Kehancuran Batana

Kehancuran Batana
BAHAGIA


__ADS_3

Badai mulai menghilang, digantikan cahaya matahari yang menilisik di antara mendung. Aku melepas helmku. Menyeka keringat di dahi.


Kami baru saja lolos dari badai. Hal itu cukup menguras tenaga. Vero bahkan bergaya begitu melihat matahari yang perlahan menyiram kapal. Tangannya terangkat seperti orang yang baru saja mendapatkan pencerahan. Aku tidak tahu berapa lama kami melewati badai mengerikan tersebut. Dua jam? Tiga jam? Hei! Siapa pula yang memperhatikan waktu saat dalam bahaya. Kami terlalu sibuk bertahan mati-matian dari terjangan ombak yang menghantam kapal.


Kapal berlayar dengan tenang. Kerusakan kapal hanya ada pada turbo, mengakibatkan kapal tidak bisa kembali melayang. Selain itu,  mesin kapal berfungsi dengan baik.


“LIAN, DARATAN!” Vero berseru.


Kami semua bergegas menuju keluar kapal. Memastikan ucapan Vero benar.


Aku mengepalkan tangan. Berseru tertahan. Itu benar-benar sebuah daratan. Bukan pulau. Jaraknya sekitar sepuluh kilo meter.


“Vero! Percepat laju kapal!” Aku memberi perintah.


“Siap, Kapten!”


Sekitar satu jam lamanya. Kapal mulai mendekat ke dataran tersebut. Pantai dan hutan mulai terlihat. Kami bisa melihat beberapa bangkai kapal yang berjejer di pesisir pantai. Aku menyuruh Vero untuk berlabuh tidak terlalu dekat dengan pelabuhan. Aku khawatir jika terdapat RP-2 di tempat tersebut.


“Astaga aku lupa!”


Kami semua menoleh. Vero baru saja berseru.


“Lian, Kapal ini tidak bisa kembali melayang. Yang itu artinya kita tidak bisa melanjutkan perjalanan menggunakan kapal. Argh... Ini sungguh menyebalkan! Ini konspirasi! Dikes. Pria itu, dia pasti menipu kita.” Vero menggerutu sembari menghentakkan kakinya ke lantai kapal.


Vero benar. Kita tidak bisa melanjutkan perjalanan dengan kapal ini. Mau bagaimanapun, kapal ini hanya akan berfungsi jika di atas air. Sedangkan laut adalah tempat bagi seluruh air di penjuru dunia berakhir. Kita tidak bisa lagi mengandalkan kapal ini untuk melanjutkan perjalanan. Jika kita tetap melanjutkan perjalanan, kita hanya bisa menggunakan kendaraan lain. Kemungkinan terburuknya kami harus berjalan kaki. Tentu saja itu akan memakan waktu yang sangat lama.


“Apa yang harus kita lakukan, Lian?” Bundara meminta pendapatku.


Aku berpikir sejenak. Pasti ada cara lain agar kami tetap bisa melanjutkan perjalanan. Aku terus memperhatikan pesisir pantai. Mungkin aku bisa menemukan sesuatu jika pergi ke pantai tersebut.


“Kita turun dari kapal ini.”


“Eh, tapi bagaimana jika pantai itu terdapat RP-2 atau orang-orang aneh yang kita temui di pulau sebelumnya?” Ujar Marko.


“Yang pasti, kita tidak akan bisa melanjutkan perjalanan menggunakan kapal. Mungkin kita bisa menemukan kendaraan lain atau apapun itu.” Aku mencoba meyakinkan mereka.


“Aku sangat setuju denganmu, Lian! Aku tarik kata-kataku soal menyukai kapal ini.” Vero bercelutuk.


Mereka semua menyutujui ideku. Lantas mulai bersiap-siap menuju pantai tersebut.


Kami berenang sekitar setengah jam lamanya. Aku segera berjalan mendekati beberapa bangkai kapal yang berserakan di sepanjang pesisir pantai.


