
Telingaku berdenging begitu melihat potongan terakhir ingatanku. Aku meraung kesakitan. Tatu bergegas melepaskan jarum di leherku. Aku tersungkur di atas lantai sembari memegangi kepalaku. Mereka semua bergegas menghampiriku.
“Lian, kau tidak apa-apa?” Natania bertanya panik.
Aku tidak bisa mendengar suara mereka. Rasanya kepalaku seperti dihantam batu.
“Jin, Jun. Bawa Lian ke dalam kamar.” Ador memberi perintah.
Mereka berdua mengangguk dan membopong tubuhku.
Aku melangkah gontai. Pandanganku bercampur aduk. Untuk sekilas aku bisa menyaksikan potongan masa lalu. Untuk sekilas aku bisa menyaksikan wajah Ibu yang berdiri di hadapanku sembari mengangkat tingi-tinggi sebuah benda berbentuk jarum suntik. Potongan-potongan ingatan itu sangat menyiksa kepalaku. Aku meringis kesakitan. Tepat ketika kedua bersaudara itu meletakkanku di atas kasur, aku tidak sadarkan diri.
***
Aku terbangun sekitar lima belas menit kemudian. Kepalaku masih terasa sakit. Hanya saja tidak sesakit tadi. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Mungkin penyebabnya karena otakku yang tiba-tiba menerima semua ingatan yang diblok oleh EM. Hal itu memicu syok pada otakku sehingga membuatku sangat kesakitan.
Aku berjalan gontai sembari memegangi kepalaku. Aku mendekati pintu kamar. Pandanganku masih tidak begitu jelas. Hanya saja, aku terlalu penasaran dengan kelanjutan dari kisah masa laluku. Ada banyak hal yang aku lewatkan. Setidaknya aku butuh beberapa informasi agar aku bisa mengerti maksutd dari kata-kata terakhir Ibu.
Pintu berderit. Jin dan Jun yang tampak berjaga di depan pintu terkejut nyaris bersamaan.
“Hei, Bung. Kau harus istirahat. Ini perintah dari Tatu.” Ujar Jin.
“Iya, kau tadi meringis kesakitan selama kau pingsan.” Jun menambahkan.
Aku menggeleng tegas. “Aku tidak punya waktu untuk itu. Dimana Tatu. Aku harus...” Aku terhenti sejenak. Rasa sakit di kepalaku tidak kunjung hilang. “Aku harus segera mengetahui masa laluku.”
“Soal itu... Kau tidak diperbolehkan untuk melihat kembali ingatan masa lalumu yang diblok oleh EM.” Jin memasang wajah serius.
“Tatu bilang itu terlalu berbahaya.” Jun ikut menimbrung.
Aku tidak peduli dengan kalimat mereka berdua. Berlalu melintas di antara mereka. Namun langkahku dihentikan oleh mereka.
“Aku harus bertemu Tatu!” Aku berseru ketus dengan nafas tersengal.
“Tidak boleh!” Seru mereka bersamaan.
Aku menatap mereka berdua dengan tatapan tajam.
“Lian, kau sudah sadar!”
Aku menoleh dan mendapati Tatu telah berdiri di belakangku. Tatu bergegas menghampiriku dan menyuruhku untuk masuk kembali ke dalam kamar. Aku sempat menolak perintahnya. Namun urung begitu melihat raut wajah Tatu yang sangat serius. Aku tidak punya pilihan selain menurutinya.
Awalnya aku berpikir jika Tatu tidak akan menjelaskan apapun mengenai masa lalunya. Tapi aku keliru. Justru Tatu memintaku masuk ke dalam kamar untuk menceritakan semua masa lalunya selama dia bekerja di Batana.
“Lian, aku tahu kau sangat penasaran dengan masa lalu ibumu. Tapi, biarkan aku yang menceritakan semuanya. Yeah, walau aku merasa tidak enak untuk menceritakan semuanya padamu. Karena saat bekerja di Batana, adalah kenangan pahit bagiku dan Natania.” Tatu menunduk sedih.
Ruangan hening sejenak.
Tatu menghela nafas panjang. “Tapi sebelum aku menceritakan semua hal tentang masa laluku, biarkan aku menjelaskan beberapa hal padamu.”
