
“HAHAHAHA! Aku tidak menyangka jika pemilik toko akan sangat mudah dibohongi.” Songmin tertawa terbahak-bahak sembari menyeka peluh yang membasahi kening.
“Sangat mudah mendapatkan uang darinya.” Agia mengibas-ngibaskan uang yang didapatnya.
“Huh, menyebalkan sekali. Ketiga patroler yang tadi menghampiriku malah menggodaku. Tentu saja aku tidak tahan dan menghajar ketiga-tiganya. Apa perlu aku melaporkan tindakan ini ke pusat keamanan? Bagaimana bisa seorang patroler bertingkah seperti itu?” Badas berujar jutek.
“Itu karena wajahmu terlalu cantik, Badas.” Ujar Droid sembari mengacungkan jempolnya.
Badas tidak terima dan memukul kepala Droid. Yang dipukul mengaduh kesakitan.
“Woah, kalian tahu? Jantungku benar-benar mau copot tadi.” Anggar mengelus dadanya. Dia tadi hampir saja ketahuan jika Songmin terlambat sedetik.
Mereka semua saling tertawa dan membanggakan diri masing-masing. Hal ini membuatku benar-benar ingin ikut andil dalam aksi tersebut. Namun Kudeta hanya menyuruhku memperhatikan. Apalagi jika bukan karena aku anggota baru.
“Hei, Zenzen, apa yang kau perhatikan tadi?” Kudeta bertanya dengan nada serius.
Seketika semua tatapan mengarah kepadaku. Aku menelan ludah. Kenapa tiba-tiba suasananya jadi berubah seperti ini?
Aku berpikir sejenak. Sejujurnya cara tadi terasa sangat beresiko. Mau bagaimanapun ini adalah zaman modern. Apapun bisa terjadi. Seperti pemilik toko yang kembali karena mendengar laporan adanya mati lampu.
“Kita tidak bisa menggunakan cara yang sama berulang kali. Itu adalah hal yang sangat beresiko. Sepertinya pusat kelistrikan mendapat sinyal jika ada sebuah area yang mati lampu. Karena hal itulah pemilik toko kembali. Ada beberapa hal yang tidak bisa kita duga dan kita terka. Apalagi ini zaman modern. Walau toko kecil sekalipun, mereka tetap menggunakan peralatan keamanan yang bisa membuat kita ketahuan. Karena hal itulah kemampuan Droid sangat dibutuhkan. Hanya saja cara seperti ini tidak akan bertahan lama. Sepandai-pandai tupai melompat, pasti akhirnya akan jatuh juga. Kita tidak bisa terus menerus merasa aman pada zona ini dan puas akan kemampuan kita. Atau kita hanya akan terjatuh seperti tupai tersebut.”
Ruangan hening sejenak. Mereka semua termenung.
“Hei, jadi kau meremehkan cara Kudeta?” Badas berseru ketus. “Sudahku bilang untuk jaga mulutmu, Bocah. Tau apa kau tentang Kudeta?”
Badas berniat maju untuk memukulku. Namun Agia dan yang lainnya lebih dulu melerai.
“Tunggu dulu, Badas. Zenzen anggota baru. Karena itu dia tidak mengerti apapun tentang kita.” Agia berusaha mencari alasan yang tepat untuk melindungiku.
Seketika ruangan terasa tegang. Aku hanya mengatakan kenyataan. Apanya yang salah? Lagipula Kudeta yang bertanya dan aku hanya menjawab pertanyaannya. Dimana letak kekeliruanku?
“Apa yang dikatakan Zenzen benar. Kita tidak bisa menggunakan cara ini berulang kali. Ada saatnya kita harus melakukan Upgrade.” Kudeta mencairkan suasana. ”Sudahku duga Zenzen akan berkata demikian. Aku ini pandai menilai orang. Aku tahu jika pemilik toko tidak sebodoh kelihatannya. Sedangkan Zenzen pandai menilai situasi. Karena itulah aku memutuskan untuk mengajaknya bergabung. Kita harus menyiapkan satu cara yang lebih canggih dan modern. Jika perlu target kita harus lebih dari sebuah toko kecil.” Kudeta berujar mantap.
“Jika Kudeta mengatakan demikian, aku tidak masalah.” Songmin mengangkat bahu.
“Aku juga.” Anggar mengangkat tangannya.