“SIAPA KALIAN?”


Kami serempak menoleh. Itu suara seseorang! Kami mencari asal suara. Namun tak mendapati ada siapapun di sekitar kami.


“Kami bukan musuh! Aku tahu apa yang kau pikirkan, kau pasti mengira kami adalah bandit. Tapi kau salah, kami bukan anggota atau salah satu dari mereka!”


Dari bangkai kapal, keluar sekumpulan orang yang menggunakan masker dan kacamata hitam. Mereka menodongkan senjata ke arah kami.


“BUKTIKAN!”


Aku melepas helmku, melempar sembarang senapanku, dan mengangkat kedua tanganku disusul yang lainnya.


“Lian, apa yang kau lakukan?” Jora di sebelahku berbisik pelan.


Aku tidak mempedulikannya. Sibuk meladeni sekumpulan orang-orang misterius tersebut.


“Lihatlah! Kami bukan bandit. Kami baru saja tiba di tempat ini.”


Mereka mendekati kami. Memeriksa berbagai perlengkapan dan barang-barang yang kami bawa.

__ADS_1


“Dia benar, Bos!” Seru salah satu dari mereka.


“Apa yang kalian inginkan dari kami?” Ujar seseorang yang mereka panggil Bos.


“Kami membutuhkan sebuah kendaraan untuk melanjutkan perjalanan. Kami memiliki sebuah misi dan harus segera menyelesaikannya. Apakah kalian memiliki kendaraan?”


Bos tersebut membuka kacamata hitamnya. “Kami mungkin bisa membuatnya. Tapi hal itu tentu saja tidak gratis.”


Aku memegangi daguku. “Baiklah, akan aku rundingkan dengan rekan-rekanku.”


Aku meminta waktu. Kami tengah berdiskusi.


“Apa yang harus kita berikan pada mereka? Jika kita meminta mereka untuk membuatkan pesawat, uang kita tidak akan cukup. Paling cukup hanya untuk membuat sebuah mobil.” Vero memberikan pendapat.


Marko menggeleng tidak setuju. “Tapi mobil sangat beresiko. Bagaimana jika RP-2 menyerang kita di tengah perjalanan?”


“Kalau begitu kita minta saja mereka memperbaiki mesin turbo di kapal kita.” Kali ini bundara memberi usul.


“Tidak, aku tidak mau menaiki kapal itu lagi. Sungguh menyebalkan mengemudikannya.” Vero menggeleng tegas.


“Bagaimana jika kita berikan kapal kita.” Aku memotong pembicaraan. Sontak mereka semua menatapku.


“Aku pernah belajar dari seseorang. Ketika kita tengah melakukan negoisasi, kita harus memperhatikan apa yang paling dibutuhkan orang tersebut. Mereka tinggal di tepi pantai, yang itu artinya mayoritas dari mereka adalah nelayan. Pasti hal yang paling dibutuhkan mereka adalah kapal atau perahu.”


Mereka berpikir sejenak.


“Aku tidak keberatan asalkan mereka bisa membuatkan kita pesawat yang sama seperti Falcon.” Jora mengangguk setuju. Disusul yang lainnya.


Aku mulai melakukan penawaran pada Bos mereka. “Kami akan berikan kapal kami, tapi dengan satu syarat. Bisakah kalian membuatkan kami pesawat?”


“Tunggu sebentar, Nak! Tidak semudah itu. Kami harus memeriksa kapal kalian terlebih dahulu. Aku berjanji akan membuatkannya seusai seluruh anggotaku memeriksanya. Sementara itu kalian bisa menunggu di rumahku.”


Rumah? Aku tidak mendapati rumah di tempat ini.


Kami mengikuti langkah Bos. Entahlah, aku belum tahu namanya. Jadilah aku hanya bisa menyebutnya “Bos”.


