Kehancuran Batana

Kehancuran Batana
PENJELASAN 2


__ADS_3

Aku memutuskan untuk menginap di rumah Tatu. Walau aku rasa tempat ini lebih pantas dijuluki bengkel dari pada rumah. Malam menjelang. Bulan mengambang. Formasi bintang bertabur acak di angkasa malam. Kawasan ini sangat hening. Mungkin karena jauh dari pusat kota. Aku memutuskan untuk pergi ke pelataran rumah. Udara terasa dingin. Hingga aku mendengar suara keributan di luar. Seseorang terdengar tengah mengacak-ngacak bongkahan rongsokan besi. Aku mendekati asal suara. Terkejut begitu mendapati Tatu yang tengah melempar-lempar barang rongsokan di tengah gelap gulita. Seakan tengah mencari sesuatu.


“Tatu, apa yang sedang kau lakukan?”


“Astaga! kau mengejutkanku, Nak. Jangan berdiri di belakangku tanpa suara. Kau seperti hantu. Apalagi wajahmu tampak pucat. Bagaimana, apakah kau sudah merasa lebih baik?” Tanya Tatu sembari masih membongkar tumpukan rongsokan yang tepat berada di pinggir pelataran.


“Iya, aku sudah merasa lebih baik.”


“Baguslah kalau begitu.” Tatu tertawa sejenak.


Hening sejenak. Menyisakan suara bongkahan besi yang berjatuhan. Hingga terbesit suatu pertanyaan di benakku.


“Tatu, bagaimana kau bisa selamat dari insiden itu?”


Gerakan Tatu terhenti sesaat. “Ah, aku lupa menceritakannya padamu! Baiklah. Tapi sebelum itu, bisakah kau bantu aku mencari beberapa barang?”


Aku mengangguk.


“Aku sedang mencari sebuah alat dengan bentuk seperti tangan manusia. Tapi aku lupa dimana meletakkan alat tersebut.”


Aku mengangguk sejenak. Lantas membantu Tatu mencari alat yang dia maksud.


Setelah lima belas menit mencari, kami tidak menemukan benda yang dimaksud Tatu. Alat berbentuk tangan itu. Langit semakin gelap dan suasana semakin sunyi. Kami akhirnya memutuskan untuk menghentikan pencarian. Duduk di pelataran yang sudah penuh dengan bongkahan besi yang berserakan tidak karuan.


“Ah, sial! Seharusnya aku menyimpan alat tersebut. Aku tidak tahu jika hari seperti ini akan tiba. Tapi sesuai janjiku, aku akan menceritakan kejadian bagaimana kami bisa selamat dari insiden itu. Walau sebenarnya lebih banyak kenangan menyakitkan di hari itu. Tapi aku tidak akan pernah menjadi dewasa jika tidak bisa melupakannya. Aku benar, kan?”


Aku hanya tersenyum tipis.


“Begitu banyak yang ingin aku ceritakan padamu, Lian. Baiklah, aku akan mulai dari kejadian sebelum insiden tersebut. Seperti biasa, aku dan Natania selalu memeriksa kondisi RP-2 sedangkan ibumu tengah mengkoordinir beberapa orang untuk meletakkan sonar tepat di puncak markas. Ibumu mencari tahu bagaimana cara menghidupkan robot-robot tersebut. Seperti yang kau ketahui. RP-2 itu bukanlah robot sembarangan. Benda itu punya pemicu untuk mengaktifkannya. Dan itu sungguh berbeda dengan robot-robot lain. Entah bagaimana cara ilmuwan zaman dulu menciptakan robot secanggih itu. Hanya saja semua sejarah tentang robot tersebut disembunyikan entah dimana. Pada akhirnya kami tidak punya cara selain menciptakan cara sendiri untuk mengaktifkan robot tersebut.


