Kehancuran Batana

Kehancuran Batana
BIONIK 6


__ADS_3

Aku menghela nafas dan mengusap kepalaku.


“Sebaiknya kita pulang dan dinginkan kepalamu. Kau pasti terbawa emosi karena pertandingan tadi.”


Aku tetap terdiam sementara Ador telah melangkah melaluiku.


Jadilah kami kembali dalam keadaan diam satu sama lain. Ador hanya terdiam dan menatap ke luar jendela bus. Kami duduk berseberangan. Kejadian tadi membuat suasana menjadi sangat canggung. Walau demikian aku sama sekali tidak merasa bersalah. Toh, aku hanya mengatakan yang sejujurnya.


Lima belas menit berlalu, akhirnya Ador  memulai pembicaraan.


“Hei, apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu padaku.”


Aku hanya menopang dagu sembari menatap ke luar jendela yang telah berembun. Menyaksikan salju yang berjatuhan pelan dari langit malam.


Ador menghela nafas panjang. “Kau memang keras kepala. Tapi itulah yang membuat dirimu unik.”


Aku tetap terdiam. Masih kesal dengan kejadian tadi.


“Kalau kau diam begini terus aku akan menjitak kepalamu.” Ador melotot ke arahku dan mengangkat tangannya.


Akhirnya aku menanggapinya. “Tidak ada apapun yang ingin aku bicarakan.”


Ador terkekeh. “Pada akhirnya kau menanggapiku.”


Mana bisa hal itu disebut dengan menanggapi? Situasi ini hanya membuatku semakin kesal.


“Kadang di dunia ini memang ada satu dua hal yang tidak bisa dijelaskan, Nak. Karena itu aku tidak akan bertanya apa yang terjadi padamu. Dan aku juga tidak akan marah jika kau salah menilaiku selama ini. Kata-katamu memang benar. Aku adalah orang yang sok tahu padahal aku tidak tahu sama sekali. Karena kenyataannya, lebih baik tidak tahu dari pada mengetahui. Karena mengetahui itu menyakitkan.”


Aku mengusap wajahku. Aku tidak boleh terbawa oleh kata-katanya.


“Seperti diriku yang tidak pernah ingin mengetahui kisah dari anak-anak lain sampai tiba saatnya mereka sendiri yang memberi tahuku. Entah apakah perbuatanku ini salah atau tidak. Tapi aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama sejak kepergian Bastian dari laboratorium. Aku mengetahui kisah masa lalunya dan menyakitinya dengan hal tersebut. Kupikir dengan mengingatkannya tentang masa lalunya akan mengembalikannya seperti dulu. Seperti Bastian yang aku kenal sebagai anak yang patuh dan tidak pernah membantah kata-kataku. Kukira jika aku mengingatkannya tentang siapa dirinya akan membuatnya mengetahui jati dirinya. Sekali lagi aku salah. Perasaan manusia itu sangat rumit dan berbelit. Seperti melepas benang kusut yang saling terikat dan tak beraturan. Tidak, bahkan jauh lebih rumit dari perumpamaan ini.”


Aku memejamkan mata. Sungguh menyakitkan mendengar hal tersebut. Entah mengapa perasaanku kembali bimbang. Di satu sisi aku masih terbayang-bayang dengan kalimat Badas, sedangkan sisi lainnya berkata sebaliknya. Jika Ador bersikap seperti ini terus, jika aku terjebak dalam perkara ini, aku hanya akan terbawa arus sungai yang deras dan lupa akan tujuan awalku. Karena itu aku tidak akan membiarkan kata-kata Ador menggoyahkanku. Tidak akan pernah.


“Nak, jika kau marah, marahlah. Jika kau ingin menangis, menangislah. Yang perlu kau ketahui ini bukanlah salahmu. Usiamu masih lima belas tahun dan kau pasti sudah ditempa layaknya orang dewasa. Jika kau ingin menyalahkan orang lain, salahkanlah orang dewasa. Jika kau ingin menyalahkanku, salahkan saja. Toh, aku tidak pernah keberatan untuk menjadi tempat pelampiasanmu. Karena sejatinya pria tua ini memang tidak pernah pantas untuk menjadi walimu.”


Aku menghela nafas panjang. Membuat embun di kaca bus menjadi semakin tebal.


Salju mengguyur kota semakin deras. Membuat jalan menjadi terlihat seperti kabut. Esok hari mau tidak mau aku harus kembali bersikap biasa. Aku tidak ingin terbawa suasana. Karena itu hanya akan menggangguku untuk mencapai tujuanku.


