Kehancuran Batana

Kehancuran Batana
TANGAN BESI


__ADS_3

 


 


Cahaya matahari menelisik melalui celah-celah ranting. Dedauan berwarna kecokelatan berguguran ditiup angin. Burung-burung bersenandung ria menyambut pagi yang semakin menyingsing. Kilau embun pagi tergantung di dedaunan, ranting-ranting, rumput-rumput, jendela, dan beberapa tempat lainnya. Perlahan terjatuh bagai berlian yang berkilauan. Matahari yang semakin merangkak naik dari persembunyiannya menyiram daratan dengan cahayanya yang hangat. Cahaya tersebut lantas tumpah di salah satu ruangan sederhana dengan desain yang elegan.


Seikat bunga iris berwarna biru menyala yang masih setengah mekar diletakkan di dekat jendela. Begitu cahaya matahari menyinari sempurna seluruh ruangan, bunga tersebut mekar dengan eloknya. Membuat siapapun yang awalnya sekilas melintas menatap ke arah bunga tersebut sembari termangu-mangu. Memuji betapa indahnya bunga tersebut.


Samar-samar aku mendengar seseorang memasuki ruangan. Jemari-jemariku mulai bergerak. Perlahan mataku mulai terbuka. Awalnya pandanganku buram, lama kelamaan semakin jelas. Aku mencoba untuk bangkit, namun sekujur tubuhku bagai ditusuk ribuan jarum. Aku baru sadar jika tangan kananku diperban. Namun aku memaksakan diri untuk duduk.


“Sudahku katakan untuk tidak mengatakan hal-hal aneh! Dia pasti akan bangun! Kau baru saja meremehkanku, ya?”


“Eh! Tentu saja tidak, Dok.”


Pintu ruangan terbuka. Dua orang berpakaian putih membuka pintu ruangan. Mereka berdua terdiam menatapku. Berdiri mematung di depan pintu yang setengah terbuka. Aku bahkan juga ikut terdiam melihat sosok tersebut. Sekitar satu menit lamanya kami saling pandang. Pikiran kami sama. Sama-sama terkejut.


Seorang pemuda yang berdiri di belakang seketika pingsan. Tapi pria tua di depan lebih dulu menghampiriku dengan seruan terkejut. Walau demikian aku lebih terkejut lagi begitu mengetahui bahwa pria tua itu adalah Ruzdora.


“Astaga! Ini sebuah keajaiban!” Ruzdora menghampiriku sembari menyeka ujung mata.


“Bagaimana... Bagaimana bisa?” Suaraku patah-patah.


Ruzdora menyuruhku untuk kembali berbaring. Aku tahu maksud dari tatapannya. Wajahnya jelas sekali mengatakan, “nanti saja penjelasannya.”


Aku menatap pria muda yang baru saja terbangun dari pingsan sejenaknya. Dia mengenakan kacamata dan tampaknya lebih tua dariku. Dia segera menghampiri Ruzdora.


“Dok, saya akan memanggil perawat yang lain dan memberi tahu perkembangan pasien lainya yang sedang dirawat.”


Ruzdora terkekeh. “Tuh, kau sudah lihat sendiri, kan? Kau tak perlu cemas. Pasien yang lain juga pasti akan segera bangun dalam beberapa hari atau minggu. Seorang dokter yang baik harus selalu optimis dalam keadaan apapun. Jika kau terus menerus cemas, yang ada pasienmu malah lebih menderita. Kau mengerti?”


“Baik, Dok.” Perawat tersebut berseru salah tingkah sembari mengusap rambutnya yang terlihat berantakan.


Perawat tersebut meninggalkan kami berdua di dalam ruangan. Ada banyak sekali pertanyaan yang ingin aku lontarkan untuk Ruzdora. bagaimana bisa dia berada di sini? Atau jangan-jangan aku benar-benar berada di Kota Keios? Tidak, tidak, tidak. Aku bisa melihat cahaya matahari menerobos masuk melalui jendela. Kota Keios adalah kota yang disembunyikan menggunakan puing yang disusun sedemikian rupa. Mana ada cahaya matahari yang bisa menerobos puing-puing tersebut.


“Kau pasti sedang bertanya-tanya ini dimana, kan?” Ruzdora memasang senyuman khasnya. Dia masih suka sekali terkekeh.


Aku mengganguk pelan sembari terbaring lemas di atas ranjang. Mengeluarkan suara saja seperti mengerahkan seluruh tenaga.


