
“Jangan berbasa-basi dan cepat beri tahu aku.” Aku sudah menunggu di ruang simulasi sembari menyilangkan kedua tanganku di depan dada.
“Kau ini memang tidak sabaran sekali jika menyangkut soal pengembangan tubuh bionikmu. Apakah sebegitu inginnya kau ingin menjadi lebih kuat?”
Aku mengangguk sembari tersenyum. “Tapi sebenarnya ini juga salahmu, sih. Kau yang memulai ini lebih dulu. Membuatku selalu berpikir untuk ambisius dan mempelajari berbagai hal yang membuatku semakin kuat. Jadi bisa dibilang kaulah yang membentuk karakterku seperti ini.” Aku tersenyum licik dengan menyipitkan kedua mataku.
Ador menggelengkan kepala. “Sekarang kau mulai terlihat seperti rubah. Kalau begitu aku akan langsung memulainya saja.” Ador melangkah ke sebuah benda berbentuk bola dengan warna hitam legam. Benda itu terlihat mengkilap dan berat. Ador mulai membuka mulutnya.
“Ador, aku lupa satu hal lagi.” Aku menghentikannya yang siap untuk berbicara.
“Apa lagi?” Tanya Ador dengan nada gemas.
“Tangan kananku terasa aneh dari kemarin. Apakah ini karena efek dari pertarungan kemarin, ya?” Aku menggerak-gerakkan tangan kanan bionikku yang terasa longgar. Terkadang tangan itu juga mengeluarkan suara berderit.
Ador mendekatiku dan mencoba mengecek tangan kananku. “Sepertinya ada bagian yang terlepas saat kau bertanding dengannya kemarin. Aku akan segera memperbaikinya dengan cepat. Kerusakannya tidak parah. Kurasa hanya sebuah baut yang terlepas atau semacamnya.” Ador beranjak keluar dari ruangan dan segera mengambil alat perkakas.
“Ternyata teknologimu tidak selalu sempurna, ya?” Aku menyindirnya sembari tersenyum.
Ador melotot ke arahku dan mengangkat obeng yang ia genggam tinggi-tinggi. “Oi! Seenaknya saja kau berbicara! Di dunia ini memang tidak ada yang sempurna.” Ador mulai membuka sebuah bagian dari lengan kanan bionikku. Lantas mengecek kerusakan apa yang terjadi. Begitu dia mendapat masalahnya, Ador segera memperbaikinya. “Kita ini tidak akan bisa menciptakan sesuatu yang sempurna, Nak. Semua yang diciptakan manusia itu selalu bisa hancur dan rusak. Karena itu kau juga harus menjaganya dengan baik dan benar. Jangan mentang-mentang aku membuatkannya dengan berbagai bahan khusus lantas kau seenak jidat menggunakannya tanpa tahu akibat dari perbuatanmu.”
“Kalau begitu sekalian saja tidak usah membuatkanku tubuh bionik jka kau lebih sayang pada alat buatanmu.” Aku memonyongkan bibir.
Ador kembali mengangkat obengnya. Aku reflek menutupi wajahku dengan tangan kananku. Saat aku sadari, tangan kananku sudah kembali seperti semula.
“Woooh, apa ini? Tangan kananku sudah lebih baik.” Aku menggerak-gerakkan tangan kananku dan memutar-mutarnya.
“Sudah kubilang jika itu hanya sebuah kerusakan kecil.” Ador membereskan perkakasnya sembari terus berbicara. “Tapi kau juga tidak bisa mengabaikan satu kerusakan kecil sekalipun, Nak. Kerusakan kecil jika dibiarkan lama-lama akan menjadi sesuatu yang bisa menghancurkan dirimu sendiri. Karena itu kau juga harus rajin-rajin memperhatikan kerusakan sekecil apapun.”
“Maksudmu tubuh bionik ini? Setiap hari aku juga memperhatikannya. Sayang jika sampai benda ini rusak dan menghambat aktifitasku.”
Ador menggeleng. “Bukan tubuh bionik itu tapi dirimu sendiri. Di-ri-mu.” Ador menekankan bagian akhir.
Aku memiringkan wajah. Memangnya apa yang rusak dariku? Aku menggelengkan kepalaku.
Akhirnya tiba juga pada sesi pembelajaranku. Ador melanjutkan penjelasannya yang sempat terpotong karena memperbaiki kerusakan kecil pada tubuh bionikku.
