
Aku tengah asik menatap pemandangan Kota Keios. Hingga terbesit pertanyaan di benakku. Apakah penduduk di kota ini tidak bosan melihat langit yang hanya dihiasi puing-puing bangunan? Tidakkah mereka punya harapan untuk melihat langit diluar sana? Semua pertanyaan ini terbesit begitu saja. Aku sendiri sedikit demi sedikit mulai merindukan menatap langit pagi dengan segala kesejukannya, langit siang dengan segala keterangannya, langit sore dengan segala keteduhannya, dan langit malam dengan sejuta kerlap-kerlipnya.
Bosan menatap pemandangan, aku memutuskan untuk tidur. Perjalanan ini akan terasa panjang. Tentunya aku juga harus menyimpan tenaga. Apapun bisa terjadi. Bisa saja aku langsung ditugaskan saat sudah tiba di Markas Pasukan Keios. Aku memejamkan mata. Mudah saja tertidur bagiku. Tidak ada lagi kesulitan yang kualami.
Kami telah tiba di tujuan. Bus menepi di salah satu tempat parkir yang tersedia. Aku bisa menyaksikan bangunan besar dengan logam yang mendominasi. Dinding markas dipenuhi cahaya hijau remang yang mebentuk pola kotak-kotak. Membuat bangunan tersebut terkesan modern.Terdapat kendaraan unik yang berjejer rapi di halaman markas. Semua kendaran tersebut memiliki moncong layaknya cula badak.
Aku menatap takjub prajurit-prajurit yang hilir mudik sembari membawa senjata kemana-mana. Mereka semua mengenakan rompi anti peluru bertuliskan “Prajurit Keios”. Ditambah menggunakan helm yang menutupi wajah mereka. Untuk sepatu mereka mengenakan sepatu boot setinggi lutut. Terdapat beberapa atribut seperti tas khusus pistol yang tergantung di pinggang mereka dan beberapa tas lain yang aku tidak tahu fungsinya. Semua itu didominasi dengan warna hitam. Ada sedikit warna biru terang sebagai penanda bahwa mereka lulusan Akademi Langit.
Kami para calon prajurit mulai turun dari bus. Seseorang telah menanti kami. Tubuhnya terlihat kekar, usianya mungkin sekitar tiga puluh tahunan. Rambutnya berwarna hitam dan disemir kebelakang. Matanya dingin dengan lekuk alis yang tajam. Membuat tatapanya terkesan sinis. Dagunya dipenuhi jenggot. Dia mengenakan pakaian prajurit. Hanya saja tidak menggunakan helm.
“Silahkan berbaris sesuai divisi masing-masing!”
Kami dengan cepat melakukan instruksi yang dia lontarkan. Dalam waktu beberapa detik, kami sudah berbaris rapi sesuai dengan divisi masing-masing.
“Astaga! Apa-apaan ini? Hanya ada lima orang saja yang menjadi prajurit garis depan?” Dia terbelak, seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
“Itupun tubuhnya tidak terlalu besar.” Dia menatap kami satu persatu. Pandangannya terkesan meremehkan. Aku sedikit kesal dengan ucapannya. Bukankah itu artinya dia menyebut kami kecil?
Prajurit tersebut membawa kami menuju ke dalam markas. Pandanganku tertuju ke langit-langit ruangan yang dipenuhi besi-besi yang saling menyilang. Lorongnya sendiri memilki lebar berkisar 7 meter dan tinggi 5 meter. Yang itu artinya setiap ruangan memiliki area yang lebih luas. Kami tiba di jantung markas. Dan betapa terkejutnya aku menyaksikan seisi markas.
Markas ini memiliki 15 lantai yang terdapat di bawah tanah. Lantai yang aku pijak ialah lantai paling atas. Kami semua menaiki sebuah elevator menuju bawah tanah. Elevatornya cukup luas dan terbuat dari kaca. Aku bisa melihat seluruh bangunan dan kesibukan para prajurit dari elevator yang transparan.
Kami tiba di lantai tujuh. Entah kali ini kami akan dibawa kemana. Kami hanya mengekor di belakang prajurit tersebut layaknya itik yang tengah mengikuti induknya. Sembari menatap sekeliling kami. Kami tiba disuatu tempat. Sebuah lapangan yang luas. Lantainya dilapisi pualam dengan ruangan di setiap sisinya. Ada terdapat empat gerbang disetiap sisi ruangan tersebut.
“Mulai dari sini, kalian akan dipisahkan sesuai divisi masing-masing. Untuk lima prajurit garis depan, ikuti saya. Dan yang lainnya akan dibimbing oleh prajurit lain.”
