Kehancuran Batana

Kehancuran Batana
LAUT


__ADS_3

“Bisakah kau mengemudi dengan benar?” Seru Marko yang kini berpegangan di tiang-tiang kapal. Wajahnya pucat


Wajar jika Marko marah, kami yang tengah asyik menatap sungai terganggu karena Vero tidak sengaja menyenggol tuas penambah kecepatan. Membuat laju kapal tidak karuan . Kami semua kini tengah berpegangan di tiang-tiang kapal. Bundara bahkan beberapa kali terpelanting. Mengomel pada Vero yang kini menjadi seorang nahkoda.


“Ini sulit! Sangat berbeda dengan pesawat!” Vero mengeluh. Berusaha mengendalikan kapal agar kembali stabil.


Kami berusaha memasuki dek kapal. Namun berkali-kali tergelincir. Vero tidak sengaja menabrakkan kapal dengan bebatuan sungai. Membuat kapal terguncang. Aku bahkan sudah merasa mual. Kami semua benar-benar terlihat konyol. Merangkak di atas lantai kapal macam cicak yang merayap di dinding.


“Vero! Coba kau pelankan laju kapal!” Jora memberi usul.


“Sebentar, Nona! Aku akan mencobanya!”


Laju kapal mulai memelan. Aku bernafas lega. Melepaskan helmku dan mengusap peluh di keningku. Aku terbaring sejenak menatap langit pagi yang bersih.


Kami memasuki dek kapal. Ruang kemudi terpisah beberapa meter dari dek, tapi kami masih bisa melihat Vero mengemudi. Aku memutuskan untuk duduk di salah satu kursi penumpang. Memasang sabuk pengaman, disusul yang lainnya. Kejadian tadi membuatku sedikit trauma. Aku tidak akan lagi berani keluar untuk melihat pemandangan. Bagaimana jika Vero tiba-tiba melakukan kesalahan yang sama sedang aku tengah berdiri di tepi kapal? Aku menggelengkan kepala. Itu pasti mengerikan.


“Aku benci kapal ini!” Vero mengeluh.


“Kita tidak punya pilihan lain, Vero.” Aku mencoba menenangkannya.


“Aku setuju dengan Lian. Kita tidak memiliki banyak waktu. Bukannya Lian sudah menjelaskan situasinya padamu, Vero?” Jora menengahi.


Vero masih tidak bisa menerima fakta jika pesawat kami diubah menjadi kapal. Sementara kami berdebat, Marko menepuk-nepuk bahuku.


“Ka....Ka...Kapten?”


Aku menoleh. Marko tengah menunjuk ke arah depan. Serempak kami melihat arah yang dituju Marko. Air terjun.


“VERO, PUTAR BALIK!” Bundara yang lebih dulu memberi perintah.


Vero memutar kemudi. Namun bukannya berbalik, laju kapal semakin cepat mengarah mendekati air terjun.


Astaga aku lupa! Kapal ini dilengkapi dengan sensor air. Kapal ini di desain mengikuti arus air. Tentu saja usaha Vero percuma. Aku belum sempat mengenakan helmku kembali. Sial! Helmku menggelinding ke sana kemari lantaran laju kapal yang tidak stabil. Vero masih berusaha mengendalikan laju kapal. Padahal kami baru saja terbebas dari malapetaka, kini musibah lainnya datang. Apakah ini yang dinamakan dinamika kehidupan?


Kami mulai berpegangan. Kapal semakin cepat. Vero menekan tombol untuk melipat layar. Berharap laju kapal memelan. Usahanya juga tidak membuahkan hasil. Dalam hitungan detik, kapal akan terjun bebas macam air bah. Aku menelan ludah, menahan nafas. Aku bahkan belum sempat meraih helmku.


Ketika kami sudah mencapai ujung, seketika, kapal terjatuh. Kami berteriak. Ini lebih mengerikan dari pada saat kami menaiki pesawat. Wajahku terkena percikan air yang memasuki kapal. Membuat basah rambutku. Kapal masih terjun bebas. Vero dengan sigap menarik kemudi agar kapal mendarat dengan mulus. Dia berjuang mati-matian. Mengerahkan seluruh tenaga. Mengerang bak harimau kesakitan.


Berhasil! Kapal mendarat dengan mulus. Mengeluarkan suara dentuman. Membuat air bergelombang bak tsunami. Aku menghembuskan nafas lega.


