Kehancuran Batana

Kehancuran Batana
PERGINYA ZENZEN 6


__ADS_3

Cahaya pagi menelisik di antara pepohonan yang rindang. Burung-burung tampak bertengger di atas kabel-kabel jalanan. Orang-orang masih menguap lebar sembari membuka pertokoan mereka. Embun menetes pelan dari ujung-ujung dedaunan dan atap-atap bangunan. Udara masih sejuk namun tetap menyesakkan.


Sudah setahun lamanya aku tinggal di kota besar ini. Daerah kumuh tempatku tinggal dulu sudah tidak ada lagi. Tergantikan oleh sebuah perumahan dengan arsitektur modern dan lahan hijau yang luas. Aku selalu menyaksikan bagaimana tempat itu berkembang setiap harinya melalui televisi. Tempat itu sudah tidak aku kenali lagi. Bentuk jalan dan tinggi tanahnya sudah tidak lagi sama seperti dulu. Jadi aku tidak akan pernah tahu dimana letak rumahku dulu.


“Semua barang sudah kau bawa, kan?” Ador bertanya memastikan.


Aku mengangguk, menepuk tas ranselku. Tidak banyak yang harus aku bawa. Beberapa barang yang mungkin aku butuhkan sudah disediakan oleh akademi.


Perjalanan kami masih sangat lama. Butuh lima jam untuk sampai di akademi. Ador tampak berseri-seri sekaligus cemas. Mungkin dia merasa sangat gugup. Aku hanya menggeleng pelan. Padahal seharusnya akulah yang paling gugup di sini.


Aku menatap sebuah drone yang melintas di sisi jalan bersama beberapa pekerja kantoran. Aku sudah tidak takut lagi dengan benda terbang itu. Latihanku selama satu bulan  tidak sia-sia.


Bicara soal Arina. Kemana dia pergi pasti menjadi sebuah pertanyaan besar bagi kalian. Tapi itu bukanlah hal penting bagiku. Namun aku akan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi padanya.


Seminggu yang lalu tepat ketika Arina mengatakan kalimat ‘terima kasih’ kepadaku, Ador memanggilnya ke ruangannya. Wajah Ador tampak serius. Entahlah, aku tidak bisa membaca raut wajah Ador. Arina tampak gemetaran. Wajahnya tampias begitu mendengar panggilan tersebut. Aku yakin itu adalah sebuah panggilan yang sangat serius.


Tapi keesokan harinya aku tak lagi menjumpainya di manapun. Hei! bukankah ini bagus? Yang artinya tidak akan ada lagi pengganggu bagiku. Jadi untuk apa aku bertanya-tanya tentangnya.


Lima jam kemudian, kami telah tiba di Akademi Talenta. Riuh terdengar di mana-mana. Hologram raksasa dengan ucapan selamat datang menyambut kami di gerbang masuk akademi. Semua orang di arahkan ke auditorium. Mungkin semacam seremoni atas kedatangan murid baru. Mobil-mobil mewah tak henti-hentinya berdatangan. Baik itu berasal dari sebuah agensi pencari bakat ataupun orang tua yang mengantarkan anak mereka.


Sebelum masuk ke auditorium, beberapa drone seukuran kepala orang dewasa berbentuk piringan dengan sebuah pengait di bawahnya telah membawakan barang-barangku menuju kamarku. Drone itu juga memberi tahuku di mana kamar dan siapa saja anggota kamarku. Setidaknya aku tidak perlu repot-repot untuk mengelilingi satu bangunan akademi hanya untuk mencari kamarku berkat informasi yang diberikan benda melayang tersebut.


Suara pembawa acara menggema di seluruh auditorium yang telah dipenuhi oleh para tamu. Sebuah layar lebar terpampang di atas panggung menampilkan cuplikan yang sama dengan yang ada di kolam pancuran. Siapa lagi jika bukan pemilik dari Akademi Talenta. Cario. Ador mengernyitkan wajahnya sepanjang menyaksikan wajah orang itu. Kebenciannya tidak akan pernah memudar. Sama dengan kebencianku dengan orang-orang kaya dan pemimpin sok berkuasa.