Aku kembali mengekor prajurit tersebut beserta empat orang lainnya. Menuju sebuah ruang ganti. Dia memberi kami pakaian. Pakaian yang digunakan para Prajurit Keios. Terdapat nomor yang bertuliskan “1411” dibagian lengan dan dadanya. Mungkin ini semacam kode panggilan. Aku menatap keren pakaian tersebut. Membuatku teringat dulunya aku hanya seorang bocah berusia 16 tahun. Kini aku sudah menjadi salah satu dari mereka. Bagian dari Prajurit Keios.
Seusainya mengganti pakaian kami dibawa ke ruang senjata. Ruangan tersebut dipenuhi senjata yang tidak kukenali. Salah satu yang paling menarik perhatianku ialah senjata besar yang tergantung di sisi ruangan. Senjata tersebut terlihat besar dengan moncong yang panjang, terdapat scope di bagian atasnya, dan pelatuk yang berbentuk seperti ketapel terbalik. Pegangannya sendiri terlihat seperti gagang pisau. Namun, senjata itu tak lebih aneh dari senjata-senjata lain yang kutemui di ruangan tersebut. Saking anehnya sampai membuatku tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata.
Kami dibekali dengan sebuah senapan. Senapan tersebut mampu melontarkan lima peluru dalam 2 detik, tidak terlalu berat dan pegangannya terasa nyaman. Ada sebuah penahan di dekat gagangnya agar senjata tidak mudah terlepas saat kami tengah menembakkan peluru.
Kami dibawa ke ruang simulasi guna menguji senjata tersebut. Di ruangan tersebut terdapat papan yang dibentuk layaknya RP-2 sebagai target. Aku mulai semangat mencoba senjata ini. Terakhir kali aku memegang senjata sungguhan hanya saat aku berusia 16 tahun. Hari dimana aku dikejar robot tersebut. RP-2 atau kalian bisa menyebutnya Robot Penjaga Perbatasan.
Kami telah menguji coba senjata tersebut. Prajurit yang tadi membimbing kami menjelaskan alasannya memberikan senjata tersebut pada kami.
“Alasanku memberikan kalian senjata tersebut ialah karena kalian masih pemula. kalian tidak akan langsung diletakkan di garis depan. Kalian hanya berfungsi sebagai pelapis atau pertahanan. Jika yang di depan gugur kalian akan melanjutkan perlawanan. Aku mengingatkan sekali lagi, RP-2 tidak mudah dikalahkan seperti yang kalian lakukan di simulasi. Jadi, apa kalian yakin akan lanjut?” Prajurit tersebut menatap kami dengan tatapan serius.
Kami berlima mengangguk serempak. Sejak awal itulah tujuan kami kemari.
“Bagus, aku sangat berterima kasih dengan keteguhan kalian. Kalau begitu aku akan memperkenalkan diri. Aku Letnan Danzou. Pemimpin pasukan garis depan. Pasukan garis depan sendiri dibagi menjadi lima kelompok. Masing-masing kelompok memiliki kemampuan dan tugas yang berbeda-beda. Aku akan menjelaskan tugas masing-masing kelompok tersebut.”
__ADS_1
“Kelompok pertama yaitu pasukan penjaga gerbang. Sebagaimana namanya, pasukan ini hanya ditugaskan untuk menjaga gerbang Kota Keios agar tidak rusak. Selain gerbang, pasukan ini harus memeriksa apakah ada celah yang membuat RP-2 merengsek masuk ke dalam kota. Terkadang robot-robot tersebut tidak sengaja mendeteksi keberadaan manusia. Merusak puing-puing di atas sana dan mengakibatkan terbukanya celah. Setidaknya kami bersyukur karena radar robot tersebut sangat lemah. Dan tentunya jika robot tersebut bisa memasuki salah satu celah, kalian harus membunuhnya. Tidak peduli walau nyawa jadi taruhannya.”
“Kelompok ke-dua yaitu pasukan pertahanan. Pasukan ini bertugas sebagai pertahanan jika semisalnya robot-robot tersebut bisa masuk melalui gerbang utama Kota Keios. Itulah kenapa Kota keios dikelilingi benteng walau kami sudah berada dibawah puing. Tugas kalian tidak hanya menjaga kota dari robot tersebut, tentunya kalian juga harus mewaspadai orang asing yang memasuki gerbang tersebut.”
Kalimat itu mengingatkanku saat dimana aku pertama kali memasuki kota ini.
