
Keesokan harinya kami kembali ke ruang simulasi. Aku tidak tahu hal apa lagi yang ingin Ador katakan kepadaku. Bukankah sesi latihan kami telah usai kemarin? Apalagi yang ingin dia katakan kepadaku?
“Kenapa kau memasang wajah kesal seperti itu? Hei, jangan bilang kalau traktiranku kemarin tidak menyenangkan.”
Aku dengan cepat mengubah ekspresiku. “ Tidak, aku hanya bertanya-tanya gerangan apa yang membuat anda memanggilku kemari padahal aku baru saja lulus dan menerima penghargaan berupa jalan-jalan keluar dari laboratorium membosankan ini.”
Ador mengusap wajah. “Sepertinya kau harus mendapatkan pelajaran bahasa bagaimana cara bertutur kata yang baik dan benar. Oke, karena kau mengajukan sebuah protes, aku akan mengatakan maksud dan tujuanku memanggilmu ke ruang simulasi ini.” Ador berdehem sejenak.
“Ada satu fitur lagi yang aku berikan di tubuh bionikmu.”
Aku membulatkan mata. “ Benarkah?”
Ador mengangguk. “Tapi aku tidak yakin kau bisa mengendalikan fitur itu di usiamu yang masih belia ini.”
“Apa maksudnya?”
“Fitur itu tidak akan aktif saat usiamu masih di bawah lima belas tahun. Aku membuat fitur itu hanya bisa aktif ketika kau melewati usia lima belas tahun. Kenapa? Karena aku mendesainnya layaknya sebuah tubuh asli. Ini sama seperti pembentukan sebuah otot pada manusia. Mereka membutuhkan latihan keras untuk mendapatkan otot yang mereka inginkan. Karena saat ini usiamu masih dua belas tahun dan kau tidak punya pengalaman di bidang atletis sebelumnya, kau membutuhkan waktu untuk melatih tubuh bioinik itu layaknya sebuah tubuh sungguhan.”
“Kalau begitu kenapa anda memberi tahuku sekarang?” Aku memasang wajah datar. Rasanya seperti baru mendapatkan harapan dan harapan itu lantas menghilang begitu saja.
Ador terkekeh. “Aku sengaja mengatakannya kepadamu saat ini karena aku ingin kau menyiapkan segalanya sebelum usiamu mencapai lima belas tahun.”
“Jadi maksud anda aku akan belajar logika dan teori-teori memusingkan itu sampai aku berusia lima belas tahun.”
“Oi! Aku belum selesai bicara kau sudah lebih dulu menyimpulkan. Aku akan mengirimmu ke sebuah akademi.”
Aku melotot. Akademi? Bagaimana mungkin...
“Kalau mau bertanya, tanyakan saja. Jangan kau pasang wajah tidak percaya itu. Aku serius, Nak. Aku akan mengirimmu ke sebuah akademi khusus. Kebetulan aku ingin kau mengalahkan seseorang di sana.”
Astaga. Ternyata dia punya maksud terselubung. “Apa maksud dari mengalahkan seseorang? Memangnya siapa yang ingin anda kalahkan?”
“Dia adalah peniruku.”
“Peniru? Maksudnya orang yang pernah membuat anda dikeluarkan dari sekolah karena menganggap anda menjiplak karyanya?”
“BINGO! Aku pernah cerita, kan? Bahwa seseorang meniru penemuanku. Dan penemuan yang dia tiru dariku adalah sebuah tubuh bionik dengan menggunakan energi panas tubuh manusia. Sejatinya penemuan itu tak lebih dari sebuah barang rongsokan. Jadi aku tak terlalu terpukul dengan fakta bahwa aku dikeluarkan dari sekolah hanya karena masalah sepele tersebut. Tapi kali ini aku sudah mulai percaya diri, Nak. Aku melakukan riset selama bertahun-tahun lamanya. Dan inilah saatnya bagiku membuktikan bahwa mereka salah menilai tentangku. Akademi itu sendiri masih satu yayasan dengan sekolahku dulu. Kalau tidak salah, aku dengar dia menjadi seorang profesor di sana. Entahlah, aku hanya melihat sekilas wajahnya di televisi. Aku ingin memberinya sedikit tendangan agar dia sadar jika dia telah kalah dariku sejak kami bersekolah dulu. Sebenarnya jika aku lulus pada hari itu, aku yakin kini yang berada di televisi bukanlah dia, melainkan orang lain.”
