Kehancuran Batana

Kehancuran Batana
KOTA THE-PI


__ADS_3

Aku terbangun pukul 10 pagi.


Mataku mengerjap. Cahaya matahari menyiram kabin pesawat. Aku menoleh, Marko yang duduk di dekat jendela pesawat lebih dulu bertanya.


“Kenapa kau bangun kesiangan, Kapten?” Dia bertanya prihatin sembari menunjuk mataku yang macam mata panda.


Aku menguap, menutup mulutku. “Tadi malam aku terbangun dan tak bisa tidur.”


“Kau masih punya masalah tidur?” Jora ikut bercelutuk.


Aku melambaikan tangan. Malas menanggapi pertanyaannya. Aku akan tetap menganggapnya penumpang gelap.


“Kau melewatkan sarapanmu, Lian.” Bundara ikut menanggapi, menyodorkan sebuah roti kepadaku.


Hingga aku teringat kalimat Happy, dia menitipkan salam untuk mereka.


“Ah, aku lupa satu hal, seseorang menitipkan salam pada kalian.”


“Siapa, Lian?” Kali ini Vero berseru tertarik. Mengalihkan pandangannya sejenak ke arahku.


“Happy. Salah satu kenalanku.” Aku menjawab singkat. Takut jika mereka bertanya lebih dalam.


Aku memutuskan untuk melihat pemandangan di luar pesawat sembari menghabiskan sarapanku. Sejauh ini kami masih berada di dataran tandus. Tidak ada yang menarik.


Hari berjalan begitu cepat. Vero dan Marko masih sering bertengkar, membuat ramai kabin. Jora sering melerai mereka, jika tak ampuh, Bundara akan ikut melerai. Aku lebih banyak  diam. Jika bosan aku akan mengambil buku, menggurat tulisan atau sekedar mencoret-coret. Aku tidak seperti Ibu yang suka menulis kesehariannya. Namun tampaknya itu ide bagus. Aku bisa menulis perjalanan hidupku.


Sore menjelang, langit mulai berwarna jingga. Burung angsa tampak terbang di sekitar kami. Kami semua menatap sang raja siang yang mulai tenggelam di kaki langit. Selalu menyenangkan menatap senja.


Malam menjelang, Vero kembali mendaratkan pesawat. Kami beristirahat. Besoknya melanjutkan perjalanan.


Sekitar dua hari lamanya kami baru keluar dari dataran tersebut. Kali ini pemandangan digantikan oleh hutan yang terlihat lebat. Aku bisa melihat berbagai primata bergelantungan di atas pohon. Satu dua terlihat berlari, yang lainnya bersorak, melempari batu atau buah-buahan. Berusaha mengusir walau semua yang mereka lakukan percuma.


Jora terlihat antusias. Dia menggambar monyet-monyet tersebut. Marko sempat memuji. Jora hanya mengangguk, tersipu malu.


Namun, kami sungguh tidak menyadari. Bahaya tengah menunggu kami sepuluh menit kedepan. Bahaya yang membuat kami harus kehilangan.


Ketika kami tengah sibuk menatap hutan di bawah kami. Ketika Vero tengah bermanuver di antara tebing-tebing terjal. Dua puluh meter dari bawah tebing, sebuah meriam ditembakkan. Untungnya, radar di pesawat mendeteksi benda tersebut. Vero dengan cepat membanting kemudi pesawat. Membuat pesawat sedikit terguncang.


DUAR!


Meriam tersebut meledak.


“APA-APAAN ITU?” Bundara berseru panik.


“Aku tidak tahu, tapi sepertinya seseorang tengah menyerang kita!” Vero berseru tak kalah panik. Tangannya menggenggam erat kemudi. Tidak ingin terlepas walau sedetik saja.


“Vero, ambil jalur lain!” Aku memberi perintah.


Pesawat berputar. Namun meriam berikutnya berdatangan. Vero meliuk, pesawat dalam posisi terbalik. Untungnya sabuk pengaman membuat kami tidak terjatuh. Ledakan meriam mengguncang pesawat.


“LIAN, KITA HARUS BAGAIMANA?” Vero berteriak.


Aku mengusap wajah. Kondisi ini sangat buruk. Ketegangan memenuhi kabin. Vero mati-matian menghindari terjangan meriam tersebut.


“Vero, kita tetap maju. Kau bisa, kan?” Aku membuat keputusan.


Vero tersenyum tipis. “Aku sudah menunggu perintah tersebut. Aku peringatkan kalian untuk berpegangan, karena ini tidak akan sama seperti tadi.”


Kami mengangguk serempak. Vero mengatupkan rahang, menambah kecepatan pesawat.


Pesawat berputar-putar menghindari lontaran meriam yang semakin banyak. Membuat langit dipenuhi ledakan-ledakan macam kembang api. Vero tetap fokus, dia seperti orang yang berbeda. Tatapannya tajam dan tak tersisa kejenakaan di wajahnya.


