Kehancuran Batana

Kehancuran Batana
KEBENCIAN ZENZEN


__ADS_3

 


 


“Zenzen, darimana saja kau?”


Aku terdiam. Kudapati Kakak telah berada di kamarku menggunakan kursi roda yang telah kubuat. Wajah Kakak tampak serius. Aku nyaris ingin memukul kepalaku sendiri. seharusnya aku meletakkan kursi itu di ruangan lain. Kenapa aku bisa sebodoh ini, sih?


“Aku hanya mencari angin. Ruangan ini terasa sesak.” Aku berusaha mencari alasan.


“Kau pikir kau bisa membodohiku? Tidak mungkin kau mencari angin selama itu. Aku mendengarmu tengah berbincang dengan seseorang. Siapa itu?”


Aku menggigit bibir. “Ah, itu pasti aku yang sedang mengigau.”


“Zen, kau mau jujur atau tidak?” Kakak mulai terdengar kesal.


Aku menunduk. “Aku tadi bertemu dengan Agia.”


“Agia? Yang benar saja? Sudahku katakan untuk jangan dekat-dekat dengannya.”


“Kenapa aku tidak boleh dekat dengannya? Kakak tahu apa soal Agia.”


“Kau ini! Kau tidak ingat kelakuannya saat pertama kali bertemu denganku?”


Aku memutar bola mataku. “Maksud Kakak soal dia yang menatap Kakak dengan tatapan sinis? Dia memang seperti itu. Dia tidak pandai bertatap mata dengan orang yang baru dia kenal. Jangan tersinggung hanya karena hal itu. Agia satu-satunya teman yang aku miliki. Bahkan saat aku tidak bisa menemukan makanan di tengah hujan, Agia yang menolongku dan memberiku harapan.”


“Jadi kau sekarang menentangku?” Kakak masih bersikeras untuk menentang ucapanku.


“Kak, aku mohon.... Aku sudah lelah. Jangan tambah beban dan pikiranku. Kakak cepatlah tidur. Soal Agia adalah urusanku. Jika Kakak tidak suka... Kakak hanya perlu menjauhinya saja, kan?” Aku mendengus kasar. Bergegas berbaring di atas ranjangku.


Kak Ikai menatapku dengan tatapan kesal. Sejauh ini aku tidak pernah berdebat dengan Kakak. Aku tahu perasaan Kakak lebih dari siapapun dan aku tahu alasannya dia marah malam ini. Tak lain karena dia takut aku semakin jauh dari sisinya.


“Baiklah, terserah kau saja.” Kakak mendengus sejenak. Beranjak pergi dari kamarku.


Aku menutup wajahku dengan bantal. Perasaanku bercampur aduk. Ingin sekali aku berteriak sekencang-kencangnya. Sudah lama aku tidak merasa sefrustasi ini. Terakhir kali aku merasa sangat kesal ketika hari dimana Kakak sakit dan merintih meminta makanan. Malam ini perasaan kesal itu  kembali. Perasaan yang sangat tidak nyaman.


Pagi datang sangat cepat. Aku terbangun oleh sebuah kebisingan di luar rumah. Aku membuka jendela kamarku untuk melihat keluar dan kudapati banyak orang yang berkumpul di jalanan. Membawa pamflet-pamflet berisi bentuk protes. Aku melotot. Astaga! ini pasti soal proyek pembangunan kawasan elit tersebut. Aku bergegas turun dari ranjangku dan keluar untuk memastikan apakah hal itu benar.


Seluruh gang dipenuhi oleh orang-orang yang mengajukan protes. Teriakan demi teriakan berpilin-pilin diangkasa. Ditambah terdengar suara desing yang memecah langit. begitu aku mendongak, kudapati  Drone seukuran telapak tangan orang dewasa ada dimana-mana. Sepertinya itu semacam sistem peringatan untuk segera mengosongkan kawasan ini.


“KAMI HIMBAU KEPADA SELURUH WARGA UNTUK SEGERA KOSONGKAN AREA INI. KAMI HIMBAU KEPADA SELURUH WARGA UNTUK SEGERA KOSONGKAN AREA INI....”


Sial! Kenapa secepat ini? Aku bergegas kembali ke dalam rumah.


“Kak! Kita harus segera pergi dari tempat ini!” Aku berseru panik dan masuk ke kamar Kakak.


“Apa yang terjadi Zenzen?”


