
Aku kembali ke penjara dengan suasana hati buruk. Aku berusaha membuat pikiranku untuk tidak mengingat kenangan burukku. Membujuk hatiku agar tidak terlarut dalam kesedihan. Namun, kejadian yang akan datang mampu mengalihkan pikiranku. Kejadian yang membuatku mengetahui masa lalu Vero dan Bundara. Dua orang yang kini berada di penjara bersamaku.
Aku terduduk di ruang tengah penjara seperti kemarin. Vero dan Bundara belum tiba. Pekerjaan mereka pastilah sangat berat. Terutama Bundara yang menjadi seorang penambang. Aku memejamkan mata sejenak. Menenangkan pikiranku. Kesunyian ini membantuku.
Mataku terbuka begitu mendengar keramaian diluar.
“Hey! Ada perkelahian!” seseorang berseru disusul yang lainnya.
Aku memutuskan keluar dari selku. Mencari tahu keributan apa yang terjadi. Mataku tertuju pada sekurumunan orang yang berada di lorong penjara. Aku mendekati kerumunan tersebut. Penasaran.
Aku terkejut mendapati Vero terkapar di lantai dengan dua orang petugas penjara berdiri di hadapannya. Aku merangsek masuk ke dalam kerumunan. Menghampiri Vero yang terlihat kesakitan sembari menggenggam tangan kirinya. Tampaknya dia tersetrum.
“Sudahku bilang untuk bersikap sopan pada para petugas, Vero si Pengkhianat.” Ujar petugas tersebut dengan nada menghina.
“Tidak kah kau malu pada dirimu, Vero? Kau ini pengkhianat tingkat atas, mana pantas mendapatkan hadiah dari tuanmu. Bahkan kau juga tidak pantas berada di penjara elit.” Ujar salah satu petugas tersebut. Tangan kanannya terlihat menggenggam sekeresek buah.
“Kalian semua! Lain kali jangan berlagak hanya karena mendapatkan upah dari tuan kalian. Mau bagaimanapun kalian itu adalah narapidana. Cih, aku tidak tahu apa yang ada dipikiran tuan yang kalian layani.”
Kini aku paham apa yang terjadi. Tampaknya petugas tersebut mengambil buah milik Vero. Hasil dari upahnya bekerja. Spontan aku berdiri tepat di hadapan petugas tersebut. Mataku menatap tajam.
“Kembalikan!” Aku tidak bisa tinggal diam. Mau bagaimanapun buah tersebut adalah milik Vero. Walau dia seorang narapidana sekalipun, itu tetap haknya. Bukankah penjara ini memperbolehkan tahanan mendapatkan upah dari tuan yang mereka layani? Asal itu bukan salah satu benda dan makanan terlarang yang tidak boleh di bawa masuk ke penjara.
“Hah? Kau bilang apa, Bocah?” Dia balas menatap sinis kearahku.
“Jika anda melakukan tindakan mencurigakan, kami akan menyetrummu.” Gelang ditanganku mulai memberi peringatan. Aku tidak peduli, mau bagaimanapun tindakan petugas penjara ini tidak bisa dibiarkan.
“AKU BILANG, KEMBALIKAN!” Aku berseru lebih galak.
Petugas itu terdiam. Dia merasa harga dirinya hancur. Dia mengangkat tangannya, bersiap memukul. Namun dia urungkan.
“Cih, kau selamat, Bocah. Tapi lain kali aku pasti akan memberimu pelajaran.” Dia beranjak pergi. Disusul petugas satunya. Melempar sembarang buah-buahan tersebut.
Para narapidana lainnya mulai bubar. Aku membantu Vero untuk berdiri.
“Te, terima kasih, Lian. Bisahkah kau mengambil buah-buahan tersebut.” Suara Vero terdengar lirih. Dia jelas menahan sakit.
Beberapa saat kemudian Bundara datang. Sepertinya dia bergegas datang begitu mendengar kabar tentang perkelahian.
“Astaga, Vero! Lagi-lagi kau mencari masalah dengan para petugas penjara.” Bundara mengomel sembari membantu Vero untuk berjalan. Mudah saja baginya untuk membopong tubuh Vero.
Bundara menyandarkan tubuh Vero di dinding kamarnya. Wajahnya terlihat pucat. Pastilah efek dari setruman itu sangat kuat. Itulah sebabnya para tahanan tidak ada yang berani melanggar peraturan.
“Lian, ambilkan air!” Untuk pertama kalinya Bundara memanggilku. Aku langsung bergegas.
Aku menyodorkan gelas berisi air kepada Vero. Dia meminumnya, lantas tertawa lemas.
“Kenapa kau ini selalu saja mencari masalah, hah?” Bundara bertanya garang. Dia tampak kesal dengan kelakuan Vero.
