Kehancuran Batana

Kehancuran Batana
PENGKHIANAT? 3


__ADS_3

Tiga hari kemudian.


Aku dibawa oleh empat prajurit. Tanganku terborgol. Mereka membawaku keluar dari ruang sekap. Saat menelusuri lorong. Dan memperhatikan sekitarku. Aku bahkan menghitung jumlah ruangan dan kamera pengawas yang tertanam pada atap ruangan. Mereka membawaku dengan cepat. Seakan tengah dikejar waktu.


Cahaya matahari menusuk mataku. Mereka membawaku ke sebuah bandara. Ada ratusan prajurit di luar sana. Kemungkinan besar mereka adalah para bandit. Zenzen bahkan memimpin mereka secara langsung. Dia tengah berorasi di hadapan seluruh pengikutnya. Setiap hari aku selalu menganggap dia sudah gila. Dia pernah bilang jika dia bukanlah manusia. Padahal dilihat dari manapun dia adalah manusia.


Aku masih tidak tahu dimana keberadaan Jora. Dia adalah sebuah pertanyaan besarku saat ini. Aku selalu memikirkan hal itu selama berada di ruang sekap. Namun aku selalu mengusik jauh-jauh pikiran itu. Aku yakin Jora tidak mungkin berkhianat pada kami.


Sebelum hari ini tiba, aku punya sebuah rahasia kecil. Hanya saja belum saatnya aku menceritakan rahasia ini. Nanti-nanti saja jika aku berhasil lepas dari genggaman Zenzen. Dan bila saat itu tiba, aku berjanji akan menceritakan rahasia kecilku. Aku juga bersumpah akan menceritakan semuanya pada teman-temanku. Setelah aku membebaskan mereka.


Seluruh pasukan di bawa masuk ke dalam pesawat raksasa berwarna hitam pekat dengan empat moncong di bagian depan. Sayapnya sendiri memiliki empat turbo dengan duri runcing di bagian ujungnya. Melihat pesawat itu mengingatkanku dengan pesawat raksasa milik Kota Keios. Hanya saja pesawat ini lebih jelek dan lebih sangar. Menggambarkan sekali jika pesawat ini adalah milik para bandit.


Zenzen berdiri tepat di sebelahku sembari memandang pesawat raksasa miliknya.


“Bagaimana? Keren, bukan?” Tanya Zenzen padaku.


Aku menatap sinis ke arahnya. Jawabanku, “jelek sekali.”


Zenzen tertawa terbahak-bahak. Rambut berantakannya bergerak-gerak. “Kau pasti memiliki selera yang buruk, Nak. Aku menamakan pesawat ini dengan nama Crowned Crow.”


Aku menggelengkan kepala pelan. Nama itu bahkan terdengar jelek.


Zenzen membawaku ke dalam pesawat. Di dalamnya tidak jauh berbeda dengan pesawat Kota Keios. Hanya saja arsitekturnya lebih seperti gotik. Sesekali aku memperhatikan sekitarku. Meneliti pesawat ini sebaik mungkin.


Aku dibawa ke ruangan paling atas sekaligus otak dari pesawat. Ruangan itu ialah ruang kemudi. Zenzen bahkan duduk di sebelahku. Jika bisa, sudah dari tadi aku ingin menghajarnya. Namun itu sama saja dengan tindakan gegabah. Aku harus bersabar dan menunggu. Itulah caraku untuk membebaskan teman-temanku darinya.


Pesawat bergemuruh, tanda bersiap lepas landas. Aku menyaksikan bandara itu untuk terakhir kalinya sembari berbisik di dalam hati, “tunggu sebentar lagi. aku pasti akan menyelamatkan kalian semua.”

__ADS_1


“Tidakkah kau bertanya-tanya mengapa aku bisa berada di Kota Parit dan menangkapmu beserta teman-temanmu?” Zenzen memulai perbincangan.


Aku sama sekali tidak tertarik. Bagiku cara apapun yang dia lakukan adalah dengan cara busuk.