“Sudahlah! Pokoknya kita pergi dulu ke tempat yang aman.” Aku bergegas membantu Kakak menaiki kursi roda.


Namun Kakak menepis tanganku. Aku terkejut.


“Aku tidak akan meninggalkan rumah ini.”


Astaga! Kenapa bisa dia berpikiran seperti itu?


“Kak, tempat ini akan dijadikan sebagai kawasan elit. Kita tidak punya pilihan selain pergi atau mereka akan menangkap kita. Ini satu-satunya pilihan. Terimalah kenyataan bahwa kita tidak bisa berbuat apa-apa.” Aku berusaha membujuknya.


“Kau pikir untuk berpergian tidak membutuhkan uang, hah? Kau hanya akan menambah penderitaan jika kita terombang ambing di jalanan seperti kapal tak bernahkoda!”


Aku tersentak. Perkataan itu baru saja seperti menusukku.


“Atau jangan-jangan kau menyembunyikan sesuatu dariku. Soal hubunganmu dengan Agia yang sama sekali tidak aku ketahui. Oh, benar juga... Selama ini darimana kau mendapatkan makanan-makanan tersebut?”


Aku mengatupkan rahang. Kenapa? kenapa harus di saat seperti ini?


“Zenzen!” Seseorang masuk ke dalam kamar begitu saja. Siapa lagi jika bukan Agia. “Kita harus pergi sekarang juga....” Agia tersengal. Membuat kalimatnya terputus.


“Agia, tenangkan dirimu.”


“Aku dengar jika proyek itu akan dilakukan sesegera mungkin. Saat ini massa mulai bergerak dan mencoba menentang rencana tersebut. Tapi sepertinya usaha mereka akan berakhir sia-sia. Karena itu kita harus pergi secepat mungkin. Atau keadaan yang lebih buruk akan terjadi.”


“Kak, kau dengar itu? Kita harus pergi sekarang juga. Berhentilah bersikap kekanak-kanakkan.” Aku berujar dengan nada dingin.


Kakak meremas jemarinya. “Jawab dulu dimana kau mendapatkan makanan-makanan tersebut.”


Aku mengacak kasar rambutku. Baiklah, kesabaranku sudah di ambang batas. “Aku mendapatkannya dari hasil curian. Puas?” Ujarku dengan singkat.


Seketika Kakak melotot ke arahku. “KAU!”


Kakak menarik kerah bajuku. Membuatku terjerembab. Agia berusaha menolongku. Namun tubuhnya terdorong oleh tangan Kakak. Aku berusaha melepas cengkeraman Kakak. Kami berguling ke sana kemari. Menabrak lemari dan menjatuhkan berbagai barang. Kakak memukul wajahku. Membuatku meringis kesakitan.


“SIAPA YANG MENGAJARIMU BERBUAT SEPERTI INI?” Kakak berseru marah. Wajahnya merah dan urat-urat dilehernya mengeras. Dia tak henti-hentinya memukul wajahku.


Aku berusaha menepis pukulan Kakak dengan tanganku. “HENTIKAN!”

__ADS_1


Tidak bisa. Tubuh Kakak jauh lebih besar dibandingkan tubuhku. Aku menggapai-gapai. Berusaha mencari barang yang bisa kugunakan untuk bertahan. Kudapati sebuah figura didekatku. Dengan cepat aku melesatkannya tepat ke kepala Kakak. Kak Ikai terjerembab. Darah mengucur dari keningnya. Tanganku bergetar. Untuk pertama kalinya aku memukul Kakak. Tubuhku bergerak sendirinya dan kejadian itu terjadi begitu cepat.


“Kak... Aku.. Aku tidak bermaksud...”


“Kau... Kau memecahkan foto keluarga kita.” Kakak menangis sembari mengambil foto keluarga yang telah lusuh dan lecek. Ditambah foto itu tidak terlalu terlihat lantaran terkena percikan darah.


Sementara itu, keadaan di luar semakin genting. Massa semakin beringas lantaran tidak menerima keputusan tersebut. Beberapa mulai membuat bom molotof dan mencoba menyerang sekumpulan drone yang berterbangan. Hal itu memicu murka di kalangan atas. Alhasil peringatan tak lagi dihiraukan. Berganti musibah yang membawa malapetaka.