Marko sudah lebih dulu mengeluh. Perutnya mual. Aku menyuruhnya untuk bertahan. Namun lebih buruknya lagi, Bundara nyaris mengeluarkan muntah. Menahannya di mulut. Jora tetap tenang. Dia seperti sudah terbiasa dengan situasi ini.


DUAR!

__ADS_1


Sebuah meriam meledak beberapa meter di samping pesawat. Nyaris mengenai turbo pesawat. Sesekali Vero mengudara sedikit lebih tinggi. Berharap meriam tersebut tidak sampai menyentuh pesawat. Namun meriam tersebut seperti benda hidup yang terus mengikuti kami.


Tampaknya aku membuat keputusan yang salah. Vero tidak seperti robot yang memiliki kecerdasan canggih, memprediksikan segala arah meriam tersebut. Vero hanyalah manusia biasa seperti kami. Tentu saja tidak serba sempurna.


Sebuah meriam menghantam sayap pesawat. Ledakannya memekakkan telinga. Vero tetap memegang kemudi. Alarm tanda bahaya sudah menyala. Lampu merah berkedip-kedip memenuhi ruangan. Vero sudah berseru mayday-mayday. Aku menggigit bibir. Jora sudah berteriak disusul yang lainnya.


Dalam lima detik, pesawat terjatuh ke dasar hutan. Membuat retakan di sana sini. Pepohonan bertumbangan dibelah pesawat. Binatang-binatang kocar-kacir begitu mendengar dentuman pesawat. Vero tetap memegang kemudi. Mengendalikan pesawat agar tidak terguling dan meledak. Dia terlihat kepayahan. Tangannya menggenggam erat kemudi.


Pesawat terhenti. Asap mengepul di sekitar kami. Aku terbatuk-batuk. Menggapai-gapai helmku yang terjatuh di atap pesawat. Posisi kami terbalik, beruntung sabuk pengaman melindungi kami.


“Apa semua baik-baik saja?” Aku bertanya, memecah ketegangan.


“Aku sedikit butuh bantuan di sini!” Vero mengeluh. Kakinya tersangkut kemudi pesawat yang bengkok.


Bicara soal kehilangan. Kehilangan yang kumaksud di sini adalah kehilangan Falcon. Pesawat yang selama ini membawa kami. Membuat perjalanan kami harus ditempuh lebih lama.


Kami mulai melepas sabuk pengaman. Terjatuh ke atap pesawat. Jora baik-baik saja. Tidak ada luka. Begitu juga yang lainnya. Kecuali Vero. Dia masih tersangkut, memelas meminta bantuan. Kasihan sekali melihatnya.


Kami membantu Vero untuk keluar. Tapi kemudi tersebut tersangkut di antara besi-besi yang saling menyilang. Sulit sekali melepasnya. Bundara bahkan kewalahan.


“Kita ledakan saja besi-besi ini.” Bundara memberi usul.


“Astaga! Kau tega sekali, Bundara! Kau mau membunuhku?” Vero menolak mentah-mentah. Melotot menatap Bundara. Wajahnya pucat.


Bundara tertawa. “Aku hanya bercanda. Senang sekali menatapmu terbalik seperti itu.”


“Aku setuju denganmu, Om Bun.” Marko tertawa. Ikut menanggapi.


Sungguh di luar nalar. Bagaimana bisa mereka masih tetap tenang dalam kondisi seperti ini?


Kami kembali membantu Vero. Namun tak membuahkan hasil. Vero berseru mengomel, bilang jika dia capek tergantung seperti itu. Di tengah omelannya, Jora menepuk bahuku. Aku menoleh, Jora menunjuk ke arah luar pesawat.


Dari arah hutan, terdengar suara gemuruh.


Mereka sontak mengambil senjata. Vero masih tersangkut, berusaha mengeluarkan kakinya.


“Marko, kau lindungi pesawat bersamaku! Bundara, lindungi dan bantu, Vero! Jora, kau...” Aku terdiam sejenak, “Kau bantu Vero keluar.”


Jora mengepalkan tangan. Aku menghembuskan nafas sejenak. Ini situasi darurat. Setidaknya aku butuh bantuan lebih.


Aku dan Marko telah berdiri di luar pesawat. Bundara dan Jora masih sibuk membantu Vero yang terjepit. Suara gemuruh tersebut semakin dekat. Burung-burung terlihat beterbangan. Seperti pertanda bahaya akan datang.


Benar saja. Sekumpulan RP-2 berdatangan. Aku dan Marko sontak melepaskan tembakan. Dalam satu kali tembakan, robot tersebut hancur berkeping-keping. Robot tersebut mengaum marah. Suara mereka macam tembakan yang melengking memenuhi langit. Mereka seakan tengah berkomunikasi. Memberi kode ke teman-teman mereka.