“Tentu saja itu hal yang mudah, Nak. Aku belum menceritakan semuanya padamu, kan? Baiklah, selama perjalanan ini aku akan menceritakan semuanya padamu.” Zenzen tertawa. “Mari kita mulai dari hari sebelum aku menemukan jasad ibumu. Kau ingat ketiga sepupumu?”


Seketika, rasa amarahku kembali memuncak. Tanganku sudah mengepal. Bersiap melepaskan tinjuku kapanpun emosiku sudah di luar batas. Astaga! Ini benar-benar membuatku gila.


“Saat itu aku mengumpulkan beberapa orang termasuk tetua kampungmu. Aku hanya melakukan negoisasi pada mereka. Siapapun yang memberi tahuku dimana keberadaan Batrice dan Lian Clue, aku akan membiarkan mereka pergi dengan hidup-hidup. Jika menolak, aku hanya tinggal membunuh mereka. Saat itulah seseorang dari mereka mengatakannya jika kau tengah berburu di hutan. Akupun bergegas mencarimu ke tempat yang ditunjuk oleh orang tersebut. Tapi sayangnya, aku hanya menemukan sepupu dan adik perempuanmu. Lagi-lagi aku melakukan negoisasi yang sama seperti yang aku lakukan pada para penduduk. Aku akan memberikan kesempatan untuk hidup jika mereka memberi tahuku dimana keberadaanmu.”


Aku mengepalkan tanganku lebih erat. Pantas saja saat itu aku tidak menemukan keberadaan ketiga sepupuku.


“Ketiga sepupumu sudah siap untuk menjawabnya, hingga Ibumu datang untuk menolong mereka semua. Tidak kusangka jika ibumu menggunakan senjata yang luar biasa untuk melawanku. Aku bahkan dibuat kesulitan dengan perlawanan ibumu. Dia hanya berhasil membawa adikmu tapi tidak untuk ketiga sepupumu. Aku memutuskan untuk menjadikan mereka sebagai tawanan. Menunggumu untuk kembali dan menyelamatkan ketiga sepupumu. Benar saja dugaanku, kau datang ke tempat yang sama. Tapi lagi-lagi Batrice menggagalkan semuanya. Dia benar-benar hama yang sangat menyusahkan. Sepertinya dia membagikan senjata yang dibuat olehnya sendiri pada para penduduk.”


“Kesal karena usahaku tidak membuahkan hasil, aku melampiaskannya pada seluruh penduduk desa. Bahkan aku membunuh ketiga sepupumu dengan tanganku sendiri.” Zenzen terdiam sejenak. Tersenyum simpul.


“Aku menyuruh para pasukanku untuk berpencar mencari keberadaanmu. Asal kau tahu saja, selama beberapa tahun ini aku selalu menyelipkan beberapa orangku untuk menyusup ke beberapa kota. Bisa dibilang mereka adalah mata-mataku. Aku menyuruh mereka untuk menjadi petinggi di setiap kota tersebut. Dan salah satunya adalah Kota Keios.”


Aku terkejut dengan fakta tersebut. Itu artinya selama ini Zenzen selalu mengawasiku.


Zenzen kembali melanjutkan kalimatnya. “Jika bisa, sudah dari dulu aku membawamu. Tapi aku tidak mau melakukan hal yang bar-bar seperti itu, aku memutuskan untuk membuatmu datang padaku dengan sendirinya. Jadilah aku menyuruh mata-mataku untuk membujukmu menghentikan RP-2. Oi! Seharusnya kau sudah bisa menebak siapa orang itu. Buat apa pula aku memberi tahumu siapa orang tersebut.”


Aku meninju kursi penumpang. Menatap tajam ke arah Zenzen. “Terkutuk kau Zenzen!”