Sebuah drone menyerang seorang massa yang mengamuk dan melempar bom molotof sembarangan. Tembakan itu tidaklah fatal, namun cukup untuk membuat seseorang tersungkur dan tidak sadarkan diri. Amarah massa semakin melunjak. Mereka melempar bom molotof ke sana kemari. Membuat beberapa ledakan kecil terjadi. Sebuah drone terkena bom, jatuh ke salah satu tiang listrik. Kejadian itu cepat sekali terjadi. Entah siapa yang harus disalahkan. Menyulut api raksasa dalam sekejap mata.


Kekacauan mulai terjadi. Akibat kebakaran tersebut para petinggi-petinggi jahat itu memutuskan membakar area lainnya. Memanfaatkan situasi untuk menjalankan proyek jahat mereka. Esok hari berita hanya akan meliput jika insiden kebakaran itu merupakan murni sebuah kecelakaan. Insiden yang menyebabkan ratusan orang tewas. Puluhan anak-anak kehilangan orang tua dan puluhan orang luka-luka.


Aku mendegar sirene dibunyikan. Abu mulai berterbangan dimana-mana, disusul bunga api yang berjatuhan bagai hujan. Asap mulai menutupi pandangan dan membuat dada terasa sesak. Para massa mulai berlari menjauh. Berhamburan tidak karuan. Nyali mereka ciut begitu menyaksikan sang raja api melahap rumah demi rumah.


“Zenzen, kita harus segera pergi!” Agia menyadarkanku.


Aku bergegas berdiri dan mendekati Kak Ikai. “Kak, kita tidak punya banyak waktu!”


Kakak hanya terdiam. Memandang nanar foto keluarga kita yang sudah ternodai darah.


Ledakan besar terjadi. Membuat rumah kami terguncang sejenak. Atap-atap yang rapuh dengan mudah terjatuh. Api berkobar semakin besar. Menyebar dari satu rumah ke rumah lainnya. Bau asap tercium sangat pekat. Aku mulai terbatuk dan kesulitan bernafas. Rumah kami sudah kacau balau. Kayu-kayu penyangga berjatuhan dan membuat pagar api dimana-mana. Aku berusaha mencari masker. Sial! Seharusnya aku tidak pernah melepaskannya jika situasinya akan  berakhir seperti ini.


Namun aku lebih terkejut lagi begitu mendapati Kakak telah terhimpit beberapa kayu. Aku berteriak panik dan berusaha menarik Kakak keluar dari reruntuhan. Keadaan semakin genting. Api mulai tampak di luar jendela. Rasa panas dan sesak membuat tenagaku tidak kuat.


“KAK! BERTAHANLAH!” Aku berusaha menarik kayu itu kuat-kuat. Sia-sia.“AGIA! BANTU AKU!”


Agia berdiri mematung di belakangku. Dia tidak bergerak sedikitpun. “Tidak bisa, kita harus pergi sekarang.”


“KAU SUDAH GILA, HAH? AKU TIDAK AKAN MENINGGALKAN KAKAKKU!” Teriakku berusaha mengalahkan segala kericuhan yang terjadi. Tanganku mulai terluka akibat terkena serpihan kayu.


“KAULAH YANG HARUSNYA SADAR, ZENZEN!”


Hening sejenak. Menyisakan gemelutuk api. Aku nyaris memukul Agia jika bukan karena keadaan seperti ini.


“Kakakmu sudah tidak bisa tertolong. Dia hanya akan menghambat perjalanan kita.”


Peganganku merenggang. Jadi maksudnya aku harus meninggalkan Kakak?


Ledakan berikutnya terjadi. Membuat barang-barang di sekitar kami kembali berjatuhan. Aku terhentak dan jatuh berdebam, sebuah kayu nyaris jatuh mengenaiku. Asap mengepul semakin pekat. Kali ini pandanganku mulai buram. Samar-samar aku menyaksikan Agia mendekat ke arah Kakak. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan. Sekelilingku mulai terlihat gelap.


Agia bergegas berlari ke arahku dan memasangkanku sebuah masker. Kesadaranku belum sepenuhnya pulih lantaran kurangnya oksigen yang aku hirup. Agia membopong tubuhku keluar. Badanku terasa lemas dan nafasku tersengal. Saat aku sadari... Aku telah berada di luar rumah.


Aku spontan melepas pegangan Agia. Hendak berlari kembali masuk ke dalam rumah. Namun terkadang takdir bisa sangat kejam. Hari itu di depan mataku, rumah itu runtuh dilahap api yang mengganas. Aku berteriak tanpa suara. Teriakan pilu yang bahkan tidak pernah aku dengar selama ini. Air mataku berlinang sangat deras. Air mata yang selama ini aku bendung. Air mata yang selama ini berusaha aku sembunyikan. Hari itu, semuanya tumpah begitu saja. Ketakutan terbesarku terwujud. Yakni kehilangan satu-satunya keluarga bagiku.


