Kehancuran Batana

Kehancuran Batana
TANGAN BESI 2


__ADS_3

Esoknya aku sudah merasa lebih baik. Aku bahkan bisa duduk dengan mudahnya. Tidak lagi merasa kesakitan seperti sebelumnya.


“Kau sungguh beruntung, Nak. Pemulihanmu berjalan sangat cepat.” Ruzdora tertawa sumringah. Dia baru saja memeriksa kondisiku.


Aku membalasnya dengan tersenyum tipis. Hingga aku mulai melontarkan pertanyaan yang berkumpul di kepalaku macam dokumen yang tersimpan rapi.


“Ruzdora, tolong ceritakan padaku apa yang terjadi selama aku pingsan. Dimulai dari Kota Keios.” Aku meminta penjelasan dengan wajah serius.


“Baiklah, Sebenarnya Nona Jora mengerahkan pasukan khusus tanpa memberi tahumu. Sejatinya semua aktifitas dan kegiatan kalian kami pantau. Dia cemas jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi selama perjalanan kalian. Maka dari itu Nona Jora meminta Walikota Keios untuk menyiapkan pasukan khusus. Aku dilibatkan dalam pasukan tersebut. Walau Nona Jora bukan anak kandung dari walikota,  tapi Walikota Keios sangat menyayanginya. Para prajurit yang kau titipkan bersamaku aku pinta untuk bergabung dengan pasukan khusus tersebut. Dengan alasan bahwa mereka adalah orang penting yang akan kukerahkan sebagai perawat. Yeah, memang sih selama kau pergi aku mengajari mereka beberapa hal dari dunia kedokteran.”


Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Merasa bersalah telah menitipkan mereka pada Ruzdora.


“Tenang saja, walau demikian aku senang kau membawa mereka semua, Lian. Rumah besarku tidak lagi sepi. Mari kita lanjutkan pembicaraan kita. Kami bergegas menyusul kalian tiga minggu setelah kepergian kalian. Kami melewati jalur yang berbeda dengan kalian lantaran menghindari kota atau cuaca buruk yang sekiranya akan mengganggu perjalanan kami. Hingga kami mendapatkan informasi dari Nona Jora bahwa kalian akan menuju ke Kota Pandai Besi. Kami bergegas menuju kota tersebut lebih dulu sebelum kalian.”


“Sayangnya aku tidak tahu jika Zenzen sudah lebih dulu mengetahui keberadaanmu. dia melakukan kontak dengan Walikota Keios untuk menyerahkanmu padanya secara cuma-cuma. Dengan imbalan dia tidak akan mengusik Kota Keios jika rencananya berhasil. Dia juga akan membiarkan Nona Jora kembali pulang dengan selamat. Aku tidak tahu bagaimana cara Zenzen menghubungi walikota dan melakukan perjanjian tersebut. Misi kami berubah total. Walikota menyuruh kami untuk menjemput Nona Jora. Sayang aku tidak bisa terlibat langsung saat hari penangkapanmu, padahal aku ingin sekali pergi dan mencoba untuk menyelamatkanmu walau aku tahu itu merupakan hal gegabah. Aku hanya mendengar bahwa Nona Jora memiliki sebuah rencana untuk membunuh Zenzen dan dia menolak untuk kembali ke Kota Keios. Seperti itulah yang terjadi.”


Aku tahu jika Jora sudah mengatur semua ini. Tapi aku tidak akan menceritakannya pada Ruzdora. Akan menjadi masalah besar jika walikota tahu bahwa Jora mengkhianatinya dan sempat bersekongkol dengan Zenzen.


Ruzdora kembali melanjutkan pembicaraan. “Hingga Nona Jora meminta pasukan tambahan untuk bertempur di Kota Parit. Begitu tiba di sana Kota Parit sudah porak poranda. Terutama di markas mereka. Kami mencari korban yang selamat dan menemukanmu tergeletak tak sadarkan diri...”


“Bagaimana yang lainnya? Maksudku Jora, Marko, Vero, dan Bundara? Lalu, apakah Zenzen masih hidup? Dan berapa banyak yang tewas?” Aku menyela kalimat Ruzdora. teringat bahwa mereka juga mengalami pertarungan langsung dengan Zenzen.


“Mereka mengalami luka serius dan masih dalam keadaan koma. Tenang saja, setidaknya teknologi medis di kota ini lebih canggih dari pada di Kota Keios. Jumlah korban yang tewas sekitar tujuh puluh orang dan mereka sudah dimakamkan dengan layak, walau kami tidak bisa membawa mereka semua kembali ke Kota Keios. Soal Zenzen kami tidak bisa menemukannya. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya, Lian. Maaf.”