 


 


***


 


 


Keesokan harinya, aku bangun pagi-pagi hendak melakukan jogging sejenak untuk melepas pikiranku mengenai kejadian malam kemarin. Setidaknya dengan berlari sedikit bisa menghiburku. Aku tidak lagi butuh izin dari Ador. Selama menjadi murid di akademi sudah menjadi sebuah izin universal bagiku untuk keluar masuk laboratorium. Hal itulah yang membuatku bisa sesuka hati keluar dari laboratorium atau bahkan langsung kembali ke akademi.


Sejatinya aku bisa saja langsung ke Akademi Talenta karena kurasa tidak ada hal lain lagi yang bisa aku pelajari di laboratorium. Aku sudah menguasai energi internal. Tapi kurasa bukan itu maksud dari perkataan Ador. Jika hanya sekedar mengeluarkan energi tersebut, seharusnya sudah bisa kulakukan berkali-kali sejak usiaku dua belas tahun. Lantas apa yang aku tunggu di usiaku yang lima belas tahun ini? Itulah yang menjadi tanda tanya bagiku. Karena itu aku memutuskan untuk menanyakan hal itu pada Ador nanti.


Puas berkeliling sejenak, aku memutuskan untuk berhenti di jembatan yang sering sekali aku lewati saat pergi berkeliling. Sungai di sana telah membeku. Walau ini masih sangat pagi dan matahari baru muncul di ufuk timur, sungai itu telah ramai oleh beberapa orang.


“Hei, kau tidak mau mencobanya?”


Aku berbalik dan mendapati seseorang berdiri di belakangku. Sosok itu juga tampak terkejut menatapku. Tanganku bahkan nyaris tergelincir dari pembatas jembatan. Sosok itu tak lain gadis yang pernah aku kenal saat di kelas accel dulu.


Dia mengerjapkan mata sejenak. “Kau?”


Aku mengusap kepalaku. Ini benar-benar tidak kusangka. Bagaimana mungkin kita bisa bertemu dalam keadaan seperti ini dan dalam situasi dimana musim dingin tengah menyelebungi kota? Dulu aku pernah memberi alasan jika aku mengenakan sarung tangan karena aku tidak tahan dengan udara dingin. Bahkan saat musim dingin, aku tetap harus masuk kelas dan membuat berbagai alasan berbelit-belit yang tidak masuk akal. Jika saja dia masih mengenalku saat ini, aku yakin dia akan bertanya-tanya kenapa aku bisa bertahan di luar sini dalam keadaan suhu di bawah sepuluh derajat selsius.


“Kau tidak ingin bermain?” Lanjut gadis itu.


Aku menghela nafas. Setidaknya itu artinya dia tidak mengenaliku. Entah apakah karena tinggi badanku atau karena wajahku yang terlihat berbeda drastis dibandingkan saat usiaku dua belas tahun. Laki-laki memang mudah sekali berubah saat mereka beranjak remaja.


Aku menggeleng. “Tidak perlu, aku hanya ingin melihat-lihat saja.”

__ADS_1


Gadis itu mengangguk dan tersenyum. Lantas mulai melangkah melewatiku. Menuruni tangga dan bergabung dengan yang lainnya.


Aku kembali menyaksikan mereka yang berselancar di atas licinnya sungai yang telah membeku. Jika kau berdiri di atasnya sembari menatap ke bawah, kau bahkan bisa melihat pantulan dirimu sendiri yang berlatar langit biru yang sedikit mendung dengan kemilau cahaya matahari.


“Kau tidak ingin bergabung?”


Seseorang kembali mengagetkanku dari belakang. Kali ini aku benar-benar tergelincir dan nyaris terjatuh. Mendapati Ador telah berdiri dibelakangku bersama anak-anak lain.


Ador terkekeh sembari memamerkan sebuah sepatu seluncur es. “Kau yakin tidak ingin mencobanya?”


Aku hanya memutar bola mataku.


“Ayolah, semua orang di kota ini tau cara bersenang-senang di musim dingin. Kau juga harus menikmatinya sebelum kau tidak akan pernah bisa mencobanya.”


Aku tersenyum sinis. “Tidak kusangka pria tua sepertimu bisa menikmati permainan seperti ini layaknya anak kecil.”


“Apa kau bilang, hah?” Ador melotot marah. “atau jangan-jangan kau tidak bisa bermain ice skating?”


Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Aku memang belum pernah mencoba permainan itu sebelumnya. Di daerah kumuh tidak ada sungai ataupun tempat yang bisa dijadikan untuk arena skating.


“Ayolah, kalau kau tidak mencobanya kau tidak akan tahu.” Ador menyerahkan sepatu tersebut dengan melemparnya ke arahku. Membuatku tidak memiliki pilihan selain menangkapnya.


“Aku tunggu kau di arena bersama anak-anak lainnya.” Ador terkekeh sejenak, lantas berlalu meninggalkanku.


Aku menatap sepatu tersebut dengan wajah datar. Mulai beranjak dari tempatku. Berniat kembali ke laboratorium.