Agia berusaha menarikku menjauh dari tempat tersebut. Aku tersungkur. Kakiku terasa lemas dan tubuhku bergetar hebat. Sesaat aku tidak bisa mendengar apapun selain suara Kakak di masa lalu. Penyesalan mulai memenuhi dadaku. Tatapanku kosong.


“Kakak tidak usah khawatir. Aku pasti tidak akan pernah meninggalkan Kakak. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu apapun yang terjadi. Tidak akan. Janji jari kelingking.”


Air mataku berlinang sangat deras. Nafasku terasa berat dan dadaku terasa sangat sakit. Ini bukan karena udara kotor ataupun asap yang aku hirup. Melainkan rasa sakit yang berada jauh di lubuk di hatiku. Rasa sakit atas kehilangan. Pada akhirnya akulah yang mengingkari janji. Pada akhirnya akulah yang bersalah.


“ZENZEN, SADARLAH!” Agia membuyarkan lamunanku. “ORANG YANG HIDUP HARUS TETAP HIDUP!!!”


Aku tersentak. Agia bergegas menarikku. Waktu berjalan sangat lambat. Seperti sebuah video yang diputar dengan mode slow motion. Untuk sejenak, aku bisa menyaksikan beberapa drone yang menjatuhkan bom kecil ke perumahan warga. Walau sesaat, seluruh pemandangan itu sempurna membentuk kebencian di dalam hatiku.


Bukan kau yang salah, tapi dunia ini yang salah.


Benar. Ini bukan salahku. Ini salah dunia. Dunia inilah yang memperlakukanku seperti ini. Dunia inilah yang menganggapku tidak ada. Kenapa aku harus menyalahkan diriku?


Aku dan Agia terus berlari di seluk-beluk gang yang mulai dipenuhi api dimana-mana. Kami harus menghindari beberapa puing yang berjatuhan bagai meteor. Pandangan di sekitar kami terasa gelap lantaran asap kebakaran yang menutupi bagai kabut. Aku sudah tidak tahu kemana kami mengarah. Sepanjang perjalanan aku mendengar para korban merintih meminta bantuan. Tapi apa peduli aku. Toh, selama ini mereka tidak pernah menolongku di saat aku yang melolong meminta bantuan.


Sebuah drone mulai mendekat ke arah kami. Tampaknya mereka tidak bisa membiarkan saksi mata hidup dalam insiden ini. Aku berlari sekencang mungkin. Melompat ke sana kemari. Menghindari kobaran api yang berusaha menyentuh kulit kami. Drone itu semakin dekat. Sial! Kondisi kami terjepit. Alhasil drone itrulah yang menang.


Di detik-detik sebelum drone tersebut bersiap melepaskan bom, aku dengan cepat mengambil sebuah besi sebagai tameng untuk mengurangi dampak dari ledakan kecil tersebut. Tepat ketika bom dilepaskan, aku dengan cepat tiarap. Walau hanya ledakan kecil, hal itu cukup membuat tubuhku terpental beberapa meter dan menabrak puing bangunan. Belum cukup  sampai di situ, kakiku terasa sakit akibat benturan. Aku terjerembab di antara puing bangunan dan bongkahan besi. Rasanya sakit sekali. Aku bisa merasakan kakiku patah.


Telingaku berdenging sejenak. pandanganku kabur. Aku berusaha tetap sadar dan berusaha bangkit. Namun kudapati badanku terjepit dan tanganku terasa sakit. Belum lagi dari keningku mengalir darah dan menutupi pandanganku. Hanya ada api di sekitarku.


“Agia!” Aku berteriak parau memanggil namanya.


Hening. Aku tidak bisa melihat keberadaannya dimanapun. Jantungku bergegup sangat kencang. Sekujur tubuhku terasa sakit jika digerakkan. Pada akhirnya usaha kami untuk kabur berakhir sia-sia.


Hingga aku mendengar suara berderak tidak jauh dari posisiku. Agia! Dia masih hidup. Setidaknya dia masih terlihat baik-baik walau pakaiannya terlihat robek disana-sini. Wajahnya kotor dan terdapat beberapa gores luka.