“Nanti saja aku akan memberi tahumu. Mungkin jika kau sudah sehat dan mampu berjalan dengan benar. Untuk sementara ini kau serahkan saja masalahmu pada beberapa agen yang disiapkan. Jangan membebankan semua tugas hanya kepadamu, Nak. Terkadang kau harus membagi beban tersebut pada orang lain saat kau tidak sanggup melakukannya sendiri.”


Seperti biasa, kata-kata Ruzdora selalu menenangkan hati. Kali ini Ruzdora melempar tatapan ke arah bunga iris yang mekar sempurna di dekat jendela. Aku ikut menyaksikan bunga tersebut.


“Ternyata sudah mekar, ya? Padahal kemarin bunga tersebut masih menjadi kuncup. Ngomong-ngomong soal bunga. Aku sengaja memilih bunga iris biru karena bunga tersebut memiliki warna mata yang mirip denganmu, Nak. Selain itu bunga tersebut memiliki arti kepercayaan dan harapan. Bunga itu adalah simbolisasi dari perasaanku saat ini, Lian. Aku sangat percaya dan menggantung harapan yang sangat tinggi jika suatu hari nanti kau bisa membebaskan kami dari belenggu kesengsaraan ini.” Ruzdora tersenyum.


“Walau demikian sepertinya aku terlalu berlebihan meyakinkanmu untuk melakukan semua ini. betapa terlalu egoisnya pria tua ini sampai-sampai membuatmu terluka parah seperti ini.” Wajah Ruzdora berubah sedih.


Aku menggeleng pelan. Tentu saja ini bukan salahnya. Aku melakukan ini atas kemauanku sendiri. Justru aku harus berterima kasih padanya yang sudah meyakinkanku.


“Maukah kau mendengar sebuah cerita?” Ruzdora kembali tersenyum. “Aku selalu ragu untuk menceritakannya padamu. Tapi kali ini aku akan menceritakan semuanya padamu.”


Aku terdiam. Mulai menyimak kisah apa yang akan dia ceritakan padaku.


“Kau pasti sering sekali berpikir bahwa aku adalah pria tua yang hanya hidup sendiri di sebuah rumah besar di dekat penjara tanpa memiliki seorang keluargapun, bukan? Awalnya aku tidak hidup seperti itu. Aku memiliki seorang istri dan seorang anak laki-laki. Usianya mungkin sepantaran denganmu. Kalian pasti bisa menjadi teman dekat jika dia masih hidup.”

__ADS_1


Aku menyentuh pelan tangan Ruzdora. memintanya berhenti jika dia tidak sanggup untuk menceritakannya. Ruzdora menggeleng pelan. Meletakkan kembali tanganku yang terperban ke atas ranjang.


“Kurasa akan merasa lebih baik jika aku menceritakan semuanya padamu.” Ruzdora kembali melanjutkan kisahnya. “Istriku sering sakit-sakitan sebelum dia menikah denganku. Dan penyakit tersebut semakin parah saat usia anakku mencapai umur sepuluh tahun. Aku adalah seorang dokter. Fakta bahwa aku adalah dokter membuatku mencari cara untuk menyembuhkan istriku. Namun sayangnya aku tidak berhasil. Istriku meninggal. Aku sering sekali menyalahkan diriku.” Ruzdora terdiam sejenak. Menatap langit-langit ruangan.


“Tahun silih berganti. Anakku mulai menginjak umur empat belas tahun. Dia tumbuh menjadi anak yang baik. Masalah selanjutnya datang. Anakku menderita penyakit yang sama dengan istriku. Ketakutan terbesarku menghampiriku. Aku mencari segala cara untuk menyembuhkannya. Aku tidak ingin kehilangan. Aku tidak ingin ketakutan. Begitulah pikiranku saat itu. Namun aku tahu, aku tahu penyakit tersebut tidak akan bisa disembuhkan menggunakan berbagai macam obat yang kuciptakan. Karena obat dari penyakit tersebut adalah dunia luar. Dunia yang disinari matahari. Anakkupun meninggal dunia menyusul istriku.”


Ruzdora kembali menatapku. Tersenyum tipis. “Kau tahu, Nak? Setiap tahun aku menemukan pasien dengan kasus yang sama. Penyakit tersebut diakibatkan lantaran kurangnya sinar matahari. Hanya orang-orang tertentu saja yang lolos dari seleksi ini. Kau tahu alasanku tidak berhenti menjadi dokter setelah dua peristiwa menyakitkan itu terjadi? Karena aku tahu jika aku adalah orang terpilih. Aku ditakdirkan untuk hidup agar bisa menyelamatkan beberapa nyawa lainnya. Karena aku tahu semua orang membutuhkan dokter sepertiku. Kaupun juga sama, Nak. Kau hidup untuk ditakdirkan melakukan sesuatu.”


