Kehancuran Batana

Kehancuran Batana
PERGINYA ZENZEN 5


__ADS_3

Jadilah hari ini Ador membawa kami berkaryawisata. Dia bahkan menyewa sebuah bus mini untuk kami gunakan sebagai kendaraan menuju museum kota. Untuk makanannya sendiri Ador meminta Gyo membuatkannya. Aku bisa mendengar suara panik Gyo melalui telepon begitu mendengar permintaan Ador. Aku bisa membayangkan bagaimana repotnya Gyo pagi ini. Ah, sudahlah. Malas sekali mengurusi urusan orang lain.


Sebelum berangkat, aku meminta Arina untuk berbicara padaku. Setelah sekian lama dia memutuskan untuk berani berinteraksi kembali denganku. Padahal aku sudah memperingatinya setahun sejak kepergian Bastian. Aku ini bukan tipe yang mudah memaafkan seseorang. Karena itu aku tidak akan pernah memaafkannya. Dia sudah membuatku kecewa sejak kejadian pertarunganku dengan Bastian.


“Apa-apaan sikapmu tadi?” Aku berujar dengan nada dingin dan tatapan tajam.


Arina hanya tersenyum sembari memainkan tanah dengan kakinya. “Aku hanya memberimu selamat. Tidak lebih.”


Aku memutar bola mataku dan mengusap rambutku. “Kau pikir aku tidak akan tinggal diam dengan sikapmu barusan, hah? Aku sudah memperingatimu setahun yang lalu. Aku tidak akan pernah mengenalimu lagi maupun mencoba berbicara denganmu.”


Selama satu tahun ini aku memang bersikeras mengabaikannya. Jika berpapasan dengannya, hanya akan aku anggap angin  lewat. Itulah yang aku lakukan selama satu tahun ini.


“Kurasa saat ini kau sedang salah paham denganku. Kau pasti berpikir amarahku padamu sudah teredam oleh waktu, bukan? Sayang sekali, aku bukanlah tipe orang yang seperti itu. Jadi jangan macam-macam lagi denganku!” Aku menekankan kalimat terakhir dengan nada kesal. Agar dia tidak lagi mengusikku.


“Hmmm... Bukannya tadi kau bilang kau tidak akan berbicara denganku. Tapi sekarang kau yang lebih dulu berbicara padaku?”


Eh? Aku nyaris saja menepuk jidatku. Perkataannya memang tidak salah. Karena itu membuatku jadi sedikit malu. Aku menggaruk keningku. “ Dengar. Kali ini adalah peringatan terakhirku. Mulai detik ini jangan lagi berbicara padaku.”


Aku hendak berbalik.


“Kita lihat saja! Sampai kapan kau keras kepala sepeti itu! Kurasa kau akan tetap berbicara denganku jika aku yang lebih dulu mengajakmu berbicara!” Arina berteriak lantang sembari tersenyum.


Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku. Tidak akan aku biarkan hatiku goyah sedikitpun. Tidak akan!


Tapi kenyataannya aku kalah oleh seorang gadis.


Kami telah tiba di museum. Kalian tahu? sepanjang perjalanan menuju museum tadi aku sama sekali tidak bisa tenang. Arina. Gadis berusia tiga belas tahun yang sebaya denganku itu berkali-kali memancingku untuk berbicara. Aku sudah berusaha untuk menghindarinya. Tapi Ador, pria tua itu mendengar perkataan Arina dan menegurku. Bilang kenapa aku tidak membalas ucapannya. Aku terpaksa, benar-benar sangat terpaksa. Lidahku bahkan sangat kelu dan kalimatku terdengar patah-patah saat menjawab perkataannya. Karena sekarang aku lebih banyak beraktifitas di luar laboratorium, Ador jadi tidak pernah memantau aktifitasku dengan anak-anak lainnya di laboratorium. Dia berpikir jika aku sudah akrab dengan anak-anak lain. Tapi kenyataannya tidak.