“HAHAHA! Bagaimana rasanya dikhianati oleh temanmu sendiri? Aku hanya melakukan hal yang sama seperti saat ibumu mengkhianatiku. Aku hanya ingin sedikit bersenang-senang. Aku tahu kau tidak akan mati semudah itu selama perjalanan ini. karena aku memerintahkan para RP-2 untuk tidak membunuhmu. Aku hanya meminta mereka untuk melumpuhkanmu. Aku bahkan tahu jika kau tidak akan mati saat kau mati-matian menghadapi badai. Karena aku tahu, kau sudah bukan lagi manusia.”


Aku sudah bersiap meninju wajahnya. Namun pesawat tiba-tiba terguncang hebat. Aku bahkan terjatuh ke lantai pesawat.

__ADS_1


“BOSS! PESAWAT KITA DIKENDALIKAN OLEH SESEORANG!” Teriak pilot pesawat.


Sial! Jika begini rencanaku akan gagal! Zenzen menarik tubuhku. Dia melotot ke arahku.


“Kau yang melakukan ini, hah?” Ujarnya dengan suara lirih.


Aku sungguh tidak melakukan apapun. Memang benar aku berencana untuk mengendalikan pesawat raksasa ini. tapi rencana itu masih akan aku lakukan nanti. Lantas, siapa yang mencoba untuk mengendalikan pesawat?


Pesawat kembali terguncang disusul dengan suara gemuruh. Aku bisa menyaksikan beberapa pesawat kecil mendekat. Hei! Aku mengenal bentuk-bentuk dari pesawat tersebut. Pesawat itu milik Kota Keios!


Sebuah tembakan melesat tepat ke arah jendela tempat dimana aku dan Zenzen berada. Aku menunduk untuk berlindung. Seketika bagian dalam pesawat tersedot keluar. aku berpegangan ke salah satu besi yang tersambung dengan dinding ruangan. Tubuhku seakan ditarik keluar. Beberapa bandit terhempas keluar dari pesawat.


Zenzen mencoba untuk menangkapku di tengah keadaan genting ini. Dia tahu aku akan berusaha kabur dalam kondisi seperti ini. Pilot pesawat telah tewas terkena tembakan dari pesawat-pesawat kecil milik Kota Keios. Pesawat ini mulai hilang kendali. Dan bersiap untuk jatuh ke daratan.


Dalam hitungan beberapa menit, pesawat raksasa ini terjatuh. Untungnya pesawat ini sudah di desain sedemikian rupa untuk mengurangi dampak benturan akibat terjatuh. Guncangan hebat membuatku terpental kesana-kemari. Berkat latihanku saat di Akademi Langit dan di Kota The-pi, aku masih bisa mengurangi benturan dengan benda di sekitarku.


Pesawat ini mendarat dengan aman. Aku masih mendengar tembakan di luar sana. Dengan cepat melepaskan borgol di tanganku menggunakan kekuatan yang baru saja aku kuasai. Cahaya biru berpendar menyelubungi tanganku. Lantas borgol tersebut terlepas seperti kertas yang hangus terbakar.


Sementara ini aku tengah berhadapan dengan Zenzen. Dia berteriak marah. Wajahnya terlihat sangat seram. Aku hendak melesatkan pukulanku padanya. Namun sebuah asap hitam menutupi pandanganku. Seketika beberapa prajurit dengan seragam berwarna hitam memasuki ruangan. Mereka membawaku pergi. Sementara yang lainnya tengah berusaha melawan Zenzen yang meraung marah.


Aku dibawa keluar dari pesawat. Beberapa bandit mencoba menghalangi kami. Tapi aku tahu kelemahan mereka. Mereka tidak akan sanggup untuk membunuhku. Jadilah mereka kalah dengan mudahnya.


Para pasukan berpakaian hitam membawaku ke salah satu pesawat milik mereka. Mereka membawaku menjauh dari medan pertempuran. Aku bahkan diberikan seragam dan helm. Ini benar-benar Prajurit Keios! Bagaimana bisa mereka semua berada di sini?


Salah satu dari mereka melepaskan helmnya. Astaga!


“Simpan semua pertanyaanmu untuk nanti, Lian” Ujar Jora sembari tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2