“Oi, Zenzen!” Ador meneriakiku. Membuat langkahku terhenti.


Aku terdiam. Gawat! Gadis itu akan mengetahui namaku jika Ador berteriak seperti tadi. Aku menoleh kaku. Benar saja, gadis itu menutup mulutnya sembari melihat ke arahku. Ador melambai-lambaikan kedua tangannya.


“Ini juga bagian dari latihanmu!”


Aku menggigit bibir. Kenapa dia tidak bilang dari tadi, sih?


Jadilah aku menuruni tangga dan mendekati sungai yang telah membeku tersebut. Gadis itu mendekat ke arahku.


“Zenzen, kau kah itu?”


“Astaga! Aku sungguh tidak menyadarinya! Kau sudah banyak berubah.”


Aku tersenyum kaku.


“Hei, bukankah kau tidak bisa berada dalam keadaan dingin?”


Aku nyaris saja menepuk jidat. Apa yang aku takutkan baru saja terjadi. Sementara itu Ador terus menerus memanggilku dari kejauhan. Dia tampak berseluncur dengan anak-anak lain sembari berputar-putar. Lantas tergelincir dan terjengkang. Aku memalingkan wajahku.


“Aku sudah menjalani terapi selama dua tahun lamanya.” Akhirnya aku memberikan alasan yang lebih masuk akal. Berharap dia mempercayaiku.


Gadis itu bernama Serika. Aku tidak banyak mengenalnya. Kami hanya sebatas saling kenal nama. Setidaknya bagiku. Serika sangat cerewet. Setiap kali kami bertemu di kelas, dia selalu membicarakan berbagai hal dan aku hanya diam mendengarkannya. Walau aku tidak tertarik, aku tidak punya pilihan selain mendengarkannya.


“Begitu, kah? Apakah kau sudah sembuh?”


Aku mengangguk kikuk.


“Oi, Zenzen! Apa yang kau lakukan di sana? Cepatlah kemari, Bocah!” Ador yang berusaha bangkit kembali sambil meneriakiku.


Serika menoleh dan bertanya kepadaku. “Siapa orang itu? Ayahmu?”


Aku menggeleng. “Bukan, dia kakekku.” Aku asal menjawab.


Serika mengangguk. “Ah, pantas saja sepertinya dia terlihat sangat menyayangimu.”


“Apa maksudnya ?”


Serika tersenyum lebar. “Terkadang kita bisa melihat kasih sayang seseorang melalui perilaku dan tingkah laku mereka. Terpancar dengan jelas dari wajahnya jika dia sangat menyayangimu, Zenzen. Karena itu berbaiklah kepadanya dan jangan sia-siakan kasih sayangnya padamu. Pergilah, sepertinya aku mengganggu kesenangan kalian.” Serika mempersilahkanku.


Aku mengangguk dan segera memasang sepatu skating ke kakiku. Begitu aku melangkahkan kakiku di atas sungai yang membeku, aku terjerembab dan jatuh telentang. Serika berseru panik dan menghampiriku.


“Kau baik-baik saja?”

__ADS_1


Aku menelan ludah sembari menatap langit yang berawan. Saat itu aku menyadari satu hal, bahwa aku tidak bisa berselancar di atas es. Karena aku sama sekali tidak memiliki pengalaman.


Ador dari kejauhan tertawa terbahak-bahak. Anak-anak lain juga ikut tertawa. Aku dengan cepat duduk dan menatap mereka semua dengan tatapan tajam. Mereka bungkam dan bersiul, pura-pura tidak melihat apapun. Serika membantuku berdiri. Walau demikian aku tetap kesulitan untuk berdiri diatas es yang licin ini.


“Kau belum pernah bermain ice skating?” Tanyanya prihatin.


Aku ingin sekali menghilang sedari tadi. Seharusnya aku pergi saja.


“Pasti ini adalah pengalaman pertamamu karena kau belum pernah melakukannya seumur hidup?”


Aku mengusap wajahku. Kata-katanya memang benar, sih.


“Tenang saja. Aku akan mengajarimu sebisa mungkin sebagai teman sekelasmu. Ayolah, ini akan mudah. Kau hanya cukup menjaga keseimbanganmu. Itulah kunci dari permainan ini.”


Aku kembali berdiri sembari dibantu oleh Serika. Syukurnya dia adalah orang yang sangat baik dan sabar. Perlahan namun pasti, aku berhasil berdiri dengan tegap.


“Sekarang, cobalah melangkahkan kaki kananmu ke depan.”


Aku mengangguk. Mulai mengangkat kakiku perlahan.


“Berikutnya adalah, ayunkan kaki kirimu ke belakang.”


Aku mengangguk sekali lagi. Perlahan mengayunkan kaki kiriku. Perlahan namun pasti, tubuhku mulai mengikuti irama tersebut.


