Kehancuran Batana

Kehancuran Batana
AKU ZENZEN


__ADS_3

Matahari mulai meninggi. Menandakan fajar yang semakin menyingsing. Hanya saja tempat ini terlalu gelap untuk menyaksikan sunrise pagi yang mulai muncul. Bukan karena kabut pagi apalagi embun, melainkan udara kotor dan bangunan-bangunan tinggi yang tampak sesak dan kumuh. Beberapa orang mulai berhamburan keluar dari rumah. Satu dua yang tampak tidur diteras pertokoan mulai bangun sebelum pemilik toko berdatangan. Mereka semua menggunakan masker. Tidak ada kata udara ramah di zaman ini. Semua orang wajib sekali memakai masker kemanapun mereka pergi jika tidak ingin terserang penyakit.


Lampu jalanan yang redup mulai dimatikan. Kabel-kabel yang saling menyilang di antara bangunan bergoyang pelan. Daerah ini sangat jauh dari pusat kota. Benar-benar berada di tepi dan nyaris tidak dianggap sebagai bagian dari kota metropolitan ini.


Namaku Zenzen.


Sama sekali tidak memiliki arti. Nama yang diberikan orang tuaku secara asal. Sama dengan nama perkampungan kumuh ini. sangat tidak menarik dan tidak memiliki makna apapun. Aku menatap semua orang yang mulai beraktifitas di jalanan. Menatap mereka di balik jendela usang dengan bau besi berkarat yang sangat kuat.


Aku sangat lapar. Pagi ini tidak satupun makanan yang terhidang di atas meja dengan berbagai perabotan berantakan. Aku sempat mengintip kakakku yang  masih tertidur di kasur reotnya. Dia tidak bergerak sejengkalpun. Meringkuk sembari memegangi perutnya. Aku yakin saat ini dia juga sama laparnya sepertiku. Hanya saja dia menahannya dengan terus tertidur. Setidaknya bertahan sampai sore kembali menjelang.


Aku memutuskan kembali ke kamarku. Tidak ada yang bisa aku lakukan. Toh, aku hanya perlu menahan rasa laparku sampai sore saja. Setidaknya jika sore hari, ada beberapa toko yang membuang makanan yang telah kadaluarsa atau tidak layak makan. Kami bisa mengambil dari toko-toko itu. Jika beruntung, kami bisa mendapatkan stok untuk dua hari ke depan.


KLONTANG!


Aku mendengar keributan di luar. Suara itu terdengar seperti kaleng yang terjatuh. Aku memutuskan untuk menengok ke luar jendela, memastikan dari mana suara itu berasal. Dan kudapati seseorang tengah memanjat melalui pipa besi. Tak lain adalah temanku. Agia.


“Sssssstttt...” Agia meletakkan jari telunjuknya di ujung bibir. Memberi isyarat agar tidak berisik.


Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala. Kenapa pula dia harus menyelinap masuk dengan cara memanjat seperti itu.


Agia sudah memasuki kamarku melalui jendela. Duduk di atas kasurku sembari menepuk-nepuk bajunya yang berdebu.


“Kakakmu sedang tertidur?” Bisiknya.


Aku mengangguk sebagai jawaban.


“Ah, syukurlah kalau begitu. Aku hanya membawa sedikit makanan untuk kita berbagi.” Agia merogoh sakunya dan mengeluarkan sesuatu yang telah dibungkus dengan kain.


“Hei, dari mana kau mendapatkan makanan ini?” Aku bertanya.


“Hehehe, apalagi kalau bukan mencurinya.” Agia menjawab santai.


Astaga! Aku menepuk jidatku. Bagaimana dia...


“Sudahlah, makan saja. Tidak usah banyak bicara.” Agia menyumpal makanan ke mulutku sebelum aku sempat protes.


Aku menyerah. Rasa lapar di perutku lebih besar dari kesabaranku. Aku menelan makanan itu dengan lahap. Lupa kalau itu hasil curian.


Agia tersenyum lebar menatapku. “Mudah, kan? Apalagi makanan itu bukan makanan basi dan bukan makanan kadaluarsa. Dan yang paling penting sehat untuk pencernaan kita.”


“Hei, kau tidak punya lagi? Kakakku juga harus makan. Setidaknya untuk pagi ini.”


