
“Hei, ngomong-ngomong kenapa kau bicara dengan sangat sopan kepadanya sedangkan jika padaku kau sangat santai?”
Aku mengangkat bahu. “Setiap orang selalu seperti itu, kan? Saat pertama kali bertemu dengan orang yang baru dikenal pasti akan berbincang secara sopan dan formal. Sedangkan aku sudah bersama anda selama satu tahun. Wajar jika aku berbicara santai dengan anda. Saat pertama kali bertemu dengan anda pun aku masih menggunakan bahasa formal. Perbincangan antara individu itu dipengaruhi oleh waktu. Karena itu aku tidak mungkin bicara secara tidak formal kepadanya. Selain itu dia juga berbicara dengan bahasa formal pada anda, bukan? Yang membuktikan bahwa dia tidak mengenali anda. Karena dia menganggap anda orang asing.”
Ador mengusap wajahnya. “Astaga... Kau ini benar-benar pintar mencari alasan. Aku sampai tidak tahu apalagi yang harus aku ucapkan.”
Aku hanya melambaikan tangan.
Acara dilanjutkan dengan tur mengelilingi sleuruh akademi. Hal ini dilakukan dengan para wali murid. Kami semua diajak dan diperkenalkan dengan berbagai bangunan yang ada di Akademi Talenta. Setiap bangunan memiliki makna dan khasnya tersendiri. Semakin senior seorang murid disini maka akan menempati bangunan yang paling mewah dan megah di Akademi Talenta. Itupun tidak semua murid bisa melanjutkan ke tingkat berikutnya. Pemandu memberi kami beberapa hal yang bisa membuat seorang murid tidak bisa untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya. Salah satu alasan yang paling besar yakni, murid tersebut tidak cukup berbakat untuk melanjutkan di Akademi Langit. Ini semacam penyaringan di dalam penyaringan. Semakin kau berusaha untuk naik ke atas, semakin sempit lubang yang akan kau lewati.
Sore telah menjelang dan kami telah sempurna mengelilingi Akademi yang memiliki luas bak sebuah istana. Fasilitasnya sudah tidak diragukan lagi. Memang sebuah sekolah unggulan bagi orang-orang cacat sepertiku. Ada satu aturan juga di akademi ini, rata-rata orang yang masuk ke sini memiliki cacat yang berhubungan dengan fisik tubuh. Kebanyakan dari mereka kehilangan bagian tangan atau kaki. Bahkan lebih uniknya lagi semakin cacat dirimu dan semakin berbakat dirimu, kemungkinan kau masuk ke Akademi Talenta sangat besar. Karena itulah aku tidak tahu apakah ini sebuah anugrah atau bukan.
Akhirnya tiba perpisahan murid-murid baru yang hendak tinggal di asrama dengan setiap wali murid. Aku menatap anak-anak yang seusia denganku bersalaman dan berpelukan dengan orang tua mereka. Walau tidak banyak, tapi itu cukup membuat beberapa penghuni asrama yang tidak memiliki orang tua menangis iri menatap mereka. Aku dan Ador berjalan bersisian menuju gerbang Akademi Talenta.
“Ador, ngomong-ngomong soal kecelakaan tadi... Apa kecelakaan itu benar-benar terjadi delapan tahun yang lalu?”
Ador hanya mengangguk. Tidak berbicara.
“Sepertinya ada yang anda sembunyikan. Aku selalu bertanya-tanya kenapa di usia anda yang tua ini anda masih belum beristri dan memiliki anak.” Aku menatap dengan curiga.
__ADS_1
Yang ditatap semakin terlihat kaku. Hingga akhirnya Ador menghela nafas panjang. “Itu memang benar-benar terjadi, Nak. Aku punya keluarga dulu. Tapi mereka tewas dalam kecelakaan pesawat tersebut.” Ador terdiam sejenak. “Tapi itu sudah masa lalu, jadi untuk apa aku menceritakannya kembali. Biarlah kenangan buruk menghilang dan kenangan indah tetap mengalir. Jika aku hanya terpuruk dalam sebuah kenangan menyakitkan aku tidak akan pernah bisa berkembang dan bertemu dengan anak-anak lainnya. Aku tidak akan pernah bisa menjadi Ador yang baik bagi anak-anak yang kurang beruntung seperti mereka. Setidaknya aku hanya ingin terlihat kuat di hadapan mereka dengan selalu menyembunyikan kelemahanku.”
Aku mengangguk. “Karena itu anda mengadopsi anak-anak agar tidak merasa kehilangan. Kelemahan anda sudah tampak jelas di mataku.”
Ador tersentak. “Hei! Peka sekali dirimu ini, Nak. Jangan-jangan kau ini cenayang, ya? Atau seorang psikiater yang mampu membaca isi hati atau perasaan seseorang melalui ekspresi wajah dan perilaku.”
“Hah, aku ini sudah setahun bersama anda. Dilihat dari berbagai perilaku anda itu sudah menjelaskan berbagai hal. Tentu saja itu hal yang mudah.”
Kami telah sempurna berada diluar Akademi Talenta. Mobil-mobil mulai meninggalkan parkiran dan melaju ke luar akademi. Ador mengusap rambutnya.