__ADS_1
Aku mengangguk paham. Setidaknya ini bisa menjadi peluang untuk mengejar tujuanku. “Setuju, aku akan pergi ke sana.”
“Secepat itu? setidaknya dengarkan dulu penjelasanku.”
Aku menggelengkan kepala. “Tidak perlu, otakku sudah sangat penuh oleh penjelasan anda, kurasa tidak ada lagi ruang yang tersisa. Jika anda memberi penjelasan lagi, itu hanya akan membuat otakku meledak.”
Ador tertawa terbahak-bahak. Suaranya menggema memenuhi ruangan. “Mana ada kasus otak meledak hanya karena menerima jutaan atau bahkan triliunan informasi yang masuk ke dalam sebuah otak. Nak, sepertinya kau terlalu menganggap remeh otakmu.” Ador menggeleng-gelengkan kepala. “Otak adalah bagian terpenting dalam tubuh kita”
Mulai lagi penjelasan panjang lebar dan bertele-telenya. Aku hanya memutar bola mataku dan mengusap wajahku. Lantas merebahkan tubuhku sembarang di atas lantai.
“Ide bagus, kau bisa mendengarkanku sambil berbaring di sana.” Ador memberiku pujian.
Aku meniup poniku. Kenapa dia malah memujiku.
“Kenapa aku selalu memberimu teori tentang otak dan sebagainya, itu karena seluruh tubuh bionikmu secara tidak sadar terhubung dengan otakmu. Jika saat ini otakmu tengah meledaklah, atau kau mengalami stress beratlah, saat ini juga kau tidak akan bisa mengendalikan tubuh bionikmu dengan baik dan benar. Sama halnya dengan tubuh asli. Di saat seseorang sedang banyak pikiran atau dalam keadaan pusing dan stress, mereka cenderung mudah lelah. Bahkan untuk beberapa kasus bisa menyebabkan berbagai penyakit. Karena itulah manusia memiliki kemampuan berpikir yang berbeda-beda menggunakan otak mereka,”
“Intinya anda hanya ingin mengatakan jika aku ini cerdas.” Aku memotong pembicaraannya sembari memainkan anak rambut.
“Oi! Jangan langsung ambil kesimpulannya. Kau harus memahami detail pada setiap ucapanku.”
“Kenapa kita tidak melanjutkan membahas soal akademi saja.” Aku memohon sembari tersenyum memelas. Memintanya untuk mengganti topik, setidaknya selain kata yang berkaitan tentang pikiran atau otak. Aku sudah muak dengan semua penjelasan-penjelasan itu.
“Tapi guru-guruku lebih menyukainya dibandingkan aku. Entah apa alasan mereka melakukan hal tersebut. Apakah karena paras kami yang berbeda jauh atau hanya karena popularitas kami yang perbedaannya bagaikan langit dan bumi.”
“Dan aku yakin, dulu anda memang sangat jelek sampai anda tidak bisa mendapatkan kepercayaan orang lain.” Aku menggelengkan kepala. Nyaris saja aku akan tertawa.
“Apa kau bilang, hah?” Ador berseru tak terima. “Kau pikir kau siapa sampai berani menghina paras wajahku ini.”
Aku hanya mengangkat bahu tak peduli. Lantas berbalik dan membelakanginya.