Dengan menggunakan pemancar yang diciptakan tim Batana, kami berhasil mengaktifkan robot tersebut. Awalnya semua berjalan lancar. Robot-robot itu bergerak dan melakukan semua yang kami perintahkan. Kebahagiaan memenuhi markas. Namun entah mengapa, sekitar delapan jam kemudian, robot-robot itu tiba-tiba melakukan pemindaian pada kami. Satu dua robot memancarkan cahaya berwarna kemerahan. Lantas cahaya-cahaya itu menjalar di seluruh sirkuit markas. Aku dan Natania yang pertama kali menyaksikan kejadian itu segera menghubungi ibumu yang tengah berada di lantai teratas markas.”


Tatu mengambil nafas panjang. “Tidak kusangka ibumu juga mengalami hal aneh. Pemancar di atas markas tiba-tiba memancarkan cahaya berwarna kemerahan. Menurut ibumu, itu semacam gelombang yang di tujukan kepada seluruh RP-2 di dunia. Kami pikir itu adalah hal bagus. Dengan begini seluruh dunia akan menghargai usaha kami. Namun kesombongan kami berbuah malapetaka. Pemancar itu bukanlah kabar baik. melainkan hal yang sangat buruk. tiba-tiba saja Zenzen memberi pengumuman. Pengumuman bahwa semua orang harus tunduk padanya sebelum telambat.”


“Kami tidak mengerti maksud dari pengumuman tersebut. Beberapa orang mulai ketakutan. Ibumu yang pertama kali mengetahui rencana keji Zenzen. Dia segera menyalakan alaram tanda bahaya. Tepat ketika alaram itu berbunyi, robot-robot itu tiba-tiba menyerang kami satu persatu. Aku masih bisa mengingat dengan jelas detail pembantaian itu. Kematian teman-temanku, kerabatku, semua orang yang berharga bagiku. Aku masih bisa mengingatnya. Ledakan besar terjadi. Darah menggenang di mana-mana seperti medan peperangan. Kami semua berlari menyelamatkan diri ke lantai atas. Tidak peduli teman atau bukan, kami saling dorong demi menyelamatkan diri. Entah beruntung atau tidak, aku dan Natania berhasil tiba dipuncak dan berhasil menaiki pesawat darurat. Pada akhirnya kami berhasil selamat. Namun dosa kami atas kebangkitan robot-robot itu mengalir sepanjang hidup kami.” Tatu mulai berkaca-kaca. “Kami benar-benar bodoh. Kenapa kami tidak pernah bertanya-tanya soal alasan mengapa robot itu dinonaktifkan. Seharusnya kami mencari tahu. Ego kami mengalahkan resiko. Membuat kami tergiur pada ketenaran tanpa tahu akibat dari perbuatan kami.”


Tatu tercekat. Dia sepertinya tidak sanggup lagi bercerita.


“Tatu, ini bukan salahmu. Kau hanya mengikuti perintah Zenzen. Kau hanya mencoba untuk bertahan hidup. Bukankah semua manusia demikian? Seperti halnya diriku. Yang memutuskan lari di hari terakhir aku bersama ibuku. Mungkin jika aku lebih memilih untuk tetap mengikuti ibuku, akhir yang aku jalani akan berbeda. Entah berbeda dalam hal baik atau buruk. Yang jelas semua ini adalah takdir Tatu. Kita semua yang hidup dan menjalani hari-hari pasti memiliki alasan untuk mengubah masa depan. Setidaknya itu yang aku yakini selama perjalananku.” Aku tersenyum tipis sembari menatap langit.


Tatu menyeka air matanya. “Yeah, kamu benar, Nak. Karena itu aku mencoba memperbaikinya. Aku menciptakan berbagai alat. Melakukan banyak percobaan. Mencoba berdiskusi dengan anggota Batana yang selamat. Namun lebih banyak yang tidak mau berurusan lagi dengan Batana. Memilih hidup normal dan menjalani keseharian dengan keluarga dan kerabat mereka masing-masing. Aku tidak pernah mau memaksa, Nak. Pada akhirnya hanya tim inilah yang bisa aku kumpulkan selama bertahun-tahun. Si kembar yang ingin memusnahkan RP-2. Kakek tua galau yang ingin menampar wajah Zenzen. Perempuan jutek yang ingin memperbaiki segalanya. Dan pria gempal yang ingin menebus dosanya.”