“Tidak apa-apa, Ruzdora. Lalu apakah Walikota Keios tahu masalah ini? Dan berapa lama aku tak sadarkan diri?”


“Tentu saja dia tahu. Kami meminta waktu sampai Nona Jora sembuh total. Aku memberi alasan bahwa Zenzen mengingkari perjanjian tersebut dan walikota sangat marah. Dia meminta kami menyiapkan agen untuk membunuh Zenzen. Lalu ini tiga minggu sejak kau pingsan.”


Aku menepuk jidatku. Tiga minggu? Yang benar saja? Walau begitu aku sedikit lega mendengar jika teman-temanku selamat. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika mereka kehilangan nyawa lantaran tindakan bodohku. Aku pasti akan dihantui penyesalan seumur hidupku.


“Ruzdora, bisakah kau beri tahu bagaimana kondisi teman-temanku?” Aku bertanya lirih.


“Kau yakin mau mendengarnya?” Ruzdora bertanya memastikan.


Aku mengangguk tegas.


“Tapi dengan syarat kau tidak boleh menyalahkan dirimu sendiri.” Ruzdora mengangkat telunjuk di depan mukannya.


Aku mengangguk sekali lagi.


“Bundara dan Marko mengalami patah tulang di bagian rusuk, kaki, serta pergelangan tangan mereka. Beberapa organ di bagian perut mereka nyaris rusak. Lalu Vero mengalami patah tulang di bagian punggung serta beberapa luka akibat terjangan peluru.  Dan terakhir Jora, pita suaranya nyaris rusak dan tulang lehernya retak. Untungnya Kota Pandai Besi bersedia membantu kami. Mereka turut serta mengerahkan bantuan medis. Berkat bantuan tersebut para korban yang terluka dapat selamat dari kondisi kritis mereka.”

__ADS_1


Aku menelan ludah. Lidahku terasa pahit.


“Berapa lama mereka akan sembuh total, Ruzdora?” Aku memaksa untuk bertanya.


  “Mereka tidak sepertimu, Lian. Penyembuhan mereka membutuhkan waktu lama. Paling cepat mereka sembuh dalam waktu satu bulan lebih.”


Aku meremas jemariku. Itu lama sekali.


“Hei! Sudahku bilang untuk tidak menyalahkan dirimu sendiri, Lian. Mereka ikut bertarung denganmu atas kemauan mereka sendiri. Sekarang kau hanya harus fokus pada pemulihanmu, Lian.”


Ruzdora benar. Ini bukan saatnya bersedih. Yang terjadi biarlah terjadi. Saat ini aku harus mencari tahu keberadaan Zenzen, selama dia masih hidup, kami semua berada dalam bahaya. Dan aku tahu siapa orang yang tepat. Tatu dan Natania. Mereka berdua pasti akan membantuku. Juga soal RP-2. Tujuanku masih sama. Memusnahkan robot tersebut di muka bumi. Soal teman-temanku akan kupercayakan sepenuhnya pada Ruzdora.


Esok harinya tangan kananku yang terperban sudah bisa digerakkan sepenuhnya. Hanya saja masih terasa sakit. Beberapa perban di bagian tubuhku yang lain mulai dilepaskan. Aku mencoba untuk berdiri dari ranjangku dibantu oleh beberapa perawat. Aku terbaring selama tiga minggu dan itu membuat keseimbanganku terganggu. Ketika aku mencoba untuk berdiri, aku nyaris terjatuh. Para perawat bergegas membantuku. Sepertinya akan sulit untuk kembali pulih sepenuhnya.


Para perawat membawaku ke ruangan khusus menggunakan kursi roda. Ada beberapa Prajurit Keios di ruangan tersebut. Mereka semua tampaknya sedang mencoba berjalan sama sepertiku. Satu dua ada yang kesulitan. Beberapa yang lainnya terlihat mudah melakukannya. Mungkin mereka semua juga memiliki kasus yang hampir sama denganku. Koma selama beberapa minggu.


Para perawat membantuku berdiri diantara dua besi panjang sebagai arena latihan. Aku merasa seperti anak balita yang baru belajar berjalan. Aku berpegangan di kedua besi tersebut. Tidak terlalu sulit. Kakiku yang awalnya terasa lemas semakin lama semakin kokoh. Dalam hitungan menit, aku sudah bisa berjalan normal. Aku bahkan melepas genggamanku di kedua besi tersebut. Para perawat bertepuk tangan. Aku hanya menunduk malu sembari mengusap rambutku.