“Nah, mari kita mulai sesi berikutnya. Tadi aku bilang jika keseimbangan sangat penting untuk melakukan sesi ini. Di mana berat tubuh, di mana pusat kau menyeimbangkan tubuhmu menjadi hal yang penting. Karena ini akan sangat berhubungan dengan gravitasi bumi dan dirimu. Juga pertarunganmu semalam, itu bahkan hal yang sangat penting agar kau bisa melanjutkan pada sesi ini.”
Aku mengangguk paham.
“Sekarang coba kau angkat bola ini.”
Aku mulai mendekati bola itu. Begitu aku mengangkatnya, aku terkejut dengan berat dari bola tersebut. Aku bahkan hanya bisa mengangkatnya beberapa senti dari lantai dan membuat kedua kaki bionikku tidak bisa menopang tubuhku dengan baik dan benar.
“Tuh, baru saja aku membicarakannya dan kau tidak bisa melakukannya. Kurasa kau memang butuh beberapa pelajaran lagi sampai bisa melakukan sesi ini.”
Aku menghela nafas. “Jadi apa tujuan dari sesi ini?”
“Skill ini adalah yang paling penting di antara semua hal yang sudah kau pelajari selama ini, Nak. Aku bahkan tidak bisa membayangkan kau mampu mengalahkan seorang Cario yang sangat mengandalkan kecanggihan teknologinya. Ini tidak harus selalu soal teknologi, tapi juga soal energi tubuhmu yang sebenarnya. Karena sejatinya, ragamulah yang lebih penting dibandingkan dengan tubuh bionik itu. Tanpa kau sadari, tubuh aslimu menjadi lebih kuat berkat pengalaman yang kau dapatkan. Kau memang kehilangan tangan dan kakimu, tapi kau tidak kehilangan ragamu. Otot-otot tubuhmu yang merangsang tubuh bionik itu untuk bergerak lebih cepat dan lebih kuat.”
“Bayangkan saja, seandainya aku memberikan tubuh bionik itu pada anak yang memiliki postur tubuh kurus saat ini. Teknologinya memang hebat, tapi jika itu tidak cocok dengan jasmani penggunanya,” Ador menggelengkan kepalanya. “Benda itu akan menjadi tidak berguna dan hanya menghambat si penggunanya. Sebaliknya jika tubuh bionik itu selaras dengan berat badan beserta kekuatan otot penggunanya, benda itu akan menjadi sangat berguna.” Ador memegangi dagunya sembari tersenyum.
Kini aku paham. “Jadi intinya aku bisa menciptakan sebuah senjata baru dari tubuh bionik ini.”
“Bingo!”Ador mengacungkan jempolnya.
“Bilang saja seperti itu. Tidak usah berbelit-belit.” Aku melambaikan tanganku.
Aku kembali mencoba untuk mengangkat bola tersebut. Aku menarik nafas sejenak. Lantas perlahan mengaitkan jemariku pada bola tersebut. Benda itu terangkat perlahan. Tapi lagi-lagi aku hanya mampu mengangkatnya beberapa senti. Lantas kembali menjatuhkan benda tersebut. Aku tersengal. Cepat sekali nafasku habis. Tidak biasanya aku seperti ini. Aku bahkan tidak pernah kehabisan nafas saat pertarungan satu lawan satu dengan seseorang. Tapi kenapa hanya sekedar mengangkat bola ini aku merasa sangat kelelahan.
Ador mengusap rambutnya. “Kau terlalu mengandalkan tubuh bionikmu sehingga lupa dengan kekuatan tubuhmu, Nak. Itulah yang membuat kau cepat merasa lelah.”
Ador mungkin benar. Aku tidak menggunakan kekuatan tubuhku untuk mengangkat benda tersebut.
“Saat kau mengangkat benda itu hanya dengan mengandalkan tubuh bionikmu, itu membuat tubuh aslimu menjadi mendapatkan beban dua kali lipat dibandingkan biasanya. Hal itu membuat otot tubuhmu menjadi tegang akibat tarikan dari tubuh bionikmu. Akibatnya kau menjadi cepat lelah dan kesulitan dalam mengangkat beban yang beratnya melebih berat tubuhmu.”
Aku mengangguk sekali lagi. “Tapi bisakah aku beristirahat sejenak.” Aku mengangkat tanganku sembari tersengal.