“AGIA! AKU DI SINI!”


Agia menatap ke arahku. Namun terdengar suara desing dari kejauhan. Apalagi jika bukan drone sialan itu. Agia tampak ketakutan.


“AGIA! BANTU AKU DAN KITA AKAN LARI BERSAMA-SAMA!”


Agia tetap terdiam. Dia hanya melihatku sejenak dan menatap kembali ke arah asal suara. Saat itu awal paling menyakitkan dalam hidupku, terjadi dihadapanku. Aku dihadapi sesuatu yang kusebut sebagai pengkhianatan. Aku menjadi saksi atas perginya sahabatku. Pergi karena dia lebih memilih memedulikan kehidupannya sendiri.


Agia melangkah. Bukan melangkah mendekat melainkan melangkah menjauh. Tubuhku serasa ditusuk ribuan jarum. Mataku menyaksikan sendiri bagaimana Agia pergi begitu saja. Mulutku menganga dan aku nyaris tidak percaya pada apa yang aku lihat.


“AGIA!!!!!” teriakku di tengah kobaran api yang bergemelutuk.


Aku meremas jemariku. Menatapnya pergi membuatku hatiku sangat perih. Aku terisak. Hari ini dua orang paling berharga di dalam hidupku telah pergi dariku. Kenyataan pahit ini terus menerus menusukku tanpa henti. Aku menunduk dan menangis tersedu-sedu. Kakiku sudah mati rasa. Aku tidak tahu apakah aku bisa selamat dari kondisi ini. pandanganku perlahan berubah menjadi kemerahan akibat darah yang mengalir dari keningku masuk ke dalam mataku.

__ADS_1


Apakah ini yang dirasakan Kakak saat aku meninggalkannya tadi? Apa Kakak juga merasa sedih karena aku meninggalkannya? Pertanyaan itu terus berpilin-pilin di dalam kepalaku. Setidaknya aku masih beruntung maskerku tidak pecah akibat ledakan kecil tadi. Tapi bagaimana dengan Kakak? Dia pasti sangat kesakitan dan ketakutan.


Lagu yang kunyanyikan pilu


Rasa yang kurasakan sakit


Hidup yang kutempuh kebencian


Jalan yang kutapaki padang berduri


Jadi aku putuskan hari ini hujan saja.


Tiba-tiba aku teringat lirik tersebut. Lirik yang selalu dinyanyikan Ibu ketika aku dan Kakak tidak bisa tidur karena takut gelapnya malam. Aku mulai menyanyikan lagu itu untuk diriku sendiri. Setidaknya di ingatanku masih tersisa kenangan-kenanganku bersama keluargaku. Setidaknya hanya hari itu aku bisa bernafas lega dan tertawa riang tanpa menghiraukan apapun. Setidaknya hanya hari itu...


Perlahan kesadaranku mulai menghilang. Kubiarkan mataku terpejam. Sudahku tak dengarkan lagi suara dan segala kebisingan yang terjadi. Hanya kehampaan dan senyap.


“Pasangkan selang itu ketubuhnya”


Samar-samar aku melihat cahaya. Apakah aku sudah mati? Hal itulah yang terbesit di kepalaku. Aku hanya bisa melihat empat cahaya berbentuk bulat di tengah gulita. Seseorang terdengar terus menerus memanggilku. Entah ini mimpi atau kenyataan. Aku sudah tidak bisa membedakannya.


“Bertahanlah, Nak. Dokter pasti akan menyelamatkanmu...”


Suara itu terdengar untuk kesekian kalinya. Hanya dingin yang kurasakan. Ah, ini pasti hanya mimpi. Tidak mungkin ada seseorang yang akan memanggil namaku selain keluargaku. Bukankah beberapa saat yang lalu sekelilingku masih terasa panas tan tubuhku terasa berat akibat tertindih bangunan? Kenapa sekarang rasanya sejuk sekali dan tubuhku terasa ringan? Ditambah aku tidak merasakan keberadaan kaki dan tanganku.


Cahaya itu perlahan menghilang. Aku tak sadarkan diri.


 


 


***


 


 


Aku mengerjab. Pandanganku masih terasa kabur dan tubuhku terasa sangat berat. Tidak, lebih tepatnya seperti ada sesuatu yang melekat di tubuhku. Di hadapanku terdapat cahaya lampu yang sangat menyilaukan. Bau besi dan obat-obatan tercium sangat kuat. Bercampur dengan bau darah. Aku mencoba menggerakkan kaki dan tanganku. Tidak terasa apapun. Aku mencoba menggerakkan kepalaku ke samping. Berusaha menerka-nerka dimana aku berada.