“Hadirin yang terhormat. Sungguh hari ini adalah hari spesial yang kami tunggu-tunggu. Kedatangan kalian semua merupakan sebuah langkah bagi kami untuk menunjang masa depan akademi ini.” Pembawa acara mulai berbasa-basi. “Aku bahkan bisa menyaksikan wujud nyata dari gambaran masa depan yang aku inginkan. Oh, sungguh indah sekali.”


Para hadirin tertawa. Aku hanya menopang wajahku dengan tangan. Aku tidak tahu apa yang lucu dari kalimat tersebut.


“Dengan ini mari kita sambut pendiri dari Akademi Talenta. Tuuuuaaaannn Caaario!”


Suara tepuk tangan memenuhi seluruh auditorium. Ador meremas jemarinya sedangkan aku hanya menguap lebar. Musik pengantar dinyalakan dan drone-drone mulai berterbangan mendekati panggung. Bersiap mengabadikan momen ini. Seseorang dengan wajah tirus dan rambut beruban yang disemir ke belakang maju ke atas panggung. Aku bisa mendengar Ador menggerutu sejenak begitu menyaksikan wajah orang tesebut secara langsung.


Dari segi postur tubuh Cario jelas lebih unggul dibandingkan Ador. Dia terlihat gagah dan bijaksana. Tubuhnya lebih tinggi lima senti dari Ador. Aku bisa menebaknya hanya dengan melihatnya dari jauh. Cario mengenakan jas mahal berwarna abu-abu metalik. Mata birunya terlihat berkilauan diterpa sorot lampu dan jepretan kamera.


Dan di samping Cario aku bisa menyaksikan seorang anak berusia sekitar lima belas tahun. Dia tidak mengenakan baju lengan panjang sehingga menampakkan kedua tangan palsunya yang berwarna perak dengan cahaya berwarna hijau mistis. Dari gestur kakinya aku juga tahu jika itu bukanlah kaki asli. Apakah dia juga mengalami cacat persis seperti yang aku alami?


Cario berdehem sejenak dan melakukan testimoni. “Sungguh sebuah kehormatan bisa berdiri di hadapan kalian semua pada kesempatan yang sangat berbahagia ini. Aku tidak menyangka jika Akademi Talenta menjadi salah satu akademi terfavorit di kota ini. Semua anak berbakat yang kehilangan anggota tubuh mereka berkumpul di hari ini dengan semangat menggebu-gebu yang mereka bawa. Dan semangat mereka akan membawa harapan besar untuk masa depan akademi kelak.” Cario terhenti sejenak sembari menyapu pandangannya ke seluruh penonton. “Tahun ini adalah tahun yang tak terduga. Ada banyak anak-anak yang memenuhi kriteria kami sebagai murid bermultitalenta. Hasil ini sungguh mengejutkan. Akademi Talenta yang sudah berdiri selama lima belas tahun lamanya belum pernah mendapatkan catatan emas seperti ini dari seorang murid baru. Saya sebagai kepala akademi ini sungguh sangat bersyukur atas para hadirin yang membawa anak-anak berbakat itu untuk menjadi bagian dari kami. Saya selaku pemilik Akademi Talenta, akan selalu menjaga mereka dan mendidik mereka agar menjadi lebih baik. Agar dunia tidak lagi memandang sebelah mata bagi mereka yang kurang beruntung. Agar dunia tidak lagi menganggap mereka adalah aib dari sebuah kehidupan!”

__ADS_1


Sorakan dan tepuk tangan mengiringi kalimat akhir Cario. Ador hanya mengatupkan rahang. Dia jelas tidak suka dengan kata-kata Cario barusan. Cario mulai menuruni panggung. Drone-drone mengiringi langkahnya sembari tetap menyorot wajahnya. Semua orang tampak gembira dan bahagia. Beberapa orang tua yang duduk di sampingku sampai dibuat memeluk anaknya. Sungguh situasi yang sangat tidak nyaman. Setidaknya bagiku.