Astaga! Mereka datang lebih banyak. Satu dua bahkan sudah berhasil mencapai pesawat. Kali ini Vero ikut membantu. Dia menembaki robot-robot yang hendak memasuki pesawat dalam posisi terbalik. Bundara dan Jora masih berusaha mengeluarkan Vero yang terjebak. Sesekali melepaskan tembakan ke arah luar. Membantu aku dan Marko bila dalam kondisi terjepit.


Aku berseru tertahan. Robot-robot ini seakan tidak ada habisnya. Hancur satu digantikan yang lain. Kejadian ini sama seperti saat aku tengah menjalankan misi saat berada di Kota Keios. Bedanya aku lebih mudah menghancurkan robot tersebut menggunakan senapanku. Kami saling bahu membahu.


Namun robot-robot tersebut lebih beringas. Aku dan Marko bahkan terpaksa mundur dan menembak dari dalam pesawat. Beberapa robot mulai merusak bagian-bagian pesawat. Mereka tidak bisa bergerak dalam ruang sempit. Bundara sudah berhasil membuka besi yang menjepit kaki Vero beberapa senti. Wajah Vero sudah pucat. Jora kini berdiri di sisiku. Membantu menghalang RP-2 yang mencoba masuk.


Aku mengeluh. Robot tersebut sudah berhasil melubangi pesawat. Tangan mereka menggapai-gapai. Berusaha menangkap kami yang terperangkap di dalam pesawat. Tidak ada celah bagi kami untuk keluar. Situasi ini seperti semut yang mengerubungi gula.


“BUNDARA! BAGAIMANA DENGAN VERO?” Aku bertanya dengan suara lantang. Berusaha mengalahkan suara baku hantam.


“SEDIKIT LAGI!”


Aku bisa mendengar suara Bundara menggerakkan besi-besi tersebut. Aku ingin sekali  membantunya, namun jika aku pergi dari posisiku, robot-robot tersebut akan dengan mudahnya memasuki pesawat.


“BUNDARA?” Aku kembali bertanya. RP-2 mulai memenuhi pesawat. Tangan mereka menjulur-julur.


“ARG... SEDIKIT LAGI!!” Bundara masih berusaha. Mengerahkan seluruh tenaganya.


Berhasil! Besi tersebut bergerak. Vero terbebas dari situasi terjepitnya. Ikut bergabung melawan RP-2.


Kami tidak bisa berlama-lama di dalam pesawat. Robot tersebut sudah menghancurkan dan melubangi bagian-bagian pesawat. Kami harus segera keluar. Berkat Bundara dan Vero yang kini telah bergabung, kami lebih mudah mengalahkan robot tersebut. Hingga kami berhasil membuat celah untuk keluar.

__ADS_1


Langsung saja, kami berlari keluar dari pesawat dan memasuki hutan. Robot-robot tersebut ikut mengejar. Kami sedikit di untungkan dengan jejeran pohon yang rapat. Salah satu kelemahan RP-2, mereka sulit bergerak di area yang sempit.


Namun semestinya sebuah robot, kecerdasan mereka melampaui manusia. Robot tersebut melompat di antara dahan pohon seperti seekor jaguar. Dengan tangan macam bilah pisau mereka dengan mudahnya menebas ranting pohon yang menghalangi.


Aku kembali melepaskan tembakan. Disusul yang lain. Nafasku tersengal. Walau dengan masker sekalipun, dadaku terasa sesak. Lebih gawatnya lagi, tangan Marko bergetar. Pegangannya merenggang. Aku khawatir jika dia pingsan dalam situasi ini.


Apakah aku salah memilih mereka?


Aku mendesah. Ini bukan saatnya berpikir yang tidak-tidak. Kami harus segera keluar dari situasi ini. Marko mulai kelelahan. Walau aku tidak bisa melihat wajahnya yang tertutup helm, aku tahu jika dia sangat tersiksa.


Situasi semakin buruk. Dugaanku benar. Marko tidak kuat lagi, dia terkulai. Jatuh berdebam. Jora berseru terkejut. Membantunya untuk berdiri. Kami tidak bisa kembali. Dengan keadaan Marko yang sekarang, kami tidak akan bisa pergi.


Di sela-sela pertarungan, Marko berujar lirih. “Kapten, tinggalkan aku...”


Tentu saja aku menolak permintaan itu. Aku tidak akan meninggalkan siapapun. Aku tidak ingin kehilangan, aku tidak ingin kejadian yang sama terulang.


“Lian! Kita harus segera pergi!” Vero mulai berujar.


Apa yang harus kulakukan?


Aku terus berpikir. Beberapa RP-2 sudah mulai menyerbu dari atas.