“Aku tidak bisa menerima perbuatan mereka, Bun. Aku tidak bisa membiarkan mereka menghinamu.” Suara Vero kembali pulih. Namun dia masih belum bisa bergerak leluasa.
“Menghinaku? Apa maksudmu?” Suara Bundara melunak.
__ADS_1
“Mereka membicarakanmu, Bun. Mereka membicarakan soal kehidupanmu. Bilang kau adalah anak buangan. Tentu saja aku tidak bisa membiarkan mereka. Aku tidak ingin siapapun melecehkan soal masa lalumu. Itu sungguh perbuatan keji. Aku tidak menyukainya.”
Ruangan hening sejenak. Bundara terdiam. Lantas berdiri. Tangannya terlihat mengepal, wajahnya berubah serius. Nafasnya menderu kasar. Urat-urat nadinya mengeras.
“Kau tunggu di sini, Vero. Biar aku sendiri yang menghajar mereka.” Seketika gelang di tangan Bundara memberi peringatan.
“Hentikan, Bun! Aku tidak mau kau mendapatkan setruman dan hukuman tambahan! Cukup aku saja yang mengalaminya!” Vero berusaha bangkit. Mencoba menenangkan Bundara yang terlihat sangat emosi.
Bundara mulai mendekati pintu sel. Vero terus berteriak. Berusaha membujuk Bundara. Aku dihadapi situasi yang buruk. Aku harus mencegat Bundara sebelum hal yang lebih buruk terjadi. Aku terus berpikir. Mencari kalimat yang tepat untuk mencairkan ketegangan yang sedang berlangsung.
“Aku kehilangan keluargaku.” Untuk pertama kalinya aku mengatakan hal tersebut kepada mereka. Berharap Bundara tenang.
Pandangan mereka tertuju padaku. kepalan tangan Bundara merenggang. Langkahnya terhenti.
“Ayah, Bibi, Paman, dan tiga orang sepupuku dibantai. Ibuku menghilang, dan adikku...” Tenggorokanku tercekat. Aku tidak bisa melanjutkan kalimatku.
Bundara menepuk pelan bahuku. “Tidak usah kau lanjutkan, Lian. Kami berdua tahu apa yang kau rasakan.” Dia tersenyum lembut.
Kami bertiga duduk di ruang tengah penjara. Wajah Vero sudah berangsur pulih.
“Baiklah, kami putuskan untuk menceritakan kisah kami, Lian. Kau pasti bertanya-tanya mengapa kami bisa berada di penjara, kan?” Vero kembali riang.
Sejujurnya aku tidak pernah penasaran tentang mereka. Namun aku putuskan untuk menyimak. Mungkin dengan mendengarkan kisah mereka mampu membantuku untuk melupakan kenangan burukku.
Cerita ini dimulai dari Vero. Dia terlihat semangat. Tidak ada keraguan yang dipancarkannya.“Kau tahu, Lian. Seperti yang pernah aku katakan, penjara ini adalah penjara istimewa. Penjara untuk tahanan sementara sepertimu. Dulunya, aku adalah salah seorang prajurit patroli atau bisa kau sebut polisi.”
“Hari itu, saat dimana aku tengah melakukan patroli bersama dua rekanku. Kami mengelilingi kota. Memastikan kota tetap aman. Sesekali kami memergoki adanya pencuri yang menjarah barang milik warga. Menangkap mereka dan memasukkan mereka ke ruang sekap, yang selanjutnya akan di adili di pengadilan.”
“Namun hari itu berbeda. Untuk pertama kalinya aku bertemu dengan seorang anak, Lian. Usianya mungkin sekitar 6 tahun. Tubuhnya ringkih. Wajahnya terlihat tirus. Dia mencuri secuil roti di toko makanan. Tentu saja aku tidak bisa membiarkan pencuri kabur. Walau dia anak kecil sekalipun. Jadilah anak itu kami bawa ke ruang sekap. Tapi, hal inilah yang membuatku tersentuh dan mengkhianati pekerjaanku sebagai seorang prajurit patroli.”
“Aku memutuskan untuk mencari tahu soal keluarga anak tersebut. Mencari alamatnya, dan mendapati pemukiman kumuh di tepi Kota Keios. Menemui keluarga anak tersebut. Namun, aku benar-benar terkejut, Lian. Saat aku tiba, ibu dari Sang Anak tersebut meninggal dunia. Meninggal dengan kodisi yang mengenaskan.”
“Ibu dari anak tersebut meninggal di atas dipan lusuhnya. Dengan tubuh yang sangat kurus. Tak ada siapapun yang tahu soal itu. Hatiku lebih pedih lagi begitu tahu, jika Ibu itu adalah satu-satunya keluarga dari anak tersebut.”