“Jangan lupakan anak muda yang ingin memenuhi harapan semua orang.” Aku menambahkan.


Tatu tertawa terbahak-bahak. Tawanya membahana di langit malam yang sendu.


“Hei, Tatu! Apakah kau baru saja menyebutku perempuan jutek?” Seru seseorang dibelakang kami.


Kami spontan menoleh dan mendapati semua orang telah berdiri tepat di depan gerbang. Natania memelototi Tatu dengan penuh amarah. Tatu hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Astaga! Biadap sekali kau menyebutku kakek tua galau!” Ador menambahkan.


“Ya! Jahat sekali!” Seru si kembar bersamaan dengan suara lantang.


“Tapi kamu memang benar Tatu. Kita ini tim dan kita memiliki tujuan yang sama. Mengakhiri penderitaan ini dan membebaskan semua orang dari ‘sangkar’ mereka. Ditambah lagi kita memiliki Lian yang akan menjadi jalan keluar atas permasalahan kita selama bertahun-tahun.” Natania berjalan mendekat dan menepuk kasar bahu Tatu.


“Aw! Itu sakit, Natania! Sangat sakit! Kalau begini terus kau tidak akan pernah bisa menikah. Kamu akan menjomblo seumur hidupmu!” Tatu membalasnya dengan meledek.


Natania semain marah dan meninju perut gempal Tatu. Tatu berseru tertahan. Disusul gelak tawa yang lainnya.


“Yeah, kau pantas mendapatkannya Tatu. Sekarang apa rencanamu?” Tanya Natania dengan nada dingin.


Tatu meringis sembari memegangi perutnya. “Kita harus mencari tangan besi.”


“Tangan besi? Maksudmu  Hot-Powered Electric Blobs” Tania bertanya meyakinkan.


“Iya, benda itu. Tapi jangan menyebutnya dengan istilah itu. Aku lebih menyukai nama tangan besi daripada istilah tersebut. Nama mekanis itu terlalu berlebihan. Maksudku, bagaimana jika kita menggunakannya saat keadaan genting? Pasti akan sulit untuk menyebutkannya.”


“Baiklah, terserah kau saja.” Natania memutar bola mata dan mengangkat bahu.


“Untuk apa alat tersebut Tatu?” Aku memutuskan untuk bertanya. Tidak mengerti arah pembicaraan mereka.


“Kau pernah bilang tidak boleh menggunakan kekuatanmu selama satu bulan, kan? Nah, tangan besi itu memiliki fungsi yang berbeda jauh dengan EM. Namun dia punya satu kemiripan, sama-sama menyerap panas tubuh dan mengubahnya menjadi listrik. Dari listrik itulah kekuatan tangan besi bisa meninju seseorang lebih mematikan dari tangan biasa. Dulu alat itu digunakan ilmuwan Batana untuk membenarkan kerusakan di markas dan menghancurkan beberapa benda yang tidak diperlukan. Hanya saja aku lupa dimana meletakkan alat tersebut. Aku ingat sekali membawa sepasang saat kabur dari markas. Karena aku dan Batrice mengenakan alat itu saat tengah memeriksa RP-2.” Tatu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Kenapa tangan besi tidak digunakan untuk melawan RP-2 saat itu?”


“Itu karena alat itu tidak berfungsi untuk menghancurkan sesuatu yang lebih besar.” kali ini Natania yang menjawab, “alat itu hanya bisa menghancurkan benda-benda kecil dan beberapa penemuan yang gagal namun dengan ukuran yang tidak lebih besar dari anak berusia delapan tahun. Tentu saja hal itu mustahil untuk menghancurkan RP-2 yang memiliki tinggi dua meter. Namun karena ada kau di sini, kami jadi memiliki alasan untuk menggunakan kembali tangan besi. Apalagi saat ini ada Ador.”