  Para perawat mengizinkanku untuk berkeliling di sekitar rumah sakit sejenak. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Tentu saja aku pergi ke ruangan dimana teman-temanku dirawat. Ruzdora masih sibuk merawat pasien-pasien terluka lainnya. Jadi aku tidak bisa mengganggunya atau menanyakan beberapa hal lain padanya. Aku memutuskan untuk bertanya pada perawat dimana ruangan teman-temanku.


Untungnya ruangan mereka tidak sulit untuk dicari. Mereka ditempatkan di area yang sama. Hanya saja ruangan tersebut adalah salah satu ruangan yang mengerikan bagiku. Aku bahkan menelan ludah melihat tulisan dengan cahaya remang berwarna ungu. Ruangan tersebut bertuliskan, “STADIUM TIGA.” Begitulah yang tertera.


Di rumah sakit ini para pasien dibagi menjadi empat stadium. Stadium satu adalah tempat para pasien dengan luka ringan dan masa perawatan hanya dalam beberapa hari. Stadium dua ditempatkan untuk pasien sepertiku. Terluka parah hanya saja tidak sampai pada kondisi kritis. Stadium tiga ditujukan untuk para korban yang masih dalam kondisi kritis dan masih bisa diperkirakan berapa lama mereka akan sadar. Sedangkan stadium empat... Kalian bisa memikirkannya sendiri. Aku benar-benar tidak mau membahasnya.


Akhirnya aku tiba di depan ruangan dimana teman-temanku berada. Ruangan mereka saling berdampingan. Aku tidak perlu mencari satu-persatu keberadaan mereka. Hatiku serasa perih menatap kondisi mereka berempat. Ruzdora sudah menjelaskan secara rinci keadaan mereka. Aku tetap saja merasa sedih begitu menyaksikan langsung. Menunduk.


Aku mengepalkan tanganku. Aku pasti akan membalas perbuatan Zenzen. Aku pasti akan membalasnya puluhan kali lipat. Wajahku kembali menengadah ke depan. Lantas berlalu meninggalkan area tersebut sembari membawa tekad yang sudahku bulatkan. Aku juga akan menghubungi Tatu dan membicarakan masalah ini padanya sembari fokus pada pemulihanku sembari menyempurnakan kekuatan yang sudah kukuasai.


“Kau tidak boleh menggunakan kekuatanmu selama satu bulan.”


“Eh?”


Ruzdora baru saja menemuiku di ruanganku. Dia melarangku untuk menggunakan kekuatanku.


“Apa maksudmu, Ruzdora?” Tentu saja aku keberatan soal larangan tersebut.


Ruzdora menghela nafas panjang. “Aku melihat sisi negatif dari penggunaan alat tersebut, Lian.”


“Sisi negatif?” Aku bertanya lirih.


Ruzdora mengangguk. “Alat tersebut memang memilki banyak kegunaan dan sangat berguna untuk manusia. Namun harga yang harus dibayar mahal sekali. Jika penggunaan tersebut dalam skala besar, alat tersebut akan menyerap energimu dan mengubahnya dalam bentuk kekuatan yang ingin kau gunakan. Jika energi di dalam tubuhmu diserap oleh alat tersebut, kau bisa kehilangan kemampuan alami dalam pemulihan. Sel-sel yang seharusnya menutup lukamu akan bekerja lebih lambat dan kau jadi membutuhkan waktu yang lebih lama untuk pulih. Dan hal itu sudah terbukti sekarang. Padahal aku memprediksikan kau akan sembuh total dalam waktu seminggu. Tapi aku meleset. Dan aku mencari tahu alasannya.”

__ADS_1


Aku menelan ludah. Aku tidak tahu jika alat tersebut seberbahaya itu.


Ruzdora kembali dalam pembicaraannya. “ Aku mencari tahu apa yang sudah terjadi padamu dalam pertarungan melawan Zenzen. Hingga salah satu prajurit memberitahuku jika dia melihat cahaya berwarna biru terang menyelubungi tangan dan kakimu. Dia juga bilang merasakan tubuhnya seperti dihempas oleh angin dengan kekuatan besar. Saat itulah aku menyimpulkan bahwa kau menggunakan kekuatanmu di luar batas. Dan itu berdampak pada tubuhmu.”


Aku menghembuskan nafas pelan. Satu bulan? Itu waktu yang sangat lama. Aku tidak bisa bersantai terus menerus sementara Zenzen berkeliaran di luar sana.