“Ka...Kapten?” Marko kembali menunjuk ke arah depan.


Aku mengeluh. Kali ini apa lagi?


Air terjun beruntun. Begitulah aku menyebutnya.


Kami kembali berteriak. Vero tidak bisa beristirahat walau sedetikpun. Tangannya menggenggam erat kemudi. Dia dengan cekatan menekan berbagai tombol yang sama sekali tidak kumengerti. Bundara menahan mual. Menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Jora berteriak histeris. Marko memejamkan mata sembari menggigit bibir. Aku tidak tahu berapa banyak air terjun yang telah kami lewati. Namun di antara kami, tentunya Vero yang paling kewalahan. Jika dia salah mengendalikan kapal, kami semua akan berada dalam bahaya.


Kapal terpelanting ke sana kemari. Menabrak bebatuan sungai. Terkadang kapal berputar tidak karuan mengikuti arus sungai. Kepalaku terasa pusing. Rasanya aku akan pingsan. Sekitar tujuh menit lamanya kami mengarungi air terjun beruntun. Hingga kapal kembali tenang.


Tubuhku terasa lemas. Tanganku bergetar. Keringat dingin mengucur deras di keningku. Menyatu dengan air dan membasahi wajahku. Bundara tidak bergerak. Sepertinya dia pingsan. Marko menyandarkan kepalanya. Nafasnya tersengal dan tangannya juga bergetar. Jora mengeluh, rambutnya yang panjang kusut terkena air. Dia juga melepas sepatu bootnya yang terisi dengan air. Vero? Aku tidak tahu bagaimana keadaannya. Dia hanya diam mematung. Mungkin dia mengalami syok berat.


Kapal mengambang dengan tenang. Gemericik air memecah ketegangan. Kami saling tatap. Bundara sudah terbangun dari pingsannya, berteriak ketakutan. Membuat yang lain tertawa. Vero menghidupkan kemudi otomatis. Bergabung di dek. Menutup pintu dek. Melepas helm dan menyeka peluh. Wajahnya pucat pasih.


“Lian, kau baik-baik saja tadi tidak memakai masker?” Bundara yang tengah melepas helm bertanya.


Aku mengangguk. “Aku sudah terbiasa dengan udara kotor.”


“Eh, sejak kapan?” Marko ikut bertanya. Wajahnya penasaran.

__ADS_1


“Sejak aku kecil.” Aku menjawab singkat. Menyibak rambutku yang basah terkena tampias air.


“Dia memang sudah begitu sejak kecil, aku pernah mengikutinya. Tapi tidak sanggup. Aku hanya bertahan beberapa jam , setelahnya dadaku terasa sesak.” Jora menambahi, dia tengah sibuk merapikan rambutnya yang berantakan.


“Kalian berteman sejak kecil?” Vero bercelutuk. Mengipas-ngipas wajahnya. Kepanasan.


“Eh, Lian tidak pernah bercerita?” Jora menoleh padaku.


Aku memalingkan wajah. Menatap pemandangan di balik jendela. Aku tidak punya ingatan tentang Jora. Aku selalu berusaha menghindari pembicaraan soal masa lalu, khawatir jika Jora tersinggung kalau aku bilang tidak mengingat apapun.


“Nona, dia itu sungguh misterius. Sebuah keajaiban jika dia menceritakan kisahnya dalam satu paragraf. Dia hanya pernah bercerita, itu pun hanya sebatas satu kalimat tanpa titik. Selain itu...” Vero menggeleng, “Dia hanya berujar sepatah dua patah kata.”


Marko dan Bundara mengangguk setuju sembari menatapku.


“Jadi, sejak kapan kalian berteman? Kalian hanya sekedar teman atau lebih?” Marko tersenyum licik. Mengangkat salah satu alisnya.


Jora melambaikan tangan. Salah tingkah. “Tentu saja kami hanya sekedar teman. Tidak lebih. Tapi kalian tahu? Lian dulunya anak yang periang. Dia tidak bisa berhenti berceloteh walau hanya sejenak. Dia suka menceritakan banyak hal, mengajak kami mengeksplorasi berbagai tempat, menemukan hal-hal baru, dan terkadang dia suka melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya.”


Kalimat Jora sepenuhnya benar. Aku memang banyak tingkah waktu kecil. Namun yang menggangguku, aku tidak bisa mengingat Jora.