“Bagus, kau hanya perlu melakukan keduanya secara berulang dan perlahan. Jangan memandang ke bawah, tapi pandanglah ke depan.”


Aku menarik nafas. Baiklah, mari kita coba. Aku mulai meletakkan kaki kiriku ke depan dan mengayunkan kaki kananku. Kulakukan hal itu secara berulang-ulang sampai aku mulai terbiasa dengan latihan ini. Serika bertepuk tangan senang.


“Oke, itu sudah bagus. Sudah ku duga orang sepertimu akan cepat mempelajari hal-hal seperti ini. Lagi pula kau juga dapat nilai tertinggi di berbagai bidang saat sekolah dasar, kan? Hal seperti ini pasti hanya sebatas batu loncatan bagimu.” Serika tertawa riang.


Aku hanya berdehem sembari merapikan jaket tebalku.


“Nah, sekarang coba kau ayunkan kakimu sedikit lebih kuat dari sebelumnya. Tapi coba condongkan tubuhmu agak ke depan. Kau tahu sikap seorang pelari ketika mereka melakukan start, kan?”


Aku mengangguk. Aku pernah melakukannya sebelumnya. Saat berlomba dengan Bastian.


“Itulah kunci berikutnya. Saat tubuh sedikit condong ke depan, itu artinya kau sedikit memberi beban pada tubuh bagian atasmu sehingga kakimu akan lebih mudah menopangmu untuk tetap seimbang. Sekarang cobalah lakukan step sebelumnya sembari mencondongkan tubuhmu ke depan dan mengayunkannya lebih kencang menggunakan kakimu.”


Oke, sepertinya ini akan mudah. Aku mulai mencondongkan tubuhku ke depan. Lantas mengayunkan kakiku sedikit lebih kencang dari sebelumnya. Sekali lagi ini lebih mudah dari apa yang aku kira. Aku maju sekitar satu meter. Serika bersorak riang sembari menghampiriku.


“Itu kemajuan yang luar biasa! Sekarang kau hanya perlu membiasakan dirimu saja.”


Aku mengangguk dan mencoba sekali lagi. Lima belas menit kemudian, aku sudah bisa berselancar dengan santai. Mendekati Ador yang sedari tadi menungguku dan menyaksikanku dari kejauhan. Aku dan Serika mendatangi Ador bersamaan. Ador menatapku curiga. Aku hanya mengangkat bahu. Merasa tidak nyaman dengan tatapannya.


“Siapa gadis ini?” Ador terlihat bingung dan menanyakannya padaku.


Serika dengan cepat menjawab. “Aku teman sekelas Zenzen.”


Ador lantas tertawa. “Apa-apaan ini? Kau tidak pernah cerita jika kau memiliki teman perempuan?”


Aku hanya memalingkan wajah. Sudahku duga jika dia akan berkata seperti itu.


“Tenang saja, Tuan. Aku tidak akan mengganggu waktu bersenang-senang kalian. Aku hanya sekedar bertegur sapa saja dengan Zenzen karena kami sudah lama tidak bertemu. Kalau begitu saya pamit dulu.” Serika menunduk hormat. Lantas berlalu meninggalkan kami berdua.


Aku berdehem. “Sekarang apa maksudmu jika permainan ini ada hubungannya dengan latihanku?”


Ador berkacak pinggang. “Ah, ini memang ada hubungannya dengan latihanmu, Nak. Permainan ini akan sedikit melatih otakmu sekaligus keseimbanganmu. Berbeda dengan berjalan biasa atau hanya sekedar berlari. Saat kau berseluncur di atas es, kau harus menyeimbangkan antara pikiran dan gerakan. Karena itu ini sangat dibutuhkan dalam pelajaranmu yang berikutnya.”


“Tapi sekarang aku sudah bisa melakukannya.” Aku menunjuk kakiku dengan kedua tanganku.


Ador hanya terkekeh. “Belum cukup. Aku bisa menyaksikanmu dari kejauhan kau hanya bisa melakukan beberapa gerakan. Lihatlah orang-orang di sebelah sana.” Ador menunjuk pada sekerumunan orang.


Aku menyaksikan apa yang ditunjuk oleh Ador. Di sana terlihat beberapa orang tengah berseluncur sembari berputar-putar dan melakukan beberapa gerakan akrobatik. Aku mendengus. Apakah aku memang harus melakukan kegiatan bodoh ini demi mempelajari teori-teorinya yang tidak jelas.


“Kenapa? Kau tidak mau? Ah, apa sebaiknya kita tunda saja latihanmu untuk tahun depan, ya?”


“Oke, oke, aku akan melakukannya.” Aku tersenyum kesal.


Jadilah kami menghabiskan waktu berjam-jam di arena seluncur es tersebut. Sampai aku lupa jika aku belum sarapan pagi ini.

__ADS_1


 


 


__ADS_2