“Kau sudah gila, hah? Kau mau bunuh diri? Kakakmu pasti bertanya-tanya dari mana kau mendapatkan makanan ini. Yang ada kau malah dipukuli kakakmu sampai babak belur. Kau tahu sendiri, kan? Kakakmu itu paling benci barang hasil curian. Hah, benar-benar tidak habis pikir. Dengar, ya... Orang dewasa itu punya kemampuan menahan lapar lebih lama dibandingkan anak kecil. Kalau kau hanya mementingkan orang lain, kau tidak akan pernah bisa bertahan hidup.”


“Kalau begitu kenapa kau membawakanku makanan?” Aku membalas ucapannya.

__ADS_1


Agia terdiam sejenak. “Eh, aku mau melakukan penawaran padamu sebagai ganti makanan yang aku berikan padamu.”


Ruangan hening sejenak. Entah mengapa aku tahu apa yang dipikirkan Agia saat ini.


“Aku tidak mau.” Aku berujar ketus.


Agia membulatkan mata. “Oi! Aku bahkan belum bilang apapun.”


“Jika itu berhubungan dengan mencuri, aku tidak akan pernah, tidak, tidak. Titik.” Aku memalingkan wajahku. Berjalan ke arah meja di pojok ruangan. Pura-pura menulis.


“Ayolah, Zen.... Mau sampai kapan kau hidup seperti ini? Kau tahu lebih dari siapapun. Kita ini dilahirkan tidak beruntung. Lahir di kota kumuh dan tidak memiliki orang tua. Apalagi tempat tinggal kita saat ini adalah bangunan ilegal. Kita tidak bisa bekerja apalagi menempuh pendidikan. Semua orang memandang kita rendah dan orang yang sangat menjijikan. Kita harus bersusah payah untuk mendapatkan secuil roti sedangkan orang lain tidak. Mana lagi sisi kita yang bisa diselamatkan?”


Aku meremas jemariku. Di satu sisi aku menganggap semua kata-kata Agia benar namun di sisi satunya aku berusaha mengatakan jika itu adalah hal yang salah.


“Terserah kau saja! Aku memberi tahumu karena kau sahabatku. Suka-suka kau saja jika ingin terus keras kepala seperti ini. Aku sudah memperingatimu, Zen. Sebagai teman aku akan menghargai keputusanmu. Jika kau memilih jalan yang aku tempuh, aku akan senang hati menerimamu. Tapi jika kau memilih jalanmu yang...” Agia mendesah sejenak, “kau yakini, aku tidak mau tahu.”


Agia bergegas keluar jendela. Kakinya sempat tergelincir. Membuatku terkejut. Namun dia kembali ke posisinya. Memasang wajah kaku dan meluncur menuruni pipa. Lantas berlari dan menghilang di ujung gang. Aku yakin dia menahan malu yang luar biasa.


Aku mengambil nafas panjang. Aku memang selalu menderita selama ini. Tapi satu pesan yang selalu aku ingat sebelum orang tuaku meninggal, yakni aku tidak boleh mencuri sekejam apapun dunia kepadaku. Karena kalimat itulah aku bertahan. Karena kalimat itulah aku bersabar, dan karena kalimat itulah aku bisa terus hidup bersama kakakku. Walau Kakak mengalami cedera yang membuatnya lumpuh. Aku selalu bersabar.


“Zen....”


Aku yang mendengar rintihan kakakku bergegas berlari ke kamarnya. Kakak sudah bangun. Wajahnya yang tirus dan rambut panjangnya yang tidak terurus membuatnya terlihat sangat melas. Begitulah kondisinya. Karena cedera parah yang dia alami, Kakak menjadi tidak berdaya. Hanya aku satu-satunya penopang hidup baginya. Hanya aku satu-satunya yang dia miliki.


“Zen, entah mengapa pagi ini perutku sangat lapar. Aneh, kan?” Kakak tampak linglung. Dia masih memegangi perutnya.


Aku terdiam. Bagaimana jika Kakak sampai sakit? Apa yang harus aku lakukan?


“Se....Setidaknya Kakak harus minum sekarang. Aku yakin rasa sakit itu hanya sebentar.” Aku berlari pontang panting. Tidak biasanya Kakak seperti ini.


Kakak mulai meminum air pemberianku. Walau itu tidak bisa dibilang sebagai air bersih, tapi cukup bagi kami untuk melepas dahaga.