Satu persatu dari mereka menyetujui kalimat Kudeta. Terkecuali Badas. Dia menatapku dengan tatapan membunuh. Aku membuang muka. Berusaha untuk tidak peduli. Sepertinya dia sangat tidak menyukaiku. Kami semua menunggu keputusan Badas namun bukannya berbicara dia lebih memilih pergi meninggalkan ruangan.
“Tidak perlu dimasukkan ke hati, Bocah. Gadis itu sedang masa puber. Makanya dia sangat sensitif.” Droid menengahi.
“Baiklah, untuk malam ini sudahku putuskan Zenzen menjadi anggota resmi.” Seru Kudeta dengan nada lantang.
Semua bersorak. Untuk pertama kalinya, aku merasakan sesuatu yang tidak pernah kurasakan. Perasaan apa ini? Walau udara terasa dingin, tapi tubuhku terasa hangat. Aku seperti menemukan sesuatu yang selama ini aku cari.
__ADS_1
Kelompok bubar. Sebelum itu Kudeta membagikan bagian kami secara rata. Untuk barang-barang berharga akan dijual besok di pasar gelap. Sedangkan uang dan makanan dibagikan malam ini juga. Aku mendapatkan setidaknya delapan roti dan sejumlah uang. Awalnya aku menolak pemberian sebanyak itu lantaran aku tidak melakukan apapun saat mereka semua beraksi. Namun Kudeta memaksa. Bilang bahwa jawaban atas pertanyaannya adalah caraku membantu mereka untuk lebih baik. Dan hal itu patut diapresiasi.
Malam terasa sangat panjang. Aku dan Agia berjalan melintasi gang demi gang yang dipenuhi genangan air dimana-mana. Sepanjang jalan hanya disinari lampu remang. Walau mendung tapi perasaanku sangat bahagia malam ini. Aku benar-benar lupa dengan ucapan semua orang yang memandangku rendah saat aku mengemis meminta pertolongan.
“Dilihat dari ekspresimu sepertinya kau sangat bahagia?” Agia memulai pembicaraan.
“Tentu saja.” Aku menjawab dengan senyum selebar lima senti. Bersenandung sepanjang perjalanan. “Hei, Agia. Sepertinya mencuri tidak seburuk yang aku kira.”
“Sudahku bilang, kan? Kau sih terlalu sensitif. Coba jika kau bergabung dari dulu. Pasti kakakmu tidak akan kesakitan sekarang.”
Aku terhenti. Astaga! Aku lupa soal Kakak.
“Agia, maaf sepertinya aku harus pulang sekarang.” Aku bergegas pergi dengan berlari. Tak lupa melambaikan tangan ke arah Agia.
“BESOK AKU AKAN BERKUNJUNG KE RUMAHMU!!!” Teriak Agia dari kejauhan. Disusul amarah warga yang protes dengan teriakan Agia. Aku nyaris saja tertawa.
Aku berlari secepat mungkin. Jantungku berdegup kencang. Perasaanku dipenuhi dengan kecemasan sekaligus perasaan bahagia.
Aku telah sampai. Karena biasanya aku yang menghidupkan lampu, malam ini rumahku terasa gelap. Aku bergegas menyalakan lampu dan mencari kakakku. Dan kudapati dirinya telah tersungkur di lantai. Aku berseru panik dan bergegas mengangkatnya kembali ke atas ranjang. Astaga, sejak kapan kakakku seringan ini?
Kakak tampak tak sadarkan diri. Rasa bersalah menghantuiku. Bagaimana jika Kakak sampai tidak bangun? Aku tidak bisa kehilangan dirinya. Aku tidak bisa kehilangan siapapun lagi. Bagiku hanya Kakaklah alasanku untuk terus hidup. Bagiku dialah alasanku untuk terus bertahan.
Aku terus menggoyang-goyangkan tubuh Kakak. Aku berseru panik. Memanggil namanya berulang kali. Usahaku membuahkan hasil. Kakak mulai mengerjab-ngerjabkan matanya dan melirik ke arahku.
“Kak, aku dapat makanan.” Aku bergegas mengambil sepotong roti. ”Kali ini makanan bersih. Bukan lagi makanan busuk seperti yang aku dapatkan biasanya.”