“Itu pasti bohong.” Bundara berseru tidak terima. “Lihatlah anak itu! Kini dia malah menatap pemandangan seperti tidak peduli pada kita.” Bundara tertawa. Suaranya seperti raksasa yang tengah tertawa jahat.


Jora hanya tersenyum. “Mungkin tragedi RP-2 yang membuatnya demikian. Aku saja masih sulit untuk tidur. Terkadang, bayang-bayang RP-2 yang membunuh kedua orangtuaku muncul di dalam mimpiku.”


Dek kapal hening. Semua menatap prihatin ke arah Jora.


“Eh, tapi aku baik-baik saja kok.”


“Lalu?” Marko bertanya penasaran. Dia layaknya anak kecil yang tengah mendengar dongeng.


“Sejak tragedi itu kami terpisah. Aku tidak pernah tahu bagaimana kabar Lian. Orang tuaku meninggal dan Walikota Keios menemukanku. Mengangkatku menjadi anaknya.” Jora menunduk. Raut wajahnya berubah. Dia seperti tidak menyukai fakta bahwa dia anak angkat dari Walikota Keios.


Senyap. Mereka saling tatap. Aku masih sibuk menatap pemandangan di sekitarku.


Bundara melempar helmnya ke arah Vero. “Dasar sok bijak!”


“Eh, aku sungguh-sungguh loh...” Vero menangkap helm Bundara dengan sigap. Menjulurkan lidah. Meledek.


Mereka semua tertawa. Lantas  satu persatu menceritakan kisah hidup mereka, terkecuali aku. Entah sampai kapan aku akan menyimpan rahasia ini sendirian. Memendamnya di dalam lubuk hatiku yang paling dalam.


Petang mulai menjelang. Matahari mulai tenggelam. Mereka masih asyik mengobrol, bercanda, dan lainnya. Sejauh ini kapal mengambang dengan mulus. Namun aku semakin jarang melihat pepohonan di pinggir sungai. Merasa aneh, aku melangkah keluar.


“Vero, kau yakin mengarahkan kapal di jalur yang benar?”


“Eh, sebentar, aku pastikan.” Vero beranjak, menggunakan maskernya. Melangkah ke ruang kemudi.


Beberapa menit kemudian , Vero berseru. “Ini sudah benar, Lian. Kompas menunjukkan arah yang benar.”


Aku baru menyadari jika kami telah tiba di...


“LAUT!” Marko berlari ke tepi kapal. Disusul yang lainnya.


Mereka semua kini berdiri di tepi kapal. Aku menyusul. Berjejer di samping mereka. Lihatlah! Di hadapan kami membentang laut. Kemilau senja terpantul di atas air. Membuat pemandangan terlihat eksotis.


“Sunset! Itu sunset!” Vero kegirangan. Tangannya menunjuk-nunjuk matahari yang seolah tenggelam di balik laut.


Bundara mengusap matanya yang berkaca-kaca. Walau sangar, dia memiliki hati yang lembut. Marko menepuk-nepuk bahunya. Vero bahkan meledeknya.


Jora yang berdiri di sampingku berbisik pelan, “Ini mengingatkanku saat kita masih kecil. Kau pernah melarangku untuk pergi ke angkasa dengan alasan , kalau aku hidup di luar angkasa, aku tidak akan pernah bisa menyaksikan matahari terbit dan terbenam lagi. Aku sungguh berterima kasih, Lian ”

__ADS_1


Aku menatapnya. Kalimat itu persis seperti dalam mimpiku. Aku mengatakannya pada seorang gadis yang terlihat murung.


Tiba-tiba, Jora melepaskan maskernya.


“Nona! Apa yang kau lakukan?” Vero berseru panik.


“Aku ingin seperti Lian. Melakukan adaptasi, bukannya melakukan penolakan. Aku juga ingin merasakan udara di laut ini. Bukankah ini kesempatan langka?”


Bundara dan Marko ikut menyusul. Aku hendak menghentikan mereka. Itu terlalu berbahaya.


“Baiklah, jika kalian melepaskannya, begitupun aku.” Vero yang paling terakhir.


“Kami baik-baik saja, Lian. Kau tidak perlu khawatir.” Jora seakan bisa membaca raut wajahku.


Aku menghela nafas pasrah. Tidak tahu harus bicara apa lagi.


Kami semua menonton detik-detik terbenamnya matahari. Langit mulai gelap, gugusan bintang mulai terlihat. Kapal telah menjauh dari daratan. Kami masih berdiri di tepi kapal.