Aku ingin sekali marah. Tapi situasi ini sangat tidak memungkinkan. Mungkin aku akan meledak begitu kembali ke laboratorium. Setidaknya untuk saat ini akan aku tahan dulu emosiku.


“Hei, Zenzen. Ada apa dengan wajah kusutmu itu? Seharusnya kau menikmati hari ini karena kau baru saja di terima di sebuah akademi bergengsi di kota ini.”


Aku menelan ludah. Arina baru saja mengajakku kembali berbicara. Aku berusaha mengalihkan pandangan. Setidaknya aku tidak perlu melihatnya.


Museum itu sangat besar dengan arsitektur modern berbahan baja yang mengkilap. Jendelanya di buat besar dan lebar sehingga siapapun bisa mengintip apa isi di dalam museum itu dari luar. Beberapa patung tampak dipajang di depan museum.


Kami memasuki museum. Di dalamnya terdapat kubah-kubah kaca yang menyimpan barang-barang kuno abad 20. Satu hal yang menarik perhatianku adalah sebuah gadget berbentuk persegi panjang seukuran tangan orang dewasa. Di depan kubus kaca itu menampilkan sebuah layar hologram dan informasi mengenai benda tersebut.


Benda itu disebut sebagai handphone. Dikatakan jika alat itu sudah tidak ada lagi sejak sebuah bencana yang menimpa seperempat bagian bumi. Membuat jaringan komunikasi  sempat terputus di zaman itu sehingga tidak memungkinkan semua manusia untuk berkomunikasi dengan orang lain menggunakan benda berbentuk persegi panjang tersebut. Benda itu sendiri ditemukan pada jasad seorang wanita yang terhimpit reruntuhan bangunan akibat bencana besar itu. Setelahnya semua manusia meninggalkan benda itu dan beralih pada suatu alat komunikasi yang lebih maju.


“Apa yang kau lihat?” Arina ikut menimbrung.


Aku dengan cepat pergi darinya.


Dunia setelah kehancuran memang luar biasa. Manusia tidak henti-hentinya menciptakan inovasi untuk kembali bangkit setelah berbagai bencana yang melanda mereka pada era itu. Aku dengar pada abad itu terjadi pergeseran lempeng bumi dengan skala besar yang mengakibatkan terpecahnya beberapa bagian benua dan membentuk benua baru. Kekacauan juga terjadi di mana-mana. Krisis makanan, komunikasi, obat-obatan, tempat tinggal, transportasi, semua itu membuat manusia harus mengulang segalanya dari awal. Menemukan sesuatu yang baru namun sangat efisien dalam keadaan genting. Memanfaatkan apa yang ada untuk menciptakan sesuatu.

__ADS_1


Hanya orang-orang pandai saja yang bisa bertahan. Kekuatan bukanlah segalanya. Tapi yang paling penting adalah kecerdasan. Bagaimana cara kita membangun ulang yang hancur, bagaimana cara kita bertahan. Semua itu memerlukan sebuah kecerdasan.


Kami melintasi lorong demi lorong. Aku tidak bisa menjelaskannya satu persatu dari semua barang-barang antik di museum ini. Hanya satu dua hal saja yang menarik perhatianku. Hingga kami tiba di sebuah ruangan berbentuk lingkaran dengan tinggi ruangannya setinggi tiga meter. Di tengah ruangan di pajang sebuah robot dengan kepala lonjong dan setengah badannya tampak rusak. Tangannya terlihat panjang dengan jemari-jemarinya bak bilah pisau.


“Robot Penjaga Perbatasan.” Ador mendesis pelan.


Semua pandangan kini tertuju pada Ador.


“Robot Penjaga Perbatasan adalah robot paling buruk sepanjang sejarah yang diciptakan oleh manusia. Robot itu hampir menghacurkan setengah dari dunia. Miliaran manusia menjadi korbannya, tidak mengenal usia maupun status. Apapun bisa dibantai oleh robot ini.”