“Kita tidak bisa berlama-lama di sini, Lian! Bisa-bisa amunisi kita habis!” Bundara iku berseru.


“Kapten, tinggalkan aku sendirian!” Marko mulai merajuk.


Aku menggeleng. Aku tidak akan meninggalkan siapapun! Aku memberi perintah untuk terus bertahan sampai Marko pulih. Mereka sempat tidak setuju, namun tetap melaksanakannya. Marko terus menyuruhku untuk meninggalkannya. Aku tidak peduli. Tetap melindunginya apapun yang terjadi. Akulah yang bertanggung jawab penuh atas keselamatan mereka semua. Akulah yang mengajak mereka bergabung dalam misi ini. Aku pula kapten dari tim ini.


Di tengah-tengah kondisi terdesak kami, ketika Marko sudah terkulai pingsan, ketika rasa putus asa mulai menghampiri, keajaiban datang. Entah dari mana datangnya, beberapa RP-2 tiba-tiba hancur. Sebuah tembakan misterius menembaki robot-robot tersebut. Aku menatap sekelilingku. Mendapati orang-orang berpakaian serba hijau dengan masker berdatangan. Mereka menolong kami.


“Kalian baik-baik saja?” Seseorang mendekatiku. Ikut bergabung menghancurkan robot-robot tersebut.


“Salah seorang teman kami pingsan.”


Sosok tersebut menyuruh dua rekannya membopong Marko.


“Kita harus segera keluar dari sini! Ikuti aku!” sosok tersebut berseru. Menyuruh kami mengikuti langkahnya.


Lari mereka sangat cepat. Mereka tampak lincah melewati sela-sela pepohonan. Kami harus menggunakan tenaga lebih untuk menyamakan langkah kami dengan mereka. Beberapa bahkan melakukan lompatan-lompatan di sela bebatuan. Mereka seperti seorang akrobatik.


Hingga kami berada di tepi jurang. Aku bahkan heran melihat mereka menuruni jurang tanpa alat pengaman.


“Ayolah! Kalian tidak mau dimangsa oleh benda-benda tak bernyawa itu, kan?” Ujar salah satu dari mereka.


Aku tahu hal itu, tapi bagaimana cara menuruni tebing tersebut? Kemiringannya bahkan nyaris sembilan puluh derajat.


Hingga salah satu dari mereka menuntun kami. Aku menatap ngeri ke bawah jurang. Vero bahkan berteriak. Bundara hanya diam, raut wajahnya tidak bisa dijelaskan. Jora bergidik ngeri menatap dasar jurang. Salah sedikit saja, kami akan berakhir di bawah sana. Kami terus melangkah dengan hati-hati. Aku masih dibuat kagum dengan pasukan serba hijau tersebut. Mereka seperti ninja. Melompat ke sana kemari. Tidak ada keraguan sedikitpun.


Beberapa RP-2 yang tersisa mengikuti kami. Sialnya, aku tidak bisa menodongkan senjataku. Aku bahkan kepayahan berpegangan di sisi tebing. Namun, para pasukan hijau tersebut dengan santainya menembaki robot-robot itu sembari menuruni tebing yang curam.


Setelah lima belas menit lamanya, kami terhenti di sebuah gua di sisi jurang. Para pasukan hijau menggunakan senter sebagai penerangan. Aku bisa melihat stalagmit yang berada di dasar gua serta stalaktit yang tergantung di langit-langit gua. Lantainya dipenuhi genangan air, membuat licin dasar gua. Para pasukan misterius itu bahkan bisa berlari walau lantai gua terasa licin.


Kami tiba di sebuah gerbang. Gerbang tersebut mengingatkanku dengan gerbang di Kota Keios. Hanya saja gerbang tersebut dipenuhi gambar-gambar pepohonan. Gerbang itu langsung terbuka tanpa ada pemindaian terlebih dahulu. Kami memasukinya. Gerbang kembali menutup. Menyisakan suara gema yang memenuhi lorong.


Kami masih menelusuri gua yang lembap, suara tetesan air menggema memenuhi gua. Semakin kami masuk, lantai gua tidak lagi licin. Lebih seperti bergerigi.


“Siapa kalian?” Jora bertanya. Memecah lengang.


“Uy! Nanti saja bincang-bincangnya. Kita harus segera membawa temanmu ke rumah sakit.” Ujar salah satu dari mereka.


Aku mengernyitkan dahi. Apa dia baru saja bilang rumah sakit?


Lima belas menit berjalan kaki. Kami tiba di ujungnya. Cahaya menyilaukan mata. Aku bisa merasakan angin berhembus memasuki gua walau menggunakan perlengkapan. Begitu sampai di luar gua, kami disuguhi pemandangan yang menakjubkan.


“Selamat datang di Kota The-pi!”

__ADS_1


__ADS_2