Kami memasuki salah satu bangkai kapal. Aku sungguh tidak yakin dengan penampilan kapal tersebut. Besi-besinya berkarat dan ditumbuhi berbagai karang. Bos memasuki salah satu lubang. Dan sungguh mengejutkan. Di dalam kapal sangat bersih. Tidak ada satupun karat yang kutemui.


Bos terus berjalan. Melintasi berbagai lorong. Dan terhenti di salah satu pintu dengan gagang yang berbentuk lingkaran. Dia memutar gagang pintu. Cahaya kebiruan menyeruak dari balik pintu tersebut.


Kami tengah berada di suatu ruangan yang dipenuhi dengan banyak kamar. Tempat itu sungguh besar. Beberapa orang hilir mudik membawa berbagai besi-besian dan perabotan lainnya. Belalai-belalai tergantung di langit-langit ruangan. Ada beberapa tangan-tangan robot yang membuat sesuatu.


Bos membawa kami ke salah satu ruangan. Sebuah kamar. Kamar tersebut terdapat ranjang tingkat. Jendelanya berbentuk lingkaran dan mengarah langsung ke lautan lepas.


“Sebelumnya aku minta maaf karena mengira kalian adalah bandit.” Bos melepaskan maskernya. Wajahnya sudah tua dengan bola mata berwarna cokelat muda. Rambutnya sudah ditumbuhi uban.


Kami mengangguk. Sudah biasa dengan kesalah pahaman ini.


“Kami sungguh membenci para bandit melebihi kebencian kami pada Robot Penghancur.”


“Robot penghancur? Maksudmu Robot Penjaga Perbatasan?” Jora membulatkan mata.


“Eww... Jangan sebut mereka dengan nama itu. Itu sungguh tidak pantas. Kami lebih suka menyebutnya dengan Robot Penghancur. Kembali soal bandit. Penduduk di sini sangat membenci mereka. Beberapa hari yang lalu, bandit-bandit itu mendatangi tempat kami. Sangat banyak jumlahnya. Bahkan mereka memiliki empat pesawat raksasa. Mereka menjarah berbagai barang-barang dan makanan kami. Seratus empat puluh orang tewas. Yang lainnya berhasil menyelamatkan diri.”


Aku mengangguk setuju. Aku pernah mengalami hal itu.


“Ngomong-ngomong, kalian dari mana? Wajah kalian masih muda-muda. Kecuali orang besar yang berdiri di belakang itu.” Bos menunjuk Bundara dengan jarinya.


Bundara melotot. Marko menahan tawa. Sedangkan Vero sudah tertawa terpingkal-pingkal sembari memegangi perutnya.


“Kami dari Kota Keios.” Jora yang menjawab.

__ADS_1


“Pastinya tempat itu jauh sekali. Untuk apa kalian melakukan perjalan sejauh ini?”


Jora menatap ke arahku. Lantas mulai menjelaskan. “Kami memilik misi untuk memusnahkan Robot Penjaga... Eh, maksudku Robot Penghancur.”


Bos mengangguk takjub. Menatap kami satu persatu. “Itu sungguh sebuah tugas yang mulia. Namun, aku lebih suka jika kalian bisa menghancurkan bandit-bandit itu. Tidak seperti robot, mereka manusia seperti kita. Kami tahu jika hidup di dunia ini sulit. Lantas, apakah karena kesulitan itu kita harus mengambil cara yang salah? Menjarah, mencuri, membunuh. Astaga, itu sungguh biadab! Aku sangat membencinya. Tidakkah terbesit di lubuk hati mereka wajah-wajah orang yang mereka bunuh? Tidakkah terbesit di hati mereka isak tangis dan jeritan para korban yang mereka jarah?” Wajah Bos berubah merah padam. Dia menahan rasa kesalnya.


“Hei! Kemarahan ini sampai membuatku lupa memperkenalkan diri. Aku Arrow. Orang-orang di sini memanggilku Bos. Kalian bisa memanggilku sesuka hati kalian.”