__ADS_1
“Karena itu jangan kau berlagak dulu sebelum benar-benar bisa melakukannya.”Ador tertawa terbahak-bahak.
Aku mengabaikan candaannya. Setelah lima menit beristirahat, aku kembali mencoba mengangkat bola besi tersebut. Aku menarik nafas dalam sampai keadaanku terasa stabil. Kali ini aku akan mencoba menggunakan kekuatan tubuhku untuk mengangkat beban dari bola besi tersebut. Perlahan namun pasti, bola itu terangkat beberapa senti lebih tinggi dari sebelumnya. Kemudian nyaris mencapai sekitar tiga puluh senti dari lantai. Aku mengatupkan rahang. Urat-urat di leherku mengeras. Tangan bionikku bergetar dan bola kembali terjatuh. Aku terbaring di atas lantai dengan peluh membasahi tubuhku. Ini terlalu sulit. Lebih sulit dibandingkan dengan menciptakan sebuah tameng transparan. Jika tameng mengandalkan pikiranku, yang ini mengandalkan kekuatan tubuhku.
“Lagi-lagi kau melakukan kesalahan yang sama.” Ador kembali mengomel. “Kau memang mengandalkan kekuatan tubuhmu saat di awal-awal, tapi begitu benda itu sudah berada lumayan jauh dari lantai, tanpa disadari kau kembali mengandalkan tubuh bionikmu. Kau memang bisa mengandalkan kaki bionikmu untuk menopang tubuhmu agar tidak tergelincir saat mengangkat beban tersebut. Hanya sekedar itu saja. Bukan berarti kedua kaki bionikmu menjadi tumpuan saat kau mengangkat bola tersebut.”
Aku mengusap keningku.
“Biar aku jelaskan lebih detail agar kau benar-benar paham dan belajar dari kesalahanmu, Bocah. Kau harus menyalurkan tenagamu dengan baik dan benar dan terhubung pada tubuh bionikmu seperti kau menggunakan tangan dan kakimu dulu. Terutama di bagian perutmu, kau harus lebih menekankan energimu pada bagian perut sehingga tubuhmu akan menjadi lebih berat dibandingkan dengan berat dari tangan dan kaki bionikmu. Seharusnya latihanmu di akademi sudah membentuk tubuhmu dan menguatkan jaringan ototmu.”
Aku mengembungkan wajah. “Saat di akademi aku tidak diajari untuk melatih fisikku. Akademi itu hanya fokus pada pengendalian tubuh bionik beserta kecerdasan setiap individu. Karena itu aku menjadi tidak terbiasa pada sesuatu yang menyangkut soal angkat beban seperti ini. Tau begitu seharusnya aku melakukan latihan angkat beban sendiri.”
“Oi! Kau sudah benar menjalani berbagai pelatihan di sana. Latihan fisik itu tidak harus selalu mengangkat beban. Beberapa kegiatan olahraga beserta pola makan juga sangat penting untuk membentuk tubuh dan kekuatan ototmu. Jangan kau pikir untuk memperkuat otot hanya dengan latihan mengangkat beban saja. Apalagi kau juga menjalani rutinitas akademi yang sangat padat selama dua tahun lamanya. Tentu saja kemungkinanmu untuk berhasil melalui simulasi ini sangat besar.”
Aku hanya mendengus pelan.
“Ngomong-ngomong bagaimana dengan anak kebanggaan Akademi Talenta? Apakah kau memiliki kemungkinan untuk mengalahkannya?” Ador mengalihkan topik.
“Dia sangat sulit untuk disaingi. Seakan tidak memiliki satupun kekurangan kecuali tubuh cacatnya. Tubuh bionik miliknya pun tidak main-main. Setiap hari dia nyaris menerima berbagai sumbangan dari perusahaan besar pembuatan tubuh bionik. Walau begitu dia juga masih mempertahankan apa yang diberikan Cario kepadanya.”
“Jadi dia sama sekali tidak memiliki kelemahan?” Ador bertanya cemas.
Aku tertawa pelan. “Kenapa? Kau takut?”
Ador menjitak kepalaku. Membuatku mengaduh kesakitan.
“Bicara sembarang lagi kau, hah?”