Vero tertunduk. Matanya penuh dengan penyesalan. “Aku tidak tahu harus berbuat apa saat itu. Apakah aku harus memberi tahu anak tersebut atau tidak? Pikiran tersebut terus menghantuiku. Dan pada akhirnya, membuatku menjadi seorang pengkhianat.”
“Rasa bersalah menguasaiku. Membuat aku selalu bermimpi buruk. Membuatku ingin mengulang masa lalu. Hari dimana aku menangkap anak tersebut. Seharusnya aku membiarkannya pergi, menemui ibunya untuk terakhir kalinya. Dan tepat sehari sebelum pengadilan, aku memutuskan untuk membebaskan anak tersebut. Dan sebagai gantinya aku membiarkan diriku untuk ditangkap.”
“Namun kau tahu, Lian, kalimat anak itu saat aku bebaskan. anak itu mengucapkan terima kasih. Mengucapkan terima kasih untukku. Kalimat itu bagai pukulan telak. Bagai tamparan keras. Aku sungguh tidak pantas menerima terima kasihnya. Aku sungguh tidak pantas. Aku bahkan tidak bisa membayangkan wajah anak itu ketika mendapati ibunya telah tiada. Jadilah aku memendam rasa bersalah itu selama mendekam di penjara. Bahkan sampai saat ini, aku tidak bisa melupakannya.”
“Jika kau melihat diriku yang selalu riang, selalu tersenyum, semua itu palsu, semua itu dusta, semua itu sebuah kebohongan. Aku melakukannya lantaran demi menghapus rasa bersalah ini. Demi melupakan hari itu. Aku bahkan tidak pantas mendekam di penjara ini. Aku membuat ulah setiap harinya. Menambah masa hukumanku, agar aku bisa berada di penjara selamanya. ”
Ruangan kembali hening. Vero kembali menundukkan wajah, tampaknya dia benar-benar merasa bersalah atas kejadian masa lalu yang dia alami. Wajah Vero terlihat berbeda, tidak seperti biasanya. Mendengar kisahnya membuatku memahami, bahwa pengalaman pahit tidak hanya terjadi padaku.
Bundara menepuk pelan bahu Vero sembari berujar lirih. “Tidak hanya kau saja, Vero, aku juga memiliki pengalaman pahit. Apa yang petugas tadi katakan semua itu benar. Jika aku adalah anak buangan.”
Kali ini Bundara memutuskan untuk menceritakan kisahnya. Pandanganku tertuju pada Bundara. Wajah sangarnya berubah menjadi sosok yang lembut. Kini aku tahu, Bundara tidak segarang yang aku pikirkan.
Bundara mulai menceritakan kisahnya. “Percayakah kalian? Tubuh yang aku dapatkan ini hanya demi untuk menghilangkan rasa sakitku sebagai anak buangan. Aku tidak memiliki seorang ayah, hanya Ibuku seorang yang membesarkanku. Namun dia membesarkanku layaknya bukan seorang anak kandungnya. Memperlakukanku layaknya binatang liar.”
“Aku selalu menghormatinya tidak peduli berapa kalipun dia menyakitiku. Membiarkanku tidur diatas lantai tanpa sehelai kainpun, memberiku makanan yang seharusnya tidak layak dimakan. Aku sangat menyayanginya, tidak peduli seberapa besar dia membenciku.”
“Hingga suatu hari saat umurku 8 tahun, dia menghilang. Hari itu seperti biasanya aku terbangun dari tidurku, namun tak kudapati dia berada di ruang manapun. Aku begitu panik, berteriak memanggil namanya. Berharap dia membalas panggilanku walau dengan amarah. Aku memutuskan untuk bertanya ke tetangga di sekitarku. Dan jawaban mereka semua sama, Ibuku pergi sembari membawa sebuah koper. Jadilah aku sendirian di rumah tersebut.”
“Seperti yang aku katakan, tak peduli seberapa jahat dia padaku, aku tetap menyayanginya. Aku menunggunya dan hanya bisa berharap dia berubah pikiran. Aku menunggunya walau aku tahu dia tidak akan pernah kembali. Tapi apalah daya, dia tak pernah kembali.”
__ADS_1
“Aku memutuskan untuk pergi ke sebuah panti asuhan. Dan kau tahu, Lian? Penjaga panti layaknya malaikat bagiku. Kasih sayangnya padaku layaknya seorang anak kandung baginya. Dia bahkan menyekolahkanku dan membesarkanku sampai umurku berusia 17 tahun.”