Aku mengangguk lirih. “Terima kasih, Ruzdora. Aku sudah merasa lebih baik.” aku tersenyum tipis.


Ruzdora membalas kalimatku dengan terkekeh. “Oi! Lihatlah! Ternyata kau hanya seorang remaja biasa yang masih bisa tersenyum.”


Seorang perawat memasuki ruangan dengan tergesa-gesa. Dia bahkan membuka kasar pintu ruangan. Ruzdora menoleh dengan wajah marah.


“Hei! Tidak bisakah kau mengetuk dulu sebelum masuk?” Ruzdora berseru ketus.


“Maaf, Dok. Sepertinya kita memilki masalah. Ada seorang pria dan wanita yang memaksa untuk bertemu dengan Lian Clue.”


“Bukannya aku sudah bilang untuk tidak memperbolehkan siapapun bertemu dengan pasien yang masih dalam masa perawatan?”


“Dia bilang dia adalah kenalannya. Kami sudah mencoba untuk melarang mereka lantaran pasien masih dalam masa perawatan, tapi mereka bersikeras untuk menemui Lian. Kami kewalahan mengatasi masalah ini. Tampaknya mereka adalah orang yang cukup berkuasa di kota ini.”


Ruzdora mengusap rambutnya yang beruban. “Baiklah, biar aku yang urus...”


Kalimat Ruzdora terhenti begitu mendengar keributan di luar sana.


“Kami harus bertemu dengannya!” Teriak seseorang dengan suara serak-serak basah.


“Maaf anda tidak bisa...”


Ruzdora berdiri.Wajahnya terlihat marah. “Berani-beraninya anda berlaku tidak sopan! Tindakan anda mengganggu pasien kami!”


Belum pernah aku menyaksikan Ruzdora semarah itu. Tapi aku lebih tertarik menatap dua orang aneh yang tengah berdiri di daun pintu. Satunya pria dengan tubuh yang terlihat gempal. Dia mengenakan masker dengan bentuk seperti belalai gajah. Janggut ikal berwarna kemerahan menjulur dari balik maskernya sampai ke dada. Dia menggunakan kacamata berbentuk bulat kecil dengan warna hitam. Dia memakai baju kulit dengan bulu di bagian lengannya.


Seorang lagi adalah wanita dengan tubuh kurus. Rambutnya hitam dan diikat kuncir kuda. Dia mengenakan pakaian hitam dengan lengan yang terlipat sampai ke siku. Dia mengenakan celana bercorak tentara dan sepatu boot  kulit berwarna hitam dan masker hitam dengan corak gigi hiu. Mereka berdua benar-benar terlihat mencolok. Siapapun pasti akan berprasangka buruk begitu melihat penampilan mereka.


“LIAN!” Pria berjanggut tebal itu hendak berlari ke arahku. Namun Ruzdora mencegahnya.


“Aku tidak tahu siapa anda. Tapi tindakan anda benar-benar keterlaluan!” Seru Ruzdora dengan wajah galak.


“Hei! Aku tidak punya urusan dengan dokter tua sepertimu. Aku hanya ingin bertemu dengan anak dari temanku.” Ujar pria janggut tebal itu dengan santai.


Tunggu sebentar! Dia bilang anak dari temannya! Itu artinya...


“Apakah anda pria yang dibicarakan ibuku? Pria janggut tebal dengan tangan besi?” Aku menatapnya penuh harap.


“AHAHAHA! Benar! Itu aku!”


Astaga!


 


 

__ADS_1


***


 


 


Ruzdora akhirnya mengizinkan pria tersebut untuk berbincang denganku setelah aku memintanya sendiri. Namun dia hanya memberi kami waktu lima menit. Lebih dari itu dia akan memaksa mereka berdua keluar.


“Dokter tua itu benar-benar menyebalkan!” Gumam pria janggut tebal tersebut.


“Kau tidak boleh menghina orang sembarangan. Kebiasaanmu itu benar-benar menyusahkan. Sebaiknya kau langsung berbicara pada intinya. Dia hanya memberi waktu lima belas menit. ” Wanita di sampingnya menanggapi dengan nada dingin.


“Baiklah, kau juga selalu dingin seperti biasanya, Natania. Aku Tatu dan wanita ini adalah Natania. Kami berdua adalah teman ibumu. Bagaimana kabarnya? Apakah dia masih wanita naif yang selalu tergila-gila pada penelitian?”