“Aku akan sering-sering berkunjung, Nak.”
Aku melambaikan tangan. “Kurasa tidak perlu. Semakin anda sering berkunjung kemari semakin pula aku akan merasa tertekan. Dan juga hanya akan membebani anda. Anak-anak lainnya juga akan merasa iri kepadaku jika anda terlalu sering berkunjung kemari.”
Yang ini kebohongan.
Yang ini jujur.
Ador mengangguk dan terkekeh. “Kau memang anak yang luar bisa. Sepertinya aku akan merindukanmu, Nak. Laboratorium akan sepi tanpamu. Aku yakin aku pasti akan merindukan ocehan sebalmu di laboratorium. Pulanglah kapanpun jika kau mau. Aku tidak akan memaksamu untuk menuntaskan tugasmu di akademi ini. Jika kau kesulitan atau sudah tidak mampu lagi,” Ador menggeleng. “Jangan paksakan dirimu dan kembalilah ke laboratorium. Aku akan dengan senang hati menyambutmu. Sejatinya semua ini hanyalah permintaan egoisku padamu. Aku tidak pernah memikirkan posisimu dan bagaimana keadaanmu. Aku hanya memikirkan diriku sendiri. Mencoba mengobati apa yang kosong dariku. Karena itu aku hanya menatap ke depan dan tak pernah menatap ke belakang. Karena jika aku menatap ke belakang untuk satu kali saja, aku hanya akan jatuh ke dasar jurang yang berada di belakangku.”
__ADS_1
Aku mengangguk. “Tenang saja, Ador. Aku pasti akan memberikan sebuah pukulan telak untuk Cario. Karena itu kau hanya perlu bersantai di laboratoriummu. Esok hari kau pasti akan mendengar berbagai prestasi yang aku dapatkan.”
Yang ini kebohongan.
Ador terkekeh untuk kesekian kalinya. Dia mengacak kasar rambutku. “Aku sungguh beruntung bisa bertemu denganmu.”
Aku tesenyum nyengir. “Iya.”
Ador menepuk bahuku dan mulai beranjak meninggalkanku. Sesekali dia berbalik. Aku melambaikan tanganku dan terus tersenyum sampai tubuhnya hilang di sebuah perempatan. Menyisakan aku yang berdiri sendirian di depan gerbang akademi dengan cahaya senja yang menerpa wajahku.
Akhirnya setelah setahun lamanya aku berhasil pergi dari laboratorium pengap tersebut. Walau masih belum bisa bernafas lega, setidaknya hari ini aku bisa terlepas dari kekangannya walau hanya sejenak. Kenapa aku katakan sejenak? Karena aku masih punya satu hal yang harus aku kerjakan. Mengalahkan Cario mau bagaimanapun caranya. Dengan mengalahkannya setidaknya aku bisa mendapatkan kepercayaan Ador.
Aku punya dua rencana berbeda. Yang pertama adalah aku akan memanfaatkan kepercayaan Ador untuk mendapatkan kubus jingga yang tersimpan di ruangannya selama bertahun-tahun. Cara ini akan aku gunakan jika aku memang berhasil mewujudkan keinginan Ador. Cara kedua yakni jika aku gagal di masa depan dan tidak memenuhi harapan Ador, aku akan merebut kubus itu secara paksa. Aku sudah menyiapkan kedua hal ini selama satu tahun lamanya. Dengan demikian aku tidak akan pernah lupa dan terus maju demi apa yang aku inginkan.
“Diberi tahukan kepada seluruh siswa baru dari Akademi Talenta untuk segera memasuki auditorium. Para pembimbing akan memberikan pengarahan secara terbuka. Kami ulangi, dihimbaukan kepada seluruh siswa baru dari...”
Pemberitahuan telah diumumkan. Aku menghembuskan nafas sejenak dan beringsut dari tempatku berdiri. Matahari semakin tenggelam dan semburat kemerahan mulai mencoret menghiasi angkasa. Suara burung gagak terdengar di atas langit. Aku terhenti sejenak dan menatap ke arah langit. Menyaksikan gagak-gagak itu mengepak kasar di langit senja. Sebuah bulu burung gagak terjatuh pelan tepat di atasku. Aku meraih bulu tersebut dan menggenggamnya. Lantas membuangnya bersama dengan angin senja yang menerpa dedaunan dan pepohonan yang rindang.
Namaku Zenzen dan aku adalah anak yang spesial. Kukatakan diriku spesial karena aku memiliki sebuah bakat besar yang terpendam sejak aku lahir. Aku membawa sejuta kebencian dalam setiap langkah yang aku tempuh. Aku memang masih muda saat ini, tapi aku memiliki pikiran dan pandangan yang berbeda tentang dunia ini. Mungkin anak-anak lain yang seusiaku akan sibuk dengan menulisi lembaran masa remaja mereka. Tapi aku berbeda. Aku memiliki sesuatu yang lebih penting menyangkut masa depanku. Aku ingin semua orang tunduk di bawahku tanpa ada pengecualian. Agar dunia yang aku impikan terwujud. Agar aku bisa tersenyum di atas penderitaan orang lain.
__ADS_1