__ADS_1
“Seperti yang kau saksikan di dalam ingatanmu, kami semua melakukan semua proyek itu bukanlah tanpa alasan. Semua ini atas perintah dari kepala negara. Aku yakin kau sudah tahu. Zenzen. Pria yang kini menjadi pemimpian para kawanan bandit. Saat itu Zenzen mengubah namanya menjadi Kaza Trium. Dia menjadi kepala negara Titantrium. Sebuah negara yang terletak di utara. Hanya saja kini negara itu telah dihapus dari peta dunia karena dianggap sebagai negara yang menyebabkan insiden kebangkitan RP-2. Dan aku yakin saat ini negara itu sama sekali tidak berpenghuni.”
“Kau tahu, Lian? Kota yang kita huni ini bukanlah Kota Pandai besi yang sebenarnya. Kota ini hanyalah bentuk duplikat dari kota yang asli. Kota Pandai Besi merupakan Ibukota Titantrium. Kota itu dianggap sebagai kota dengan teknologi paling mutakhir. Semua orang masih tidak bisa melupakan teknologi yang berasal dari Titantrium. Maka dari itu mereka membangun kembali kota yang telah hancur tersebut.”
“Lalu, bagaimana dengan Batana? Kenapa tidak semua orang mengetahui Batana?” Aku memotong kalimat Tatu.
“Itu karena kami memanipulasi ingatan para masyarakat.”
Aku memicingkan mata. Setengah tidak percaya dengan ucapan Tatu.
“Mungkin ini memang sulit untuk dipercaya. Namun itu sungguh terjadi, Lian. Beberapa orang yang selamat dari insiden kebangkitan RP-2 membawa sebuah pemancar yang mampu memanipulasi ingatan setiap orang. Pemancar itu mengeluarkan gelombang yang mampu membuat semua orang melupakan soal Batana. Hanya saja alat itu hanya berfungsi bagi penduduk yang tinggal di dalam kota ataupun perkampungan. Dan juga alat itu tidak bisa mempengaruhi para anggota Batana. Namun, kami tetap menjaga ingatan itu di kota ini. Karena kami tahu bahwa penduduk di kota ini masih percaya dengan janji yang diberikan Batana kepada seluruh umat manusia. Soal kehidupan yang lebih baik.”
Aku mengangguk. Pantas saja para suku nomaden yang aku temui waktu itu bisa mengingat soal Batana. Mungkin mereka tidak terkena dampak dari gelombang tersebut.
“Para penduduk di kota ini percaya pesawat luar angkasa yang kami kirimkan akan menjemput kembali seluruh umat manusia dan membawa kita ke planet lain yang lebih baik. sejatinya Batrice sempat tidak setuju dengan proyek tersebut. Mungkin karena dia tersadarkan oleh kata-katamu, Lian. Soal melakukan adaptasi. Hei, bukankah manusia bisa bertahan hidup walau zaman silih berganti. Tentu saja hal itu karena kita tidak memiliki pilihan selain beradaptasi. Hal itu sempat memicu pertentangan antar kelompok Batana. Pada akhirnya, kami hanya bisa menuruti perintah Zenzen.”
Aku terdiam sejenak. Kembali melontarkan pertanyaan. “Bagaimana dengan antek-antek Zenzen yang dia letakkan di setiap kota yang dia kuasai? Kenapa antek-antek itu tidak terpengaruh oleh gelombang tersebut?”
Tatu mengangguk. “Kemungkinan besar Zenzen mengetahui rencana kami. Dia sempat menangkap beberapa anggota Batana dan memaksa mereka menemukan alat penetral dari gelombang tersebut. Zenzen itu sangat cerdas. Sehingga nyaris tidak ada celah untuk mengalahkannya. Maka dari itu semua orang sangat menakutinya. Tidak ada satupun orang yang berani menghadapinya. Dia bahkan mengubah wajahnya sehingga semua orang tidak sadar jika dia adalah mantan kepala negara. Entah teknologi macam apa yang dia miliki. Semua orang menganggap dia bukan seorang manusia. Dia seperti sebuah kabut yang tidak berbentuk.”
Aku menelan ludah. “Itu artinya ada beberapa anggota Batana yang masih dia tawan, kan?”