Kakak masih meringis kesakitan. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Perutku sendiri juga sangat kosong. Sepertinya ini sangat darurat.


“Kak, tunggu sebentar. Aku akan mencari bantuan.” Aku bergegas keluar rumah.


Hari itu kisahku bermula. Kisah atas kebencianku pada dunia. Kisah atas dendam dan rasa sakitku. Hari itu, akan menjadi hari dimana garis takdirku mulai terbentuk.


Aku terus menelusuri gang demi gang. Mengemis meminta bantuan di setiap toko yang aku kunjungi. Namun mereka semua tidak sedikitpun melirik ke arahku. Sibuk dengan urusan masing-masing. Lebih parahnya, mereka akan mengusirku sembari memakiku. Sesekali aku mengais sampah, berharap menemukan makanan. Nihil, jika ada hanya makanan busuk yang benar-benar tidak bisa dimakan.


Siang mulai terik. Panas matahari membuat peluh dan keringat bercucuran. Ditambah kotornya udara di area kumuh ini. Aku terus memaksa kakiku untuk berjalan. Aku sangat takut untuk pulang. Aku tidak ingin mendengar rintihan kakakku. Jadi aku paksakan diri ini untuk mendapatkan makanan. Namun hari ini aku benar-benar sial. Aku sama sekali belum mendapatkan secuil makanan apalagi uang. Tidak ada.


Sore mulai menjelang. Aku terduduk di salah satu teras toko yang terbengkalai. Pada akhirnya aku hanya bisa menunggu sampai sore menjelang. Sayangnya, mendung mulai menutupi langit. Entah mengapa sekarang alam seakan memusuhiku. Hari ini aku sungguh tidak beruntung.


Hujan mengguyur jalanan. Membasahi lampu jalan, membasahi bangunan, membasahiku yang terduduk di pinggir toko. Jika begini akan semakin sulit bagiku untuk menemukan makanan. Kemungkinan besar tempat pembuangan akan basah dan itu akan merusak makanan sisa yang sudah dibuang.

__ADS_1


“Apa aku pulang saja, ya?” Desahku.


Ketika aku memutuskan untuk pulang sebelum hujan benar-benar deras, seseorang di lantai atas membuang air tepat ke arahku. Aku terdiam. Orang itu buru-buru menutup jendela. Tidak mengucapkan kata maaf sedikitpun. Aku meremas jemariku. Apakah seseorang sepertiku ini tidak pantas dimintai maaf?


“Kita ini dilahirkan tidak beruntung....”


Di saat seperti ini aku malah teringat dengan kalimat Agia tadi pagi. Kenyataan tentang betapa menyedihkannya hidupku tidak bisa terbantahkan. Ini semakin membuatku marah dan kesal. Di sisi lain aku merasa bersalah. Jika saja tadi pagi aku tidak egois memakan makanan pemberian Agia sendirian, mungkin aku tidak akan berakhir seperti ini. jika saja tadi pagi aku memberi tahu Kakak bahwa Agia membawakanku makanan, mungkin Kakak tidak akan kesakitan.


Aku mendongak menatap mendungnya langit. Guntur bergemuruh dan hujan semakin lebat. Aku yang sudah basah semakin kuyup oleh basuhan hujan yang menderas. Air hujan tumpah dan mengenai tepat ke wajahku. Benar juga, aku belum minum sejak pagi tadi. Tidak pikir panjang, aku menampung air hujan menggunakan tanganku. Lantas meneguknya.


Saat itulah aku merasa diriku sangat menyedihkan. Air mataku mulai tumpah seiring derai hujan yang menerpa wajah. Di depan sebuah toko, di bawah lampu jalanan, di pinggir jalan yang berbatu, aku menangis tersedu-sedu. Aku kan hanya anak dua belas tahun. kesalahan macam apa yang aku perbuat sampai-sampai hidupku semenyedihkan ini.


Bukan kau yang salah, tapi dunia ini yang salah.


Aku mengusap air mataku. Benar, ini bukan salahku. Dunia inilah yang membuatku hidup seperti ini.


Di bawah hujan lebat, aku mulai membuat keputusan. Aku akan terus berjalan di bawah mendung. Aku akan bersembunyi di balik bayangan. Aku akan tertawa di balik kesedihan. Aku sudah lelah atas semua ini. Jika aku hidup seperti ini, akan aku buat semua orang merasakan penderitaanku. Akan aku buat semua orang merasakan kebencianku.