“Namun luka dihatiku tidak akan pernah bisa sembuh. Aku terus mengingat kejadian dimana Ibu kandungku meninggalkanku. Menelantarkanku layaknya binatang liar. Jadilah aku meminta izin pada penjaga panti untuk mengikuti Akademi Langit. Sekolah dimana aku bisa bertambah kuat dan berharap luka dihatiku bisa sembuh. Kau tahu, Lian? Penjaga panti menangis. Menangis untukku. Sebelumnya tidak ada yang pernah menangisiku seperti ini. Tangisan itu seperti seorang Ibu yang melihat anaknya pergi jauh. Dan dia berujar lirih, tak peduli apapun kata orang lain tentangmu, kau tetaplah anakku. Bagian keluarga dari panti ini. Jika kau pergi hanya demi menyembuhkan luka atas masa lalu pahitmu, aku akan tetap menganggapmu sebagai anakku.”
“Sungguh kata-kata itu adalah kata terindah yang pernah aku dengar, Lian. Tapi tidak cukup untuk menghapus rasa sakitku, aku tetap membulatkan tekadku. Pergi menuju Akademi Langit. Sekolah dimana kau bisa menjadi kuat. Sejujurnya semua itu aku lakukan agar aku bisa mencari Ibu kandungku. Aku menempa diriku demi menghapus prasangka burukku terhadapnya. Mau bagaimanapun, aku tetaplah anak dari Ibu kandungku.”
“Empat tahun berlalu. Aku sudah menjadi salah satu prajurit Kota Keios. Dengan begini aku akan lebih leluasa untuk mencari keberadaan Ibuku. Aku mencari nama Ibuku didalam gedung informasi Kota Keios. Aku berhasil, berhasil menemukan dimana Ibuku tinggal. Jadilah aku menuju ke tempatnya dengan perasaan gembira. Hatiku lebih tidak sabaran begitu sampai di kediamannya. Aku mengetuk pelan pintu rumahnya, dan...”
Bundara terdiam sejenak, matanya berkaca-kaca, tubuh besarnya bergetar. Dia melanjutkan kembali kisahnya. “Kau tahu, Lian. Kalimat yang terlontar dari Ibu saat melihatku? Astaga! Apa yang anak anjing lakukan disini?. Mendengar kalimat itu hatiku serasa diremas. Tubuhku spontan bereaksi. Aku hendak meninju wajahnya. Namun setengah dari diriku mencegahku. Aku terhenti, aku tidak akan pernah bisa menganggapnya Ibuku lagi. Aku memutuskan untuk kembali ke panti asuhan, tempat dimana aku dibesarkan dengan penuh kehangatan.”
“Aku kembali ke panti dengan perasaan hancur. Fisikku memang kuat, tapi mentalku tak lain hanyalah mental lemah. Aku berlari layaknya orang gila demi menemui penjaga panti. Namun kejadian yang menantiku membuat hidupku penuh dengan penyesalan. Menambah luka yang membekas dihatiku. Hari itu aku menyaksikan pemandangan yang sangat memilukan. Panti asuhan itu telah hangus.”
“Aku tersungkur, air mataku berlinang. Menatap sendu ke bangunan panti yang telah hangus terbakar. Aku tidak tahu jika beberapa bulan yang lalu panti asuhan tersebut mengalami kebakaran. Aku tidak tahu jika semua penduduk panti terjebak didalamnya. Karena aku telah terbuai atas keinginanku untuk melupakan masa lalu yang pahit. Rasa sakit ini perlahan berubah menjadi sebuah amarah. Emosi menguasai pikiranku, membuatku melakukan pelanggaran. Aku menghancurkan salah satu fasilitas umum. Berteriak marah penuh dengan penyesalan. Dan berakhir dalam penjara ini.”
“Jika saja aku bisa mengulang hari itu, hari dimana aku memutuskan pergi menuju Akademi Langit. Mungkin penjaga dan penghuni panti akan selamat. Mungkin saja aku tetap bisa melihat wajah mereka, menikmati hari dengan penuh kebahagiaan. Sama seperti Vero, bayang-bayang tersebut terus berputar di benakku. Layaknya sebuah hukuman bagiku. Hukuman atas keegoisanku.”
Atmosfir ruangan terasa sesak. Bundara terdiam. Nafasnya terdengar kasar. Dia berusaha menenangkan pikirannya. Kali ini Vero menepuk pelan bahunya. Mencoba menghiburnya.
“Ayolah, Bun! Kau jangan menangis didepan seorang bocah, itu sungguh memalukan.”
“Sialan kau, Vero!” Bundara melotot. Perawakannya kembali seperti semula. Vero hanya tertawa, merasa tidak bersalah.
Mereka kembali seperti semula, tidak tersisa kesedihan di wajah mereka. Aku hanya terdiam menatap mereka yang kembali bertengkar.
“Maaf aku masih belum bisa menceritakan kisahku pada kalian.” Desahku dalam hati.
__ADS_1