Aku menatap takjub robot setinggi dua meter itu. Di sebelah bangkai robot yang dipajang itu terdapat hologram yang menampakkan wujud asli dari robot tersebut.


“Robot Penjaga Perbatasan atau biasa disebut sebagai RP-2 diciptakan tiga puluh tiga tahun yang lalu. Aku menjadi saksi dari kejadian itu, anak-anak. Hanya saja usiaku masih sangat belia. Sekitar sepuluh tahun. Kekacauan terjadi di mana-mana. Waktu itu aku lahir dari keluarga yang cukup. Sehingga kami bisa mengungsi dari satu negara ke negara lainnya. Mencari tempat aman untuk berlindung. Jadilah aku berakhir di kota metropolitan ini. Namun pengalaman itu tidak akan pernah terlupakan oleh orang-orang sepertiku, anak-anak. Ledakan di mana-mana. Asap hitam raksasa mengepul tinggi ke langit. Mayat orang-orang yang terbunuh berserakan dimana-mana. Setidaknya itu yang terjadi akibat kesalahan fatal manusia karena telah menciptakan benda tersebut.”


“Pada akhirnya RP-2 segera dinonaktifkan oleh perusahaan mereka menggunakan semacam pemancar. Lalu pemancar itu dihancurkan untuk selama-lamanya agar tidak lagi di salah gunakan oleh siapapun. Dan sekarang kalian bisa menyaksikan sendiri bagaimana rupa benda itu di hadapan kalian.”


Anak-anak mengangguk paham.


“Tuan, apa penyebab dari kerusakan pada robot-robot itu sehingga mereka berubah untuk menyerang manusia?” Tanya seorang anak.


“Pertanyaan bagus. Aku akan memberi kalian fungsi awal dari robot-robot tersebut. Mereka diciptakan untuk menjaga perbatasan negara. Setelah bencana yang melanda bumi dua abad sebelumnya. Mereka tak letih-letihnya ingin menguasai berbagai daerah demi kelangsungan hidup bangsa mereka. Pada akhirnya seorang ilmuwan yang ingin menciptakan kedamaian dunia membuat Robot Penjaga Perbatasan. Saat itu beberapa negara telah terbentuk dan mereka tidak ingin turut serta dalam peperangan yang pecah di seluruh dunia. Akhirnya negara-negara itu memesan robot itu guna menjaga negara mereka dari ancaman luar. Ancaman itu bisa berupa pasukan, senjata, bahkan mata-mata. Nah, robot ini di desain untuk bisa membaca ekspresi manusia dan menganalisis karakter mereka semua. Jika ditemukan satu saja kecurigaan, robot-robot itu akan menyerang siapapun yang dianggap sebagai ancaman.”


Ruangan hening sejenak. Menyisakan desing hologram yang berpendar di samping robot yang sudah tak bergerak itu. Anak-anak mengeluarkan ekspresi ngeri mendengar kisah tersebut. Ador kembali melanjutkan penjelasannya.


“Sejatinya ini adalah kesalahan fatal yang dibuat oleh para ilmuwan. Mereka menciptakan robot-robot itu terlalu pintar. Sehingga robot-robot itu mulai menganalisis sifat-sifat manusia yang lainnya. Mereka mempelajari beberapa hal buruk dari manusia seperti keserakahan, eksploitasi berlebihan pada alam, ketamakan, dan berbagai hal buruk lainnya. Robot-robot itu berubah menjadi senjata makan tuan. Yang pada akhirnya menyerang sendiri negara pemiliknya. Aku masih ingat sekali berapa jumlah robot-robot itu. Mereka sangat banyak. Jumlahnya mungkin lebih dari ribuan. Bayangkan saja, perusahaan itu bisa menghasilkan seratus robot perharinya yang akan di sebar luaskan ke seluruh negara yang membutuhkannya. Pada awalnya semua orang mencintainya karena negeri mereka aman berkat robot-robot itu, tapi juga mudah sekali membencinya. Begitu benda itu berubah menjadi jahat, maka satu duniapun akan membencinya. Siapapun itu, mereka semua akan sangat membencinya.”