“Sudahku bilang untuk berhenti menghina orang, Tatu!” Seru Natania lebih galak.


“Ok, ok, aku mengerti. Jadi, bagaimana kabar ibumu?” Tatu kembali pada kalimatnya.


Aku menghela nafas pelan. “Ibuku sudah meninggal sejak dua tahun lalu.”


Jawaban itu cukup membuat mereka terkejut setengah mati. Kacamata Tatu nyaris terjatuh. Menampakkan mata bulatnya yang berwarna abu-abu.


“Astaga! Kami tidak tahu itu.” Natania memasang wajah sedih.


Ruangan hening sejenak.


“Tapi ibuku memberiku pesan untuk menemui kalian. Dia menyuruh aku untuk pergi ke utara menuju kota mati bernama Batana. Dan temui pria berjanggut tebal dengan tangan besi. Dia menyuruhku untuk memberi tahumu jika Zenzen sudah mulai bergerak.” Aku kembali pada topik pembicaraan.


Raut wajah Tatu kembali seperti semula. Tidak, dia lebih terlihat marah. “Zenzen, ya? Aku sudah tahu jika pria alis tebal itu akan melakukan sesuatu yang besar. Sesuatu yang sangat mengerikan. Sesuatu yang membuat kita akan bernaung di bawah kegelapan. Aku sangat membenci pria penipu tersebut. Aku butuh informasi yang lebih detail, Lian. Apa lagi yang dikatakan ibumu waktu itu?”


Aku berpikir sejenak. Menatap langit-langit ruangan. “Dia bilang hanya aku satu-satunya yang bisa menyelamatkan dunia. Sebelumnya dia juga sempat menceritakan padaku mengenai Robot Penjaga Perbatasan. Kami terburu-buru saat itu lantaran para bandit tengah mengejar kami.”


“Begitu rupanya. Ibumu meminta kami untuk menghentikan Robot Penjaga Perbatasan sebelum Zenzen berbuat sesuatu yang dapat membahayakan umat manusia. Lian, aku tahu kau pasti sudah pernah bertemu dengan Zenzen secara langsung. Ceritakan seperti apa dia?”


Aku mengangguk. “Dia sangat kuat. Tampaknya dia adalah manusia setengah robot atau biasa disebut cyborg. Dia bahkan bisa menghentikan ribuan peluru dalam satu gerakan. Aku bertarung langsung dengannya.Walau dengan bantuan teman-temanku. Hanya saja aku tidak tahu apakah dia masih hidup atau tidak.”


“Hei! Jika kau mengatakan hal itu kau pasti hebat sekali bisa melawannya. Bagaimana caramu melawannya? Apakah kalian menggunakan strategi khusus? Atau kalian punya senjata rahasia anti Zenzen?”


“Bukan,” aku menyangkal kalimatnya. “Ibuku menanamkan semacam alat berbentuk chip tepat dibagian belakang tubuhku. Aku tidak bisa menjelaskan secara teori ataupun logika. Yang jelas alat tersebut membuatku memiliki kekuatan puluhan kali lipat dari manusia biasa. Hanya saja aku tidak bisa menunjukkannya saat ini dihadapan kalian. Seperti yang kalian lihat sendiri, aku terluka parah dalam pertarungan tersebut. Walau demikian, aku tahu Zenzen lebih kuat dariku. Dan dia tidak akan kalah dengan mudahnya dalam pertarungan waktu itu.”


“Waktu habis.” Ruzdora memasuki ruangan. Wajahnya terlihat gusar.


“Hei, Bung! Waktu yang kau berikan terlalu sedikit.” Keluh Tatu dengan wajah datar.


“Sudahlah, Tatu. Kita bisa kembali kemari jika kondisi Lian sudah lebih baik. Katakan saja maksud kedatanganmu.” Natania mencoba membujuknya.


Tatu mendesah kecewa. “Baiklah. Lian, jika kau sudah sepenuhnya pulih, jangan lupa untuk menghubungiku.” Tatu menyerahkan secarik kertas. Wajahnya masih terlihat kecewa.


Mereka berdua beranjak dari tempatnya. Ruzdora menatap sinis kedua orang berpakaian aneh tersebut. Mereka berdua berlalu meninggalkan ruangan. Ruzdora menggeleng pelan.


“Dunia ini benar-benar dipenuhi orang-orang naif.” Gumam Ruzdora.


Aku menatap antusias kertas yang diberikan Tatu kepadaku. Ingin sekali aku segera sembuh dan kembali bertemu dengannya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2