Kami semua menoleh ke arah Ador. Wajah Ador tampak bingung.


“Hei, hei! Kenapa kalian semua menatapku seperti itu?”


Tatu menelan ludah. Matanya berbinar-binar. Dia terlihat mengharapkan sesuatu dari Ador.

__ADS_1


“Jangan bilang kalian akan menyuruhku untuk menciptakan suatu alat. Jawabanku tidak!” Ador membuang muka dan berbalik.


“Tunggu Ador! kita tidak memintamu untuk menciptakan, melainkan memintamu untuk menyempurnakan.” Natania mencegat Ador yang berbalik.


“Iya Ador, setidaknya mari kita dengarkan kata Tatu dan Natania.” Jin ikut membujuknya.


“Karena merekalah yang sudah memberi kita rumah di saat semua orang menganggap kita aneh.” Jun menambahi.


“Kalian tidak ingat bagaimana sifat manusia? Apa kalian semua mau kejadian yang sama terulang untuk kedua kalinya?” Ador mendengus kasar.


“Ador, kami mengerti kau sangat marah. Namun saat ini kita memiliki Lian. Kita juga memiliki EM. Lian bahkan nyaris mengalahkan Zenzen menggunakan EM. Bukankah kau bilang sendiri jika EM bisa menolong kita semua?” Natania mencoba meyakinkan.


Ador tidak menjawab. Membuat kami menunggu keputusannya.


“Ador, aku tahu kau sulit percaya pada orang lain setelah pengalaman yang menimpamu. Kau dikhianati oleh seseorang yang begitu kau sayangi. Aku juga pernah mengalami hal itu. Tapi seseorang pasti memiliki alasan atas pengkhianatannya. Beberapa dari mereka mungkin dipenuhi oleh ketakutan dan membuat mereka memutuskan untuk berkhianat. Pasti hal itu yang dirasakan oleh Zenzen. Dan kita di sini mencoba untuk memperbaikinya. Bukahkah kau juga ingin bertemu dengan Zenzen dan memberi pelajaran pada anak durhaka itu? Bukankah kau bilang yang salah orangnya bukan alatnya?” Aku ikut membujuknya.


Hening. Ador masih belum memberikan jawaban. Mungkin dia tengah mencerna kalimat kami semua.


Setelah menunggu beberapa menit, Ador menghela nafas. “Baiklah.”


Kami semua bernafas lega.


“Tapi aku punya satu syarat.” Ador mengacungkan jari telunjuknya.


Kami kembali tercekat.


“Aku hanya akan membuat tiga pasang.”


“Hei, itu tidak bisa diterima.” Tatu menyangkal syarat Ador. “Zenzen itu punya pasukan robot dan bandit. Dia juga punya teknologi yang tak kalah canggih. Tentu saja tidak adil jika hanya membuat tiga pasang.”


“Oke, oke. Kau ini banyak sekali maunya! Aku akan menyempurnakan sepuluh pasang.”


“Sepuluh? Itu masih...”


“Sepuluh atau tidak sama sekali.” Ador menegaskan.


Tatu menunduk kecewa. “Baiklah...”


Malam itu kami habiskan dengan mencari tangan besi yang dimaksud Tatu. Sangat sulit mencari benda tersebut di tengah rumahnya yang sangat berantakan. Kami harus mencarinya di antara barang-barang rongsokan yang tertimbun di berbagai titik. Ditambah lagi dengan robot-robot aneh buatan Tatu yang tak jarang mengejutkan kami semua. Bahkan beberapa alat yang tak sengaja hidup tiba-tiba membuat kekacauan. Malam menjadi tidak membosankan. Tawa demi tawa memenuhi ruangan. Terkadang mereka bertengkar dan menyalahkan satu sama lain. Aku hanya mencoba menenangkan. Lagi pula aku hanya tamu di sini. Aku tidak punya alasan untuk bergabung dalam perdebatan mereka.


