Kehancuran Batana

Kehancuran Batana
TERLUPAKAN 3


__ADS_3

 


 


Sesuai janji, Jora merekam segala aktifitasnya menggunakan multifunction area recorder. Aku bisa menyaksikan Jora terlihat gugup begitu menaiki skuter miliknya. Ini adalah pengalaman pertama baginya untuk mengendarai benda melayang itu secara manual. Aku terus memandunya untuk mengendarai benda itu. Sejujurnya aku sedikit kasihan dengan kegigihannya hanya demi menyenangkanku yang kesepian di rumah ini. Namun melihat usaha kerasnya aku jadi urung untuk menghentikannya.


Sesekali dia tersengal dan nyaris terjatuh. Aku bahkan ikut merasa tegang dengan kondisinya. Aku khawatir jika dia terjatuh dan mengalami luka serius. Jora tetap bersikukuh. Dalam lima belas menit, dia menguasai skuter melayang tersebut. Dia bersorak riang. Demikian juga denganku. Aku bahkan melakukan selebrasi dengan mengangkat kedua tanganku sembari menunjuk langit-langit ruanganku yang berlapis kaca transparan.


Jora mengendarai skuter itu melewati beberapa pelataran rumah dengan mulus. Lantas menghampiri beberapa anak yang tengah bermain di tepi jalanan. Mereka semua terlihat terkejut begitu melihat Jora. Aku menggigit jemariku. Aku resah jika mereka hendak menolak Jora untuk bergabung dengan mereka. Selama ini Jora selalu di bawah perlindunganku. Tentu saja akan sulit baginya untuk bermain dengan bebas bersama mereka.


“Bo, bolehkan aku bergabung?” Jora bertanya pelan. Aku bisa melihat jemarinya menggenggam erat stang skuter miliknya.


Hening sejenak. Hingga seseorang akhirnya berbicara. “Hahaha, tentu saja, Bung.”


Aku bernafas lega. Begitupun Jora.


Sungguh ironi yang sangat menyedihkan. Aku hanya bisa termenung menatap mereka yang tampak riang bermain di bawah sinar matahari yang menghangatkan, sedangkan aku terkurung di sini macam kucing yang dikurung di dalam kandang. Dan juga kenapa rumah ini terasa semakin dingin setiap harinya? Argh! Pasti Tia menurunkan suhu pendinginnya.


Mereka menelusuri komplek. Berencana untuk mendatangi markas baru yang sempat mereka tunjukkan padaku tiga hari lalu. Tempat dengan hamparan rumput  setinggi mata kaki dan jejeran ilalang beserta pohon raksasa dengan akar yang menggantung. Tempat itu sangat indah jika senja telah menaung. Membuat rerumputan terlihat berwarna jingga kecokelatan.

__ADS_1


Mereka tiba di tempat tujuan. Jora memarkirkan skuternya di bawah pohon raksasa itu. Sempat terbesit di pikiranku untuk mengetehui nama pohon tersebut. Dengan cepat aku melakukan pemindaian pada pohon tersebut menggunakan proyeksi tiga dimensi yang tertanam di seluruh ruanganku. Sekejap, seluruh ruangan menampilkan informasi mengenai pohon tersebut. Pohon itu tak lain adalah pohon beringin. Dan aku sungguh dikejutkan dengan usia pohon tersebut. Lima ratus tahun! Begitulah yang tercantum di dalam data yang ditampilkan di layarku. Itu artinya pohon ini sudah menjadi saksi bisu bagaimana manusia hiup turun temurun.


Jora menuju batu dimana kami pernah saling bercengkrama dua hari lalu. Walau aku hanya bisa menyaksikan semua pemandangan melalui proyeksi, aku tetap merasa terhibur. Sempat lupa bahwa aku tengah berada di dalam kamar. Kami berdua saling mengobrol. Melontarkan candaan. Walau aku tidak bisa merasakan angin yang menerpa ilalang, aku tetap bisa membayangkan bagaimana angin itu memainkan anak rambut. Aku bisa melihat rambut Jora bergoyang pelan.


Begitulah di hari-hari berikutnya. Jora selalu membawa MAR (Multifunction Area Recorder) kemanapun dia pergi. Dia mengisi hari-hari membosankanku menjadi menyenangkan. Membuatku tidak merasa sedang berada di dalam rumah. Orang tuaku masih belum bisa dihubungi. Aku hanya bisa menyaksikan wajah Ibu di layar hologramku yang tengah masuk dalam trending topic. Setiap kali melihat siarannya, ibu selalu dikelilingi oleh wartawan. Satu hal yang janggal, wajah Ibu tidak terlihat senang. Padahal dia selalu menceritakan proyeknya padaku dengan mata berbinar-binar.


