Kehancuran Batana

Kehancuran Batana
BIONIK 3


__ADS_3

Aku beristirahat sejenak. Walau sejatinya aku sama sekali tidak merasa lelah.


“Aku yakin kau benar-benar lupa dengan caranya.”Ador berujar gemas.


Aku berusaha berpikir keras di mana letak kesalahanku. Hingga aku teringat akan sesuatu. “Aku tahu di mana letak kesalahannya, Ador. Ini bukan salahku yang tidak bisa mengerahkan kekuatan itu. Melainkan salah robot-robotmu yang terlalu mudah kukalahkan. Kau melupakan satu hal, aku bukanlah Zenzen yang dulu. Yang harus mengalahkan robot-robot milikmu dengan mengerahkan seluruh tenaga pada tubuh bionik tersebut. Karena itu kurasa aku sudah sangat hebat untuk mengalahkan robot-robotmu hanya dalam satu kali pukulan saja.”


Ador berpikir sejenak. Menimbang-nimbang pendapatku. “Kurasa itu masuk akal, Nak. Aku lupa jika kau sudah bukan Zenzen yang dulu. Tahu begitu seharusnya aku membuatkanmu simulasi yang lebih sulit. Tapi dengan begini kau menemukan jawaban atas permasalahanmu. Waktu itu kau berada di situasi yang menegangkan sehingga itu memicu jantungmu berdegup dengan sangat kencang. Itulah yang memicu energi internalmu berpusat tepat pada titik yang kau inginkan.”


Aku mengangguk-angguk. Kini aku mulai ingat dengan perasaan di hari itu.


“Karena itu yang kau butuhkan adalah sebuah situasi di mana kau merasakan ketegangan ekstrim yang memicu adrenalinmu meningkat. Ini berbeda dengan tameng transparan, energi itu hanya muncul saat kau berada di situasi pertarungan yang mengancam kehidupanmu.”


“Aku ingin bertanya.” Aku memotong pembicaraan Ador. “Sekarang bagaimana caraku memicu adrenalinku muncul jika aku hanya menganggap robot-robotmu seperti boneka kayu yang tidak bergerak?”


Ador terdiam sejenak. “Kurasa ada satu cara. Sebuah pertarungan satu lawan satu dengan musuh yang setimpal denganmu.”


Aku mengusap daguku. “Musuh yang setimpal denganku? Di mana aku akan menemukannya?”


Ador tesenyum licik. “Kau yakin ingin melakukannya walau itu sangat berbahaya dan ilegal?”


Aku mengangguk tegas. Segala cara akan aku lakukan agar aku menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Walau itu hal yang dapat membunuhku sekalipun.


Malamnya kami berangkat. Aku tidak tahu mengapa Ador menunggu malam untuk menuju ke tempat tujuan. Dan lagi Ador sama sekali tidak memberi tahuku kemana kami akan pergi.


Malam menyelubungi kota yang tengah tertupi salju putih di mana-mana. Bulan tampak remang menggantung di atas langit. Tidak ada bintang yang terlihat, hanya mendung dan salju yang mengguyur kota yang terlihat. Bus sangat sepi penumpang. Membuat suasana malam semakin sepi dan sunyi.


Dua jam kemudian aku dibuat terkejut dengan suasana jalanan tempat bus melintas. Rasanya daerah ini semakin jauh dari kota. Dataran luas mulai terlihat, beberapa bangunan terbengkalai berjajar di sepanjang jalan. Suasananya sangat sunyi dan hening. Bus berhenti di sebuah halte.


Kami turun di halte tersebut. Aku merapakan jaket tebalku. Udara di sini terasa sangat sesak. Sudah lama aku tidak menghirup udara seperti ini. Terasa kotor dan pengap. Ditambah dinginnya suhu membuatku kesulitan bernafas.


“Kau baik-baik saja, Nak?”


Aku mengangguk. Aku tidak tahu kenapa rasanya tempat ini mengingatkanku tentang daerah kumuh. Atau jangan-jangan tempat ini juga merupakan daerah kumuh? Tapi jika benar daerah ini adalah tempat kumuh seharusnya sudah dihancurkan beberapa tahun yang lalu.

__ADS_1


Kami berjalan kaki. Aku bisa menyaksikan berbagai lampu-lampu remang tergantung miring di sisi jalanan. Kesiur angin menerpa kabel-kabel listrik dan tiang lampu yang telah miring. Kabut semakin tebal dan bulan sudah tidak tampak lagi. Kami terus berjalan kaki.


Semakin lama aku semakin mendengar keriuhan. Sebuah gedung tinggi dengan pamflet hologram raksasa mulai terlihat. Mobil-mobil tampak melintas di jalanan. Satu dua geng motor memecah kesunyian malam. Sebenarnya kemana Ador membawaku?


“Ador, apa ini daerah kumuh?”