“Tapi itu memang benar, sih.” Ador mengusap kening. “Tapi fakta itulah yang membuatku selalu tidak ingin kalah darinya. Aku selalu berusaha mempertahankan peringkat dan prestasiku selama di sekolah. Banyak yang bilang bahwa kami berdua adalah rival. Aku membantah hal tersebut. Tentu saja bagiku dia adalah musuh bebuyutan yang sangat aku benci. Istilah rival hanya digunakan jika dua orang yang berteman namun memiliki satu tujuan yang sama dan berlomba-lomba untuk mendapatkan apa yang mereka tuju. Sedangkan kami berdua tidak berteman dan kami juga memiliki tujuan yang berbeda.”
“Tapi hari itu tiba, ujian kelulusan. Di sekolah itu setidaknya kami harus bisa menciptakan sebuah penemuan sebelum kelulusan. Seperti yang kau tahu. Akhir yang sangat menyedihkan. Cario meniru penemuanku dan mengatakan jika akulah yang mencoba untuk menjiplak karyanya. Jadilah semua guru percaya dengan perkataannya. Aku hanya bisa pasrah dan meninggalkan sekolah dengan perasaan penuh amarah dan kecewa.”
Ador terdiam sejenak sembari mengusap rambutnya. “Oke, kita cukupkan untuk kisah masa lalunya. Ngomong-ngomong, kau tidak pernah menceritakan apapun dan hanya mendengarkan semua perkataanku. Tidak ada yang ingin kau ceritakan?”
“Tidak.” Aku menjawab tegas.
__ADS_1
“Cih, kau memang anak yang sungguh sederhana. Kalau begitu aku akan sedikit memberi tahumu soal akademi tersebut. Akademi itu berisi kumpulan orang-orang dari berbagai agensi perusahaan pembuatan tubuh bionik. Bisa dibilang agensi-agensi itu berkumpul dalam satu tempat untuk unjuk gigi siapa pencipta produk tubuh bionik yang paling mutakhir. Hanya saja bukan sekedar tubuh bionik saja yang mereka pantau. Terkadang jika anak itu memiliki sebuah kecerdasan dan keunggulan paling bagus dibandingkan yang lainnya dalam beberapa bidang, mereka akan terkenal dan menjadi kader sebagai uji coba berbagai produk tubuh bionik dari agensi-agensi lainnya. Karena itu kemampuan invidu juga sangat diprioritaskan. Maka darri itu setiap agensi mengirimkan kader berupa anak-anak berbakat dan menjanjikan. Kalau tidak salah mereka diseleksi dari sebuah panti atau uji coba khusus.”
“Di akademi itu sendiri tidak semua orang bisa lulus. Mereka bisa saja gagal dari awal, atau bahkan di akhir. Hidup mereka, masa depan mereka, karir mereka, semua itu bisa dibilang sangat dipertaruhkan dalam akademi tersebut. Dengan sistem yang hanya memperhatikan anak-anak unggulan dan berbakat, aku sudah muak dengan semua hal tersebut. Jika gagal mereka akan dibuang, tubuh-tubuh bionik itu akan dipreteli dari mereka, dan dibiarkan terombang-ambing di jalanan tanpa ada yang mau mengasuhnya ataupun peduli. Dibiarkan menjadi pecundang jalanan dan merasakan betapa pedihnya kehidupan. Itu adalah cara yang jahat dan sangat tidak manusiawi. Padahal mereka sudah kehilangan segalanya tapi diperparah dengan kehilangan masa depan mereka. Sungguh kejam! Sungguh biadap!”
“Tapi apa bedanya anda dengan mereka? Bukankah anda juga membuang Bastian?”