“Oi! Tadi aku sudah bilang, bukan?” Ador memicingkan mata.


Anak itu hanya mengusap kepalanya sembari tersenyum nyengir.


“Oke, aku akan menjelaskan detailnya. Para ilmuwan mulai mengetahui sebab dari perilaku agresif para robot-robot tersebut. Hei! Bukankah pembuat selalu tahu bagaimana menghancurkan karyanya. Mereka selalu tahu solusi dari masalah yang sudah mereka perbuat. Mereka memancarkan semacam gelombang penonaktif tepat sekitar delapan puluh jam setelah kebangkitan robot-robot itu. Tidak ada yang tahu detailnya. Yang jelas detik-detik sebelum semua robot itu mati, langit tampak gelap dengan awan yang berwarna abu-abu pekat. Awan-awan itu membentuk sebuah pusaran di langit-langit. Lantas dari balik awan itu terpancarkan sebuah cahaya kebiruan yang berkilauan dan sebuah gelombang terhempas dari pusaran awan itu. Beberapa detik kemudian robot-robot itu tidak lagi bergerak dan bergeletakan sembarang di jalan. Lantas langit kembali cerah.”


“Apakah anda juga menyaksikan cahaya kebiruan itu?”


Ador menggeleng. “Oh, tentu saja tidak. Tempat pengungsianku benar-benar jauh dari sumber bencana besar itu. Kami berada di sebuah negara di mana tidak ada satupun sebuah RP-2 di sana. Kalian bisa menebak di mana negara itu?”


Kami menggeleng serentak. Aku pun juga tidak tahu fakta itu.


“Itu adalah sebuah negara kecil berbentuk kepulauan. Negara mereka hanya terdiri dari lima pulau dan satu pulau hanya dihuni berkisar dua puluh juta penduduk. Negara itu adalah negara terbelakang di era itu tapi berkat kejadian itu mereka berubah menjadi negara yang paling maju dan makmur. Ketika semua orang sangat sibuk bagaimana cara mengembalikan udara menjadi kembali bersih, negara itu sudah lebih dulu memulainya. Mereka tidak membangun perumahan dengan bahan-bahan baja dan bahan perusak lingkungan lainnya. Mereka menggunakan kayu sebagai bahan dasar bangunan. Mereka makan dari hasil alam. Oi! Bagaimana bisa negara itu dianggap sebagai negara terbelakang. Sebenarnya merekalah yang paling maju di antara negara lainnya. Jika kau berkunjung ke sana, kalian tidak akan pernah mendapati adanya seorang pengemis, orang miskin maupun gelandangan satupun.”


Eh? Apa benar ada sebuah negara seperti itu? “Lantas kenapa anda tidak memutuskan untuk tinggal di tempat itu?”


Ador menggeleng pelan. “Tinggal di negara asing bukanlah solusi yang baik, Nak. Kami para pengungsi memutuskan untuk kembali ke daerah kami masing-masing. Lebih banyak yang tidak tahan dengan kehidupan dan keadaan di negara itu. Status kami disana hanya berlindung. Jika sudah aman kami akan kembali ke tempat asal kami masing-masing. Itulah prinsip manusia modern. Akupun bukan pengecualian. Aku juga memiliki perasaan itu. Aku yang sudah terbiasa dengan hidup serba modern tidak akan pernah bisa tinggal di tempat seperti itu, Nak. Karena itu kami memutuskan kembali ke tempat asal kami.”