Kami mengangguk serempak sebagai jawaban.


“Bos! Kami sudah memeriksa kapal tersebut.” Salah satu anggota Arrow memasuki ruangan. “Mesin kapal berfungsi dengan baik. Hanya ada satu kerusakan pada turbonya. Tapi turbo itu hanya membuat kapal melayang. Kita tidak memerlukan hal itu untuk melaut dan menjaring ikan. Dan jika aku tafsirkan, harga kapal itu setara dengan dua pesawat. Bajanya di buat dari baja terbaik. Kapal itu bisa menahan terjangan dan dentuman ombak, karang, dan badai. Aku yakin seratus persen.”


Arrow tertawa. “Yosh! Itu artinya negoisasi kita berhasil, Nak. Kami akan membuatkan pesawat sesuai permintaan kalian. Tenang saja. Kami hanya membutuhkan waktu satu minggu dengan segala mekanisme dan teknologi yang kami miliki. Sebelumnya kami tidak pernah mendapatkan kapal yang masih utuh. Kami membuat berbagai peralatan dari baja-baja bangkai kapal yang kami temui di pesisir pantai. Biasanya bangkai-bangkai kapal itu terdampar di tempat ini lantaran terseret badai maut. Kalian pasti habis melewatinya, kan?”


Aku mengangguk. Badai itu sungguh mengerikan.


“Biasanya tidak ada yang berhasil melewati badai itu, Nak. Kami selalu menemui bangkai kapal telah kosong. Tidak ada siapapun bahkan kami tidak menemui satupun mayat di dalamnya. Sungguh mengerikan bukan?’


Kami semua menelan ludah. Jika Arrow bilang seperti itu, itu artinya kami hanya satu-satunya orang yang berhasil selamat dari badai itu.


“Ayolah, itu salah satu hal yang patut kalian banggakan. Itu artinya kalian berhasil melewati seleksi alam.” Arrow berusaha membesarkan hati kami.


“Ah, untuk kau, Nona. Kami menyediakan kamar lain untukmu. Silahkan ikuti aku.”


Arrow mulai beranjak, di susul Jora yang mengikutinya. Menyisakan kami berempat di kamar tersebut.


Pukul empat sore. Arrow mengajak kami untuk berkeliling.


“Hei, Nak! Pria tua ini akan mengajak kalian berkeliling. Aku tahu kalian pasti bosan sekali hanya termenung di dalam kamar tanpa melakukan apapun, kan? Ayolah, aku akan menunjukkan sesuatu yang keren di tempat ini. Selain ruangan di kapal ini.”


Kami berempat saling tatap, lantas mengikutinya.


Arrow mengajak kami menuju pesisir pantai, Jora sudah lebih dulu berada di sana. Melambaikan kedua tangannya.


“Hei! Aku baru sadar, kalian semua tidak memakai masker!” Arrow yang tengah berjalan tanpa mengenakan alas kaki berseru terkejut.


“Hahaha, kami juga awalnya merasa aneh, Arrow. Kami semua sebelumnya selalu mengenakan masker kemanapun, terkecuali di ruangan yang dilengkapi dengan mesin daur ulang oksigen. Tapi kapten kami,” Vero menunjuk ke arahku. “Sejak kecil dia tidak pernah mengenakan masker kemanapun. Jadi kami mencoba mengikutinya. Dan sungguh sebuah keajaiban! Kami masih hidup sampai sekarang, walau dadaku terasa sesak.”


Arrow ikut tertawa. “Kalian semua sungguh unik! Aku belum pernah bertemu dengan rombongan seperti kalian. Karena kalian sungguh unik, aku akan menunjukkan sesuatu yang benar-benar keren seperti kataku tadi. Anggap saja ini sebagai ucapan selamat datangku pada kalian. Dan juga, aku sarankan untuk melepaskan alas kaki kalian. Sangat nyaman rasanya berjalan di atas pasir pantai yang hangat ini. Cobalah!”