“Mungkin iya dan mungkin tidak. Aku tidak tahu apakah anggota Batana yang dia tangkap masih hidup atau tidak. Tapi ada kemungkinan jika mereka tidak punya pilihan selain tunduk pada Zenzen. Kau tahu, Lian? Anehnya kami sama sekali tidak tahu tentang masa lalu Zenzen. Semua informasi tentangnya seperti ditelan oleh perut bumi. Tidak ada jejak. Aku yakin Zenzen memanipulasi semua informasi tentang identitasnya. Ah, tapi mari kita kesampingkan hal itu dan beralih ke topik yang sesungguhnya.” Tatu membenarkan posisi duduknya. “ Lian, aku ingatkan sekali lagi. EM yang tertanam padamu saat ini adalah benda yang sangat berbahaya.”
Aku mengangguk. Ruzdora sudah menjelaskannya berulang kali kepadaku.
“Alasan kami menghentikan pembuatan proyek itu karena ini menyangkut hidup mati semua manusia. Awalnya alat itu digunakan sebagai alat bantu bagi manusia untuk bertahan hidup di luar angkasa. Alat itu diciptakan untuk membuat manusia bisa bernafas di luar bumi tanpa khawatir soal oksigen. Alat itu juga berfungsi sebagai perlindungan diri dan menggandakan kekuatan. Karena kami tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di luar angkasa. Bisa saja ada alien atau makhluk aneh yang menghalangi perjalanan pesawat luar angkasa.
Aku tersenyum tipis. Entah itu alasan bagus atau tidak. Aku tidak bisa memberi komentar.
“Lalu, bagaimana nasib semua orang yang kalian kirimkan ke luar angkasa.?” Aku kembali bertanya.
Tatu memejamkan mata sejenak. “Nah, itu dia yang membuatku khawatir. Kami sudah putus kontak dengan mereka sejak enam tahun yang lalu. Aku dan Natania adalah komunikator dengan pesawat tersebut. Hari itu kami seperti biasa, meminta laporan harian pada mereka. Namun, secara tiba-tiba alat komunikasi kami tidak lagi menerima sinyal dari mereka. Kami sudah mencoba berbagai upaya dan cara untuk kembali menghubungi mereka. Sayangnya, kami tidak pernah berhasil menghubungi mereka.”
Aku nyaris terlonjak. Itu fakta yang sangat mengejutkan. “Tatu, kau tahu, kan? Jika semua orang mengetahui kalian putus kontak dengan orang-orang di luar angkasa, kalian bisa berada dalam bahaya.”
Tatu menunduk sedih. “Aku tahu, Lian. Aku tahu lebih dari siapapun.”
Aku menghela nafas sejenak. “Baiklah, itu tidak penting sekarang. Tatu, ada yang ingin aku beri tahu padamu. Ini soal kalimat Zenzen yang dia katakan kepadaku”
“Apa itu, Lian?”
“Saat aku ditawan olehnya, Zenzen menceritakan berbagai hal padaku. Termasuk jika aku pernah bertemu dengannya saat usiaku masih enam tahun. Tapi itu tidak penting. Zenzen menceritakan satu hal tentang masa lalunya. Jika dulu dia pernah dibawa oleh seorang dokter. Dan dokter itu melakukan percobaan pada tubuh Zenzen. Sehingga membuatnya menjadi demikian. Itulah alasan Zenzen membenci semua manusia dan ingin membuat semua orang tunduk padanya.”
Tatu terdiam. Wajahnya tidak terlihat terkejut seperti dia sudah pernah mendengar fakta tersebut. Hingga pembicaraan kami terhenti karena seseorang memasuki ruangan. Ador. Kakek sepuh itu tampaknya mendengar percakapan kami sejak tadi.
“Hei, Nak. Apa yang dikatakan Zenzen soal dokter itu adalah sebuah kesalahan.” Ujar Ador dengan wajah merengut.
“Ador, aku rasa kau tidak perlu menceritakannya pada Lian” Sanggah Tatu.
__ADS_1
“Tidak, aku harus memberi tahunya. Agar semua orang tidak lagi salah paham tentangku.”
Ruangan hening sejenak. Tatu dan Ador terlihat bersitegang. Tatu akhirnya mengalah. Membiarkan Ador menjelaskan semuanya padaku.
“Dokter yang dimaksud Zenzen adalah aku.”