BRAK!


Aku sudah tidak asing dengan kondisi ini. Tatu baru saja membuka sembarang pintu ruangan. Para perawat yang berusaha mencegahnya tidak bisa berbuat apapun. Lagipula aku memang memintanya untuk menemuiku.


“HAHAHA! Tidak kusangka kau akan menghubungiku secepat ini, Lian. Padahal ini baru beberapa jam sejak kita bertemu.” Tatu tertawa. Tubuh gempalnya bergerak-gerak.


“Lebih tepatnya empat puluh delapan jam. Dan itu sudah dua hari, Tatu. Bagaimana bisa kau menyebutnya hanya beberapa jam?” Natania menanggapi dengan dingin.


Mereka masih berpakaian sama. Mencolok dan terlihat aneh. Ruzdora tentu saja tidak tinggal diam. Perdebatan tidak terhindarkan. Ruzdora akhirnya menyerah begitu aku menjelaskan situasinya. Kali ini dia tidak membatasi jam kunjungan. Membiarkan kami mengobrol sepanjang kami mau.


“Jadi, tolong ceritakan lebih detail bagaimana caramu mengalahkan Zenzen?” Tatu bertanya tidak sabaran. Untuk ukuran pria tua sepertinya, dia sangat tidak cocok bertingkah seperti itu.


“Tapi biar aku luruskan. Aku tidak benar-benar mengalahkan Zenzen.” Aku melambaikan tanganku. “Seperti yang aku jelaskan kemarin, aku menggunakan alat yang diciptakan ibuku. Alat tersebut dapat memberi kekuatan serta pemulihan pada tubuhku. Saat itu aku berada dalam kondisi sekarat dan menyaksikan teman-temanku dalam bahaya. Aku tidak bisa tinggal diam dan memaksa alat tersebut untuk memberiku kekuatan lebih. Kami saling beradu tinju. Setelahnya aku tidak tahu dimana keberadaan Zenzen. Tapi ada kemungkinan jika dia tengah berkeliaran di luar sana. Mungkin tengah mengumpulkan pasukan atau melakukan suatu rencana. Aku tidak tahu.”


“Apa pemicunya?” Natania berceletuk.


Aku mengangkat alisku. Meminta penjelasan dari pertanyaannya.


“Apa pemicu dari alat tersebut?” Natania melengkapi pertanyaannya.


Aku memutar bola mataku. “Ini hanya dugaanku saja, sepertinya emosi dan tekadlah pemicunya.”


“Astaga!” Tatu menepuk jidatnya. Berseru terkejut.


Ada apa? Apakah alat tersebut mengerikan?


“Tatu, itu artinya Batrice meletakkan Emotional Modifer ke dalam tubuhnya.” Natania ikut terkejut.


Tatu mengangguk. “Emotional Modifer atau disingkat EM adalah alat pemanipulasi emosi. Dia bisa mengubah emosi menjadi sebuah kekuatan. Emosi sendiri terbagi menjadi tiga emosi penting. Sedih, amarah, dan senang. Saat kau dalam kondisi marah, tubuhmu akan memancarkan hawa panas. Dari hawa panas tersebut EM akan menyerap hawa tersebut dan mengubahnya menjadi bentuk konkret atau nyata. Dari hawa panas, EM akan menghasilkan senjata dan ketahanan. Jika seseorang bersedih, tubuhnya akan merasa dingin, dari emosi tersebut EM akan mengubahnya menjadi penyembuhan. Dan yang terakhir adalah bahagia yang memancarkan hawa hangat sebagai pengisi daya dari alat tersebut. Sejatinya kami pernah membuatnya, tapi tidak berhasil. Proyek tersebut terlalu berbahaya. Sepertinya Batrice menyempurnakan alat tersebut.  Sejak kapan dia memasangkan alat tersebut padamu?”


Aku memegangi daguku. “Aku tidak tahu pastinya karena alat itu sendiri memblok ingatanku. Tapi ada kemungkinan alat tersebut ditanamkan padaku saat usiaku sepuluh tahun. Tahun itu bertepatan dengan tragedi kebangkitan Robot Penjaga Perbatasan dan ledakan nuklir.”


“Hei! Itu artinya Batrice sudah menciptakan alat tersebut jauh-jauh hari sebelum tragedi tersebut tanpa memberi tahu kita, Natania.” Tatu menoleh ke arah Natania.


Natania hanya mengangkat bahu. Tidak tahu menahu soal alat tersebut.

__ADS_1


 


 


__ADS_2