“Hei, perutku lapar. Ketegangan saat di air terjun tadi membuatku lupa jika kita belum makan siang.” Vero mengeluh. Memegangi perutnya yang sudah mengeluarkan suara.


Kami beranjak menuju dek. Menghabiskan makan sembari menatap gugusan bintang yang berjajar elok menghias angkasa. Tidak terhitung jumlahnya. Ribuan, jutaan, miliaran, entahlah, tidak ada yang tahu pasti jumlah bintang-bintang tersebut. Walau kau mencoba menghitungnya, besok malam kau tidak akan menjumpai formasi bintang yang sama.


Deburan ombak menambah melodi malam. Angin berhembus menerpa wajah kami. Suara mesin kapal menderu gagah membelah lautan. Layarnya terbentang bak sayap burung. Kami berlima berbaring di luar dek. Menunjuk-nunjuk rasi bintang yang kami kenali. Kami bahkan tidak sengaja mendapati satu dua bintang jatuh. Bersorak takjub. Cahaya bulan menyiram wajah kami.


“Apakah jika misi ini selesai kita masih akan bersama?” Marko bertanya. Wajahnya berubah sedih.


“Jangan bertingkah dramatis seperti itu, Bocah!” Vero menyikut bahu Marko


Marko protes. Memegangi lengannya.


“Entahlah, kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di esok hari.” Bundara menanggapi.


Mereka semua tertawa. Aku hanya tersenyum tipis. Aku tidak bisa membayangkan melakukan perjalanan ini jika aku sendirian. Mungkin aku tidak akan sanggup melakukannya. Putus asa di tengah perjalanan. Itulah hakikatnya manusia. Kita tidak akan pernah bisa hidup sendiri.


“Aku mengingat sebuah lagu yang dinyanyikan seorang artis terkenal di Kota Keios!” Vero terduduk.


“Jangan kau nyanyikan! Kau akan merusak suasana!” Bundara berseru tidak terima.


Kutatap langit bertabur bintang


Menerangi malam alangkah indah


Tak ada kulupa cerita kita


Yang terjalin di antara kita


Marko menimpuk Vero dengan sepatunya. Vero mengomel. Terjadilah pertengkaran di antara mereka. Kapal kembali ramai. Seperti biasa, Jora dan Bundara melerai. Aku tersenyum tipis.


Puas menatap bintang, kami memutuskan untuk beristirahat. Menuju kamar kami masing-masing. Aku sekamar dengan Marko. Dia terlelap begitu menyentuh ranjangnya. Aku masih belum mengantuk, memutuskan untuk menggurat kejadian hari ini di dalam buku catatanku.


 


Tanggal, 5 Januari 2114.


Kami melewati hari dengan penuh ketegangan. Kapal menuruni air terjun. Air terjun tersebut seperti short cut. Tanpa kami sadari, kami sudah berada di hamparan lautan. Menyaksikan matahari terbenam, melihat gugusan bintang yang memesona, dan melakukan obrolan santai.


Sejauh ini aku masih belum bisa menceritakan kisah hidupku pada mereka. Padahal mereka sudah saling menceritakan kisah mereka. Aku tidak tahu kapan diriku akan  siap. Aku selalu menunda-nunda. Bilang besok hari, lantas besoknya aku tidak bisa bercerita. Lidahku terasa kelu setiap kali hendak mengucapkannya.


Aku masih belum tahu dimana letak persis Kota Batana. Petunjukku hanya satu, menuju utara. Aku bahkan tidak tahu apakah di seberang lautan sana ada dataran lainnya.

__ADS_1


Namun lewat perjalanan ini, aku belajar memahami. Lewat perjalanan ini, aku menyadari. Lewat perjalanan ini, aku mengetahui bahwa hidup tak selalu semulus yang kita inginkan. Terkadang kau harus menempuh rasa sakit dan derita. Menghabiskan malam penuh penyesalan, mimpi bagai penyiksaan, dan dada terasa sesak. Namun satu hal yang penting, apakah kita lantas hanya memendam keterpurukan itu? Bukannya begitu banyak kebahagiaan di sekitar kita? Apa lagi yang perlu kita risaukan.


Aku menutup bukuku. Menatap nanar ke arah luar. Esok hari aku akan kembali menulis kisahku di lembaran bukuku. Aku beranjak dari tempat dudukku, mematikan lampu, berbaring di atas ranjang. Lantas terlelap dalam mimpi.


__ADS_2