Acara dilanjutkan oleh pertunjukan bakat. Berbagai bidang bakat ditampilkan secara berkala di atas panggung megah tersebut. Aku sudah sangat mengantuk karena dibuat bosan oleh acara ini. Acara pembukaan usai tepat pada pukul satu siang. Pembawa acara memberi salam penutup. Lantas semua hadirin mulai berhamburan keluar dari auditorium.


Begitu berada di luar ruangan, aku bisa menyaksikan Cario berdiri di luar ruangan sembari mengucapkan terima kasih kepada para tamu. Dia ditemani oleh para orang berjas lainnya. Anak yang tadi kulihat di atas panggung juga ikut menyertainya. Dia berdiri di barisan para murid senior.


“Ador, siapa anak yang berdiri di samping Cario saat di panggung tadi?”


“Dia adalah anak terbaik di Akademi Talenta. Aku dengar dia sudah mencetak berbagai prestasi dari berbagai bidang akademis dan fisik. Terakhir kudengar dia mengalahkan seorang anak  dari sebuah akademi terbaik di kota ini dalam sebuah olimpiade matematika hanya dalam lima babak. Semua jawabannya bahkan sempurna.”


“Kenapa anda tidak pernah menceritakan sebelumnya padaku?”


Belum sempat kami menjawab, tanpa disadari kami telah berada didepan Cario. Ador tercengang. Cario hanya tersenyum sembari mengulurkan tangannya pada Ador.


“Sungguh senang rasanya bisa bertemu dengan anda dan anak anda yang berbakat ini. Kami tidak akan menyia-nyiakan dedikasi anda pada akademi ini. Saya pasti akan mendidik anak anda sampai dia menjadi seseorang yang akan diakui oleh dunia.”


Ador masih belum menjabat tangan Cario. Tampaknya Cario tidak mengenali Ador. Melihat Ador yang hanya menatapnya dengan tatapan sinis, aku dengan cepat mengalihkan semuanya sebelum Ador mulai membuat masalah. Aku menjabat tangan Cario yang terulur.


“Senang bisa bertemu dengan anda, Tuan Cario. Aku Zenzen. Sungguh sebuah kehormatan bisa bertemu dengan anda secara langsung, Tuan. Aku sering melihat wajah Tuan di televisi dan pamflet-pamlef kota. Sangat tidak menyangka jika anda benar-benar Berdiri di hadapan saya hari ini. Bahkan saya berkesampatan untuk menjabat tangan anda.”


Aku tersenyum lebar. “Kurasa itu memang saya.”


Cario kembali tertawa. Dia berbincang sejenak ke para petinggi lainnya. “Bisakah kalian semua menggantikan posisiku? Aku ingin berbincang sedikit dengan anak jenius ini.”


Mereka mengangguk. Kini Cario mengajak kami berdua untuk keluar dari kerumunan, Ador masih belum berbicara sepatah katapun. Wajahnya terlihat tegang. Keringat dingin bercucuran dari keningnya.


“Anak anda sungguh membuat saya sangat kagum. Hal ini membuat saya penasaran bagaimana cara anda mendidiknya, Tuan.” Cario beujar sopan. “Astaga, saya sampai lupa untuk saling memperkenalkan diri. Saya adalah Macario. Anda bisa memanggil nama saya langsung. Mari kita lupakan soal pangkat sejenak.” Cario kembali mengulurkan tangannya.


Ador masih terdiam. Aku dengan cepat menyenggol lengannya.


Ador buru-buru menjabat tangan orang tersebut sembari memasang wajah kikuk. “Ah, saya Ad...”


Aku kembali menyikut lengannya. Dia nyaris saja memberi tahu namanya. Akan menjadi sebuah musibah jika Cario mengetahui sosok yang kini berhadapan di depannya adalah Ador.


“Ad?” Cario memastikan apa yang diucapkan oleh Ador.


Dengan cepat Ador menyempurnakan kalimatnya yang sempat terputus. “Adeno. Anda bisa memanggil saya Ade.”