Sungguh sangat disayangkan. Jika aku menjadi Ador, aku akan lebih memilih tinggal di tempat damai seperti itu. Tapi kenyataannya aku lahir di tempat yang berbeda. Untuk apa aku berpikir bisa hidup di tempat seperti itu? Pada akhirnya aku memang ditakdirkan untuk hidup di tempat seperti ini. Dimana kekuasaan dan harta adalah segalanya.

__ADS_1


Kami kembali menelusuri seluk beluk museum. Begitu kami selesai berkeliling, Gyo telah menunggu kami di dekat tempat parkir. Dia tampak kewalahan. Membawa sejumlah mie yang diletakkan dalam mangkok melamin dengan tutup karet anti panas. Kemudian kami menyantap mie itu di taman yang disediakan museum sebagai tempat piknik.


Kami kembali ke laboratorium tepat ketika sore menjelang. Seminggu lagi adalah hari keberangkatanku ke Akademi Talenta. Ador sudah menyiapkan semua barang yang aku perlukan untuk dibawa ke akademi itu. tujuanku disana hanya satu, mengalahkan Cario. Setidaknya itulah yang Ador katakan padaku secara berulang-ulang tanpa lelah.


Aku berniat untuk menegur Arina begitu pulang.


“Arina.” Aku memanggilnya dan memberinya isyarat untuk berbicara secara empat mata.


Arina hanya tersenyum sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dada.” Kau bilang tadi pagi adalah perbincanganmu yang terakhir kali. Tapi sekarang kau meminta untuk berbicara denganku lagi?”


Aku menghela nafas kesal. Anak ini semakin dibiarkan semakin menjadi-jadi. Aku hendak protes. Tapi Arina lebih dulu memotong kalimatku.


“Aku memang tidak berniat untuk berbicara padamu tadi pagi. Tapi aku melakukannya demi Tuan ador. Bukan karena aku ingin berusaha untuk membuatmu memaafkanku. Aku belum pernah melihat Tuan Ador sebahagia itu. Karena itu aku sedikit berterima kasih padamu. Jadi jangan salah paham.”


Aku terdiam. Kalimat yang hendak aku lontarkan tiba-tiba tidak bisa keluar dari mulutku. Entah apa yang terjadi. Tapi mendengar alasannya sepertinya dia memang berkata jujur.


“Aku tidak akan pernah memintamu untuk memaafkanku, Zenzen. Itu memang salahku yang tidak mempercayai orang lain. Biar aku beri alasan mengapa aku sangat membenci mendengarkan kata-kata orang yang tidak aku percayai. Karena aku sudah pernah dikhianati oleh seseorang sebelum aku dikhianati oleh Bastian.”


Hening sejenak. Udara berhembus pelan membelai rambutku. Aku hanya mendengus pelan. Sekali lagi aku tidak mengerti kenapa aku membiarkannya berbicara. Tapi kuputuskan untuk mendengar ceritanya. Setidaknya ini untuk yang terakhir kalinya dan akan menjadi yang terakhir sebelum aku pergi ke akademi.


“Ya, aku sangat setuju denganmu setahun yang lalu. Soal perkataanmu tentang aku yang tidak pernah mau mendengarkan orang lain. Walau aku berkali-kali tidak ingin mendengarkanmu tapi sebagian perasaanku mendengarkan apa yang kau katakan. Itu memang menyakitkan, tapi aku harus menerimanya. Sebelum aku dirawat oleh Ador, orang tuaku sering sekali bertengkar hingga memecahkan berbagai barang dan merusak berbagai perabotan, sampai-sampai aku tidak bisa tidur. Malam hari bagaikan penyiksaan dan siang hari bagaikan penjara. Keluarga yang aneh memang. Kami tetap menjalani hari yang sangat biasa tapi begitu malam tiba, mereka akan saling berteriak seperti serigala yang melolong.” Arina terdiam seenak. “Aku selalu berpikir kenapa mereka tidak bercerai saja? Atau mengapa mereka saling mencintai tapi pada akhirnya hanya untuk saling bertengkar. Aku tidak mengerti. Yang aku dengar hanyalah tangisan, kata-kata kasar, suara benda pecah. Hanya hal itu yang selalu aku dengar setiap malam sebelum aku tidur. Tidak, aku bahkan nyaris tidak bisa tidur.”