“Tapi itu memang kenyataannya, bukan? Wajahmu terlihat cemas saat aku mengatakan hal tersebut.” Aku melambaikan tanganku. “Tenang saja, aku sudah memiliki rencana untuk mengalahkannya dalam sebuah pertandingan.”
“Pertandingan?” Ador bertanya memastikan.
Aku mengangguk. “Terdapat sebuah pertandingan yang disebut dengan IFM atau singkatan dari Iron Fist Match yang diadakan Akademi Talenta setiap tahunnya. Pertandingan ini tidak hanya dinilai dari segi fisik saja, akademisnya pun juga dinilai. Ditambah lagi semua alumni Akademi Talenta juga bisa mengikuti kompetisi ini.”
“Kenapa aku tidak pernah mendengarnya?” Ador memicingkan mata.
“Itu karena tidak pernah disiarkan secara langsung melalui televisi. Bahkan tidak ada satupun jurnalis yang meliput hal tersebut. Kegiatan itu diselanggarakan secara tertutup dan hanya penduduk akademi saja yang bisa mengakses kegiatan tersebut.”
Aku menggeleng. “Tidak, belum waktunya aku mengikuti kompetisi itu. Lebih baik sisi akademisku saja yang tercatat dan dilihat oleh akademi dibandingkan sisi fisikku.”
“Hei, bukankah terkadang kau juga melakukan duel satu lawan satu? Mereka juga pasti mencatat nilai atletismu.”
“Tidak juga. Pertandingan itu hanyalah sekedar latihan untuk melihat tingkat kefleksibelan dari tubuh bionik yang kita kenakan.”
“Apa itu artinya mereka juga meneliti tubuh bionik buatanku?” Ador mengusap-ngusap dagunya.
“Kurasa begitu. Hanya saja semua itu butuh izin, Ador. Mereka tidak akan bisa seenaknya menduplikat atau mencontek karya orang lain. Zaman sudah berubah, Ador. Di era seperti ini semua orang akan sangat kesulitan untuk melanggar hak cipta. Mereka yang tertarik pada tubuh bionik buatanmu otomatis akan merekrutmu. Bukan lagi menirumu.”
Ador mengangguk. “Setidaknya dengan begitu aku bisa sedikit tenang.”
Hening sejenak. Aku yang tengah terbaring tiba-tiba terbesit suatu pertanyaan. “Ngomong-ngomong bukannya kau bisa mengambil ketenaranmu sejak dulu. Kau menciptakan sebuah tubuh bionik yang sedikit unik. Di saat semua orang membutuhkan sistem charge pada tubuh bionik buatan mereka, kau malah menciptakan sistem re-charge atau pengisian daya ulang secara otomatis. Seharusnya kau bisa menyaingi mereka sejak dulu, kan? Lantas mengapa kau mencari jalan sulit jika ada jalan yang mudah.”
Ador terdiam. Dia menatap ke langit-langit ruangan. “Akan berbeda rasanya jika aku mengalahkan mereka sejak dulu, Zenzen. Akan lebih menyenangkan melihat seseorang yang hancur di saat mereka sampai di puncak tertinggi dibandingkan saat mereka masih berada di bawah. Karena itu aku selalu menunggu bertahun-tahun demi bisa merasakan perasaan tersebut.”
Aku menarik nafas. Aku tahu jika kalimat Ador yang barusan jujur. Karena itu aku tidak lagi berkomentar.
“Ditambah lagi, aku tidak butuh ketenaran ataupun uang. Hidupku sudah sangat cukup dan makmur. Aku memiliki laboratorium pribadi walau ini warisan dari keluargaku. Aku juga tidak kesepian karena anak-anak selalu memenuhi laboratorium ini dengan tawa dan senyuman mereka. Nikmat apalagi yang aku butuhkan jika aku sudah menerima sebanyak ini?”
Aku berdehem sejenak. Setelah merasa lebih baik, aku kembali mencoba untuk mengangkat bola besi tersebut. Aku menarik nafas lebih dalam dan menggoyang-goyangkan kedua tanganku lantas kembali mengangkat benda itu secara perlahan. Kali ini aku memperkuat bagian perut beserta bahuku. Begitu bola itu terangkat, aku tidak menariknya sekuat tenaga menggunakan kedua lenganku melainkan menggunakan kedua bahuku dan perutku. Berhasil! Benda itu terangkat! Aku berhasil mengangkatnya sampai setinggi dadaku.
