya. Lebih baik menggunakan cara yang kujelaskan. Mendorong pikiranmu namun tetap mempertahankan aliran WAVE semaksimal mungkin secara merata. Aku yakin hanya itu cara yang paling tepat.” Ador menepuk tangannya. “Oke, kita cukupkan untuk hari ini. Satu hal lagi, aku memintamu untuk merahasiakan hal ini pada anak-anak lain. aku tidak ingin kejadian seperti tempo lalu terulang lagi.”


“Lebih tepatnya kau tidak ingin tubuh bionik kali ini rusak, kan?” Aku menambahkan sembari melambaikan tangan kananku.


Ador tertawa dan menepuk bahuku. “Kau pandai bercanda, ya?”


“Aku tidak bercanda. Perkataanku sangat serius tadi.” Aku membantah argumennya.

__ADS_1


“Baiklah, kali ini kau sudah tidak lucu lagi. Sekarang kembalilah ke kamarmu. Pastikan kau tidak bermain-main dengan tameng-tameng itu. Ingat, aku mengawasimu.” Ador meletakkan dua jarinya di bawah matanya dan mengarahkannya ke mataku. Memberi isyarat bahwa dia akan selalu memantauku.


Sial! Jika saja tidak ada CCTV di kamarku, malam ini aku yakin sudah mencoba menggunakan tameng itu kembali.


Tapi ada satu tempat dimana aku bisa melakukannya.


Tepat pada pukul dua belas malam, aku terbangun dan menuju kamar mandi. Seperti yang kukatakan dulu, kamar mandi satu-satunya area yang tidak dibawah pengawasan CCTV. Jika besok-besok Ador bertanya kenapa aku menghabiskan waktu sangat lama (hanya lima belas menit) di kamar mandi, aku cukup bilang bahwa perutku mulas atau aku sedang mengalami gangguan pencernaan.


Tapi tentu saja aku tidak berlatih di dalam kamar mandi. Ada suatu tempat yang ingin aku kunjungi. Atap dari bangunan laboratorium ini. Ya, malam ini aku akan kembali menyelinap melalui ventilasi. Kemarin aku hanya memiliki tujuan untuk mengintip apa isi di balik ruangan rahasia Ador. Tapi malam ini akan berbeda. Aku akan mengunjungi satu lagi tempat yang tidak mungkin berada di bawah pengawasan CCTV.


Kali ini aku sangat mudah melalu ventilasi demi ventilasi. Tidak seperti sebelumnya. Saat ini aku bisa bergerak cepat dengan tubuh bionik baruku. Selain itu berkat kulit sintetis yang diciptakan Ador kali ini, membuat tubuh bionikku tidak menimbulkan suara walau bergesekan dengan dinding ventilasi.


Aku menemukan sebuah ventilasi yang dilengkapi dengan tangga menuju ke atas. Aku mulai memanjat tangga tersebut dan tiba di ujung ventilasi yang tertutup oleh jeruji besi. aku membuka baut-baut jeruji tersebut dan membukanya perlahan. Tibalah aku di atap laboratorium.


Selama ini aku selalu penasaran dimana aku berada. Malam ini rasa penasaran tersebut terjawab. Aku berada di sebuah kota. Sesuai yang aku duga, laboratorium ini berada di kota hanya saja jarak laboratorium dengan gedung-gedung lainnya sangat jauh. Bahkan gedung-gedung itu tampak kecil dari sini. Hei, yang itu artinya posisi laboratorium Ador berada sedikit di perbukitan. Aku menengok ke belakangku, ternyata ada beberapa gedung dibelakang sana, hanya saja gedung-gedung itu tidak tampak megah. Lebih seperti sebuah apartemen lama yang berusia sekitar sepuluh tahun. Gedung-gedung yang megah sangat jauh jaraknya dari lokasi ini. Aku duduk di pinggir atap laboratorium. Kusaksikan halaman laboratorium Ador yang tampak hijau. Di dekat pagarnya dipenuhi dengan pepohonan rindang. Sebenarnya aku bisa saja kabur saat ini. Apalagi aku telah menggunakan tubuh bionik canggih ini.


Tidak, aku tidak akan kabur malam ini.


Kuputuskan untuk berbaring di atas atap sembari memandang bulan yang bersinar remang. Pemandangan langit tampak lebih jelas karena aku berada di atas atap. Langit menjadi tampak luas dan indah. Aku menunjuk satu bintang dan menghubungkannya ke bintang-bintang lainnya seperti tengah membentuk rasi bintang. Hingga terbesit di pikiranku untuk melatih tameng itu saat ini.


Aku menengadahkan tanganku ke arah depan. Sebuah tameng tercipta. Hologram jingga berbentuk heksagon itu berpendar remang di gelapnya malam. Aku mencoba mengatur jarak tameng itu sedikit jauh dari posisiku. Sungguh indah melihat warna jingga itu berpendar di antara formasi bintang yang gemerlap bak butiran glitter. Kubuat cahaya heksagon itu berputar-putar. Aku tertawa sejenak. Kini rasanya aku seperti berada di bawah sorotan lampu panggung.


Kalian pasti bertanya-tanya kenapa aku tidak memutuskan untuk kabur malam ini. Itu karena aku masih belum menentukan tujuanku yang selanjutnya. Setidaknya aku membutuhkan uang, bukan untuk mencapai tujuanku. Karena aku tidak ingin lagi bergerak di bawah bayangan. Aku tidak ingin lagi menjadi seorang pencuri rendahan layaknya tikus kotor yang berkeliaran di got. Aku ingin menjadi sesuatu yang besar. Dimana semua orang akan mengenalku. Aku ingin semua orang tunduk di bawahku. Itulah tujuanku.


Aku membuat jumlah tameng-tameng di depanku semakin banyak dan menyebarkannya di beberapa sisi. Namun posisi heksagon itu tetap mengarah padaku. Sejauh ini aku hanya bisa mengendalikannya sampai di sini.


Tunggu sebentar! kubus itu. Astaga! Latihan hari ini membuatku nyaris lupa dengan kubus tersebut. Jika aku mengambil kubus tersebut suatu hari nanti, bukankah itu artinya aku tak perlu repot-repot mengerahkan tenaga dan pikiranku untuk mengendalikan tameng-tameng itu? Benar juga. Itu adalah ide yang bagus. Tapi aku tidak akan mengambilnya malam ini. Biarlah walau harus membutuhkan waktu bertahun-tahun, sampai akhirnya tiba hari dimana aku akan mengambil kubus tersebut. Sampai akhirnya aku bisa menciptakan sebuah aliansi kecil.


 

__ADS_1


 


__ADS_2