Aku bergegas berlari menuju suatu rumah. Bukan rumah, lebih tepatnya sebuah banguan ilegal yang ditempati. Tak lain adalah tempat tinggal Agia. Hari ini aku akan belajar darinya. Aku akan mengikuti semua arahannya. Hanya dia yang bisa menolongku. Hanya dia yang akan menunjukkan padaku. Cara untuk bertahan hidup di dunia yang kejam ini.


Aku memasuki bangunan kumuh itu dengan pakaian yang sudah basah kuyup. Kulepas masker yang selalu kupakai kemanapun aku pergi. Aku tidak ingin lagi terkekang oleh sesuatu. Biarkan aku menghirup bebas udara kotor ini. Masa bodoh memikirkan pesan kedua orang tuaku. Toh, mereka sudah tiada. Apa yang bisa mereka perbuat?


Aku mengetuk pelan pintu besi yang sudah berkarat. Terdengar seseorang tengah terburu-buru berlari. Pintu mulai berderak. Mengeluarkan suara bising yang tidak nyaman didengar. Agia mengeluarkan kepalanya. Dia terkejut menatapku. Mungkin dia tidak menyangka jika aku akan berkunjung setelah kejadian tadi.


Petir menyambar. Membuat terang sejenak ruangan remang yang hanya disinari lampu redup. Agia mengambilkan handuk dan melemparkannya tepat ke arah wajahku. Aku mengusap wajah dan rambutku menggunakan handuk tersebut.


“A, apa tujuanmu kemari?” Agia bertanya canggung.


“Agia sepertinya aku akan mengikuti jalanmu....” Aku menunduk.


Petir menyambar. Membuat ruangan berpendar sejenak. Agia tersenyum tipis. Dia mengulurkan tangan ke arahku.


“Kalau begitu selamat bergabung, Zenzen.”


Hujan masih belum kunjung berhenti. Malam telah menjelang. Aku memutuskan untuk tidak pulang terlebih dahulu. Akan sangat menyakitkan jika aku tidak pulang tanpa membawa makanan sedikitpun. Yang ada aku hanya akan mendengar rintihan kakakku sepanjang malam. Aku memutuskan untuk mengikuti Agia malam ini. Apalagi jika bukan mencuri.


Sebelumnya Agia menjelaskan berbagai hal padaku. Dia bergabung ke sebuah kelompok kecil. Jumlahnya hanya sekitar enam orang. Jika aku bergabung, maka totalnya akan menjadi tujuh. Kami menerobos derasnya hujan di tengah gulita. Mengenakan mantel sampai ke ujung kaki.


Agia sempat memberiku makanan tadi. Walau sedikit, setidaknya aku butuh tenaga. Aku sudah memantapkan hatiku. Aku tidak akan ragu. Aku hanya perlu merahasiakan hal ini dari Kakak, kan? Dengan demikian aku akan terus aman.


Usiaku saat itu dua belas tahun. Sedangkan Agia setahun lebih tua dariku. Aku sudah menganggapnya seperti kakakku dibandingkan seorang sahabat. Beda denganku. Agia terlahir tanpa sempat menyaksikan kedua orang tuanya. Entahlah, apa yang terjadi pada kedua orang tuanya. Setidaknya aku hanya tahu jika dia pernah hidup dengan seseorang sampai usianya tujuh tahun. Dia tidak pernah mau memberi tahu siapa yang merawatnya.


Kami bertemu saat aku masih berusia enam tahun. Saat itu Ibuku sudah meninggal akibat kecelakaan yang juga mengakibatkan lumpuhnya kakak laki-lakiku. Aku masih dirawat oleh Ayah. Hanya saja Ayahku menderita penyakit pernapasan yang sangat kronis. Pada akhirnya dia meninggalkanku dan Kakak. Menyusul kepergian Ibu.


Di saat kesedihanku atas kehilangan, Agialah yang pertama kali mengulurkan tangannya. Menawarkanku bantuan. Walau sejatinya dia tidak suka dengan kakakku. Tapi aku tidak pernah membencinya. Walau hanya ada satu orang yang peduli padaku, aku tidak akan mempermasalahkan hal itu.

__ADS_1


__ADS_2