Ador terdiam sejenak. “Aku tidak membuangnya, Nak. Aku mengusirnya. Tentu saja aku tetap membiarkannya memakai kaki palsu buatanku. Aku juga memberinya modal untuk menunjang hidupnya. Uang dari hasil aku membuat video dokumentasi tentangnya. Tanpa video itu Gyo mungkin tidak akan pernah mendatangiku dan melanjutkan bisnisnya sebagi seorang koki. Mungkin jika tidak ada video itu aku tidak akan pernah punya penghasilan untuk merawat anak-anak lainnya. Aku juga pasti tidak akan bisa membuat tubuh bionik milikmu dan menikmati berbagai hal bersama kalian semua. Terkadang di dunia ini ada beberapa penglaman indah di balik pahitnnya sebuah kenyataan. Bastian memang membuatku kecewa, tapi di balik itu dia telah memberiku kenangna yang tidak bisa kubeli dengan uang, Nak. Kebahagaiaan itu selalu datang di awal dan rasa sakit selalu datang di akhir. Karena itu aku tidak sepenuhnya membencinya.”
Aku berpikir sejeank. Aku rasa aku sama sekali tidak bisa menerima perkataanya. Semanis apapun kenangan yang telah kita buat dengan seseorang namun tiba-tiba seseorang itu berubah dan berbalik menyakitimu, hal itu hanya akan membaut kenangan indah berbuah menjadi ekangan buruk. Karena itu aku masih tidak bisa menerima perlakuakn orang “itu” kepadaku. Pertama dialah penyebab kakakku meninggal. Dan kedua dia meninggalkanku sendiri. hal itulah yang membuatku sangat membenci melebihi kebencianku pada dunia. setiap kali mengingat momen tersebut hatiku serasa dicengkran oleh sesuatu.
“Jadi kapan aku akan bisa memasuki akademi tersebut?”
“Tahun depan. Kau harus tamat sekolah dasar sebelum bisa memasuki akademi itu, Nak.”
“Eh? Tapi malasahnya aku tidak pernah sekolah.” Aku mengusap poni rambutku.
“Kau akan menjalani kelas accel. Di zaman seperti ini banyak sekali sekolah privat yang menyediakan kelas percepatan bagi mereka yang terlambat atau tidak pernah menapaki jenjang sekolah dasar dan seterusnya. Hanya saja tidak semua orang bisa menjalani kelas accel. Kelas ini cenderung memberi berbagai tugas lebih banyak dibandingkan kelas biasa. Ditambah lagi pelajaran mereka tidak main-main. Ini seperti pelajaran enam tahun dirangkum menjadi satu tahun. Karena itu aku akan memasukkanmu ke sana untuk satu tahun. Dan satu hal lagi, kelas accel bisa dikatakan sebagai kelas paling mahal. Tentu saja mengajarkan semua mata pelajaran selama enam tahun menjadi satu tahun itu tidak mudah. Tapi itu bukan masalah bagiku. Toh, uang yang harus kukeluarkan setimpal dengan harga yang harus kubayar dengan penghinaan yang kuterima dulu.”
Aku hanya menganga. Yang benar saja? Pelajaran enam tahun ditumpuk menjadi satu tahun? Membayangkannya saja sudah membuat otakku pusing.
“Aku yakin kau mampu menjalani kelas tersebut, Zenzen. Aku bisa tahu jika kau ini cerdas sejak lahir. Mana mungkin aku memilihmu menjadi delegasi dalam akademi tersebut jika aku tidak tahu kalau kau ini cerdas. Aku yakin seratus persen kau bisa menjalani kelas itu selama satu tahun.”
Aku hanya mengusap wajahku. Ini benar-benar rumit. Apakah menjadi seorang yang hebat sesulit ini? Seakan tidak ada pilihan bagiku selain merangkak di atas padang berduri yang tajam.
Lagu yang kunyanyikan pilu
Rasa yang kurasakan sakit
Hidup yang kutempuh kebencian
Jalan yang kutapaki padang berduri
Jadi aku putuskan hari ini hujan saja.
Benar juga, bukankah hidupku ini memang selalu sulit sejak dulu. Dan aku tidak akan bahagia sampai berhasil menempuh semua kesulitan itu. Aku kembali pada posisi duduk dan menatap Ador dengan wajah serius.
“Oke, aku akan melakukannya.”
__ADS_1