Ador berteriak lantang. Dia tidak bisa menahan rasa senangnya. Teriakannya membuatku terkejut dan menjatuhkan bola itu ke lantai. Membuat suara keras yang sangat berisik. Ador terdiam dan menatap ke arah bola yang jatuh ke lantai.
“Kau mengangguku.” Aku berwajah datar.
Ador kembali tertawa. “Tenang saja, itu hanyalah pemanasan bagimu. Latihan sebenarnya akan dimulai, Nak.”
Kali ini Ador menunjukkan kepadaku sebuah dinding baja setebal lima belas senti.
__ADS_1
“Sekarang coba kau pukul dinding besi ini menggunakan energi internal.”
Aku mengangguk dan memasang kuda-kudaku. Lantas mengumpulkan energi panas itu tepat pada telapak tangan kananku. Begitu energi itu terkumpul, aku segera melesatkannya tepat ke dinding tersebut. Terdengar ledakan kecil, walau begitu dinding tersebut bergeming. Hanya menyisakan desisan dan bekas terbakar. Ini aneh, padahal saat bertarung dengan Badas kemarin, tangan bioniknya bisa hancur dengan tinju ini.
“Aku yakin kau tengah bertanya-tanya mengapa dinding besi ini hanya bergeming, kan?”
Aku mengangguk.
“Itu karena tebalnya. Berbeda dengan tangan besi milik lawanmu semalam. Tangan besi itu hanya dilapisi oleh besi setebal lima senti. Energi panas pada tanganmu tidak akan mampu menghancurkan lapisan besi yang tebalnya lebih dari lima senti. Begitu pula dengan robot-robot yang kau hancurkan tiga tahun lalu. Robot-robot buatanku memiliki rata-rata ketebalan lapisan besi sebesar lima senti. Lebih dari itu robot-robotku tidak akan bisa bergerak dengan baik dan benar. Tapi berbeda lagi jika kau menggunakan kemampuan yang baru saja kau pelajari. Itu memang tidak menghancurkan, tapi mampu membuat penyok sebuah dinding besi. Walau sejatinya mungkin bisa menghancurkan tangan bionik biasa.”
Aku mengangguk. “Jadi apa yang harus aku lakukan?”
“Kau cukup melakukan cara seperti sebelumnya. Mengandalkan kekuatan tubuhmu untuk disalurkan pada tangan besimu. Dengan demikian kau akan menyalurkan tenaga lebih besar kepada ujung telapak tangan bionikmu. Pastikan kau juga memperhatikan kuda-kuda kekuatanmu dan tekananmu pada tanah. Dengan begitu energi yang dikeluarkan akan lebih besar dari sebelumnya.”
Aku mulai menatap dinding besi tersebut dan memasang kuda-kudaku. Aku menarik nafas dan kembali memusatkan tenaga tepat pada ujung telapak tangan kananku. Aku mulai mengayunkan tangan kananku dan menghantamkannya ke arah dinding besi.
Suara dentuman terdengar. Memecah keheningan ruangan simulasi. Aku terdiam sejenak. Menatap dinding besi yang hanya bergetar. Tidak terjadi apa-apa. Saat aku sadari, tubuhkulah yang terasa ngilu. Aku bahkan mengaduh pelan dan memegangi bahuku.
“Ck, ck, ck. Kukira kau akan semudah itu memahaminya, ternyata aku menilaimu terlalu tinggi.” Ador mengusap wajahnya.
“Memangnya apa ada orang yang sekali melakukannya langsung bisa? Semua itu tidak bisa seperti simsalabim lantas terjadi begitu saja. Kau pikir mudah apa melakukannya?” Aku memegangi bahu kananku yang ngilu.
Ador menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Kalau ingin proses yang cepat, kenapa tidak buatkan saja tubuh bionik yang baru? Yang tidak perlu mengandalkan kekuatan tubuh atau pikiran dan semacamnya itulah. Kerjamu hanya mengomel saja dan tidak tahu bagaimana perasaanku sebagai pengguna tubuh bionik ini. Sekali-kali cobalah kau yang menggunakannya.” Aku berseru ketus.
Ador bergidik dan salah tingkah. “Oi! Galak sekali dirimu hari ini.”
“Galak dari mana?” Aku berseru lebih lantang.