__ADS_1


Cario memiringkan kepalanya. “Nama yang sangat unik. Baik Tuan Ade, sebuah kehormatan bisa bertemu dengan wali dari murid yang berhasil mendapatkan nilai sempurna dalam ujian masuk Akademi Talenta. Apakah anda memiliki semacam resep rahasia agar anak anda bisa tumbuh menjadi seperti sekarang?”


Ador melirikku sejenak. Lantas merapikan jasnya. “Ehem, ya... Begitulah. Aku hanya mengajarinya sebuah pelajaran privat sehari-hari. Kurasa dia memang terlahir jenius sama sepertiku. Jika kau tahu, di usianya yang masih belia dia mendapatkan nilai sempurna dan menjadi murid terbaik di kelasnya. Belum lagi dia memiliki catatan baik dalam bidang olahraga. Dia sungguh membuat saya sangat bangga.” Ador mengangguk-angguk.


Aku memasang wajah datar. Selama perbincangan kaku ini ada satu hal yang sangat tidak kusetujui. Ador berpura-pura menjadi orang tuaku.


“Maaf jika ini tidak sopan, apa yang membuat anak anda bisa berakhir seperti ini dan memutuskan untuk masuk ke Akademi Talenta?”


Ador memutar bola matanya. Mencari alasan yang bagus. Semoga saja dia tidak memberi alasan aneh lainnya seperti saat aku pertama kali masuk ke kelas accel.


“Ah, dia mengalami kecelakaan saat bersama istriku dalam sebuah penerbangan. Hanya dia yang berhasil selamat namun istriku meninggal di lokasi kejadian. Pesawatnya terjatuh di sebuah pegunungan. Karena itu aku merawatnya sebaik mungkin dengan memberinya tubuh bionik agar dia bisa beraktifitas layaknya anak biasa.”


“Maksud anda kecelakaan penerbangan delapan tahun yang lalu? Kecelakaan penerbangan yang paling buruk sepanjang penerbangan kota ini?”


Ador mengangguk mantap. Wajahnya terlihat sangat tidak nyaman.


“Sungguh tragedi yang sangat mengenaskan. Seharusnya petugas bandara lebih teliti lagi dalam mengawasi pesawat mereka. Kudengar penyebab kecelakaan itu adalah bagian pesawat ada yang rusak karena sudah terlalu lama digunakan. Mereka lupa mengganti mesin tersebut dengan yang baru. Hmmm... Manusia memang bisa sangat teledor dengan hal-hal sekecil itu. Sungguh beruntung putra anda bisa selamat dari kecelakaan mengerikan tersebut. Dia pasti sangat trauma dengan kejadian itu. Saya selaku wakil dari seluruh guru di akademi ini akan menjaga anak anda sebaik mungkin.” Cario memasang wajah prihatin.


Ador mengangguk. “Ah, tentu saja. Mohon didikannya. Aku yakin suatu saat nanti anak saya akan menjadi bintang besar di akademi ini.


Cario dan Ador tertawa bersamaan.


“Sepertinya saat ini saya harus pamit undur diri. Setelah ini saya ada agenda penting lainnya. Semoga kita bisa berjumpa lagi Tuan...”


“Ade.” Ador menambahkan.


Cario mengangguk. “Tuan Ade. Senang bisa berbincang santai dengan anda.” Cario menjabat tangan Ador sejenak. “Semoga hari anda menyenangkan, Tuan Ade. Nikmatilah waktu bersama anak anda sejenak sebelum kalian berdua berpisah.”


Kini Cario menjabat tanganku. “Semoga kau juga bisa membuat pria tua ini bangga, Nak. Harumkanlah nama Akademi Talenta maka aku yakin hidupmu seratus persen akan sejahtera di masa depan kelak.”


Aku mengangguk sembari tersenyum. “Sebaiknya anda bersiap, Tuan. Aku yakin anda akan lebih dari sekedar bangga.”


Cario kembali tertawa dan menjentikkan jarinya. Lantas beranjak meninggalkan kami berdua. Ador akhirnya bernafas lega.


 


 

__ADS_1


__ADS_2