“Hingga aku memutuskan untuk menutup kedua telingaku. Menyumbatnya agar tidak pernah lagi mendengar kebisingan itu. Tapi penderitaanku tidak cukup sampai di situ. Tetangga-tetanggaku mulai membicarakan keluarga kami. Setiap kali aku pergi ke sekolah, mereka akan berbisik dibelakang tentang keluargaku. Satu dua bahkan tidak segan untuk menegurku secara langsung jika mereka sangat keberatan dengan segala kebisingan yang terjadi. Tidak ada yang peduli padaku, tidak ada yang mencoba mendengarkanku. Karena itu aku mulai mencoba untuk  tidak pernah mendengarkan orang lain.”


“Jadi kuputuskan untuk mengabaikan semua ucapan itu. Menganggapnya hanya sebuah kesiur angin atau kicauan burung. Tapi orang tuaku malah semakin menjadi-jadi. Aku sudah tidak tahan lagi. Malam itu akhirnya kukumpulkan keberanianku, menegur mereka.” Arina terdiam sejenak, dia mengusap telinganya. “Tapi yang terjadi akhirnya aku benar-benar kehilangan pendengaranku. Memang hanya sebelah tapi itu tetap sangat menyakitkan. Ayahku menampar keras tepat di bagian telinga kananku. Darah mengucur dari telingaku. Tapi aku tidak merasakan sakit apapun. Yang kurasakan saat itu adalah pedihnya menatap wajah ayahku yang melotot galak. Sembari berkata untuk apa anak kecil sepertiku ikut campur dalam urusan keluarga. Itulah kata-kata terakhir yang kudengar dari ujung bibirnya. Ayah kemudian mengangkat sebuah kursi. Tidak ada lagi tatapan kasih sayang. Hanya pandangan seorang pembunuh berdarah dingin. Ibu dengan cepat melindungiku. Tepat di detik terakhir, kepala ibu terbentur kursi itu dengan keras. Aku masih bisa mendengar suara teriakannya dengan telinga kiriku.”


“Polisi datang lima jam kemudian setelah aku kabur dari rumah dengan keadaan bersimbah darah. Ayahku berhasil ditahan. Dan aku di bawa ke rumah sakit. Kau tahu apa yang terjadi setelahnya? Ayahku disidang. Keluarga dari Ayah tidak menerima Ayahku sebagai tersangka. Aku dipanggil dengan keadaan tuli di telinga kanan. Tapi aku masih bisa mendengarkan perkataan orang lain dengan telinga kiriku. Aku mengalami syok berat sehingga sulit sekali untuk bersaksi. Pengacara Ayahku mengatakan jika Ayah mengidap skizofrenia. Gangguan jiwa di mana seseorang tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang bukan. Itulah penyebab Ayah selalu mengamuk di malam hari. Itulah penyebab dia selalu membentak Ibu tanpa alasan. Pengacara itu mengatakan jika Ayah tidak ingat telah membunuh Ibu dan memukulku malam itu. Perkataan itu semakin membuatku syok. Aku memang masih bisa mendengar. Tapi dalam sidang itu aku seakan tidak bisa mendengar apapun.”


“Akhirnya Ayah tidak jadi dijatuhi hukuman penjara. Dia diletakkan di rumah sakit jiwa dan menetap di tempat itu untuk waktu yang sangat lama. Penderitaanku belum selesai sampai disitu. Keluarga dari Ayah tidak ingin merawatku. Sedangkan keluarga dari Ibu ingin memutus semua hubungan keluarga dari Ayahku termasuk aku sejak sidang tersebut. Mereka sangat terpukul atas hasil sidang yang tidak adil. Menyalahkanku yang tidak bisa mengatakan apa-apa di sidang hari itu. Aku yang masih dalam perawatan akhirnya kabur dari rumah sakit. Hari itu hujan dan telingaku kembali mengeluarkan darah. Aku tersesat. Aku tidak tahu kemana harus pergi.”