Setelah dua jam mencari kami akhirnya menemukannya.


“AKU MENEMUKANNYA!” Seru Jin yang berlari kegirangan sembari membawa sebuah tangan besi yang telah berkarat.


“Wah! Akhirnya!” Tatu berseru riang dan menerima sepasang tangan besi seukuran pria dewasa. Dia hanya memakai sebelah untuk memastikan alat tersebut.


“Kau yakin alat itu masih berfungsi?” Ador bergidik ngeri menatap tangan besi berkarat tersebut.


“Tentu saja! Benda dari Batana tidak diragukan lagi kecanggihannya.” Tatu mulai menengadahkan  tangannya.


Kami semua menunggu penuh harap.


Alat itu mulai berdesing dan ruas-ruasnya mulai bergerak. sebuah celah berbentuk lingkaran terbuka tepat di bagian telapak tangan. Cahaya berwarna kebiruan mengalir di celah-celah ruas besi.


“Nah, saksikanlah tangan besi yang agung ini!” Tatu berseru semangat.


Alat itu berdesing semakin keras. Cahayanya semakin terang. Membuatku nyaris memejamkan mata. Tatu mulai mengepalkan tangannya dan alat itu mulai merambat sampai memenuhi lengan. Kami semua berseru tertahan dan menatap takjub tangan besi tersebut yang melapisi tangan Tatu. Dia tampak gagah.


Namun beberapa saat kemudian alat itu tiba-tiba bergetar. Dan beberapa menit kemudian tangan besi itu  hancur begitu saja. Berserakan di atas lantai. Kami semua terdiam. Termasuk Tatu yang sudah bergaya bak super hero.


“Setidaknya kita masih punya satu.” Tatu berujar polos sembari mengusap janggut tebalnya.


“Arghhh! Tatu... Kau merusak alat tersebut!” Natania menggeram marah.


Tatu hanya tertawa. Tubuh gempalnya bergerak-gerak. “Maaf...”


“Sini! Biar aku saja yang memeriksanya.” Ador menyambar tangan besi satunya. Dia meletakkannya di atas meja dan mengumpulkan beberapa alat yang tidak kumengerti fungsinya.


“Apakah kau masih ingat cara membuat tangan besi tersebut, Tatu?” Aku berbisik pelan.


“Sayangnya aku sudah lupa, Nak.”


“Bukankah kau sendiri yang bilang jika kau yang menciptakan alat-alat canggih di kota ini? Seharusnya kau bisa membuatnya lagi, kan?”


Tatu terkekeh. “Sebenarnya bukan sepenuhnya aku yang menciptakan alat-alat tersebut. Aku hanya memberikan beberapa dokumen ke pusat Kota Pandai Besi. Lantas merekalah yang mengaplikasikannya.”


Aku menatap Tatu tak percaya.


“Tatu benar-benar bodoh memberikan dokumen-dokumen tersebut.” Natania menanggapi. “Padahal jika dokumen itu masih ada di tangan kita, mungkin kita tidak akan tinggal di bengkel kuno ini. Aku sungguh tidak percaya jika dia berhasil menjadi anggota Batana. Aku yakin dia pasti menggunakan cara curang.” Natania menunjuk sekeliling ruangan dengan matanya.


“Dasar tidak sopan! Tentu saja aku memberikan dokumen itu bukan tanpa alasan. Setidaknya dengan dokumen-dokumen itu bisa membantu semua orang untuk hidup. Lagi pula aku juga butuh mereka untuk kembali percaya pada Batana.” Tatu bersungut-sungut.


Natania hanya mengangkat bahu tidak peduli.

__ADS_1


Setelah lima menit Ador memeriksa alat tersebut, akhirnya dia mulai angkat bicara.