Aku terbelalak. Ini fakta yang lebih mengejutkan. Dialah kunci dari semua permasalahan Zenzen. Tapi kenapa Tatu tidak mau memberi tahuku?
“Maaf, Lian. Aku berbohong padamu. Kami memang tidak mengetahui masa lalu Zenzen sebelum bertemu dengan Ador. Tapi setelah bertemu dengannya, aku kini mengetahui alasan Zenzen bisa berbuat keji seperti itu. Karena kakek tua inilah penyebabnya.” Tatu menatap tajam ke arah Ador.
“Diam kau, Pria Tambun!” Ador menggeram. “Jangan berkata seperti itu. Kau mengatakannya seolah-olah aku adalah seorang kriminal besar. Biar aku jelaskan apa yang terjadi pada hari itu. Ini saatnya bagi kalian untuk tahu betapa mulianya diriku ini.”
Tatu menggelengkan kepalanya. Mendengus kasar.
“Semua orang menganggapku adalah seorang pria hina. Itulah sebutanku saat aku menjadi seorang dokter dulu. Semua orang menganggapku pria gila, tapi siapa peduli soal hal itu. Semua kalimat itu tidak pernah menyakiti perasaanku. Toh, aku menjadi seorang dokter karena ingin membantu orang lain. Aku membuat orang yang tidak bisa berjalan kembali bisa berjalan. Aku membuat orang yang tidak bisa melihat kembali melihat. Aku membuat orang yang tidak bisa berbicara kembali berbicara. Aku membuat orang yang tidak memiliki tangan kembali memilikinya. Apakah tindakanku salah? Tidak, yang salah adalah yang menggunakannya. Aku hanya menciptakan rangka-rangka robotik itu dan memasangkannya pada mereka. Itu hanya sebuah alat, yang mengendalikannya adalah pemiliknya. Tentu saja itu bukan salahku.”
Lengang. Wajah Ador tampak merah padam. Urat-urat di lehernya mengeras. sepertinya aku tahu alasan Ador selalu membanggakan dirinya. Dia tidak mau semua orang merendahkan dirinya. Sejatinya aku yakin, dia pasti mengalami hari-hari yang berat dan penuh rasa sakit. Seperti Vero yang menjalani hari dengan ceria, seperti Bundara yang bersikap tegas, seperti Marko yang suka meledek, dan jora yang selalu melimpahkan perhatiannya pada orang lain. Bukankah semua itu beralasan? Demi menjalani hari tanpa rasa sakit. Demi mengobati luka atas masa lalu.
Ador kembali melanjutkan kisahnya. “Hingga kejadian itu terjadi. Alokasi perluasan area elit. Manusia itu memang keji! Tidak ada puas-puasnya! Padahal mereka sudah hidup enak dan makmur, mereka malah menyakiti sesamanya. Argh! Padahal aku juga manusia. Hari itu, aku menyelamatkan anak-anak yang sangat tidak beruntung. Mereka kehilangan keluarga. Satu dua mengalami cacat permanen. Tidak ada siapapun yang peduli dengan mereka. Hanya aku seorang yang bisa menyelamatkan mereka. Jadilah aku mengumpulkan mereka di laboratoriumku.”
“Aku yakin jika itu bukan sebuah laboratorium.” Potong Tatu dengan suara berbisik.
“Sudahku bilang tutup mulutmu!” Ador melotot. Membuat keriput di wajahnya terlihat seram. Tatu tidak lagi berbicara.
Ador berdehem sejenak. “Ada satu anak yang sangat memprihatikan. Sekujur tubuhnya dipenuhi luka bakar. Beberapa bagian bahkan lumpuh. Keluarganya tewas dalam kebakaran besar itu. Usianya masih sangat belia. Dia adalah Zenzen. Bocah malang yang sempat aku anggap sebagai anakku sendiri.” Ador merengut. Dia seperti tengah menahan emosinya.
“Aku memutuskan untuk menyelamatkannya. Aku mengumpulkan berbagai alat dan bongkahan besi terbaik. Aku menciptakan sebuah karya yang tidak pernah aku ciptakan sebelumnya. Alat bantu yang bisa melindunginya dari berbagai ancaman. Saat itu Zenzen terlihat sangat bahagia. Dia tersenyum seperti kebanyakan anak lainnya. Melihatnya berlari dengan tawa menggunakan karyaku adalah sebuah kebahagiaanku yang luar biasa.”