“Yang ke-tiga ialah pasukan pelindung walikota. Terkadang walikota harus keluar dari Kota Keios demi menghadiri pertemuan penting di kota lain. Tentunya walikota kami tidak sepenuhnya mengisolasi diri dari dunia luar. Pasukan ini akan mengawal walikota saat keluar dari kota. Kami memilki suatu gerbang yang boleh dibuka. Yaitu jalan keluarnya Pesawat Keios. Namun, terkadang saat walikota hendak keluar melalui jalur tersebut, RP-2 mencoba masuk dari gerbang tersebut. Jika sudah demikian ini adalah tugas penjaga gerbang.”
“Kelompok ke-empat adalah pasukan penyerang. Pasukan ini adalah kelompok yang banyak memakan korban. Mau bagaimanapun impian tertinggi penduduk Kota Keios ialah bebas dari robot-robot tersebut. Maka dari itu kelompok ini dipenuhi oleh orang-orang yang memiliki tekad kuat.
“Dan terakhir kelompok dengan anggota paling sedikit yaitu pasukan pengintai. Alasannya karena kelompok ini memiliki tugas yang lebih sulit dari pada pasukan penyerang. Bahkan lebih beresiko di antara pasukan-pasukan yang lain. Pasukan ini hanya mengirim 2-3 orang saja dalam menjalankan misi. Tugas mereka ialah menghitung, memantau, menyelidiki semua robot-robot yang berada di atas Kota Keios. Itulah mengapa ini adalah salah satu tugas yang sangat beresiko. Mereka juga tidak diizinkan membawa senjata kecuali senjata yang tidak mengeluarkan suara atau memicu perhatian RP-2. Sayangnya senjata-senjata seperti ini tidak ampuh untuk melawan robot tersebut. Tapi tentunya aku tidak akan memasukkan siapapun ke dalam kelompok ini kecuali atas persetujuan pribadi.
“Aku beri kalian waktu lima menit untuk berpikir, memutuskan kelompok mana yang akan kalian tuju.”
Ini pilihan yang sulit. Entah aku harus memilih jalur resiko atau jalur aman. Namun pikiranku lebih mengarah ke jalur resiko karena aku sangat penasaran apakah kemampuanku yang sekarang mampu untuk melawan robot tersebut. Aku memutuskan untuk menjadi penyerang. aku tidak memilih menjadi pengintai lantaran aku merasa tidak berbakat dalam menganalisis atau semacamnya.
“Waktu habis! Sekarang beri tahu aku nama dan keputusan kalian!”
Dua orang memilih menjadi prajurit penjaga gerbang. Satu orang memilih menjadi pengawal walikota. Satu orang menjadi prajurit pertahanan. Dan aku menjadi penyerang.
“Aku menerima semua keputusan kalian. Sebelum kalian bergabung ke kelompok masing-masing, serukan motto kalian!”
“MENGANGKAT TINGGI TUJUAN DAN MASA DEPAN UMAT MANUSIA!” Kami berseru kompak.
“SIAP KAMI SANGGUP!”
***
Aku langsung bergabung ke bagian tim penyerang. Jumlah anggotanya tidak banyak, hanya berkisar seratus orang. Para anggota terlihat sibuk mendengarkan seseorang yang tengah berdiri di hadapan pasukan. Tampaknya dia tengah menjelaskan strategi untuk melawan robot tersebut. Aku bertanya ke salah satu prajurit soal siapa nama pemimpin kelompok ini.
“Namanya Singkaiwan. Kami memanggilnya Kapten Wan. Dia masih muda, usianya 27 tahun. Dia adalah orang yang paling banyak membunuh RP-2. Kemampuannya sudah tidak diragukan lagi. Saat tengah melakukan misi dia selalu berada di barisan paling depan. Memimpin langsung pasukan ini.”
Aku mengangguk, lantas memperhatikan Kapten Wan yang tengah menjelaskan perihal rencana untuk melawan RP-2.
__ADS_1
“Untuk misi selanjutnya kita akan menggunakan peledak untuk menghancurkan mereka sekaligus. Aku berencana mengumpulkan mereka dalam satu tempat dan meledakkan mereka bersamaan. Jadi aku membutuhkan sebuah tim untuk memancing mereka sebagaimana kita tahu robot tersebut hanya akan bereaksi begitu melihat manusia. Apa ada yang ingin mengajukan diri untuk menjadi umpan robot tersebut?”
“Kapten saya ingin mengajukan pertanyaan!” Seorang prajurit berdiri dari tempat duduknya. Kapten Wan mengangguk. Mempersilahkan.
“Menurut saya rencana ini terlalu beresiko. Bagaimana jika puing-puing diatas sana roboh akibat dampak dari ledakan?”