“Aku ditemukan pingsan oleh seseorang. Tuan Ador, dialah yang menemukanku pingsan di sebuah gang sempit dengan keadaan telinga berdarah. Aku di bawa ke tempat ini dan menerima perawatannya. Aku tidak berbicara satupun kalimat apalagi mendengarkan ucapannya. Hingga Tuan Ador mengatakan satu hal yang membuatku mau mendengarkannya. Dia bilang, ‘Tidak apa-apa jika tidak ingin mendengarkan. Tapi mulailah untuk berbicara.’ Aku terdiam untuk sesaat. Kata-kata itu menyentuh sebagian hatiku yang keras. Aku mendengarkannya berkata. Dan aku menangis saat itu pula. Untuk pertama kalinya aku benar-benar mendengarkan apa yang ingin aku dengar.” Arina menggerak-gerakkan kakinya.


“Sampai detik di mana Bastian memukulku. Sebelum itu aku tidak pernah mau mendengarkan kata-kata yang tidak aku sukai. Aku hanya ingin mendengar apa yang ingin aku dengar. Dan lebih banyak berbicara dibandingkan mendengar. Aku menyukai Bastian karena dia jarang berbicara dan lebih banyak mendengarkanku berbicara. Hal itulah yang membuatku merasa nyaman berada di dekatnya. Anak-anak lain tidak akan bertahan lama jika mereka yang mendengarkanku berbicara. Jadi rata-rata mereka tidak menyukaiku. Tapi aku tidak peduli, selama ada satu orang yang mau mendengarkanku, aku merasa sangat bahagia.”


“Aku ingin menyangkal semua kisahmu.” Aku menghentikan ucapannya.


Arina tersentak. Mata kami saling beradu.


“Kau sudah salah dari awal. Jika kau mendengarkan semua orang berkata hal buruk tentangmu, kenapa kau tidak mencoba menghentikan mereka? Padahal mudah sekali melakukannya. Bilang jika kau mengalami hari yang berat dalam keluargamu. Seharusnya kau sudah banyak berbicara pada hari itu. Tapi kau menyia-nyiakannya. Kau membuang semua kesempatan itu. Mereka berbicara demikian karena mereka semua mendengar segala keributan yang terjadi dalam keluargamu. Aku yakin keluhan itu bukanlah sebuah sindiran. Melainkan teguran agar kau berusaha untuk membuka masalahmu.” Aku menggelengkan kepala. “Sampai sekarangpun kau masih tidak berubah. Kau pikir kau sudah berbeda dengan setahun yang lalu? Tentu saja tidak, Bodoh. Kau masih sama. Dari kisahmu tadi aku sudah paham, kau masih tidak bisa mendengarkan perkataan orang lain. Buktinya adalah kau mengabaikan ucapan tentangku dan melanggarnya. Yang itu artinya kau sama sekali tidak mendengarkan peringatanku. Hei! Mendengarkan itu tidak selalu buruk. Karena itu dengarlah ucapanku dan jangan lagi berbicara padaku.” Aku menekankan kalimat terakhir dengan nada tinggi. Memberi isyarat jika aku sedikit kesal dengan sikapnya.


Arina tersenyum. “Sudah kuduga kau akan bilang seperti itu, terima kasih. Kau adalah orang kedua yang kudengarkan setelah Tuan Ador. Dan juga sampai jumpa.”


Hari itu aku tidak tahu jika ini adalah perbincangan terakhir kami. Karena keesokan harinya, Arina sudah tidak ada lagi di laboratorium ini.


 

__ADS_1


 


__ADS_2