Ador menunduk. “Tapi aku salah. Selama ini aku salah! Semua tawa yang dia tunjukkan, semua sikap baik yang dia haturkan, semua itu palsu! Semua itu dusta! Tidak ada senyumnya yang nyata. Jauh di lubuk hatinya yang dalam, tersimpan kebencian dan dendam. Pada akhirnya dia meyalahgunakan karyaku untuk mebalaskan dendamnya. Aku mecoba mengehentikannya. Aku bahkan mencoba untuk membunuhnya. Tapi, hatiku seperti berkata lain. Pada akhirnya Zenzen sendiri yang menyerangku. Membuatku harus duduk di kursi roda seperti ini. Membuatku tidak ingin mebuat kembali alat-alat bantu itu. Bagiku duduk di kursi ini adalah hukumanku. Namun yang menjadi pertanyaan besar di dalam hidupku, kenapa anak itu tidak mencoba membunuhku? Kenapa dia membiarkanku hidup dan menghilang tanpa jejak?”
Lenggang. Aku tidak tahu harus berkata apa. Melihat wajah Ador yang merengut, aku tahu jika dia sangat marah pada dirinya. Namun di satu sisi, dia masih menyimpan harapan besar pada Zenzen.
Setelah hening selama beberapa detik, Ador kmbali berbicara. “Aku terus menerus mencari keberadaan Zenzen. Pencarian itu aku lakukan selama bertahun-tahun. Bisa dibilang sepanjang hidupku. Tidak kusangka dia menjadi kepala negara. Walau saat itu aku tidak tahu jika itu adalah dia. Nama dan wajahnya berubah. aku tidak lagi mengenalinya. Dia benar-benar melakukan rencanya. Membuat banyak orang tunduk padanya. Dia membuat anggota Batana tidak berani menentangnya.”
“Hei, jika saja aku tahu sifat sebenarnya, aku tidaka mau mengikuti kemaunya.” Celutuk Tatu dengan wajah sebal.
Ador menjewer telinga Tatu. Membuatnya berteriak kesakitan dan mengusap telinganya yang merah padam.
“Astaga! Tidak bisakah kau diam saja! Lihat Lian! Anak itu masih bersikap manis dan mau mendengarkan kisahku.” Ador menujukku dengan wajahnya.
“Tuan Ador, maaf jika ini tidak sopan. Apakah kita memang pernah bertemu?” Aku bertanya dengan sudara rendah. Takut jika Ador berseru galak dan memaki-makiku.
Namun yang ada, Ador malah tertawa. Suara seraknya terdengan seperti penyihir di tengah hutan belantara. Entah itu tertawa senang atau tertawa meledek.
“Kau memang tidak ingat.” Ador memincingkan alis. Karena kau masih berada di usia yang masih belum bisa mengingat apapun. Hmmm kira-kira saat itu usiamu tiga tahun. Aku bertemu dengan Batrice di sebuah kota. Saat itu aku tengah mencari keberadaan Zenzen. Anehnya, aku malah terlibat langusng dengan asosiasi Batana. Pada akhirnya aku mulai mengenal Batrice. Oi! Aku hampir melupakan ayahmu yang lugu.”
Aku hampir menyangkal kalimat Ador. Dia bilang ayahku lugu? Tentu saja itu tidak sopan. Walau demikian aku urung untuk menegurnya. Bisa-bisa dia ngambek dan tidak lagi menerima pertanyaanku. Atau lebih parahnya lagi, dia tidak akan mau berbicara sepatah katapun padaku.
“Aku benar-benar tidak tahu jika Zenzen menjadi kepala negara di tempat asal Batrice. Aku benar-benar melewatkan kesempatan itu. Pada akhirnya, usahaku selama bertahu-tahun sia-sia. Zenzen membangkitan Robot Penjaga Perbatasan. Dan kini dia menjadi peminpin kawanan bandit yang brutal. Aku tidak bisa mendekatinya satu langkahpun.” Ador meremas jemarinya. “Jika ada kesempatan berikutnya, aku tidak akan lagi melepaskannya. Aku pasti akan memberi pelajaran pada anak durhaka itu!”
__ADS_1
“Aku yakin kau tidak akan sanggup, Ador.” Tatu berujar santai.
“Dasar Tambun Cerewet!