Kapten Wan tersenyum. “Aku tidak bilang rencana ini akan dilakukan diatas puing-puing tersebut. Aku berencana menjauhkan mereka dari Kota Keios. Kalian ingat, jika Kota Keios terletak di atara lembah? Aku akan menggunakan lembah tersebut sebagai medan pertempuran.”
Para prajurit mengangguk. Tampaknya itu rencana yang masuk akal.
“Kalau begitu aku lanjutkan pertanyaanku, siapa yang bersedia untuk menjadi umpan untuk memancing perhatian robot tersebut?”
Sekitar 20 orang mengangkat tangan.
“Bagus, aku sangat berterima kasih atas keberanian kalian. Sisanya akan dibagi menjadi beberapa kelompok lagi. Yaitu tim yang akan mengarahkan robot tersebut agar tidak keluar dari titik ledakan, tim yang akan memasang alat peledak disekitar lembah, dan terakhir tim yang akan membunuh RP-2 yang tersisa jika semisalnya ada beberapa robot yang selamat dari ledakan tersebut. Aku akan menunjuk ketua di setiap kelompok tersebut.”
Sejatinya aku tidak terlalu setuju dengan rencana tersebut. Bukankah suara dari ledakan tersebut dapat memancing perhatian robot-robot lain yang berada diluar Kota Keios? Aku memutuskan berdiri.
Semua pandangan tertuju ke arahku. Termasuk Kapten Wan. Dia mengangguk, mempersilahkanku untuk bicara.
“Bagaimana jika robot-robot di luar Kota Keios terpicu dengan suara ledakan tersebut, bukankah ini akan semakin berbahaya?”
Suasana ruangan mulai ramai. Para prajurit saling berbisik, beberapa ada yang mengangguk setuju dengan perkataanku. Kapten Wan tetap tenang, dia menatapku dengan tersenyum.
“Kau pasti anak baru. Sebutkan namamu!”
“Lian.” Aku menjawab singkat dengan wajah datar.
“Tentunya aku sudah memikirkan hal tersebut, Lian. Terima kasih sudah mengingatkanku. Kau bisa duduk kembali.”
Aku kembali ke posisi dudukku. Kapten Wan mulai menjelaskan secara lengkap perihal rencana ini.
“Seperti yang dikatakan Saudara Lian, ledakan ini bisa memicu perhatian robot lain yang berada di luar Kota Keios. Itulah mengapa resiko dari rencana ini sangat besar, aku berencana untuk menambah satu tim lagi yaitu tim penembak jitu. Tugas dari tim ini ialah menghalangi robot-robot yang berdatangan dari luar area Kota Keios sampai para pasukan yang lain berhasil kembali masuk ke dalam pesawat. Rencana ini sebenarnya hanya berfungsi mengurangi jumlah RP-2. Karena kami masih belum menemukan cara untuk memusnahkan seluruh robot-robot tersebut. Aku sudah bertanya ke tim pengintai, mereka bilang jika jumlah RP-2 diatas sana sudah mencapai angka 30. Itu angka yang paling tinggi dari bulan-bulan sebelumnya. Tentunya kita tidak bisa membiarkan mereka berlalu-lalang dengan santainya di atas sana.”
Aku merasa tidak yakin dengan rencana ini. Namun melihat wajah Kapten Wan yang penuh keyakinan, aku urung untuk protes.
“Jadi, apa kalian setuju dengan rencana ini?” Kapten Wan bertanya memastikan.
“Ya, kami setuju!” Kami menjawab serempak.
“Rencana ini akan dilakukan minggu depan. Kita akan menjalankan misi ini di siang hari karena jika kita lakukan di malam hari akan sulit melihat posisi dan pergerakan robot-robot tersebut. Pastikan sampai saat itu kalian semua mempersiapkan diri dengan baik!”
__ADS_1
“Siap Kapten!” Kami memberi hormat. Lantas bubar.
Jantungku berdegup kencang. Sudah dua tahun lamanya aku tidak menyaksikan dunia luar. Dan tentunya aku akan berjumpa kembali dengan Robot Penjaga Perbatasan. Robot yang sempat menjadi ketakutan terbesarku. Membuat malam terasa panjang dan penuh derita. Karena robot tersebutlah Liana terluka. Karena robot itulah Liana, adikku satu-satunya meninggal. Walau sebenarnya dendam terbesarku ialah membunuh Zenzen. Bandit yang membuat kehidupanku berubah. Membuatku menjalani kehidupan yang pahit. Namun, untuk saat ini aku harus melawan robot-robot tersebut agar tidak ada lagi yang bisa menghalangiku