“Aku sudah tahu kerangka, sirkuit, beserta sistem kerja dari alat ini. Hanya saja mungkin kita membutuhkan bahan yang fleksibel namun kuat. Sedangkan melihat bahan-bahan yang dimiliki Tatu hanyalah bahan rongsokan. Kita membutuhkan yang baru. Yang lebih kuat. Ditambah lagi, untuk menyempurnakan alat tersebut dan menambah beberapa fitur, kita membutuhkan markas dan peralatan yang lebih canggih dan elit. Itu jika kalian benar-benar mau hasil yang maksimal.”


“Hei, tidak mungkin kita bisa menuruti semua kemauanmu. Bukankah kau dulu bisa menciptakan alat yang canggih seperti yang dikenakan Zenzen dengan alat dan bahan yang terbatas?” Tatu menyangkal pendapat Ador.


“Kau pikir aku ini dokter serampangan! Laboratoriumku setara dengan gedung elit di sini! Kau pikir aku menyelamatkan orang-orang dengan barang rongsokan, hah? Tentu saja tidak.”


“Baik, kami mengerti, Ador. Kami akan merundingkannya besok. Lagi pula ini sudah nyaris tengah malam. Kita semua harus beristirahat dan memulihkan tenaga untuk besok. Mungkin kita akan sibuk. Terutama Lian.” Natania menatap ke arahku, “Aku yakin kamu sangat lelah atas kejadian tadi. Pastikan kau beristirahat malam ini. Mengerti?”


Aku mengangguk sebagai jawaban.


“Jika kau memerlukan sesuatu, kau bisa mendatangi kamarku dan Jun. Kamar kami bersebelahan dengan kamarmu.” Jin memberi saran.


Aku mengangguk sekali lagi.


 


 


 


 


***


 


 


Hari esok datang begitu cepat.


Pagi menyingsing. Kami semua mulai berdiskusi di laboratorium milik Tatu. Sejatinya tempat ini tidak pantas disebut sebagai laboratorium. Ah, itu tidak penting. Kami tengah berdiskusi mengenai pembuatan tangan besi yang baru. Hal ini tentu memicu perdebatan di antara mereka.


“Mungkin kita bisa mendapatkan beberapa bahan di pusat pertambangan Kota Pandai Besi.” jin memberi saran.


“Benar, segala macam bahan untuk alat elektronik ada di tempat tersebut.” Jun menambahkan.


“Aku yakin akan sulit mendapatkan bahan dari pertambangan.” Natania menggeleng tidak setuju.


“Kenapa? Bukankah kau mantan anggota Batana? Seharusnya mereka akan menerima permintaanmu.” Tanyaku.


“Itu sulit, Lian. Tambang Kota Pandai besi memang tempat paling terkenal dan penting di kota ini. Sembilan puluh sembilan persen bahan untuk barang-barang elektronik di seluruh kota ini berasal dari tambang tersebut. Hanya saja semua itu butuh izin. Untuk apa bahan-bahan itu digunakan, untuk tujuan apa pembuatan barang elektronik dari bahan-bahan tersebut, dan lain-lainnya. Untuk mendapatkan semua izin itu, kita harus melalui pemeriksaan dari Walikota Pandai Besi terlebih dahulu.” Natania menjelaskan.


Tatu mengangguk setuju. “Mungkin kita bisa mendapatkan izin tersebut. Tapi aku tidak yakin apakah walikota masih mau bertemu denganku. Terakhir aku menemuinya sekitar empat atau lima tahun yang lalu. Hari dimana pembangunan kota dimulai. Tapi itu walikota sendiri yang menemuiku.”


“Apa yang dia lakukan saat itu?”


Tatu tersenyum nyengir. “Dia meminta dokumen dan sketsa arsitektur Kota Pandai Besi yang dulu. Aku memberikannya karena dia masih menghargai Batana. Dia memberi kami apresiasi dengan membangun duplikat dari kota yang sebenarnya.”


“Kedengarannya kau seperti dimanfaatkan Tatu.” Ujar Jin.


“Iya aku setuju dengan Jin.” Jun tak mau kalah berkomentar.