Ruangan ini berbentuk setengah lingkaran dan sangat gelap. Hanya lampu dihadapanku yang menerangi ruangan. Sejatinya pandanganku masih sedikit buram. Namun aku memaksakan diri untuk sadar. Kudengar gema langkah seseorang mendekat. Sebuah pintu berderak dan seseorang masuk ke dalam ruangan. Aku tidak bisa melihat dengan jelas siapa sosok tersebut. Dia tampak mendekat ke sebuah alat yang berada tepat di sampingku. Mengotak-atik sesuatu. Namun aktifitasnya terhenti begitu melihatku yang tengah menatapnya. Sosok itu terkejut dan berseru lantang.


“Astaga! aku tidak percaya ini.”


Dia mengambil senter yang diarahkan ke mataku kemudian membuka mataku lebar-lebar. Pandanganku berangsur pulih.


“Nak, kau baik-baik saja? Ah, mana mungkin kau baik-baik saja. Siapa namamu?”


Aku terdiam sejanak. “Zenzen.”


“Baik, Zenzen. Kau telah berhasil melewati masa kritismu, Nak.” Pria itu tersenyum hangat.


Aku mencoba untuk bangkit. Sekali lagi, tubuhku terasa aneh. Aku bisa menggerakkan tangan dan kakiku. Namun serasa aku harus menggunakan otakku untuk berpikir menggerakkannya terlebih dahulu.


“Apa, apa yang terjadi padaku?” Aku bertanya lirih.


Pria itu menatapku dengan tatapan prihatin.


“Sementara ini kau tidak bisa menggerakkan tubuhmu. Butuh penyesuaian untuk menggerakkannya.”


Apa maksudnya dengan kata penyesuaian. Aku berusaha melirik ke arah tanganku. Tidak bisa. Hanya terlihat perban yang menyelubunginya.


“Aku tahu  ini sulit. Tapi perlu kau ketahui, sebuah keajaiban kau bisa selamat dari insiden tersebut. Kau mengalami luka bakar hebat di sekujur tubuh ditambah luka benturan yang mengakibatkan kau kekurangan banyak darah. Karena itu kau butuh beberapa minggu untuk pulih seutuhnya.”


“Kakak...”


“Apa?”


“Kakakku... Dimana dia. Rasanya baru kemarin aku bersamanya.”


Pria itu mendesah sejenak. “Nak, aku tahu kau mengalami mimpi buruk yang luar biasa sehingga membuat ingatanmu bercampur aduk. Saat aku menemukanmu, aku tidak mendapati ada orang lain di sekitarmu. Aku juga membawa beberapa anak kecil yang selamat. Hanya saja tidak ada diantara mereka yang menyebutkan namamu ataupun mencarimu.”


Aku terdiam. Tapi aku jelas melihat wajah Kakak yang tersenyum saat aku mengajaknya keluar untuk berjalan-jalan.


“Bagaimana dengan orang tuaku?” Aku terisak.


Pria itu hanya menggeleng.


Aku terkesiap. Rasanya seperti baru kemarin aku menikmati hari-hariku bersama mereka. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa ingatanku bercampur aduk seperti ini? Perlahan mataku mulai berkaca-kaca. Tak kuasa menahan air mata yang membendung. Perasaanku sangat sakit. Kenapa hal buruk ini bisa terjadi? Kenapa? Pada akhirnya hidupku hanya dipenuhi dengan pertanyaan.


“Beristirahatlah. Aku akan mengaktifkan obat bius agar kau bisa tidur dengan nyaman setidaknya untuk beberapa hari kedepan sampai ingatanmu bisa pulih. Aku tahu rasanya sakit, tapi cobalah untuk menerima. Ini adalah sebuah kenyataan pahit yang tidak terbantahkan.”


Kalimat pria tua itu semakin membuatku terisak. Aku tidak ingin hidup seperti ini. aku tidak ingin lagi menderita. Aku tidak ingin lagi merasa sakit.


Pria tua itu mengotak ngatik mesin yang berada di sampingku. Mulai mengaktifkan obat bius agar membuatku kembali tenang dan terlelap. Lantas meninggalkanku sendirian di dalam ruangan.


 

__ADS_1


 


__ADS_2