Aku menelan ludah. “Pokoknya Kakak makan saja dulu. Kakak belum makan seharian ini, kan? Maaf aku meninggalkan Kakak sendirian.”
Aku menyuapi Kakak dengan perlahan. Dia mengunyah roti pemberianku dengan lahap. Masih kurang, kuberi potonagn roti kedua. Namun suapanku terhenti begitu melihat mata Kak Ikai yang berkaca-kaca.
“Ada masalah apa, Kak? Apa perut Kakak masih sakit?” aku bertanya cemas.
Kak Ikai menggeleng pelan dan mengusap air matanya yang nyaris berlinang. “Aku pikir, aku pikir kau akan meninggalkanku sendirian. Karena itu aku berusaha untuk berjalan. Kupikir dengan berjalan aku bisa menggapaimu. Kupikir dengan berjalan aku tidak akan kehilanganmu. Kau satu-satunya keluarga yang aku miliki. Jika kau pergi, aku tidak akan pernah memiliki siapapun.”
Aku terdiam sejenak. Walau usia kakakku tujuh belas tahun, dia masih memiliki jiwa seorang anak kecil. Akibat lumpuh di kakinya dia hanya bisa bergantung kepadaku. Berbeda denganku, karena aku harus merawat Kakak sejak kematian Ayah membuatku menjadi lebih dewasa dari umurku yang seharusnya.
“Kakak tidak usah khawatir. Aku pasti tidak akan pernah meninggalkan Kakak. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu apapun yang terjadi. Tidak akan. Janji jari kelingking.” Aku mengacungkan jari kelingking. Sebagai tanda perjanjian ini tidak akan pernah dilanggar.
Kakak tersenyum. Dia mengaitkan Jari kelingkingnya ke jariku. Kami tertawa sejenak.
“Oh iya, Kak. Rasanya gak adil kalau cuman aku yang tidak akan meninggalkan Kakak. Kakak juga harus berjanji untuk tidak akan pernah meninggalkanku.”
Kakak tertawa renyah. Mengacak kasar rambutku. “Kau pikir kemana aku akan pergi dengan kondisi kakiku yang seperti ini.”
Malam itu kami habiskan dengan berbincang. Kakak tidak lagi bertanya darimana aku mendapatkan makanan. Jika esok hari dia bertanya, aku hanya akan bilang jika aku bekerja.
__ADS_1
Hari berlalu begitu cepat. Minggu demi minggu terlewati. Aku sudah menjadi anggota penting dalam kelompok kecil Kudeta. Aku mendapatkan bagian perencanaan dan pemantau. Sejujurnya ini adalah tugas besar bagiku. Usiaku masih dua belas. Dan aku sudah menjabat hal hebat seperti ini. Mungkin aku menyimpan bakat terpendam.
Aku semakin mengenal mereka lebih dari aku mengenal diriku. Droid yang memiliki trauma dengan sirene ambulan, Songmin yang memiliki bekas luka di punggungnya akibat dari pertengkaran kedua orang tuanya, Anggar yang dibulli karena fisiknya yang kecil dan tidak normal, Badas yang pernah dihajar sampai babak belur oleh teman laki-lakinya. Mereka semua memiliki masalah hidup masing-masing. Membuat mereka harus mengecap pahitnya jalanan yang keras. Kudeta? Dia masih misterius. Sampai sekarang tidak ada satupun yang berani menanyakan tentang masa lalunya. Sekali lagi aku tidak peduli. Toh, diterima di kelompok ini sudah menjadi bagian terindah dalam hidupku.
Kami tidak lagi mencuri di toko-toko kecil. Kami mulai menjarah toko besar, pusat perbelanjaan, bahkan pabrik. Peralatan kami sudah lebih canggih dan mutakhir. Barang-barang itu kami dapat dari pasar gelap. Seiring waktu kami semakin berkembang.
Hingga kami mendapatkan satu masalah. Rumor mulai beredar. Banyak orang yang membicarakan soal pencuri yang tak terlihat. Setidaknya itu julukan yang mereka berikan pada kami. Toh, itu memang kenyataan. Kami bergerak tanpa dilihat apapun atau siapapun. Kami tidak meninggalkan jejak apalagi petunjuk. Tentu saja semua orang menjuluki kami dengan nama tersebut. Ada banyak orang yang mulai mencari keberadaan kami. Bahkan beberapa orang menawarkan imbalan besar bagi siapapun yang bisa menemukan kami baik hidup ataupun mati. Sekali lagi kami harus melakukan sesuatu untuk mengatasi masalah ini.