Kami mulai melepaskan alas kaki kami. Aku bahkan dibuat terkejut dengan sensasinya. Pasir ini sungguh lembut dan hangat. Aku belum pernah merasakan tekstur pasir yang seperti ini. Marko bahkan memainkan kakinya di atas pasir. Bundara kembali menampilkan wajah yang tidak terdefinisikan. Jora hanya tersenyum tipis, sedangkan Vero tengah tertawa bersama Arrow. Entah apa yang mereka tertawakan.


Arrow memegangi perutnya.“Kalian semua sungguh  kuno! Bukan seperti itu cara menikmati pasir pantai yang sesungguhnya. Orang-orang zaman dulu biasanya suka membuat istana pasir saat  mereka tengah berlibur ke pantai. Dan saat-saat yang paling ditunggu adalah sunset. Mereka biasanya menikmati matahari tenggelam tersebut bersama pasangan, teman, atau keluarga mereka. Beberapa bahkan suka sekali berlari di tepi pantai dan membiarkan air laut menyiram kaki mereka. Kalian mau mencobanya?”


Kami semua saling tatap. Apakah seru melakukan hal itu? Ketika kami semua tengah menatap bingung. Beberapa anak kecil telah menyirami kami dengan air laut. Mereka tertawa dan berlari. Vero yang lebih dulu mengejar. Dia kesal sekali disiram seperti itu secara tiba-tiba.


“Itu curang! Menyerang dari belakang!” Seru Vero yang sibuk mengejar anak-anak itu.


Marko mulai menyusul, Bundara terdiam sejenak. Lantas ikut mengejar anak-anak itu. Jora menarik lenganku. Mengajakku yang sempat terdiam menatap keseruan mereka.


Arrow sekali lagi benar. Rasanya sungguh aneh. Bukan, rasanya sungguh menyenangkan berlari di atas pasir pantai yang basah oleh air laut. Membiarkan air laut menyiram kaki kami. Jika bisa, sejak awal aku sudah tertawa. Namun aku urungkan. Saat-saat seperti ini mengingatkanku pada hari-hari bersama keluargaku.


Matahari mulai tenggelam di kaki langit. Lantas perlahan menghilang di balik lautan. Kami semua tengah terduduk. Melepas lelah setelah melakukan aksi kejar-kejaran dengan anak-anak itu. Arrow yang tengah bercanda dengan anak-anak tersebut lantas mendatangi kami.


“Bagaimana? Keren, kan?” Dia bertanya pelan.


Aku baru sadar. Hal keren yang dimaksud Arrow adalah saat-saat kami tengah bermain di tepi pantai.


“Aku hanya ingin memberikan kalian sesuatu yang menyenangkan. Kalian pasti banyak mengalami hal buruk setelah melakukan perjalanan sejauh ini. Setidaknya aku ingin mengajarkan pada kalian sedikit tentang definisi kebahagiaan. Hampir semua orang menganggap dunia ini sungguh kejam. Padahal, kau masih bisa menemukan ribuan keindahan, kebahagiaan, dan kehangatan. Mudah sekali menemukannya. Bahkan hari-hari yang kalian lakukan bersama bisa menjadi salah satu kebahagiaan yang tidak kalian sadari.’


Kami semua menatap Arrow. Kata-katanya sungguh menyentuh hati.

__ADS_1


“Ini sudah gelap. Aku telah menyiapkan hidangan spesial untuk kalian. ikan hasil tangkapan kami. Masih segar. Kalian semua pasti akan suka.”


Kami mulai beranjak. Aku terdiam sejenak. Menatap mereka semua dari belakang. Semua perkataan Arrow sungguh benar. Tanpa aku sadari, sesekali aku tersenyum tipis menatap mereka semua.


__ADS_2