Ador mengangguk. “Hanya saja tempat ini adalah pengecualian untuk dihancurkan apalagi disentuh pusat kota.”


“Kenapa? Bukannya semua daerah kumuh sudah diratakan untuk menjadi kawasan elit? Tapi kenapa tempat ini tidak dihancurkan?”


“Itu karena mereka tidak bisa, Nak. Daerah ini dikenal sebagai Mafia’s Town. Alias kotanya para mafia dan beberapa bandar ilegal besar lainnya. Sedangkan pusat kota juga mendapatkan uang investasi lima puluh persen dari daerah ini. Uang investasi itu lantas digunakan untuk pembangunan kota dan kawasan elit. Aku tidak terlalu paham sistem ekonomi dari kota ini. Yang jelas aku mendapatkan beberapa informasi mengenai daerah ini dari sebuah situs ilegal yang aku jelajahi. Aku pernah mengatakannya kepadamu, kan? Jika aku pernah membuka sebuah klinik ilegal lewat situs internet gelap. Nah, disitulah aku mengakses beberapa informasi penting yang tidak diketahui oleh penduduk di kota ini.”


Aku mengernyitkan dahi. “Kenapa anda tidak pernah bilang jika uang pembangunan elit itu juga dihasilkan dari daerah ini padaku? Padahal kau sendiri tahu aku berasal dari daerah kumuh. Seharusnya ini adalah hal yang patut kau ceritakan padaku.” Aku berujar dengan nada tinggi. Emosiku mulai tak terkendali.


Langkah Ador terhenti. Lantas berbalik menatapku. “Karena aku tahu, jika aku memberi tahumu hari itu, kau mungkin tidak akan bisa lepas dari masa lalumu, Nak.”


Aku tersenyum kecut. Ini dia salah satu sisi yang paling aku benci dari ador. Dia sok bersikap bijak padahal dia sama sekali tidak membantu. Dia bersikap seolah-olah yang paling tahu padahal dia tidak tahu apa-apa tentangku ataupun tentang orang lain. Dia bahkan lebih buruk dari Cario.


Aku berusaha menenangkan perasaanku. Akan menjadi masalah jika kami berdebat serius di tengah tempat seperti ini. Tujuanku kemaripun juga untuk menjadi lebih kuat. Karena itu aku akan terus bersabar dan bersabar. Sampai tiba waktunya aku melampaui kesabaranku. Berkata jika aku ingin berkata. Memukul jika aku ingin memukul. Marah jika aku ingin marah. Saat ini bukanlah waktu yang tepat bagiku untuk melakukan hal-hal tersebut.


“Di tempat ini ada sebuah pertandingan ilegal yang digelar untuk para kaum disabilitas. Karena itu aku sedikit ragu membawamu kemari.”


“Sudah terlambat jika kau ragu sekarang, Ador.” Aku mendengus sejenak. Membuat kepulan uap berpilin di ujung bibirku.


Ador terkekeh. “Tenang saja, pertandingan itu tidak terlalu berbahaya. Hampir sama sepeti sebuah simulasi. Sebenarnya itu adalah sebuah acara ilegal yang diperuntukkan kepada para kalangan berduit. Kalangan-kalangan ini ingin merasakan sesuatu yang berbeda dari hiburan yang biasanya. Karena itu acara ini dibuat secara tertutup dan sangat rahasia.”


“Kalau memang serahasia itu, bagaimana cara anda mendaftarkanku masuk ke acara tersebut sedangkan aku cukup terkenal di dunia legal? Ditambah lagi aku merupakan  murid dari Akademi Talenta. Salah satu akademi bergengsi di kota ini. Aku tidak ingin mencoreng nama baikku hanya karena mengikuti sebuah acara hiburan ilegal yang ditujukan pada orang-orang yang kurang kerjaan seperti itu.”


“Tenang saja. Semua identitas peserta benar-benar dirahasiakan dengan sangat teliti dan cermat. Karena itu kau tidak perlu khawatir dan serahkan saja masalah ini pada orang dewasa sepertiku.”


Kami telah tiba di depan sebuah gudang raksasa. Keramaian terdengar di mana-mana. Kukira daerah ini akan sangat sepi tadinya. Tapi begitu mendekati pusatnya, aku bisa menyaksikan berbagai mobil terparkir dan orang-orang yang berpakaian ala preman jalanan di mana-mana. Hologram di atas gedung terlihat sangat misterius dan mistis.


Kami memasuki gedung. Lorong panjang berhias lampu hijau remang dengan dipagari pagar kawat menyambut kami. Dua orang bertubuh kekar dengan masing-masing memiliki tangan besi yang tampak sangar dan berkarat menyambut kami di ujung lorong. Mereka berdua mengenakan topeng polos putih dengan masker yang terhubung pada tabung daur ulang oksigen.

__ADS_1


“Kodenya?” Tanya kedua pria itu dengan nada dingin.