Akhirnya kami memutuskan untuk tidak mencuri selama beberapa minggu sampai rumor itu mereda. Setidaknya persediaan kami banyak. Kami membentuk semacam bank yang kami ciptakan sendiri. Uang hasil curian kami kumpulkan dalam satu tempat untuk stok masa depan. Uang itu akan digunakan kelak jika kami membutuhkan peralatan yang lebih canggih.
Hubunganku dengan Kakak menjadi lebih baik. Kami lebih sering menghabiskan waktu bersama. Sekali lagi Kakak tidak pernah bertanya darimana aku mendapatkan makanan. Aku melakukan segala cara agar Kakak tidak pernah curiga. Salah satunya menyimpan semua uangku di tempat tersembunyi yang tidak akan terlihat oleh siapapun.
Hingga suatu hari, Kakak tiba-tiba memandang ke luar jendela lamat-lamat. Wajahnya tampak penuh harap. Walau tersenyum dia seakan memendam kesedihan yang dalam. Aku seakan tahu apa yang ada dipikirannya. Tanpa pikir panjang aku membuatkan sesuatu untuknya. Kursi roda.
“Astaga, Zenzen. Apa-apaan benda ini?” Kakak menatapku dengan tatapan heran.
“Ini kursi roda, Kak.”
“Eh, darimana kau mendapatkan benda ini?”
Aku memutar bola mataku. Mencari alasan yang tepat. “Aku membuatnya. Kebetulan kemarin saat aku bekerja, aku menemukan benda ini dan mencoba untuk memperbaikinya. Alhasil, ternyata ini adalah sebuah kursi roda.”
Kakak menatapku dengan tatapan menyelidik. “Hei, bagaimana caramu membuatnya sedangkan kau tidak pernah belajar apalagi sekolah?”
Aku mengusap rambutku. “Kakak tahu sendiri, kan?” Aku mengetuk kepalaku. “Aku memiliki otak yang cerdas.”
Kakak tertawa. “Oke, oke. Aku akui itu.”
Aku membantu Kakak menaiki kursi roda. Walau hanya menggunakan bahan dan peralatan seadanya, kursi itu sudah sangat cukup untuk membuat Kakak tersenyum.
Kami menghabiskan hari dengan berkeliling. Sejatinya tidak ada pemandangan yang menarik untuk kami saksikan di area kumuh ini. Kakak lebih banyak tesenyum sembari menunjuk beberapa hal dan memintaku mendekat. Jika saja, jika saja aku selalu bisa melihat Kakak tersenyum setiap hari, aku tidak akan pernah lagi khawatir akan segala hal. Aku tidak akan pernah lagi merasa sedih dan cemas. Hari-hariku akan senantiasa bahagia dan penuh warna.
Kami menelusuri jalan setapak. Kakak hanya terdiam. Aku juga tidak tahu hal apalagi yang inginku bicarakan dengan Kakak.
“Zenzen, jika seandainya orang tua kita masih hidup... Pasti kita akan lebih bahagia lagi, kan? Ayah dan Ibu pasti sangat bangga padamu. Kau bisa menghidupiku dan dirimu sendiri dengan bekerja. Kau juga tidak perlu lagi merawatku. Kau bisa pergi kemanapun dan kapanpun sesuka hatimu. Tidak terikat olehku yang lumpuh ini.”
Aku menelan ludah. Langkahku terhenti, sejatinya menyimpan rahasia bahwa aku adalah seorang pencuri merupakan beban bagiku. Setiap kali Kakak menyebut soal Ayah dan Ibu, aku selalu terdiam seribu kata. Lidahku terasa berat dan tubuhku terasa kaku. Mungkin karena aku membohongi Kakak soal dari mana aku mendapatkan uang.
“Iya, mungkin kita akan bahagia.” Aku berusaha memasang senyum.
Tak terasa sore telah menjelang. Kami kembali ke rumah. Kakak merasa mengantuk. Aku membaringkannya di atas ranjang lantas meninggalkannya sendirian di dalam kamar. Kututup pintu perlahan agar tidak membangunkannya.
“Maaf, Kak. Aku sudah membohongimu.” Ujarku di dalam hati.
__ADS_1