Semakin hari serasa semakin janggal.  Langit-langit dipenuhi pesawat kecil yang hanya memuat enam penumpang. Aku bisa menyaksikan dari atap kamarku yang bening. Aku bahkan tidak terlalu memerhatikan rekaman yang Jora tayangkan padaku. Kemungkinan besar ini semua ada hubungannya dengan proyek yang dijalankan Ibu. Jora juga tengah memperhatikan pesawat-pesawat itu. Pada akhirnya, kami berdua hanya sibuk memandang langit yang dipenuhi pesawat.


Hingga dua minggu berlalu begitu cepat.


Seperti biasa, aku terlebih dahulu sarapan. Tia sempat mengomeliku yang tidak menghabiskan sarapanku. Dia bilang jika orang di luar masih banyak yang kesulitan mendapat sesuap makanan. Aku menggerutu sejenak. Terpaksa menghabiskan makananku sampai tandas. Aku sempat bercengkrama sejenak dengan adikku Liana. Dia hanya mengoceh pelan, mengibas-ngibaskan tangannya di udara. Seusainya, aku bergegas menuju kamarku. Namun sayangnya Jora tidak dapat aku hubungi.


Sekitar satu jam lamanya aku menyaksikan Ibu tengah berpidato. Aku menguap pelan. Ini jelas bukanlah tayangan menarik bagi anak-anak. Aku memutuskan untuk beranjak dari tempatku. Namun aku lebih dulu dikejutkan oleh dering telepon. Aku bergegas mengangkat telepon yang langsung menayangkan wajah Ayah.


“Hei, Lian! Bagaimana kabarmu?” Wajah Ayah terlihat senang.


Aku menatap Ayah dengan tatapan datar. “Ah, hai Ayah.”


“Lian, Ayah benar-benar minta maaf lagi...” Ayah mengusap kepalanya. “Sepertinya kami tidak bisa pulang hari ini.”

__ADS_1


“Yeah, aku tahu itu akan terjadi.” Aku menundukkan kepalaku dan menghela nafas panjang. Aku benar-benar kecewa dengan kedua orang tuaku.


“Kalau begitu, kenapa tidak Ayah saja yang pulang?” Aku memutuskan untuk bertanya. Sampai saat ini aku hanya tahu jika Ibulah yang merupakan anggota Asosiasi Batana. Setahuku, Ayah hanya menemani Ibu selama di markas. Menghibur Ibu jika dia merasa lelah atau sedih.


“Itu dia, Lian. Ini sangat aneh, Ayah tidak diizinkan keluar dari markas.”


“Eh? Kenapa tidak boleh?”


Ayah menggeleng pelan. “Ayah sendiri juga tidak tahu. Kami bahkan dibatasi untuk menghubungi keluarga atau siapapun yang berada di luar markas. Tapi setidaknya kau bisa menyaksikan wajah Ibu di layar hologrammu, kan?” Ayah mencoba mengalihkan pembicaraan.


“Tentu saja itu berbeda” Aku berseru tidak setuju.


“Hahaha, kau anak yang pintar, Lian. Kau juga sangat mirip dengan Ibumu. baiklah, sepertinya waktu Ayah sudah mau habis. Jagalah adikmu baik-baik, Lian. Oh, jangan lupa untuk selalu menuruti perkataan Tia. Kalau begitu sampai jumpa.”


Layar hologram menghilang. Aku mendesah pelan. Merebahkan tubuhku di atas kasur. Kemungkinan besar pesawat luar angkasa akan diluncurkan tepat di siang hari. Aku memutuskan untuk menatap langit cerah yang sangat bersih. Tidak ada lagi pesawat kecil yang berterbangan. Pemandangan digantikan dengan sekumpulan burung yang terbang rendah. Seakan turut berpartisipasi dalam penerbangan pesawat raksasa tersebut.


Tepat pukul dua belas siang. Ketika aku, Tia, dan Liana  tengah menyantap hidangan makan siang. Terdengar suara gemuruh yang sangat keras. Tia bergegas menyalakan hologram. Pesawat itu bersiap lepas landas. Ribuan orang bertepuk tangan. Menghitung mundur bersamaan. Ratusan drone berterbangan di sekitar pesawat. Tidak ada Ibu di sana. Apalagi Ayah. Aku menatap takjub pesawat tersebut. Pesawat tersebut memiliki warna abu-abu metalik dengan beberapa orrnamen berbentuk heksagon berwarna kuning. Ujungnya tajam dengan bentuk kerucut yang mengkilap. Pesawat itu memiliki turbo raksasa di bagian bawah. Entah berapa jumlah turbo yang terpasang. Mataku nyaris tak berkedip.


 

__ADS_1


 


__ADS_2