Ador mengangkat kedua bahunya dan mengernyitkan wajah. “Kau memang salah tadi. Saat kau menghantamkan tangan bionik itu pada dinding besi, kau melepaskan tenaga terlalu kuat sehingga membuat benturan pada bahumu. Seharusnya kau menyertakan...”
“Arghhh... penjelasanmu sama sekali tidak membantu.” Aku mengacak kasar rambutku.
Ador mengangguk kikuk. “Oke, lakukan sesukamu. Apakah sifat remaja selalu semenyeramkan ini?”
Setelah istirahat beberapa menit, aku kembali mencoba untuk menghantamkan tinjuku pada dinding besi tersebut. Kali ini aku mencoba menggunakan cara yang sama namun lebih menguatkan bahu kananku tanpa memaksakan tekananku pada dinding besi tersebut. Aku menarik nafas dalam. Mulai mengayunkan tangan kananku secara perlahan. Aku mengatupkan rahang dan melesatkannya secara perlahan namun penuh dengan tenaga pada dinding besi tersebut.
DENG!
Suara dentuman terdengar lebih keras dari sebelumnya. Aku terkesiap menatap dinding besi yang meninggalkan bekas cekungan sedalam lima senti. Aku menatap ke arah tangan bionikku. Ador sudah lebih dulu berseru senang sebelum aku mengepalkan tanganku.
“Sudak kuduga kau memang anak yang jenius, Zenzen!” Ador bersu riang sembari mengangkat kedua tangannya.
Aku tersenyum tipis. Rasa kesalku karena omelannya tadi sudah hilang. Aku hanya terdiam nenatapnya yang berlari riang seperti orang gila. Kali ini aku tidak akan protes dan mencoba mengusik kegembiraannya. Dengan begini satu lagi langkah untuk mencapai tujuanku. Dengan begitu aku bisa memiliki peluang untuk mengalahkan si Anak Kebanggaan di Akademi Talenta. Murid kebanggaan milik Cario.
Jadilah malam ini Ador kembali mentraktirku di kedai mie tempat biasanya dia mentraktirku. Tempat itu juga masih sama dengan dua tahun yang lalu. Pemiliknya benar-benar mempertahankan konsep klasik dan estetika masakan mereka. Hanya satu yang berbeda dari tempat ini, pemiliknya semakin berumur. Penampilan Gyo tampak berubah. Di wajahnya telah dipenuhi jenggot dan kumis tipis.
Ador dan Gyo saling berpelukan hangat. Mereka terlihat sangat akrab layaknya sebuah keluarga. Gyo masih menggunakan sarung tangan hitamnya. Belum pernah aku saksikan tangan bionik yang dia kenakan. Mungkin Gyo terlalu malu untuk menunjukkan sisi cacatnya. Sebenarnya dia tidak beda jauh denganku, sih. Aku hanya menggunakan baju lengan pendek saat berada di Akademi dan di laboratorium milik Ador. Selain di kedua tempat itu, aku akan menggunakan baju lengan panjang beserta sarung tangan.
Kami menyantap mie buatan Gyo di tengah dingin yang menyelubungi kota. Rasa dari mie tersebut tidak pernah berubah. Rasanya tetap sedap dan menghangatkan. Satu-satunya sisi yang paling aku sukai dari Ador ialah saat dia mentraktirku ke kedai ini.
“Jadi apa rencanamu selanjutnya, Nak?” Ador bertanya padaku dalam perjalanan kembali menuju laboratorium.
“Aku akan kembali ke akademi besok.”
“Eh, Secepat itu? Kau yakin tidak ingin menghabiskan waktu sejenak setelah keseharianmu yang melelahkan di Akademi Talenta?”
Aku menggeleng tegas. “Aku kembali ke laboratorium hanya untuk sekedar mempelajari hal baru yang kau janjikan dulu. Sekarang aku sudah menguasai semuanya. Jadi aku tidak punya alasan lagi untuk kembali ke laboratorium.”
Ador tersenyum tipis dan berbisik pelan, “ada satu hal yang belum kau kuasai, Nak.”
Aku yang tadi menatap ke luar jendela menoleh menatap Ador. “Apa yang kau bilang tadi?”
Ador cepat-cepat menggeleng. “Oh, bukan apa-apa. Lupakan saja, itu bukanlah hal penting.”
Aku mendesah pelan lantas kembali menatap ke luar jendela.
__ADS_1