“Entah untuk beberapa alasan, aku merasa setuju dengan komentar Jin.” Aku menambahkan. “Bagaimana jika kau mencoba menghubungi walikota lagi. Mungkin dia mau mendengarkan kami. Apalagi tujuan kita adalah mengalahkan Zenzen dan mematikan seluruh RP-2 yang berkeliaran di luar sana. Tidak ada salahnya mencoba, kan?”


Natania menggeleng. “Itu hal yang mustahil Lian. Tampaknya walikota memang hanya memanfaatkan Tatu.  Jika dia benar-benar mengapresiasikan kinerja Batana, seharusnya dia juga memberi Tatu fasilitas elit dan segala peralatan canggih. Yang dia lakukan hanyalah mengambil dokumen-dokumen tersebut. Bukankah itu tidak adil?”


“Oh, tentu saja walikota memberiku apresiasi. Sejujurnya dia sempat menawariku beberapa hal seperti yang kau sebutkan, Nat. Hanya saja aku menolak semua tawaran tersebut. Aku masih takut jika kemunculan anggota Batana di publik akan memicu perselisihan lagi. mungkin saja mereka akan bertanya-tanya soal janji kami yang belum terwujud. Atau lebih parahnya lagi mereka mengingat soal insiden yang memakan jutaan korban jiwa tersebut. Jadi aku memutuskan untuk bergerak secara misterius.” Tatu menggerak-gerakkan jemarinya. Tengah mendramatisir.


“Kalau begitu kau seharusnya bisa menghubungi walikota lagi, kan? Setidaknya cobalah untuk menghubunginya. Kita tidak akan pernah tahu jika tidak mencoba.” Aku kembali menyarankan.


“Hmmm... Baiklah. Aku akan mencobanya.” Tatu akhirnya memutuskan.


“Eh, tunggu sebentar.” Tiba-tiba aku teringat sesuatu. “Aku lupa satu hal, Tatu. Sepertinya kita memang tidak boleh menghubungi walikota.”


Mereka semua serentak menatap heran ke arahku.


“Begini, Zenzen pernah menceritakan padaku soal bagaimana cara dia menangkapku, mendapatkan informasi tentangku, menemukan tempat keberadaanku. Semua itu dilakukannya dengan cara yang sangat licik dan terorganisir. Awalnya aku memang tidak percaya pada semua perkataan Zenzen. Tapi kini aku bisa memahami kecerdasannya melalui kisah kalian semua. Zenzen menempatkan seorang mata-mata hampir di setiap kota yang pernah dia lalui atau dia kunjungi. Aku khawatir jika mata-mata itu bisa berada di kota ini dan menemukan keberadaan kita. Zenzen pernah bilang jika mata-matanya bersemayam di naungan para petinggi. Tentu hal itu mempermudah akses baginya untuk mendapatkan informasi. Aku rasa predikatnya sebagai bandit hanyalah untuk menakut-nakuti semua orang dan menyebarkan rumor. Sehingga jika suatu hari nanti dia berselisih dengan suatu kota atau negara, dia akan dengan mudah menyelesaikannya. Cukup dengan ujung jarinya yang mengacung maka semua orang akan ketakutan dan tunduk di hadapannya.”


Ruangan hening sejenak. Mereka semua tengah mencerna kalimatku.


“Kalau begitu, apakah Zenzen tahu tentang kita?” Jin yang memulai pertanyaan.


“Jika benar, kemungkinan besar kalian sudah diawasi selama bertahun-tahun. Seperti halnya diriku. Aku tertangkap dengan cara seperti itu. Zenzen tidak menggunakan cara bar-bar atau sembrono. Dia menyukai cara yang seperti permainan dan menunggu mangsanya untuk datang menghampirinya.”


“Huh, kenyataan dia mantan seorang kepala negara membuatku gusar. Kita seperti tidak bebas melakukan sesuatu.” Ador bersungut-sungut.


“Sepertinya ada satu cara.” Aku kembali berujar. “Aku kenal seseorang yang bisa membantu kita. Orang yang sangat aku percayai.”


 


 

__ADS_1


__ADS_2