“A041517.” Ador menjawab mantap.


Kedua orang itu lantas mengotak-ngatik gadget berbentuk hologram yang terpasang di tangan mereka. Lantas menyodorkan kami dua buah topeng. Topeng tersebut berwarna merah gelap dengan sepasang bola mata merah yang remang. Topeng itu memiliki mulut yang tersenyum sangar dengan dua gigi taring atas yang mencuat kebawah. Alisnya sangat tebal dan telinganya runcing.


Ador menyerahkan satu topeng kepadaku. Aku bergegas mengenakannya. Kami diizinkan untuk masuk ke dalam ruangan. Hingar-bingar dan sorak-sorai memenuhi ruangan yang memiliki luas setara dengan ruang teater. Di tengah ruangan terdapat sebuah arena berbentuk kotak dengan pagar kawat berduri di sekelilingnya. Sorot lampu berwarna hijau terang berputar menyoroti ruangan. Semua orang tampak mengenakan topeng dengan berbagai bentuk dan warna yang berbeda-beda.


Ador terkekeh. “Topeng ini aku pesan sudah jauh-jauh hari, Nak. Aku sengaja mencarikan yang paling keren dan paling unik khusus untukmu.”


“Jadi kau memang sudah merencanakan bahwa ini akan terjadi. Sungguh orang tua yang licik.” Aku mendesah pelan.


Ador hanya tertawa.


Kami duduk di salah satu bangku. Sebuah hologram muncul begitu kami menduduki kursi berkarat tersebut. Hologram itu menampakkan sebuah tulisan “Apakah anda ingin menjadi penantang?” Begitulah yang tertera pada hologram tesebut.


“Kau jawab saja pertanyaan itu. Jika kau menjawab ya, itu artinya kau akan ikut serta dalam pertandingan ini.” Ador berujar dengan suara lantang. Berusaha mengalahkan keramaian.


Aku mengangguk dan mulai menekan tombol “ya”. Sistem itu lantas mengambil foto wajahku yang berbalut topeng. Sebuah kode tertulis di hologram. Hologram itu kini menampilkan siapa yang akan menjadi lawan tandingku beserta jam pertarunganku.


Ini bukanlah sebuah kompetisi. Hanya sebuah acara hiburan semata. Karena itu tidak ada sistem babak final atau semacamnya. Jadwalku masih lama. Sekitar satu jam lagi. Setiap pertandingan diberi waktu sekitar lima belas menit.


Setidaknya untuk selama itu aku bisa menyaksikan hal apa saja yang terjadi di atas arena tersebut. Setiap penantang akan berhadapan satu lawan satu. Syarat utama penantang harus seorang cyborg. Bentuk mereka terlihat aneh-aneh. Satu dua bahkan terlihat tidak proporsional. Walau demikian penonton tampak terhibur dengan pertandingan tersebut.


Selain itu para penantang dinilai berdasarkan jumlah suara dari para penonton. Semua penonton juga bisa memberikan koin bagi orang yang mereka dukung. Seakan mereka memilih seorang avatar dalam sebuah video game.


Satu jam telah berlalu dan aku mulai mengerti sistem dari pertunjukan ini. Ada dua peraturan terlarang yang tidak boleh dilakukan oleh para penantang. Kami tidak diizinkan untuk menyerang bagian wajah karena khawatir topeng yang dikenakan akan hancur dan membuat wajah kami terlihat. Peraturan kedua, yakni kita tidak diperbolehkan untuk menyerang lawan yang tengah tersungkur. Mau bagaimanapun ini bukanlah pertarungan hidup dan mati. Pihak penyelenggara juga tidak ingin adanya korban meninggal dalam acara mereka.


“Penantang dengan kode Z31\1231\1 silahkan maju ke atas arena!”


Aku mulai beranjak dari kursiku. Ador menepuk pelan bahuku dan menyemangatiku. Walau sudah tua jiwanya masihlah seorang pria berusia tiga puluh tahunan. Aku melangkah mantap melewati kerumunan penonton sembari menarik nafas dalam. Seorang petugas menyuruhku masuk ke dalam arena. Lantas mengunci pintu pagar agar  tidak ada yang bisa keluar sampai salah satu peserta menjadi pemenangnya.


“Penantang dengan kode B41245 silahkan maju ke atas arena!”

__ADS_1


Sosok dihadapanku itu mengenakan topeng berwarna hitam dengan mata tajam dan sebuah ikat kepala berwarna hitam. Hidungnya mancung dengan gigi menyeringai dan pipi timbul. Tingginya sama denganku. Dia terlihat mengenakan dua tangan bionik dengan ujung tangannya yang bergerigi dan mengkilap. Sosok itu mengangkat kedua tangan bioniknya tepat di hadapannya. Memasang kuda-kuda bak seorang petinju. Aku juga memasang kuda-kudaku dan menarik nafas.


__ADS_2